Sejarah Detos (Depok Town Square), Mal Legendaris di Margonda Depok



Buat kamu yang lahir dan besar di Depok, rasanya mustahil, deh, kalau nggak kenal sama Detos alias Depok Town Square. :D 


Mal yang berdiri megah di Jalan Margonda Raya ini bukan cuma sekadar tempat belanja, tapi juga saksi bisu banyak cerita: nongkrong bareng teman sepulang sekolah atau ngampus, jajan di foodcourt, sampai nonton bioskop pertama kali bareng gebetan. Hehe…Ada yang punya pengalaman gitu juga di Detos? 


Di tahun 2026 ini, usia Detos ternyata sudah genap 21 tahun, lho. Nah, perjalanan mal ini selama dua dekade lebih ini ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri. Apalagi sekarang di social media juga sudah banyak banget konten-konten soal Detos. Yuk, kita bahas mal ini! :) 



Awal Mula Detos Berdiri

Depok Town Square resmi beroperasi sejak tahun 2005. Mal ini dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Lokasinya berada tepat di Jalan Margonda Raya, jalan protokol yang bisa disebut sebagai jantungnya Kota Depok. 


Posisi strategis ini membuat Detos langsung jadi primadona begitu dibuka. Apalagi mal berlantai lima ini deket banget ke Stasiun Pondok Cina lewat pintu belakangnya, sehingga gampang diakses mahasiswa Universitas Indonesia (UI) maupun warga yang tinggal di sekitarnya.


Dengan luas area puluhan ribu meter persegi dan banyaknya unit tenant, Detos di masa jayanya menawarkan hampir semua yang dibutuhkan warga Depok. Mulai dari restoran, gerai handphone, bioskop, tempat main anak, sampai deretan tenant fashion. 


Nggak heran kalau generasi 2000-an menjadikan Detos sebagai destinasi wajib buat nongkrong dan belanja. :D



Ketika Mal Saingan Muncul, Detos Perlahan Meredup

Aku inget banget, deh, pas mau kuliah ke luar kota di tahun 2004 Detos memang sedang dibangun dan dibuka setahun kemudian. Begitu juga dengan mal di seberangnya, yaitu Margo City.


Seingatku Margo City dibuka setahun kemudian di 2006. Jalan Margonda pun makin ramai dengan hadirnya dua mal yang berhadap-hadapan ini. 


Margo City pun menjelma jadi salah satu pusat perbelanjaan paling hits di Depok. Setiap hari, Margo City ramai dikunjungi dengan deretan tenant kekinian yang terus diperbarui mengikuti tren. Yang tadinya luas, Margo City sekarang makin luas lagi setelah direnovasi setelah pandemi.


Berbanding terbalik dengan tetangganya, Detos justru pelan-pelan mengalami penurunan. Fenomena ini sebenarnya lazim terjadi pada mal-mal generasi awal di berbagai kota besar Indonesia. 


Setelah bertahun-tahun jadi mal yang laris, Detos mulai kehilangan daya tariknya, terutama di bagian lantai-lantai atas.



Lantai Bawah Masih Hidup, Lantai Atas Kian Sepi

Menariknya, kondisi Detos sekarang nggak sepenuhnya suram. Kalau Manteman masuk ke lantai dasar dan lantai satu, suasananya masih cukup hidup. 


Di sinilah kini Detos dikenal sebagai salah satu pusat thrifting terbesar di Depok. Dengan deretan tenant fashion yang menjual pakaian bekas branded dengan harga miring. 


Aku pun pernah juga nge-thrift di Detos. Tapi memang kalau nge-thrift harus sabar dan teliti, ya. Alhamdulillah aku bisa dapat yang sesuai keinginanku juga, sih. :D Kisaran harga thrift di sini juga beragam, mulai dari 10 ribu sampai ratusan ribu juga ada!


Selain tempat thrifting, di Detos juga masih ada beberapa restoran, Matahari, Hypermart dan bioskop Cinepolis. Tenant-tenant tersebut pun aku lihat masih beroperasi normal. 


Apalagi kalau ke Cinepolisnya, wah, harga tiket yang relatif terjangkau dibanding bioskop di mal-mal lainnya.


Nah, Detos itu, kan, bagian atasnya berkonsep seperti ITC, ya. Jadi banyak kios-kios gitu. Sayangnya, begitu naik ke lantai-lantai atas, suasana berubah drastis karena banyak bangeeeet kios yang sudah tutup. Suasana jauh lebih sepi dibanding bagian bawah mal. 


Pemandangan ini jadi gambaran umum bagaimana mal-mal lama di Indonesia berjuang bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru yang lebih segar dan menawarkan banyak pilihan untuk pengunjungnya. 


Tapi, aku salut banget, sih, sama Detos yang nggak tutup! :D Mal ini masih berjuang dan bertahan. Bahkan sekarang juga ada jalur masuk dari Stasiun Pondok Cina yang sudah ada fasilitas apartemen juga di dekatnya. 


Sebenarnya fasilitas di Detos pun ikut berkembang. Salah satunya adalah kehadiran tempat olahraga, seperti FitHub, kolam renang Khodijah Muslimah Center, lapangan futsal. Hal ini bisa jadi bukti kalau Detos terus berusaha beradaptasi meski di tengah tantangan persaingan yang ketat, ya. Mungkin hal ini juga yang bikin Detos masih “hidup” sampai saat ini. :)



Kabar Baru: Sekolah Dian Harapan Bakal Hadir di Detos

Nah, di tengah citra "mal yang mulai ditinggalkan" ini, muncul kabar yang cukup mengejutkan sekaligus bikin penasaran aku sebagai warga Depok. 


Pas lagi scrolling socmed, tetiba aku baca berita kalau Pelita Harapan Group mengumumkan rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan (SDH) di Kota Depok, yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027. 


Sekolah ini akan berada di Detos. Iyah, beneran! Aku penasaran, sih, nantinya apakah ruang kelasnya bakal berada di kios-kios lantas atas Detos yang sepi itu? 


Ternyata ini juga bukan pertama kalinya Pelita Harapan Group membuka sekolah di dalam gedung mal. Sebelumnya, Sekolah Dian Harapan juga sudah resmi dibuka di Tamini Square, menempati area lantai lower ground.


Konsep ini sejalan dengan strategi Lippo Malls dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah fungsi mal, dari sekadar pusat belanja jadi ruang belajar, bersosialisasi, sekaligus hiburan bagi masyarakat modern.


Melihat pola ini, cukup masuk akal kalau nantinya SDH Depok akan menempati bagian lantai atas Detos yang selama ini memang cenderung sepi dan banyak kios kosong. Kalau benar begitu, ini bisa jadi solusi sekaligus win-win solution, ya. Lantai yang tadinya mangkrak bisa dihidupkan kembali dengan fungsi baru. 


Sementara itu Detos sendiri bakal mendapat "napas baru" untuk tetap relevan di tengah persaingan mal-mal modern di Depok.



Detos, Bukan Sekadar Mal tapi Bagian dari Memori Warga Depok

Terlepas dari naik turunnya performa bisnis, Detos tetap punya tempat khusus di hati banyak warga Depok. Akses yang makin mudah dari kampus UI dan Stasiun Pondok Cina membuat mal ini tetap ramai dikunjungi mahasiswa dan komuter setiap harinya. 


Selain jadi surganya thrifting, Detos juga masih rutin menggelar berbagai event, serta menyediakan pilihan tempat makan dan hiburan keluarga yang lengkap. Aku pernah ke Detos bertepatan dengan event Pramuka. Wih, ramenya bukan main! :D 


Kalau rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan di Detos benar-benar terwujud pada 2027 nanti, bisa dibilang ini akan jadi babak baru dalam perjalanan panjang mal legendaris ini. 


Dari pusat perbelanjaan yang sempat berjaya, meredup, hingga mungkin bertransformasi menjadi ruang yang lebih multifungsi: tempat belanja, thrifting, nonton, sekaligus tempat menuntut ilmu.


Buat warga Depok, Detos mungkin boleh berubah bentuk dan fungsi dari waktu ke waktu. Tapi satu hal yang pasti, memori yang terekam di setiap lantainya selalu jadi bagian dari cerita hidup orang Depok, apapun yang terjadi pada mal ini ke depannya.


Kalau Manteman, terutama yang tinggal di Depok, ada memori apa, nih, di Detos? Yuk, share di kolom komentar… :D



Dita Indrihapsari

8 Permainan Timezone yang Jadi Favorit Semua Usia



Selama ini aku selalu mikir kalau Timezone itu ya tempat main anak-anak. Tapi ternyata anggapan itu langsung runtuh begitu aja pas liburan sekolah kemarin. Kami sekeluarga menghabiskan waktu liburan dengan main di Timezone Margo City Depok dan Timezone Pacific Place. 


Awalnya sih niatnya cuma nemenin anak-anak main. Eh, nggak taunya malah aku dan suami ikut kebawa suasana dan akhirnya ikut-ikutan nyobain beberapa permainannya. :D


Jujur aja, keluarga kami memang bukan tipe yang terbiasa wara-wiri ke Timezone. Biasanya kalau liburan, ya, lebih sering ke alam atau wisata kuliner. Tapi ternyata, main di Timezone itu seru banget, lho! Walaupun memang pas sekali datang, harus siap ngerogoh kocek lumayan dalam, yaaa. Hehehe... :D


Nah, dari pengalaman kemarin, ada beberapa permainan yang menurutku jadi favorit semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Yuk, aku ceritain satu-satu apa aja permainannya!!



1. Bumper Car, Permainan Klasik yang Selalu Bikin Ketawa!

Bumper Car ini kayaknya emang permainan yang nggak pernah gagal bikin suasana rame, deh. Waktu itu anakku main bareng teman-teman sekolahnya. Begitu masuk arena dan mobil-mobilnya mulai bergerak, teriakan dan suara ketawa mereka pun langsung memenuhi ruangan. :D




Serunya lagi, anak-anak jadi punya "misi" masing-masing buat saling nabrak mobil temannya. Padahal ya cuma nabrak-nabrakan doang, tapi ekspresi mereka pas berhasil "nge-bom" mobil temannya itu lucu banget. Aku sampai ikutan ketawa liatin dari luar arena.



2. Virtual Reality 360, Diputar-putar Sampai Bikin Pusing Tapi, Kok, Nagih, Ya!

Kalau yang ini, aku sendiri nggak ikut main. Anak-anak yang nyoba untuk pertama kalinya dan aku cuma videoin aja. :D 


Oiya, buat yang mau nyoba wahana ini, ada syarat tinggi badan minimal, kalau nggak salah sekitar 140 cm.




Begitu anak-anak duduk dan alat pengamannya terpasang, permainan langsung dimulai. Dan beneran, badan mereka diputar 360 derajat berkali-kali! Aku yang cuma nonton dari luar aja udah ikutan pusing ngebayangin sensasinya.


Tapi herannya, begitu turun, anak-anak malah ketawa-ketawa dan pingin nyoba lagi. Katanya sih seru banget, apalagi kombinasi visual di dalam headset VR-nya bikin sensasi muter-muternya makin terasa nyata.



3. Basketball Arcade, Favorit Sepanjang Masa

Nah, kalau yang satu ini rasanya emang jadi favorit hampir semua orang, ya. Dari anak kecil sampai orang dewasa yang main ke Timezone, pasti pernah main Basketball Arcade.




Permainan ini bisa dimainkan berdua atau bertiga, tergantung berapa banyak mesin yang tersedia berjajar. Waktu itu pas anak-anak main sampai bikin kompetisi kecil-kecilan, siapa yang paling banyak masukin bola dalam waktu terbatas.


Seru banget suasananya! Apalagi kalau bola sudah mulai keluar dari mesin secara otomatis dan kita harus buru-buru masukin bola sebanyak mungkin. Rasanya adrenalin ikut naik walaupun cuma main santai aja,



4. Bowling, Ternyata Nggak Semua Timezone Punya!

Ini salah satu yang bikin aku penasaran dan akhirnya cari tahu lebih lanjut. Ternyata nggak semua gerai Timezone menyediakan wahana bowling ini, lho. Hanya beberapa cabang tertentu aja yang punya fasilitas ini. 


Nah, kebetulan dua tempat main Timezone yang aku dna keluarga smbangi, yaitu di Timezone Margo City dan Timezone Pacific Place ada semua fasilitas permainan bowling ini. 





Bowling di Timezone ini biasanya disebut Social Bowling. Bedanya dengan bowling biasa, di sini kita nggak perlu pakai sepatu khusus segala. Selain itu, jalur atau lane-nya juga didesain lebih pendek dibanding lane bowling pada umumnya, jadi capeknya nggak seberapa tapi tetap seru buat dimainkan bareng-bareng.


Karena konsepnya emang dibuat lebih santai dan bisa tetap berkompetisi juga, permainan ini juga cocok banget buat lomba kecil-kecilan bareng keluarga atau teman. Kalau ke Timezone yang kebetulan ada fasilitas ini, rasanya sayang banget kalau dilewatkan.



5. Nerf Arcade, Serunya Tembak-tembakan Ala Anak-anak

Buat yang suka permainan tembak-tembakan tapi versi seru dan aman, Nerf Arcade ini jawabannya. Anak-anakku kelihatan antusias banget pas main ini. Mereka jadi kayak lagi ikutan misi rahasia gitu, sambil sesekali ketawa-ketawa kalau berhasil kena sasaran.




6. Racing Arcade, Ngerasain Sensasi Balapan Tanpa Ribet

Kalau lagi pengen ngerasain sensasi balapan tapi nggak perlu ribet ke sirkuit beneran, apalagi masih anak-anak, Racing Arcade ini bisa jadi solusinya. :D 



Ada pilihan simulator mobil dan motor. Anak-anak tentunya seneng banget bisa duduk di kursi simulatornya sambil pegang setir kecil, seolah-olah lagi ikut balapan beneran.


Meski cuma simulasi, tapi getaran dan efek suaranya lumayan bikin suasana jadi makin hidup.



7. Air Hockey, Permainan Klasik yang Mejanya Makin Kece

Air hockey ini termasuk permainan yang dari dulu aku kenal. Bedanya, sekarang tampilan meja-mejanya jauh lebih keren dibanding yang aku ingat waktu kecil dulu


Lampu-lampu LED-nya bikin suasana main jadi lebih hidup, apalagi kalau lagi seru-serunya kompetisi bareng  keluarga!





8. Virtual Reality Paragliding, Berasa Terbang Beneran!

Nah, kalau ditanya wahana mana yang paling berkesan buatku pribadi, jawabannya pasti VR Paragliding ini. Aku dan anakku sempat mencobanya di Timezone Margo City dengan tema dinosaurus.


Begitu headset VR dipasang dan permainan dimulai, rasanya beneran kayak lagi terbang di antara dinosaurus-dinosaurus raksasa. Yang bikin makin seru, ada efek anginnya juga, bahkan sesekali ada percikan air kecil yang bikin sensasinya makin nyata. Kayak nonton film 4D tapi kita yang jadi pemeran utamanya!


Aku dan anakku sampai teriak-teriak kegirangan sepanjang permainan. Aku sendiri yang awalnya cuma penasaran, jadi ikutan excited banget begitu nyoba VR ini. Oiya, bedanya dengan VR 360 kalau VR Paragliding ini nggak berputar ya tapi turun naik aja seperti naik paragliding beneran. 



Bukti Kalau Main Seru-seruan di Timezone Nggak Kenal Batas Umur 

Dari semua pengalaman main di Timezone Depok dan Timezone Pacific Place kemarin, aku jadi sadar satu hal: Timezone itu bukan cuma soal anak-anak main game sendirian sementara orang tua nunggu di pinggir. Timezone dan mungkin tempat main sejenis lainnya, seperti Funworld, Amazing World, atau Kidzania menghadirkan pengalaman seru yang bisa dinikmati bareng-bareng, sekeluarga.


Setiap wahana punya keseruan masing-masing, dari yang santai kayak air hockey, sampai yang bikin adrenalin naik kayak VR 360 dan VR Paragliding. Belum lagi momen kompetisi kecil-kecilan yang bikin kebersamaan keluarga makin terasa.


Memang, sih, main di Timezone butuh budget yang nggak sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, momen kebersamaan dan pengalaman selama main bareng itu rasanya sepadan banget dengan yang dikeluarkan.


Kalau Manteman ada rencana liburan bareng keluarga dan bingung mau ke mana, coba deh sesekali mampir ke Timezone. Siapa tahu, seperti aku, kalian juga bakal ketagihan dan pengen balik lagi lain waktu. :)




Dita Indrihapsari


5 Aktivitas Alam di Sentul yang Seru untuk Liburan Keluarga



Sentul memang nggak ada matinya! :D Lokasinya yang nggak jauh dari Jakarta, Bogor, maupun Depok, kawasan ini menjadi destinasi favorit untuk melepas penat tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Apalagi di saat weekend, wah, Sentul pasti bakalan ramai terus!


Selain terkenal dengan deretan kafe estetiknya dan pilihan berbagai penginapan, Sentul juga menyimpan banyak pilihan aktivitas alam yang cocok untuk keluarga, teman, hingga para pencari adrenalin!


Aku sendiri sudah beberapa kali menghabiskan akhir pekan di Sentul, baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. 


Menariknya, setiap berkunjung selalu ada pengalaman baru yang bisa dicoba. Mulai dari trekking menuju air terjun, off road menggunakan jeep, hingga outbound bersama anak-anak. Bahkan, kini ada juga aktivitas seru seperti river tubing, canyoning, dan caving yang mulai banyak diminati wisatawan.


Kalau sedang mencari ide wisata alam di Sentul, berikut lima aktivitas seru yang menurutku layak masuk dalam daftar liburan Manteman.



1. Trekking Menjelajahi Curug dan Goa di Sentul

Kalau ditanya aktivitas favoritku di Sentul, jawabannya pasti trekking. Pas nulis ini aku jadi kangen banget pingin trekking di Sentul lagi! :D


Sentul memiliki banyak jalur trekking dengan tingkat kesulitan yang beragam. Ada jalur yang ramah untuk keluarga dengan anak-anak, ada juga trek yang cukup menantang bagi para pencinta alam


Aku dan keluarga sudah beberapa kali mengikuti trekking menuju beberapa destinasi alam yang terkenal, seperti Curug Leuwi Hejo, Curug Leuwi Cepet, hingga Goa Garunggang.


Perjalanan menuju curug menjadi pengalaman yang menyenangkan karena jalurnya didominasi pepohonan hijau. Udaranya kerasa masih segar, apalagi kalau jalannya pagi. Selain itu nggak jarang jalurnya juga melewati sungai-sungai kecil. 


Nah, anak-anak juga seneng banget kalau diajak trekking di Sentul. Mereka paling semangat dan biasanya, sih, selalu ada di urutan depan pas lagi trekking… :D  


Yang paling aku ingat saat trekking ke Goa Garunggang, aku dan keluarga punya pengalaman yang berbeda. Di jalur trek ini Kita jadi bisa melihat formasi bebatuan besar yang membentuk lorong alami ke arah gua secara vertikal. Di sekitaran gua juga banyak batuan-batuan yang menghiasi kawasan wisata ini. Yakin, sih, tempat ini juga jadi favorit para fotografer karena tampilannya sangat fotogenik.


Pilihan rute trekking di Sentul memangsangat beragam. Kita bisa memilih perjalanan santai sekitar satu hingga dua jam atau jalur yang lebih panjang sesuai kemampuan fisik dan tentunya umur anak. 



2. Off Road Jeep yang Memacu Adrenalin

Pengalaman terbaru yang paling berkesan bagiku adalah mencoba off road jeep di Sentul bersama teman-teman.


Bukan hanya orang dewasa yang ikut, anak-anak juga ikut merasakan serunya petualangan ini. Kami serombongan berangkat menggunakan dua unit jeep sehingga suasananya jadi makin ramai.


Begitu memasuki jalur off road, sensasi petualangan langsung terasa. Jalannya penuh tanjakan, turunan curam, jalan berbatu, lumpur, hingga beberapa kali harus menerobos aliran sungai.


Setiap kali jeep melintasi sungai atau jalur berbatu yang ekstrim seluruh penumpang otomatis berteriak sekaligus tertawa. Dan senangnya, anak-anak justru terlihat paling menikmati momen itu… :D 


Aktivitas ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati sisi lain Sentul yang lebih menantang dibanding sekadar berwisata kuliner atau nongkrong di kafe.



3. Outbound di Taman Budaya Sentul

Ternyata Sentul juga memiliki pilihan aktivitas edukatif sekaligus menyenangkan sambil mengenal alam untuk anak-anak, nih.


Pengalaman ini dirasakan anak-anakku saat mendapat undangan ulang tahun dari teman sekolahnya di Taman Budaya Sentul.


Selama ini aku mengira Taman Budaya hanya menyediakan area bermain dan ruang terbuka. Ternyata di sana juga tersedia berbagai paket outbound yang dapat disesuaikan dengan usia peserta.


Anak-anak keliatan antusias banget mengikuti setiap tantangan. Mereka bisa belajar memanjat, berjalan di atas jembatan kayu, melewati jembatan tali, hingga mencoba berbagai permainan yang melatih keseimbangan dan keberanian. Kalau ikut aktivitas ini motoriknya jadi benar-benar terasah, yaa…


Selain menyenangkan dan melatih motorik, aktivitas outbound juga memiliki banyak manfaat. Anak-anak belajar bekerja sama, meningkatkan rasa percaya diri, hingga belajar menyelesaikan tantangan dengan mandiri.


Nah, yang aku suka juga, seluruh permainan didampingi oleh instruktur sehingga orang tua nggak perlu terlalu khawatir.Kalau sedang mencari wisata anak di Sentul, menurutku outbound di Taman Budaya bisa menjadi pilihan menarik selain playground atau taman bermain biasa.



4. River Tubing Menyusuri Sungai dengan Ban Karet

Beberapa waktu terakhir, river tubing di Sentul mulai semakin populer. Peserta bisa menyusuri aliran sungai menggunakan ban karet besar sambil mengikuti arus sungai.


Sepanjang perjalanan, peserta akan melewati bebatuan, arus sungai yang tenang, hingga beberapa bagian yang cukup menantang. Sebelum memulai aktivitas, peserta akan dibekali pelampung, helm, dan pengarahan dari pemandu. 


Menurutku, river tubing cocok bagi wisatawan yang ingin mencoba aktivitas air lebih banyak. Pemandangan di sepanjang sungai juga masih asri, cocok banget buat refreshing, ya!


Kalau berencana mencoba river tubing, sebaiknya siapkan pakaian ganti karena hampir bisa dipastikan seluruh tubuh akan basah. :D 



5. Canyoning dan Caving, Tantangan untuk Para Petualang

Kalau ingin menguji adrenalin lebih jauh lagi, Sentul juga menawarkan aktivitas canyoning dan caving.


Jujur aja, sampai sekarang aku belum pernah mencoba keduanya. :D Sebenarnya penasaran juga karena beberapa kali melihat foto dan video soal canyoning dan caving Sentul di social media. Namun di sisi lain, aku juga rada khawatir, sih, melihat tingkat tantangannya.


Canyoning merupakan aktivitas menyusuri aliran sungai pegunungan dari bagian atas menuju dasar dengan memanfaatkan teknik rappelling menggunakan tali, harness, helm, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Peserta akan turun mengikuti aliran air sambil melewati tebing, air terjun, dan bebatuan. Kebayang serunya tapi juga seremnya… :D 


Sementara itu, caving merupakan kegiatan menjelajahi gua alami. Selama perjalanan, peserta akan memasuki lorong-lorong, melihat formasi batuan yang terbentuk, hingga menikmati suasana gelap yang benar-benar berbeda dari aktivitas wisata pada umumnya.


Kalau suatu hari nanti keberanianku sudah terkumpul, rasanya canyoning dan caving bakal jadi salah satu aktivitas pertama yang ingin sekali kucoba di Sentul. :D 



Gimana, dari kelima aktivitas alam di Sentul, mana yang pernah Manteman coba? 


Sentul memang bukan hanya soal kafe kekinian atau staycation di hotel atau villa aja.. Kawasan ini juga menjadi surga bagi pencinta aktivitas alam. 


Dari semua aktivitas yang pernah aku coba, trekking masih menjadi favoritku karena memberikan kesempatan menikmati alam dengan santai sekaligus quality time bersama keluarga. Namun pengalaman off road jeep ternyata juga berhasil memberikan kesan yang sulit dilupakan. Terlalu seruuuuu! :D


Sekarang tinggal menunggu waktu dan keberanian untuk akhirnya mencoba canyoning dan caving. Siapa tahu nanti justru menjadi pengalaman paling seru selama menjelajahi Sentul.


Kalau kamu berencana menghabiskan akhir pekan di kawasan Bogor, jangan hanya datang untuk nongkrong di kafe. Yuk, cobain salah satu aktivitas alam di atas!



Dita Indrihapsari


Pengalaman Pertama Naik Mikrotrans Jakarta, Gratis dan Mudah!



Mateman ada yang sudah pernah naik Mikrotrans Jakarta ? :D 


Jujur aja, meskipun sudah beberapa kali menggunakan transportasi umum seperti KRL, aku belum pernah sekalipun naik Mikrotrans. Selama ini aku selalu ngira kalau transportasi ini, tuh, cukup membingungkan karena rutenya banyak dan cara menggunakannya pun belum kupahami. 


Nah, pengalaman pertamaku naik Mikrotrans justru terjadi secara nggak sengaja saat pulang dari acara journaling bersama dua temanku, Isti dan Ciwul, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. 


Siapa sangka, perjalanan pulang yang awalnya hanya ingin kembali ke Stasiun Cikini dengan jalan kaki malah menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka mataku tentang betapa mudahnya menggunakan transportasi umum di Jakarta. 


Beruntunglah wahai kalian warga Jakartaaaaa. Sebagai warga Depok, aku iri, aku bilang… :D 



Berangkat ke Cikini Naik KRL

Hari itu kami berencana untuk journaling bareng di Senyawa+ Space yang ada di Jalan Raden Saleh, Cikini. Kami  berangkat dari Stasiun Depok Baru menggunakan KRL menuju Stasiun Cikini. 


Dari Stasiun Cikini, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Senyawa+ Space.


Jaraknya memang masih memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Sambil mengobrol, kami menikmati suasana kawasan Cikini yang selalu ramai. 


Sebenarnya sempat kepikiran untuk ke sana dari Stasiun Cikini dengan naik taksi online. Tapi begitu melihat rutenya yang memutar, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki ajalah, sekalian bakar kalori. :D 



Mengenal Senyawa+ Space, Tempat Journaling yang Seru!

Sesampainya di Senyawa+ Space, aku langsung paham kenapa tempat ini cukup sering muncul di media sosial. Yap, aku juga tahunya tempat ini dari temanku dan video-video yang ada di Instagram serta TikTok. 


Senyawa+ Space bukan hanya sebuah working space biasa. Tempat ini jadi ruang kreatif yang mempertemukan berbagai komunitas, pekerja kreatif, ilustrator lokal, hingga para pecinta seni.


Area di dalamnya cukup luas dengan konsep industrial yang dipadukan sentuhan modern. Banyak sudut yang nyaman untuk bekerja menggunakan laptop, diskusi,baca buku, atau sekadar menikmati suasana yang tenang.


Hal yang paling menarik perhatianku adalah adanya area yang menampilkan berbagai karya ilustrator dan kreator lokal. Mulai dari art print, stiker, postcard, notebook, hingga berbagai merchandise unik dipajang dengan sangat menarik. Rasanya seperti masuk ke toko kecil yang dipenuhi karya seni. Setiap lihat karyanya, tuh, aku selalu bilang “iiiihh lucu, iiih gemes banget!” Jadi pingin punya semuanyaaaa! :D 


Nah, dii dalam Senyawa+ Space ini juga terdapat Saharsa Coffee, sebuah coffee shop yang menjadi tempat favorit banyak pengunjung untuk menikmati kopi sambil bekerja ataupun ngobrol santai.


Seperti yang aku bilang, agenda utama kami hari itu adalah journaling. Beberapa jam kami habiskan dengan menulis di journal masing-masing sambil sesekali mengobrol dan bertukar cerita. Tentunya juga sambil melihat stiker-stiker lucu yang kami beli juga di sana dan juga menegak minuman masing-masing yang kami beli di Saharsa Coffee.



Rencana Pulang yang Berubah Mendadak

Karena nggak bisa terlalu lama di sana (maklum anak-anak sudah mau pulang sekolah), kami pun memutuskan untuk segera kembali ke Depok. Nah, awalnya kami berniat mengulang rute saat datang, yaitu berjalan kaki menuju Stasiun Cikini.


Namun, nggak lama setelah keluar dari Senyawa+ Space, sebuah Mikrotrans terlihat dari kejauhan. Kami bertiga saling berpandangan beberapa detik. Rasanya, tuh, kayak sama-sama punya pikiran “Guys, kita mesti coba, nih, naik Mikrotrans. Siapa tahu lewat depan Stasiun Cikini!” :D 


Dan benar saja, ketika MIkrotrans makin dekat dan berhenti tepat di depan kami, kami pun langsung naik setelah tahu kalau Mikrotrans ini juga berhenti di depan Stasiun Cikini. 


Dan di situlah pengalaman pertamaku naik Mikrotrans dimulai.



Pengalaman Pertama Naik Mikrotrans

Begitu masuk ke dalam kendaraan, aku ngerasanya kami masih sedikit bingung. Wajar, sih, soalnya, kan ini pertama kali aku dan teman-teman naik Mikrotrans.


Nah, aku memang sudah membawa kartu e-money, tetapi belum tahu kapan harus melakukan tap kartu. Karena masih sama-sama kebingungan, kami langsung duduk terlebih dahulu.


Untungnya, penumpang lain yang berada di dalam Mikrotrans dengan memberi tahu kalau bisa langsung tap pas masuk. Setelah duduk pun nggak masalah untuk tap kartunya. 


Kartu e-money ditempelkan pada mesin yang tersedia di dalam Mikrotrans. Penumpang pun ngasih tahu kalau pas turun kartu e-money di-tap kembali. Ternyata caranya sangat mudah, ya. 


Aku pun ngerasa senang karena ternyata penumpang lain juga sangat membantu kami yang baru pertama kali menggunakan Mikrotrans. :D 





Selama perjalanan, kami juga sempat ngobrol sebentar dengan seorang ibu yang duduknya di dekat kami.


Beliau baru saja berobat dari RSCM dan hendak menuju Stasiun Cikini untuk melanjutkan perjalanan pulang menggunakan kereta. Menurutku, momen singkat seperti ini justru membuat perjalanan terasa hangat. :)



Ternyata Naik Mikrotrans Gratis!

Hal yang paling membuatku kagum adalah ketika mengetahui bahwa tarif Mikrotrans adalah Rp0 alias gratis.


Tentu saja ada syaratnya. Penumpang tetap harus melakukan tap kartu uang elektronik saat naik dan kembali melakukan tap saat turun dari kendaraan.


Jadi meskipun nggak ada biaya perjalanan yang dipotong, proses tap tetap wajib dilakukan sebagai bagian dari sistem pencatatan perjalanan. Menurutku ini kebijakan yang sangat membantu masyarakat.


Bayangin saja, warga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu mengeluarkan ongkos tambahan untuk perjalanan menggunakan Mikrotrans.


Bagi pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat yang setiap hari menggunakan transportasi umum, fasilitas seperti ini tentu sangat meringankan biaya transportasi.



Jakarta dan Transportasi Umumnya yang Semakin Nyaman

Aku benar-benar senang melihat perkembangan transportasi umum di Jakarta. Mulai dari KRL, MRT, LRT, Transjakarta, hingga Mikrotrans, semuanya saling terhubung dan semakin memudahkan mobilitas masyarakat.


Bahkan bagi orang seperti aku yang dari Depok dan nggak setiap hari beraktivitas di Jakarta, keberadaan transportasi umum ini sangat membantu.


Nggak heran jika kini semakin banyak orang mulai beralih menggunakan transportasi umum. Selain lebih hemat, cara ini juga membantu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan.


Perjalanan ke Senyawa+ Space yang awalnya hanya ingin menjadi waktu berkualitas bersama teman-teman untuk journaling, ternyata perjalanan pulangnya justru memberikan cerita yang berkesan.


Kalau nanti berkunjung lagi ke Cikini, sepertinya aku nggak akan ragu untuk kembali naik Mikrotrans. Bahkan, sekarang aku jadi penasaran ingin mencoba rute-rute lainnya. :)




Dita Indrihapsari


5 Hotel dengan Fasilitas Perpustakaan



Belakangan ini, semakin banyak hotel yang punya fasilitas perpustakaan sebagai nilai tambah bagi tamunya. Bukan sekadar rak buku di sudut ruangan aja, beberapa hotel bahkan memiliki perpustakaan dengan desain estetik, koleksi buku beragam, hingga suasana yang membuat tamu hotel betah untuk berlama-lama.


Aku pernah beberapa kali menginap di hotel dengan fasilitas perpustakaan ini. Wah, rasanya senang sekali begitu tahu pihak hotel aware dengan dunia literasi. Apalagi saat ini tingkat literasi di negara kita, kan, juga masih tergolong rendah, ya. Makanya kalau ada hotel yang punya fasilitas perpustakaan, tuh, aku sangat apresiasi. 


Kalau Manteman sedang mencari inspirasi staycation yang berbeda dari biasanya, berikut lima hotel dengan fasilitas perpustakaan yang menarik untuk dikunjungi.



1. Paviliun Raden Saleh, Menginap Dekat Salah Satu Perpustakaan Terbaik di Jakarta


Image: Booking.com


Lokasi Paviliun Raden Saleh yang berada di dalam kompleks TIM membuat tamu hotel memiliki akses mudah ke berbagai fasilitas seni, budaya, dan literasi yang ada di kawasan tersebut. Salah satu yang paling menarik tentu saja adalah Perpustakaan Jakarta.


Perpustakaan Jakarta saat ini menjadi salah satu perpustakaan publik paling populer di Indonesia. Setelah direvitalisasi, tempat ini tampil modern dengan desain yang nyaman dan koleksi buku yang sangat beragam.


Aku sendiri jujur aja belum pernah main ke TIM lagi setelah direvitalisasi. Makanya pingin banget suatu hari nanti menginap di Paviliun Raden Saleh sekaligus mengajak anak-anak membaca di Perpustakaan Jakarta ini. :) 



2. Novotel BSD, Punya Secret Library yang Viral

Image: Booking.com


Belum lama dibuka, Hotel Novotel BSD langsung mencuri perhatian para pencinta staycation, nih. Salah satu fasilitas yang paling banyak dibicarakan di social media adalah perpustakaannya yang bernama Secret Library.


Sesuai namanya, perpustakaan ini dirancang seperti ruang rahasia gitu. Pintu masuknya dibuat menyatu dengan desain interior sehingga nggak langsung terlihat oleh pengunjung. 


Begitu masuk ke dalam, pengunjung akan disambut suasana hangat dengan desain yang modern dan estetik. Rak-rak buku tertata rapi dan sangat tinggi. Kalau yang aku lihat dari video-video yang beredar di social media juga pencahayaannya terang dan membuat nyaman. Di dalamnya juga terdapat deretan kursi-kursi dan meja. 


Koleksi bukunya pun nggak main-main, lho. Tersedia sekitar 1000 buku dari berbagai genre, mulai dari motivasi, pengembangan diri, sastra, hingga buku-buku populer lainnya. 


Dengan desainnya yang menarik dan estetik, nggak heran kalau Secret Library sempat viral di media sosial dan menjadi salah satu daya tarik utama Hotel Novotel BSD. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menginap, tapi juga ingin merasakan pengalaman membaca di perpustakaan yang unik tersebut.



3. Hotel Kuretakeso Kemang, Surganya Pencinta Manga



Beberapa tahun lalu aku pernah menginap bersama keluarga di Hotel Kuretakeso Kemang dan menuliskan pengalamannya di blog. Saat menginap di sana, hotel bertema Jepang ini memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hotel-hotel lain di Jakarta.


Selain desain interior yang kental dengan nuansa Negeri Sakura, hotel ini juga memiliki fasilitas onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Namun, ada satu fasilitas yang menurutku juga sangat menarik, yaitu Manga Corner.


Manga Corner merupakan perpustakaan mini yang berisi berbagai komik Jepang populer. Saat aku berkunjung, tersedia banyak judul terkenal seperti One Piece, Naruto, Fairy Tail, Detective Conan, hingga Kobochan.


Menariknya lagi, sebagian besar koleksi komik tersebut menggunakan bahasa Jepang asli. Jadi, selain membaca, fasilitas ini juga bisa menjadi sarana belajar bahasa Jepang, ya.


Bagi penggemar budaya Jepang, keberadaan Manga Corner tentu menjadi nilai tambah yang membuat pengalaman menginap di Hotel Kuretakeso terasa lebih menyenangkan. 



4. Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung, Perpustakaan yang Menyimpan Jejak Sejarah



Tahun lalu aku dan keluarga menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Sampai sekarang, hotel ini masih menjadi salah satu hotel favoritku di Belitung.


Lokasinya berada tepat di tepi pantai yang tenang, Cocok banget buat jia-jiwa introvert-ku… :D  


Di balik fasilitas pantai pribadinya, ternyata hotel ini juga memiliki perpustakaan yang cukup unik. Bukan hanya menyediakan buku bacaan, perpustakaan ini turut menyimpan berbagai koleksi peninggalan Lo Sam Kie.


Lo Sam Kie merupakan seorang sinshe atau ahli pengobatan tradisional Tionghoa yang berasal dari Guangdong, Cina. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1901 dan kemudian dikenal luas di Belitung karena dedikasinya membantu masyarakat melalui ilmu pengobatan yang dimilikinya.


Di area perpustakaan, pengunjung dapat melihat berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan kehidupannya. Kehadiran koleksi tersebut membuat perpustakaan ini terasa seperti perpaduan antara ruang baca dan mini museum.


Aku suka sekali dengan konsep seperti ini. Saat membaca buku, kita juga bisa belajar tentang sejarah lokal dan mengenal tokoh penting yang pernah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat setempat.


Nah, untuk koleksi bukunya menurutku memang nggak terlalu banyak. Namun ada beberapa novel populer dan klasik di hotel ini. 



5. The Orient Jakarta, Perpustakaan Mewah The Library Lounge

Image: Booking.com


Aku sebenarnya belum pernah menginap di The Orient Jakarta. Namun, setelah membaca tulisan Mba Annie Nugraha tentang The Library Lounge di blognya, aku langsung memasukkan hotel ini ke dalam daftar tempat yang ingin aku kunjungi. :D


Hotel bintang lima yang berada di kawasan Sudirman ini memang dikenal memiliki desain interior yang unik. Nuansa mewahnya berpadu dengan sentuhan budaya Indonesia yang kuat.


Salah satu fasilitas menarik di hotel ini adalah The Library Lounge yang berada di lantai lima. Dari foto-foto yang kulihat, suasananya terasa sangat homey sekaligus elegan.


Interiornya memadukan unsur vintage dan modern. Ada kursi-kursi kayu tempo dulu, ornamen batik, relief artistik, hingga dekorasi yang membuat ruangan terasa hangat. 


Alih-alih terlihat formal seperti perpustakaan pada umumnya, tempat ini justru menghadirkan suasana seperti ruang keluarga yang nyaman.


Selain membaca buku, pengunjung ternyata juga bisa menikmati makanan dan minuman yang tersedia di area lounge. Kebayang, kan, asyiknya duduk santai di sofa empuk, ditemani secangkir kopi hangat dan buku menarik di perpustakaan mewah. 



Baca Juga: 5 Hotel Tertua di Jakarta dan Sejarahnya



Kelima hotel dan penginapan di atas menunjukkan kalau membaca buku tetap memiliki tempat istimewa dalam pengalaman menginap.


Ada yang menghadirkan perpustakaan rahasia yang viral, ada yang menyediakan koleksi manga Jepang, ada pula yang menggabungkan literasi dengan sejarah dan budaya.


Kalau Manteman mau menginap di hotel dengan fasilitas perpustakaan yang mana? Atau ada hotel dengan fasilitas membaca yang belum aku sebutkan di atas? Yuk, share di kolom komentar di bawah, yaa… 




Dita Indrihapsari


Tragedi Bunker Kaliadem Merapi 2006, 20 Tahun Mengenang Wafatnya Relawan di Tempat Perlindungan



Beberapa tahun lalu, aku dan keluarga mengikuti wisata Jeep Merapi di Yogyakarta. Salah satu destinasi yang kami kunjungi adalah Bunker Kaliadem, sebuah bangunan bawah tanah sederhana yang berada di lereng Merapi. 


Dari luar, bunker ini tampak seperti bangunan beton biasa. Yang membuatnya nggak biasa adalah lokasinya dengan latar Gunung Merapi yang berdiri megah. Terdapat tulisan BUNKER KALIADEM berukuran besar juga di bagian luar bunker yang sering dijadikan spot foto wisatawan. 


Saat itu aku dan keluarga masuk ke dalam bunker ditemani driver jeep sekaligus tour guide. Ia kemudian mulai menceritakan kisah pilu yang terjadi di tempat tersebut. Kisah yang membuat suasana di dalam bunker jadi terasa berbeda. 


Tempat yang kini menjadi objek wisata tersebut ternyata pernah menjadi saksi bisu tragedi memilukan saat erupsi Merapi tahun 2006. Tepat 20 tahun lalu.



Mengenal Bunker Kaliadem

Bunker Kaliadem berada di kawasan Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasinya berada nggak terlalu jauh dari puncak Gunung Merapi.


Bunker ini mulai dibangun tahun 2001. Lalu diresmikan dan beroperasi empat tahun kemudian di 2005. 


Bunker ini dibangun sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Tujuannya untuk menyediakan tempat perlindungan darurat bagi warga, petugas, maupun relawan ketika terjadi awan panas atau aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang membahayakan. 


Dengan konstruksi beton yang tebal dan berada di bawah permukaan tanah, bunker ini diharapkan mampu menjadi tempat aman saat terjadi erupsi.


Saat aku masuk ke dalamnya, aku merasa kalau ukuran bunker sebenarnya nggak terlalu besar. Menurut penjelasan pemandu, kapasitas bunker ini bisa memuat sekitar 40 orang. 


Di dalamnya berupa ruangan beralas keramik dengan fasilitas kamar mandi kecil di salah satu sudutnya. 


Saat masuk ke dalam bunker, aku sempat ngebayangin gimana suasana ketika puluhan orang harus berlindung di sana dalam kondisi darurat.


Kini kondisi bunker sudah menjadi bagian dari jalur wisata Jeep Merapi. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung bangunan yang jadi tempat tragedi paling dikenang dalam sejarah erupsi Merapi.



Batu Besar Saksi Keganasan Merapi

Saat berada di dalam area bunker, mataku juga tertuju pada sebuah batu berukuran sangat besar. Batu tersebut merupakan material yang terlontar saat erupsi Merapi. Di sekelilingnya juga ada beberapa batu yang ukurannya lebih kecil.


Aku sebenarnya agak heran juga, giman batu sebesar itu bisa sampai masuk ke dalam bunker ini. Berarti sebegitu dahsyatnya, ya, erupsi Merapi yang terjadi.





Melihat ukurannya yang begitu besar membuatku jadi makin sadar tenaga yang dimiliki gunung berapi ini juga sangat luar biasa. Sulit ngebayangin gimana batu sebesar itu bisa terlempar dari perut gunung.


Bagiku, batu itu jadi pengingat bahwa Merapi bukan hanya destinasi wisata yang indah, tetapi juga gunung api aktif yang punya kekuatan dahsyat di dalamnya..



Tragedi Erupsi Merapi Tahun 2006

Kisah paling memilukan dari Bunker Kaliadem terjadi pada 14 Juni 2006. Saat itu Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau yang sering disebut masyarakat Jawa sebagai wedhus gembel. 


Dua relawan bernama Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng berada di dekat kawasan Merapi ketika awan panas mulai meluncur ke arah lereng gunung. 


Mereka kemudian memilih masuk ke dalam Bunker Kaliadem karena menganggap tempat itu merupakan lokasi paling aman untuk berlindung. 


Sayangnya, keadaan nggak berjalan seperti yang diharapkan. Awan panas yang keluar dari Merapi ternyata jauh lebih besar dan lebih ganas dari perkiraan. Material vulkanik bersuhu sangat tinggi menimbun bunker hingga membuat hampir seluruh bangunan tertutup. 


Suhu di sekitar bunker mencapai ratusan derajat Celcius. Panas ekstrem tersebut akhirnya merambat ke bagian dalam bunker. 


Alih-alih menjadi tempat perlindungan, Bunker Kaliadem malah berubah menjadi oven maut. Sarjono dan kenteng terperangkap di dalam bunker, nggak bisa kemana-mana.


Dari referensi yang aku baca, tim evakuasi baru berhasil menemukan mereka berdua setelah melakukan penggalian selama dua hari. Proses penyelamatan juga sangat sulit karena suhu di sekitar lokasi masih panas dan aktivitas Merapi juga masih berlangsung meski intensitasnya sudah menurun dari hari-hari sebelumnya. 


Bahkan beberapa anggota tim evakuasi dilaporkan mengalami kesulitan akibat panas ekstrem yang membuat sepatu mereka meleleh. Kebayang, kan, suhunya sepanas apa… :( Lalu, gimana dengan kondisi Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng?


Sarjono ditemukan di dekat pintu masuk bunker, sementara Kenteng ditemukan di area kamar mandi bunker. Mereka nggak bisa diselamatkan. :’(


Kisah ini menjadi salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah erupsi Merapi di era sekarang. 


Bunker yang dibuat untuk menyelamatkan justru menjadi tempat yang nggak aman. Karena itulah sejak tragedi ini, Bunker Kaliadem ditutup dan nggak lagi difungsikan sebagai tempat perlindungan. Bunker ini akhirnya berubah menjadi destinasi wisata. 



Kenapa Bunker Kaliadem Nggak Bisa Jadi Tempat Berlindung?

Nah, sejak kejadian itu, jadi banyak pertanyaan yang muncul. Kenapa bunker yang dibangun untuk tempat perlindungan justru nggak mampu menyelamatkan para relawan?


Dari berbagai laporan pasca kejadian yang aku baca, ternyata bunker tersebut sebenarnya dirancang untuk melindungi dari ancaman tertentu aja, seperti hujan abu dan paparan awan panas yang melintas.


Namun bunker pada kenyataannya nggak dirancang untuk siap menghadapi timbunan material vulkanik panas dalam jumlah besar yang langsung menutupi bangunan.


Ketika material panas menutupi bunker, suhu di dalam bangunan meningkat drastis. Panas dari luar merambat melalui beton dan membuat kondisi di dalam menjadi seperti oven raksasa. 


Selain itu, pintu bunker tertutup material vulkanik sehingga orang yang berlindung di dalamnya pun nggak punya kesempatan untuk keluar menyelamatkan diri.


Tragedi ini kemudian jadi bahan evaluasi penting dalam sistem mitigasi bencana di kawasan Merapi dan di seluruh Indonesia. 


Banyak pihak yang akhirnya sadar kalau bunker bukan solusi mutlak untuk menghadapi awan panas dengan skala besar. Menurutku, kalau  pun dibangun bunker sebaiknya benar-benar dipikirkan dengan matang efek dari bencana yang terjadi. 


Pembangunan bunker juga nggak bisa asal-asalan. Apalagi ini soal awan panas, lahar, sampai batuan vulkanik. Beda dengan bunker yang sering aku lihat di film-film Amerika yang fungsinya sebagai pelindung badai. 




Di Jepang pun yang banyak gunung berapi, setahuku di sana untuk tempat berlindung dan evakuasi dibuat shelter. Nah, shelter kebanyakan bentuknya bukan seperti bunker bawah tanah, tapi seperti bangunan beton yang lokasinya agak jauh dari puncak gunung.  


Karena itulah banyak yang berpendapat kalau sistem pemantauan gunung api, peringatan dini, jalur evakuasi, dan pengungsian ke zona aman yang lebih jauh jadi langkah yang jauh lebih penting supaya nggak jatuh korban saat erupsi gunung berapi.



Pelajaran dari Bunker Kaliadem

Tragedi Bunker Kaliadem mengajarkan kita kalau manusia punya keterbatasan di hadapan kekuatan alam. Teknologi dan bangunan perlindungan memang penting, tapi apa yang terjadi di alam bisa berada di luar perhitungan manusia.


Ketika meninggalkan Bunker Kaliadem, aku nggak hanya membawa foto-foto dokumentasi perjalanan wisata Jeep Merapi. Aku juga membawa pelajaran berharga, yaitu di balik keindahan Merapi, tersimpan cerita yang mengingatkan kita untuk selalu menghormati dan mewaspadai kekuatan alam.


Al Fatihah untuk Almarhum Bapak Sarjono dan Bapak Kenteng. Semoga mereka berdua tenang di sana…. 



Dita Indrihapsari


Rustic Claypot Depok, Tempat Makan Misoa dengan Suasana Rumahan

rustic-claypot-depok


Dari dulu sampai saat ini, hampir setiap hari aku selalu melewati Jalan Nusantara Raya, Depok. Jalan raya yang menghubungkan tengah kota Depok dengan Sawangan ini jadi saksi aku pulang pergi ke sekolah… :D Karena itulah, setiap kali melintas di kawasan ini, selalu ada rasa nostalgia yang muncul.


Belakangan, aku melihat sebuah tempat makan baru yang langsung menarik perhatian di Jalan Nusantara Raya. Namanya Rustic Claypot. Dari luar, bangunannya memang nggak terlalu mencolok. Bahkan kalau nggak diperhatikan dengan seksama, mungkin kita bakal melewatinya begitu saja.


Namun begitu masuk ke dalam area restoran, suasananya langsung berubah. Deretan tanaman hias yang ada berbagai sudut ruangan bisa bikin suasana jadi terasa sejuk dan menenangkan. 


Tempat ini seperti sebuah rumah sederhana yang dialihfungsikan jadi tempat makan dengan konsep yang hangat dan natural.


Oiya, aku ke tempat makan ini setelah janjian dengan teman-temanku, Nia, Nita, dan Ceuceu. Ini pertama kalinya bagi kami semua makan langsung di Rustic Claypot.  


bersama-teman-di-rustic-claypot-depok



Rustic Claypot, Tempat Makan dengan Suasana Rumahan

Sesuai namanya, kata rustic identik dengan suasana pedesaan, sederhana, dan dekat dengan unsur alam. Nah, kesan itu juga yang langsung aku rasakan saat masuk ke dalam Rustic Claypot.


Bangunannya nggak besar. Sepertinya dulu memang rumah warga di pinggir jalan. Nggak mewah. Namun justru kesederhanaan itulah yang jadi daya tarik tersendiri. 


rustic-claypot-depok

suasana-di-dalam-rustic-claypot-depok


Banyak tanaman hijau ditempatkan di berbagai sudut sehingga membuat suasana juga terasa lebih hidup dan adem. Ada juga hiasan dinding yang jadi dekorasi menarik di sana..


Buatku sendiri, Rustic Claypot menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat makan lain di sekitar Jalan Nusantara Raya ini. Di tengah deretan restoran dan kafe yang sudah lebih dulu ada, konsep yang diusung Rustic Claypot terasa cukup unik.


Baca Juga: Daeng Carammeng, Restoran Khas Makassar di Depok



Apa Itu Claypot?

Nah, sebelum bahas soal makanan apa aja yang ada di Rustic Claypot, aku mau bahas dulu soal claypot, ya. 


Rustic Claypot memang punya ciri khas berupa cara penyajian makanannya. Sesuai namanya, banyak menu disajikan menggunakan claypot.


Claypot merupakan wadah memasak yang terbuat dari tanah liat. Wadah ini telah digunakan sejak lama di berbagai negara Asia untuk memasak aneka hidangan berkuah maupun nasi. 


Salah satu keunggulan claypot adalah kemampuannya mempertahankan panas lebih lama dibandingkan wadah biasa. Karena itu, makanan yang disajikan tetap hangat meski sudah beberapa saat berada di meja makan. 


Dalam penyajiannya, makanan biasanya langsung dimasak dan disajikan di dalam wadah claypot yang masih panas. Selain membuat makanan tetap hangat, penggunaan claypot juga dipercaya membantu menjaga cita rasa dan aroma hidangan.


Pas makanan pesananku datang, aku sempat kaget, sih. Ukuran claypot-nya ternyata cukup besar. Serunya lagi begitu tutup claypot dibuka, uap panas langsung keluar. Ngeliatnya aja aku udah mupeng banget pingin segera mencoba makananku…  


Kalau menurutku, konsep ini, nih, yang bikin Rustic Claypot makin populer.  Tempat ini bisa menghadirkan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan penyajian menggunakan mangkuk atau piring biasa.


Baca Juga: Kombi Bake, Menikmati Kombucha dan Sourdough di Sudut Kota Bogor



Mencoba Misoa Siram Sapi yang Jadi Andalan

Saat berkunjung ke Rustic Claypot, aku memutuskan memesan salah satu menu yang populer di sana, yaitu Misoa Siram Sapi.


Misoa yang lembut disiram dengan kuah kental. Menggugah selera banget! Benar-benar definisi comfort food. 


misoa-siram-sapi-rustic-claypot-depok



Isiannya juga nggak pelit. Menurutku daging sapi cincang yang digunakan jumlahnya cukup banyak. Selain itu terdapat telur dan sayuran yang membuat hidangan ini terasa lebih lengkap dan seimbang.


Yang aku suka dari menu ini adalah tekstur kuahnya yang kental dan kaya rasa. Bahkan aku sampai benar-benar menghabiskan kuahnya, lho… :D Bagi Manteman yang suka  makanan berkuah, aku rasa menu ini wajib dicoba ketika berkunjung ke Rustic Claypot. 



Mango Sticky Rice yang Cocok untuk Penutup

Selain makanan utama, aku juga memesan Mango Sticky Rice sebagai menu penutup.


Ternyata pilihan ini beneran nggak mengecewakan! Satu porsi Mango Sticky Rice di tempat ini ternyata juga cukup besar. Kalau Manteman datang ke Rustic Claypot bareng teman atau keluarga, menu ini bisa dimakan barengan.


Di satu piringnya terdapat banyak potongan mangga yang manis berpadu dengan ketan yang lembut serta saus santan yang gurih. Kombinasi rasanya terasa pas dan nggak berlebihan. 


mango-sticky-rice-rustic-claypot-depok


Menu ini juga cocok untuk Manteman yang menyukai dessert ala Thailand dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang seimbang.


Selama di Rustic Claypot aku juga ditemani dengan segelas minuman teh dingin. Selain itu ternyata tempat ini juga menyediakan satu botol kaca minuman air mineral di setiap meja gratis. Lumayan, kan, biar tenggorokan nggak seret… Hehehe…


Baca Juga: Mencicipi Papeda di RM Samasuru Ambon Mama Dila Latuconsina



Berbagai Pilihan Menu di Rustic Claypot

Salah satu hal yang aku perhatikan saat melihat daftar menu adalah buku menunya cakep dan pilihan makanannya memang nggak terlalu banyak. Tapi kalau buatku sendiri, sih, itu bukan masalah. Soalnya sering kali restoran dengan menu yang terlalu banyak malah bisa bikin aku bingung memilih. :) 


Di Rustic Claypot, pilihan menu yang lebih ringkas membuat proses memilih makanan menjadi lebih cepat. Yang terpenting, menu-menu yang tersedia terasa cukup beragam untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Ada pilihan makanan utama, camilan, hingga dessert yang bisa dinikmati setelah makan.


Berikut beberapa pilihan menu yang da di Rustic Claypot. Siapa tahu Manteman mau makan di sana jadi sebelumnya sudah terpikir mau pesan apa. 


daftar-menu-rustic-claypot-depok

daftar-menu-rustic-claypot-depok

daftar-menu-rustic-claypot-depok

daftar-menu-rustic-claypot-depok

daftar-menu-rustic-claypot-depok

daftar-menu-rustic-claypot-depok



Pelayanan Cepat dan Area Parkir Tersedia

Kelebihan lain yang aku rasakan saat berkunjung ke tempat makan ini yaitu pelayanan yang cukup cepat. Nanti staff Rustic Claypot akan langsung mendatangi meja memberi buku menu. 


Setelah memilih menu, kakak staf akan datang ke meja lagi untuk mencatat menu sekaligus proses pembayaran. Jadi sebelum makanan datang kita sudah bayar, ya. Jujur, aku pun sebenarnya suka dengan konsep seperti ini. Jadi bayar dulu baru makan, bukan sebaliknya. Dan kita juga nggak repot mesti ke kasri tapi pesan dan bayar bisa langsung di meja.  


Nah, aku lupa tanya pembayaran bisa tunai atau nggak Soalnya pas di meja langsung membawa EDC gitu kakak staff-nya. Nggak nunggu terlalu lama, pesanan aku pun datang. 


Untuk urusan parkir, Rustic Claypot juga menyediakan area parkir bagi motor maupun mobil. Memang kapasitasnya terbatas, tapi sudah cukup membantu pengunjung yang datang menggunakan kendaraan pribadi.




Baca Juga: Perjalanan Buku "Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya"



Kehadiran Rustic Claypot menjadi warna baru di kawasan Jalan Nusantara Raya, Depok. Tempat makan ini menawarkan kombinasi yang menarik antara suasana asri kehijauan serta sajian claypot yang hangat dan mengenyangkan.


Bagiku yang memiliki banyak kenangan dengan Jalan Nusantara Raya, menemukan tempat seperti ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Rasanya seru melihat jalan yang dulu aku lewati setiap hari kini memiliki pilihan kuliner baru dengan konsep yang berbeda.



Dita Indrihapsari



Lokasi Video Klip Lagu Spring Day BTS



Tanggal 13 Juni 2026 jadi momen yang spesial bagi para ARMY di seluruh dunia. Tepat di tanggal itulah BTS ulang tahun. Dan tahun ini, BTS merayakan ulang tahun mereka yang ke-13 sejak debut. 


Keren banget mereka! Sudah bertahan 13 tahun dengan member yang tetap utuh. Nggak kebayang sudah lebih dari satu dekade sejak tujuh pemuda dari Korea Selatan itu pertama kali memperkenalkan diri kepada dunia melalui lagu "No More Dream".


Sebagai ARMY yang sudah mengikuti perjalanan BTS selama beberapa tahun sejak 2020, aku pingin merayakan hari istimewa BTS dengan cara yang berbeda. :D 


Bukan dengan membeli merchandise baru, melainkan dengan mengenang salah satu karya lagu paling emosional yang pernah mereka ciptakan: Spring Day.


Bagi banyak penggemar, Spring Day bukan sekadar lagu. Lagu ini, tuh, seperti pelukan hangat saat hati sedang sedih. Lagu ini semacam jadi pengingat kalau perpisahan bukan akhir dari segalanya, dan ada harapan bahwa suatu hari nanti kita akan kembali bertemu dengan orang-orang yang kita rindukan. Atau kalau pun nggak lagi bertemu, keadaan menjadi lebih baik..


Nggak heran, sih, kalau hingga hari ini, sembilan tahun setelah dirilis, lagu Spring Day masih dianggap sebagai salah satu lagu terbaik BTS sepanjang masa.



Kisah Mengharukan di Balik Lagu Spring Day

Spring Day dirilis pada Februari 2017 sebagai lagu utama dari album You Never Walk Alone. Sejak pertama kali muncul, banyak orang langsung jatuh cinta pada lirik dan melodinya yang menyentuh hati.


Lagu ini bercerita tentang kerinduan terhadap seseorang yang sudah nggak bersama kita. Bisa karena jarak, waktu, atau bahkan kehilangan yang nggak dapat diputar kembali. 


Nah meski rasanya lagu ini penuh kesedihan, Spring Day nggak meninggalkan kita dalam keputusasaan. Sebaliknya, lagu ini justru menawarkan harapan.


Seperti musim dingin yang pada akhirnya akan berganti menjadi musim semi, rasa rindu dan kesedihan pun suatu saat akan berlalu. Akan ada hari ketika kita kembali tersenyum dan menemukan kehangatan setelah melewati masa-masa sulit.


Mungkin itulah alasan mengapa lagu ini begitu dicintai. Pesannya sangat universal. Semua orang pernah merindukan seseorang.


Dari teori yang beredar, lagu ini juga diduga kuat tercipta dari tragedi kapal Sewol yang tenggelam di tahun 2014. Sebanyak 304 penumpang yang kebanyakan anak SMA yang sedang karyawisata ikut tenggelam bersama kapal itu. Sedih banget ceritanya… :’( 



Lagu BTS yang Nggak Terlupakan!

Di dunia K-Pop yang bergerak sangat cepat, biasanya sebuah lagu hanya bertahan beberapa minggu atau bulan di tangga lagu sebelum digantikan oleh lagu baru.


Namun, Spring Day berbeda! Lagu ini mencetak sejarah sebagai lagu idol dengan masa bertahan terlama di tangga lagu Melon Top 100. Bahkan hingga tahun 2026, lagu tersebut masih terus mencatatkan rekor luar biasa. Sejak dirilis pada tahun 2017, Spring Day berhasil bertahan selama sembilan tahun berturut-turut di chart tahunan Melon dan menjadi lagu dengan masa charting terpanjang dalam sejarah di platform tersebut.


Nggak hanya di platform musik Korea, video musik Spring Day juga terus mendapatkan cinta dari penggemar di seluruh dunia. Video musik yang diunggah di YouTube sembilan tahun lalu kini telah ditonton lebih dari 500 juta kali. Keren banget!


Bahkan sampai sekarang pun aku sendiri masih suka, lho, dengerin lagu Spring Day… :’)



Stasiun Iryeong, Sempat Terbaikan dan Kini Kembali Lagi

Nah, kalau menonton video klip Spring Day, ada dua lokasi di video tersebut yang sangat ikonik. Bahkan sampai didatangi oleh Army dari seluruh dunia untuk melihat langsung seperti apa, sih, tempatnya. :D 


Salah satu lokasi dalam video klip Spring Day adalah stasiun kereta tua yang terlihat sepi. Lokasi tersebut adalah Stasiun Iryeong yang berada di Yangju, Provinsi Gyeonggi. Kota ini berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Seoul menggunakan kereta api.


Dok. Youtube Spring Day BTS


Menariknya, stasiun ini sebenarnya memang sudah ditutup sejak tahun 2004. Selama bertahun-tahun, bangunan tersebut terbengkalai dan menjadi saksi bisu saat BTS membuat video klip di stasiun itu. .


Namun, setelah terbengkalai selama 21 tahun, Stasiun Iryeong kembali dibuka pada tahun 2025 lalu dan kini kembali melayani jalur yang menghubungkan Daegok dengan Uijeongbu. Kelihatannya stasiun baru yang sekarang memang agak berubah, tapi tetap saja punya nilai historis buat para ARMY, ya… :D 


Bagi ARMY, stasiun ini bukan sekadar tempat transit. Di sinilah beberapa adegan paling emosional dalam video klip Spring Day direkam. Taehyung atau V tampak sendiri di stasiun yang dipenuhi oleh salju. Kesan dingin dan adanya rasa kehilangan serta kesepian seperti tergambar di video klipnya.



Pantai Jumunjin dan Halte Bus Paling Terkenal di Dunia K-Pop

Kalau ada satu lokasi syuting BTS yang wajib masuk daftar kunjungan para ARMY saat ke Korea Selatan, maka jawabannya adalah Pantai Jumunjin.


Pantai yang berada di wilayah Gangwon-do ini menjadi lokasi syuting beberapa adegan paling terkenal dalam video klip Spring Day dan You Never Walk Alone.


Di video klip Spring Day, terlihat Jimin yang sedang sendirian di pantai dengan pasir bersih tersebut. Ada satu waktu ia duduk dan berdiri menghadap ke arah laut. Di adegan lain, Jimin berdiri membelakangi laut sambil membawa sepatu berwarna biru seperti sedang menunggu pemilik sepatu itu. 


Dok. Youtube Spring Day BTS


Suasana Pantai Jumunjin memang memiliki daya tarik tersendiri. Laut biru yang tenang, angin yang berhembus lembut, dan langit yang luas menciptakan nuansa damai yang sangat cocok dengan pesan lagu Spring Day.


Kalau suatu saat aku ada kesempatan ke Pantai Jumunjin juga aku kayaknya nggak hanya akan foto-foto dan duduk menikmati ombak di pantai. Aku juga mau sambil mendengarkan lagu Spring Day!


Di Pantai Jumunjin itu juga terdapat halte bus yang sangat populer. Awalnya halte itu khusus dibuat untuk kebutuhan photoshoot cover album BTS You Never Walk Alone. Nggak diduga, spot ikonik itu justru menjadi daya tarik wisatawan. :D


Banyak ARMY dari berbagai negara yang mengunjungi Pantai Jumunjin dan memperagakan ulang foto BTS yang berfoto di halte bus tersebut. 



Selamat Ulang Tahun ke-13, BTS!

Tiga belas tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Usianya sama seperti usia anakku yang paling sulung… Hehe… :D 


Di ulang tahun BTS yang ke-13 ini, mungkin mendengarkan Spring Day dan mengenang tempat-tempat ikonik yang menjadi bagian dari kisah lagu tersebut bisa jadi salah satu cara indah untuk merayakannya.


BTS 2013 (Dok. Korea Herald)


BTS 2026 (Dok. Antara News)


Selamat ulang tahun ke-13, BTS. Terima kasih sudah menjadi musim semi bagi begitu banyak orang di seluruh dunia… :) 



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *