Uji Adrenalin di 9 Jembatan Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi



Jujur aja, awalnya aku nggak nyangka perjalanan ke Lembah Purba di kawasan Situ Gunung Sukabumi ini akan jadi pengalaman yang “menguras adrenalin”.


Salah aku juga, sih. Pas awal diajak teman-teman kuliah untuk ke Situ Gunung, aku nggak sempat untuk baca seperti apa medannya, gimana kondisi di sana. Aku juga nggak ngeh ternyata perjalanan ekspedisi Lembah Purba durasinya lumayan lama dengan jarak yang cukup jauh juga, sekitar enam km. 


Yang aku bayangkan, tuh, cuma jalan santai di tengah hutan tropis, menikmati udara segar, dan bisa sambil foto-foto serta ambil footage video. Tapi ternyata, perjalanan ini berubah jadi ekspedisi yang penuh tantangan. Di sini, kita bukan hanya berjalan, tapi juga harus “menaklukkan” 9 jembatan dengan karakter yang berbeda-beda!


Ada jembatan-jembatan apa saja yang aku lalui? Di tulisan kali ini aku akan bahas satu per satu, ya, jembatan di Ekspedisi Lembah Purba Sukabumi yang menarik banget buat dicoba dan aku kasih rating juga seberapa sulitnya jembatan-jembatan tersebut untuk dilalui! :D



1. Jembatan Gantung Situ Gunung (Suspension Bridge)

8/10

Perjalanan dimulai dari ikon paling terkenal di kawasan ini, yaitu Jembatan Gantung Situ Gunung atau Situ Gunung Suspension Bridge. 


Jembatan ini bukan jembatan biasa. Dengan panjang sekitar 535 meter, jembatan ini pernah dikenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan yang aku lalui ini jembatan yang baru. Ada jembatan gantung Situ Gunung lama yang panjangnya hanya 243 meter dan posisinya ada di bawah. Kalau dari jembatan gantung panjang ini akan terlihat jembatan lama tersebut. 


Saat aku ekspedisi Lembah Purba sekitar setahun lalu, kondisi pengunjung cukup ramai. Begitu pun yang sedang melewati jembatan ini. Dari awal melangkah saja, aku sudah bisa merasakan sensasi goyangan di bawah kaki. Duh, asli bikin deg-degan banget. Aku sampai harus berpegangan dengan temanku. 




Sepertinya goyangan yang lumayan ini karena ada banyak orang di jembatan pada saat yang bersamaan. Soalnya ketika keesokan harinya aku melewati jembatan ini lagi setelah menginap di Lembah Purba, aku sama sekali nggak deg-degan. Jembatannya saat itu memang agak kosong. Adalah cuma sedikit orang yang sedang berada di jembatan. 


Awalnya aku jalan pelan, super hati-hati. Tangan sempat dingin tapi lama-lama, justru muncul rasa takjub. Pemandangannya benar-benar cantik, deh. Di bawahnya ada hutan lebat yang hijau. Dan saat berhasil sampai di ujung… rasanya lega sekaligus bangga. :D



2. Jembatan Tarzan

8,5/10

Setelah “pemanasan” di jembatan utama, perjalanan berlanjut hingga aku melihat sebuah jembatan yang aku pikir masa iya aku harus lewat jembatan ini. Kok, kesannya kayak nggak aman banget, yaaa! :D 


Namanya Jembatan Tarzan. Panjangnya sekitar 200 meter dengan ketinggian 75 meter. Aku bilang hal di atas bukan tanpa alasan. Jembatan besi ini bagian bawahnya berongga-rongga. Sisi kanan dan kirinya juga nggak tertutup rapat. Kebayang, deh, deg-degannya kayak apa pas mulai melewatinya.


Oiya, bahkan untuk bisa menyusuri jembatan ini aku dan pengunjung lain harus memasang harness di tali. Jadi setiap maju harness itu pun juga aku gerakkan. Tentunya hal ini untuk keamanan, ya.




Kelihatannya memang bikin deg-degan banget. Tapi begitu jalan hanya beberapa meter ke depan, aku sudah merasakan nikmatnya lewat jembatan ini. Tiba-tiba perasaan deg-degan dan takut kayak hilang gitu aja. 


Mungkin hal ini karena terbantu dengan adanya harness yang dipasang itu, ya. Jadi aku tersugesti kalau lewat jembatan ini akan aman-aman aja. 


View di sekeliling Jembatan Tarzan juga alamiiii banget! Berasa seperti ada di dalam hutan dengan rimbunnya pepohonan di sekitarnya. 



3. Jembatan Ki Haji

5/10

Dibandingkan jembatan sebelumnya, jembatan ini terasa lebih “ramah”. Jembatan Ki Haji terbuat dari kayu yang rapat. Ada pegangan di sampingnya juga. Selain itu jembatan ini juga nggak tinggi. 


Jembatan Ki Haji melewati aliran sungai dengan banyaknya bebatuan besar. Tentunya tetap hari hati-hati, ya, melewati jembatan ini walau kelihatannya bukan jembatan yang ekstrem.  





4. Jembatan Wallen

5/10

Setelah Jembatan Ki Haji, aku dan temn-teman lanjut menyusuri bagian yang ebih dalam di Ekspedisi Lembah Purba. Pohon rimbun dengan jalan tanah yang sedikit licin karena hujan semalam.


Setelah itu, aku melihat sebuah jembatan lagi. Namanya Jembatan Wallen. 




Jembatan ini berada di area yang rimbun, dengan pepohonan yang rapat di sekelilingnya. Cahaya matahari yang masuk di sela-sela daun membuat suasananya terasa dramatis.


Jembatan ini mirip seperti Jembatan Ki Haji. Jembatan ini juga melewati aliran sungai yang cukup deras. Jembatannya nggak terlalu panjang dan cukup mudah untuk dilewati karena dilengkapi juga dengan tali pengaman di salah satu sisinya. 


Jadi biar lebih aman melewati jembatan ini, kita bisa memegang talinya juga, ya. 



5. Jembatan Ki Enteh (Jembatan Setapak)

8/10

Namanya unik: Jembatan Ki Enteh atau sering juga disebut Jembatan Setapak. Sesuai namanya, jembatan ini memang sempit. Jalurnya nggak terlalu lebar, jadi kita harus benar-benar fokus saat melangkah ke depan.


Ini mungkin salah satu jembatan yang paling bikin aku harus konsentrasi penuh. Nggak bisa sambil lihat kanan kiri terlalu lama, karena harus menjaga keseimbangan.




Jembatan ini dilengkapi dengan dua tali pengaman  di samping kiri dan kanan. Ada tambahan tali lagi di sebelah kiri untuk memasang harness. Ya, jadi kalau lewat Jembatan Setapak harness harus dipasang, ya, supaya lebih aman. 


Jembatan ini sebenarnya juga nggak terlalu tinggi. Tapi karena modelnya yang hanya setapak aja makanya melewati jembatan ini tricky banget. Saat mulai menyusurinya sedikit demi sedikit, aku lumayan ada perasaan takut kalau jembatan ini akan miring… :D 


Alhamdulillah banget yang aku takutkan nggak kejadian. Hehe… :) 



6. Jembatan Tebe

5/10

Setelah itu nggak berselang lama, aku sampai di Jembatan Tebe. Di sini rasanya tenaga mulai terasa terkuras. Sebenarnya bukan karena jembatannya paling sulit, tapi karena perjalanan yang sudah cukup panjang.


Jembatan Tebe hampir sama karakteristiknya dengan Jembatan Ki Haji dan Jembatan Wallen. Jembatan ini nggak terlalu sulit dilewati. Ada aliran sungai di bawah jembatan yang jaraknya cukup dekat dengan jembatan. 




Di sini juga sekelilingnya rimbun banget! Ada banyak tanaman paku-pakuan di sekitar jembatan. Setelah melewati Jembatan Tebe dan jalan dengan ditemani suara aliran sungai, aku dan teman-teman sampai di Curug Kembar Lembah Purba!


Masya Allah, seger banget! Dari agak jauh aja cipratan air curug sudah bisa mengenai wajahku! :) Di curug ini aku dan teman-teman lumayan menghabiskan waktu yang agak lama sekalian istirahat. 



7. Jembatan Oren (Jembatan Nanjak)

100/10

Usai menikmati indahnya Curug Kembar Lembah Purba, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Nah, sebelum sampai di curug sebenarnya aku sudah melihat sebuah jembatan yang tinggi di atas. Dan benar saja, setelah dari curug, kami memang harus melewati jembatan tersebut. 


Namanya Jembatan Oren atau Jembatan Nanjak. Disebut Jembatan Oren karena memang jembatan ini di bagian sisi kanan dan kirinya memiliki warna oranye tipis. 


Di awal masih bisa ketawa. Pas sampe ujung, nangeeeessss... :')


Kelihatannya, sih, jembatan ini biasa aja, ya. Bentuknya nggak estrem seperti Jembatan Tarzan atau Jembatan Setapak. Meski demikian, aku nobatkan Jembatan Oren sebagai jembatan ter-wadidawwow, deh! :D


Yap, ini dia salah satu yang sangat memorable saat melakukan Ekspedisi Lembah Purba: melewati Jembatan Oren!


Awalnya saat lewat jembatan memang biasa saja. Namun belum setengah perjalanan aku sudah mulai kehabisan napas. Kenapa? Karena bentuk jembatan ini menanjak! Makanya Jembatan Oren disebut juga Jembatan Nanjak sesuai jalurnya! :D 


Di sini, bukan hanya keseimbangan yang diuji, tapi juga stamina dan mental. Melangkah di jembatan sambil menanjak memberikan sensasi yang berbeda dna rasanya cuapeknya cuapek banget!


Napas mulai terasa lebih berat, tapi tetap harus semangat juga terus naik supaya bisa ada di ujung jembatan. Sempat berhenti beberapa kali, akhirnya aku bisa juga menyelesaikan misi melewati Jembatan Oren ini! Huhuhu…. 


Setelah itu, aku dan teman-teman langsung istirahat dan diam. Hahaha…. Kebayang, nggak, sih, aku yang jarang olahraga mesti naik jembatan laknat kayak gitu. Masya Allah, alhamdulillah sampai ujung jugaaaa…. :D 



8. Jembatan Bengkok

6/10

Ini dia jembatan terakhir yang aku lewati sata ikut Ekspedisi Lembah Purba di Sukabumi. Kalau dari fotonya kelihatan, kan, ya, kenapa jembatan ini dinamakan Jembatan Bengkok. Yap, karena da di tengah jembatan yang memang nggak lurus banget. 


Untuk Jembatan Bengkok ini cukup mudah dilalui, ya. Hanya saja, dari jembatan ke bagian bawah kelihatannya tinggi. Jadi tetap mesti hati-hati  banget lewat Jembatan Bengkok ini.





9. Jembatan Merah

Nah, sebenarnya masih ada Jembatan Merah di kawasan Lembah Purba. Namun aku dan teman-teman saat itu  nggak melewatinya. Selepas dari Jembatan Bengkok, kami langsung menuju perkemahan karena akan menginap semalam di Glamping Lembah Purba


Makanya aku rasanya pingin balik lagi ke Lembah Purba dan mencoba naik ke Jembatan Merah ini. Jembatan ini memang berwarna merah, ya. Hal ini membuat Jembatan Merah terlihat ikonik juga di Lembah Purba. 


Kalau Manteman ada yang sudah pernah ke Lembah Purba dan melewati Jembatan Merah ini? 



Perjalanan menyusuri 9 jembatan di Lembah Purba ini bukan cuma soal wisata alam. Ini jadi pengalaman yang mengajarkan banyak hal, seperti menghadapi rasa takut, melatih fokus dan keseimbangan, dan yang paling penting, percaya sama kemampuan diri sendiri.


Aku yang awalnya deg-degan bahkan untuk satu jembatan, akhirnya bisa melewatinya sekaligus. Dan yang paling menarik? Setelah selesai, bukannya kapok tapi malah pengen lagi…. :D 



Dita Indrihapsari 


Masjid Nurul Iman, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah di Atas Atap Mal Blok M Square

masjid-nurul-iman-blok-m-square


Aku, tuh, beneran nggak nyangka kalau kawasan Blok M bakal seramai sekarang! Blok M termasuk tempat mainku dulu waktu masih kecil… :D 


Dulu sering banget diajak orang tua ke Gramedia sama ke Matahari Blok M. Kenangan makan di AH juga masih ku simpan terus di memori. Dulunya ramai, namun ada masanya Blok M yang ditempati oleh banyak mal sempat “mati suri”.


Kini Blok M bangkit kembali. Banyak tenan makanan baru yang viral, seperti Obihiro Nikudon, yang membuat banyak orang dari berbagai kalangan datang ke Blok M. 


Saat lebaran lalu, aku dan sekeluarga sempat juga berkunjung ke Blok M. Niatnya pingin juga mencoba salah satu gerai makanan di sana, tapi antrinyaaa panjang banget! :D Akhirnya kami pun cuma sempat ke Gramedia Jalma dan beli minuman di dalam Blok M Square. 


Nah, siapa sangka di balik hiruk-pikuk pusat perbelanjaan Blok M Square yang legendaris, terdapat sebuah tempat ibadah dengan arsitektur yang menakjubkan? Bukan di lantai dasar atau terselip di antara tenan ruko, tempat ibadah ini justru berdiri megah di titik tertinggi bangunan. 


Yap, ini dia Masjid Nurul Iman, sebuah masjid yang memegang predikat sebagai salah satu masjid terbesar yang dibangun di atas pusat perbelanjaan di Indonesia! Gimana nggak besar kalau masjid ini bisa menampung sampai ribuan jamaah, lho!


Yuk, simak cerita aku soal Masjid Nurul Iman Blok M Square di tulisan ini… :) 



Lokasi Unik dan Strategis di Jantungnya Jakarta Selatan

Menurutku kalau lagi berada di sekitaran Blok M Square atau memang lagi belanja di Blok M Square nggak perlu lagi khawatir soal ibadah sholat. Di mal ini bukan hanya disediakan mushola, tapi langsung ada masjid besar! :D 


Masjid Nurul Iman terletak tepat di lantai 7 Mal Blok M Square. Coba, ada masjid apa lagi yang berada di bagian paling atas sebuah mal? Kalau mau sensasi ibadah yang berbeda, Manteman bisa coba sholat di masjid ini, deh… :) 


Nah, sebenarnya letak masjid yang berada di atap mal bisa memberikan ketenangan tersendiri, ya. Jauh dari kebisingan suara kendaraan di bawah, namun tetap mudah dijangkau oleh siapa saja.


masjid-nurul-iman-blok-m-square


Untuk menuju ke Masjid Nurul Iman, kita bisa masuk ke dalam bangunan Blok M Square dari pintu masuk manapun. Lanjut naik eskalator atau lift sampai ke masjidnya. 


Saat aku dan keluarga mau sholat ashar di masjid ini sebelum pulang, kondisinya cukup ramai. Aku melihat ada banyak orang yang sama-sama mau menuju ke masjid. 


Baca Juga: Masjid Teraskota, Masjid Besar di Dalam Mal Teraskota BSD



Konsep Arsitektur, Serasa Berada di Masjid Nabawi

Satu hal yang langsung memikat mataku saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Masjid Nurul Iman di lantai 7 ini adalah kemiripan atmosfernya dengan masjid-masjid di Timur Tengah. 


Sepertinya, sih, arsitektur masjid ini mengadopsi Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan masjid-masjid di Turki dalam rancangan masjid ini. Coba kita bedah satu-satu soal sisi arsitektur Masjid Nurul Iman ini, ya. 



1. Replika Masjid Nabawi di Area Wudhu

Salah satu fitur paling menarik adalah area wudhu dan toiletnya. Arsitektur masjid  mendesain area ini dengan payung-payung besar yang identik dengan Masjid Nabawi di Madinah. Hal ini aku lihat ada di area wudhu jamaah laki-laki (ikhwan) yang aku lihat pada foto di suatu website. 


Nah, sedangkan kalau tempat wudhu jamaah perempuan (akhwat) yang aku masuki nggak seperti payung atasnya, tapi memang bagian atasnya transparan dengan lantai keramik krem dan ukiran-ukiran kayu berwarna putih di atasnya. 



2. Miniatur Ka’bah 

Di halaman luar masjid, pengunjung akan disambut oleh miniatur Ka’bah yang cukup besar. Area ini sering digunakan untuk kegiatan manasik haji dan umrah. Di sekelilingnya terdapat taman. Oiya, area Ka’bah ini semi terbuka, ya. Jadi atasnya sudah ditutup oleh kanopi. Mungkin supaya nggak panas, ya. Jadi bisa membuat orang lebih nyaman jika berada di sana untuk manasik. Apalagi biasanya ada kunjungan anak-anak TK yang manasik di sana. Kebayang kalau panas bisa cranky, deh, anak-anak… :) 


miniatur-kabah-masjid-nurul-iman-blok-m-square



3. Interior Megah

Masjid ini terbagi menjadi dua bagian besar: area barat untuk jamaah ikhwan  dan area timur untuk jamaah akhwat. 


Di ruang utama ikhwan, langit-langitnya dihiasi dengan lukisan awan biru yang dan lampu gantung kristal. Sedangkan di ruang utama jamaah akhwat terdapat pilar-pilar besar yang mirip dengan Masjid Nabawi. 


Baca Juga: Masjid At Thohir, Destinasi Wisata Religi di Depok 



Fasilitas Masjid Nurul Iman Blok M Square

Sebagai masjid yang dikelola secara profesional di pusat kota, fasilitas yang tersedia kelihatannya juga memadai, ya. Hal ini bisa aku lihat dari beberapa hal, yaitu: 


  • Kapasitas Besar: Masjid ini memiliki luas sekitar 4.000 hingga 5.000 meter persegi. Dalam kondisi normal, ia dapat menampung sekitar 6.000 hingga 10.000 jamaah. Namun, pada momen besar seperti Salat Id, kapasitasnya disebut-sebut bisa dimaksimalkan hingga menjangkau 14.000 orang di seluruh area lantai 7. Kebayang, kan, gedenya segimana! Makanya aku penasaran, deh, pingin lihat gimana kondisi masjid ini dari atas. :) 


  • Pendingin Ruangan (AC): Di dalam ruang utama, tersedia AC yang membuat ibadah tetap bisa berjalan khusyuk meski di siang hari.


  • Fasilitas Mukena Bagi Akhwat: Tersedia mukena bagi pengunjung wanita yang nggak membawa mukenanya sendiri.

  • Tempat Menyimpan Alas Kaki: Baik di bagian akhwat maupun ikhwan terdapat tempat khusus untuk menyimpan alas kaki, ya Ada petugasnya juga yang siap membantu.

fasilitas-penitipan-sepatu-masjid-nurul-iman-blok-m-square


  • Kajian Rutin: Masjid Nurul Iman aktif banget sebagai pusat dakwah. Masjid ini sering mengadakan kajian sunnah oleh ustadz-ustadz ternama. Bahkan setiap hari juga ada jadwal kajian yang bisa diikuti. Untuk ikut dan mendengarkan kajian juga gratis, lho. Dengan adanya kajian rutin ini, jamaah yang datang bukan hanya pengunjung mal, melainkan juga masyarakat umum yang sengaja datang untuk menuntut ilmu.


  • Buka Puasa Bersama: Saat bulan Ramadhan, Masjid Nurul Iman dikenal dermawan dalam menyediakan ta’jil gratis bagi para musafir dan pengunjung yang ingin berbuka di sana.


Baca Juga: Menikmati Senja di Masjid Universitas Indonesia



Area Akhwat Masjid Nurul Iman Blok M Square

Saat berada di Masjid Nurul Iman Blok M Square aku hanya masuk ke dalam bagian akhwat saja. Jadi aku nggak tahu bagaimana bagian dalam bagian ikhwan-nya, ya. :) Tapi kalau lihat di beberapa foto di beberapa portal berita, tempat sholat ikhwan tampak sangat luas dengan langit-langit yang indah seperti yang sudah aku singgung sebelumnya di atas. 


Untuk tempat sholat khusus akhwat sebenarnya menurutku juga luas. Saat aku masuk ke dalam, ada banyak akhwat yang sedang sholat di beberapa shaf bagian depan.


ruang-sholat-akhwat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Meski tampak ramai, tapi keadaannya nggak sumpek. Bisa jadi karena langit-langit masjid ini memang tinggi. Selain itu dengan pilar-pilar penopang dan bagian atas pilar yang dicat putih selang-seling dengan abu-abu, bentuknya mirip sekali dengan Masjid Nabawi… :) 


Oiya, yang aku salut dari masjid ini adalah disediakannya banyak kursi lipat! Sepertinya pengurus masjid paham banget kalau ada saja, kan, jamaah masjid yang sudah lansia jadi nggak kuat untuk sholat berdiri. Atau bisa jadi ada jamaah yang mengalami kondisi tertentu sehingga hanya bisa sholat sambil duduk.   


fasilitas-kursi-lipat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Di bagian akhwat ini aku lihat juga tersedia mukena. Namun sayangnya tempat menaruh mukenanya di boks dekat deretan kursi lipat dengan kondisi yang berantakan. Jadi kayaknya, sih, pengguna mukena langsung buru-buru memasukkan mukena yang mereka pakai ke boks itu tanpa melipatnya lagi. 


Di dalam ruang sholat akhwat pada bagian depan juga ada layar besar. Jika ada kajian rutin dari ustadz, para akhwat pun bisa tetap mendengar dan melihatnya melalui layar tersebut. 


Sayangnya, di bagian akhwat ini yang menurutku kurang rapi selain boks tempat mukena juga tempat menaruh alas kaki. Sebenarnya sudah disediakan tempat khusus, tapi sepertinya, sih, jamaah lebih senang menaruhnya langsung tepat di bagian depan area jamaah perempuan… 


bagian-akhwat-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Selain itu toilet di bagian akhwat menurutku juga kurang terawat. Kondisinya basah dan membuatku agak kurang nyaman. Mungkin karena saking banyaknya jamaah, ya. Aku juga nggak melihat petugas kebersihannya saat ada di bagian akhwat. Aku harap semoga masjid ini terkhususnya di bagian akhwat agar lebih rapi, lebih bersh, dan lebih tertata dengan baik… :) 



Jam Buka dan Aturan Kunjungan

Masjid Nurul Iman buka mengikuti operasional mal, namun untuk akses ibadah biasanya sudah dimulai sejak waktu Subuh bagi warga sekitar atau pengelola, dan tetap aktif hingga waktu Isya berakhir. 


Selama bulan Ramadhan, masjid ini bahkan sering digunakan untuk i’tikaf (berdiam diri di masjid) pada 10 malam terakhir, yang berarti masjid bisa beroperasi hampir 24 jam.


Baca Juga: Masjid Agung Jawa Tengah



Cara Menuju Ke Masjid Nurul Iman Blok M Square

Karena letaknya di Blok M, akses transportasi umum menuju lokasi ini sangatlah mudah. Aku coba tulis beberapa alternatif menuju Masjid Nurul Iman Blok M Square menggunakan transportasi umum, ya. 


MRT Jakarta: Turun di Stasiun MRT Blok M BCA. Dari sana, kita hanya perlu berjalan kaki sekitar 5 menit menuju gedung Blok M Square.


TransJakarta: Berhenti di Halte Blok M (Terminal Blok M). Lokasi mal berada tepat di seberang terminal, sangat praktis bagi pengguna busway.


Commuter Line (KRL): Jika datang dari arah Bogor atau Bekasi, kita bisa turun di Stasiun Sudirman, lalu melanjutkan perjalanan dengan MRT atau TransJakarta menuju arah Blok M.


Kendaraan Pribadi: Kita bisa langsung memarkir kendaraan di gedung parkir Blok M Square. Langsung saja parkirkan kendaraan di lantai atas (P5 atau P6) agar lebih dekat saat naik eskalator atau lift menuju lantai 7.


taman-masjid-nurul-iman-blok-m-square


Gimana, bagi Manteman yang Muslim apakah sudah pernah mengunjungi Masjid Nurul Iman di Blok M ini? Kalau sudah pernah, yuk, ceritain gimana pengalaman kamu saat berada di masjid ini. 


Bagi yang belum ke sana, apakah tertarik juga buat merasakan sensasi sholat di atas ketinggian mal di Jakarta ini? :D



Dita Indrihapsari



Menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian di Bogor

museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Bersyukur banget aku tinggal di Depok. Jaraknya nggak terlalu jauh dari Bogor dan ada banyaaaak tempat wisata di Kota Hujan ini. Sepertinya setiap tahun ada aja tempat wisata baru di Bogor. 


Kali ini aku mengajak anak-anak menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian. Memang bukan tempat wisata baru. Namun setelah aku mengunjunginya, aku rekomendasiin tempat ini buat Manteman kunjungi juga. 


Asli, ternyata bagian dalam museum ini penuh nilai edukasi, ada banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dengan biaya masuk 0 rupiah! 


Yap, aku nggak mengada-ngada. Untuk bisa menikmati semua koleksi yang ada di museum ini beserta fasilitasnya pengunjung nggak dikenakan biaya. Lokasinya pun sangat strategis. Berada tepat di seberang pintu utama Kebun Raya Bogor


Ada apa saja di Museum Tanah dan Pertanian? Yuk, aku ajak Manteman semua buat menjelajahinya juga lewat tulisanku… :) 




Gedung Utama Museum, Gedung Bersejarah Berusia Ratusan Tahun!

Kota Bogor memang identik dengan tanaman, ya. Selain keberadaan Kebun Raya Bogor, di kota ini juga terdapat IPB University. Kampus yang awalnya berfokus pada bidang pertanian. 


Makanya begitu tahu di Bogor ada Museum Tanah dan Pertanian aku nggak heran. Sejarah tentang penelitian pertanian pasti sudah terekam panjang di kota ini. 


Saat anak-anak liburan, aku pun mengajak mereka ke Bogor dan berkunjung ke museum ini. Turun dari kereta di Stasiun Bogor, kemudian kami naik angkot dan langsung turun tepat di depan Museum Tanah dan Pertanian.


Kala itu sedang musim liburan sekolah, jadi selain kami sudah ada beberapa pengunjung lainnya di depan museum meskipun hari masih pagi. Tak menunggu lama, aku dan anak-anak langsung masuk ke dalam gedung museum.


Sebenarnya hal pertama yang langsung membuatku takjub adalah bangunan museum yang terlihat sekali bangunan tua masa kolonial. 


museum-tanah-dan-pertanian-bogor



Dan benar saja, setelah berkeliling museum, ada info yang ku dapat mengenai gedung museum ini. Setelah pulang dari museum pun aku mencoba mencari tahu lebih lanjut mengenai sejarah Museum Tanah dan Pertanian. 


Museum ini ternyata menempati bangunan  Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek, sebuah lembaga pengetahuan tentang tanah dan pertanian yang didirikan tahun 1905. Karena itulah usia bangunan ini sudah ratusan tahun, kan! 


Setelah kemerdekaan, bangunan ini diambil oleh Pemerintah Indonesia dan menjadi Lembaga Penelitian Tanah pada 1974. Kemudian barulah menjadi museum pada 29 September 1988. 


Sempat mengalami renovasi, Museum Tanah dan Pertanian kini berdiri tegak di pusat Kota Bogor dan siap menyambut para pengunjung dengan beragam edukasi. 


Nah, begitu masuk bangunan tua peninggalan Belanda ini, aku dan anak-anakku langsung berkeliling melihat berbagai koleksi yang ada di sana. Beragam batu-batuan dari berbagai wilayah di Indonesia dipamerkan. 


Yang aku suka ada instalasi yang menunjukkan berbagai jenis tanah. Bentuk instalasinya memanjang ke bawah seperti tabung yang berisi tanah. Tanah-tanah tersebut kulihat berbeda-beda baik dari warna dan teksturnya. Selain itu, ada juga penjelasan tentang lapisan-lapisan tanah. 


koleksi-batu-museum-tanah-dan-pertanian-bogor

museum-tanah-dan-pertanian-bogor

informasi-di-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Meski menurutku kurang interaktif tapi berbagai koleksi di museum ini ditempatkan dengan baik. Informasinya juga diberikan dengan baik dan detail. Makanya museum ini memang cocok banget buat jadi tempat fieldtrip anak sekolah… :) 


Oiya, bangunan museum ini meski dari luar tampak kecil tapi ternyata bagian dalamnya luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Dengan alas keramik marmer juga membuat suasananya jadi lebih adem. 


Nah, yang aku nggak nyangka, ternyata Museum Tanah dan Pertanian di Bogor ini nggak hanya menempati satu bangunan saja, tapi tiga bangunan gedung sekaligus! Mantap nggak, tuh! Malah sebenarnya ada satu bangunan lagi tapi diperuntukkan sebagai ruang pertemuan dan guest house atau penginapan pegawai. 


denah-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Museum Betawi di Setu Babakan Jakarta



Galeri Pangan dan Pertanian di Masa Depan

Setelah dari gedung utama atau disebut gedung A, kami menuju bangunan selanjutnya di bagian belakang yang disebut gedung C. Oiya, kalau gedung B itu gedung guest house, ya. Jadi pengunjung museum dilarang masuk… :) 


Nah, di gedung C inilah jumlah koleksi dan cerita tentang tanah dan pertanian di Indonesia lebih banyak dibahas. Bahkan sampai terdiri dari tiga lantai, lho. :) 


Di lantai pertama aku sempat takjub melihat diorama subak atau sistem pengairan di Bali. Selain itu ada pula diorama dua kerbau besar yang sedang membajak sawah. Salut sama dekorasi museumnya… :D Anak-anak pun jadi lebih tertarik begitu melihat berbagai diorama di dalam museum ini. 


diorama-subak-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Oiya, di bangunan C ini aku dan anak-anak juga bisa melihat berbagai jenis sumber pangan, mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dan lainnya. Jenis-jenis padi juga ada infonya di sini. Malah ada juga layar interaktifnya. 


Sumber pangan yang nggak biasa aku lihat seperti sorgum sampai jagung warna ungu juga diperlihatkan dalam bentuk nyata. Menarik banget, ya!


Itu baru hal seru yang ada di lantai satu ya. Beranjak ke lantai dua barulah aku dan anak-anak melihat bagaimana sejarah pertanian dari masa penjajahan sampai masa kemerdekaan. 


sejarah-museum-tanah-dan-pertanian-bogor

ekspor-beras-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Nah, ada satu sudut menarik di lantai dua ini. Terdapat sebuah kedai kopi! Sebenarnya bukan kedai kopi beneran yang di mana pengunjung bisa membeli kopi, ya… :) Kedai ini tampaknya hanya diorama yang memperlihatkan bagaimana perkembangan dunia kopi di Indonesia… :) 


kopi-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Jika di lantai dua mengenai sejarah, di lantai tiga saatnya melihat ke masa depan! Yes, di lantai tiga gedung ini terdapat informasi menarik mengenai bagaimana teknologi pertanian di masa kini dan nanti. 


Aku melihat terdapat alat yang cukup besar berwarna kuning yang menggantung di satu sudut. Di belakangnya terdapat gambar helikopter. Oh, setelah kuperhatikan ternyata alat ini adalah aerofertilizing atau alat pemupukan menggunakan transporatsi udara! 


Selain itu ada juga teknologi alat pertanian modern, seperti autonomus tractor sampai drone. Di sini pula terdapat penjelasan mengenai smart farming.  


teknologi-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Bagi Manteman yang tertarik dalam bidang pertanian memang pas banget buat ke museum ini. 


Nah, seperti tempat wisata lainnya, di Museum Tanah dan Pertanian juga terdapat beberapa spot untuk foto, lho. Dari mulai diorama rumah petani lengkap dengan dekorasinya. Ada juga spot foto untuk menjadi petani. Disediakan kostum hingga capingnya! :) 


spot-foto-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Museum Perjuangan Indonesia di Lippo Mal Nusantara Jakarta



Beristirahat Sejenak di Rooftop Museum Tanah dan Pertanian

Kalau spot foto di museum sudah biasa, gimana dengan rooftop di museum dengan latar pemandangan gunung! Nah, ini dia salah satu hal yang aku kagumi juga dari Museum Tanah dan Pertanian. :) 


Dari gedung C, aku dan anak-anak lanjut ke gedung D yang ternyata di gedung inilah terdapat rooftop dilengkapi dengan saung dan beberapa meja serta kursi. Pas banget, kan, sebagai tempat istirahat setelah berkeliling Museum Tanah dan Pertanian dari depan hingga belakang…


rooftop-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Setelah cukup beristirahat dan mengambil dokumentasi di rooftop, aku dan anak-anak pun bergegas turun untuk pulang. Namun saat turun itulah aku baru sadar kalau di gedung ini juga masih ada berbagai koleksi dan diorama. 


Nah, kalau di gedung D ini temanya tentang peternakan. Dijelaskan berbagai hewan ternak yang dimanfaatkan untuk pertanian. Lucu banget di sini ada banyak diorama sapi dari berbagai daerah, jenis-jenis ayam sampai itik! :D 


museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Oiya, di gedung D yang disebut juga sebagai galeri peternakan sebenarnya terdapat ruang sinema. Sayangnya pas aku dan anak-anak ke museum ini, ruang sinemanya sedang nggak beroperasi. 


Di gedung ini pula terdapat fasilitas mushola serta playground kecil untuk anak. Gimana, lumayan, banget, kan fasilitas museum ini. 


pohon-harapan-museum-tanah-dan-pertanian-bogor


Baca Juga: Mengenal Paras Nusantara di Museum Nasional



Kalau boleh dibilang dengan tiket masuk gratis, museum ini sudah oke, sih. Hanya saja menurutku mungkin bisa lebih diperbanyak lagi untuk media interaktifnya. :) 


Aku pun sempat menulis harapan yang dipasang di pohon harapan yang ada di dalam museum. Aku harap doaku bisa terkabul, rakyat Indonesia bis makin makmur dan sejahtera. Aku harap dunia pertanian di Indonesia juga semakin berkembang… 


Gimana, Manteman tertarik juga buat menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian? Ajak keluarga dan bikin pengalaman ke museum ini jadi cerita seru, ya! 




Dita Indrihapsari


Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong, Resto Jepang Viral yang Antrenya Panjang!

obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong


Biasanya aku paling malas kalau mencoba hal-hal yang viral, terutama tempat makan. Nggak apa-apa banget disebut nggak ngikutin tren… :D 


Kenapa? Karena udah dapat dipastikan kalau hal-hal yang viral itu pasti ruameeee dan ngantri. Itu hal yang paling bikin aku males… Hehe… Tapiiii, akhirnya aku nyoba juga satu restoran viral yang sampai saat ini masih panjang antreannya. OBIHIRO NIKUDON! 


Ada yang sudah pernah mencoba makan di tempat ini juga? Kalau ada yang sudah pernah, gimana, kamu ngantre berapa lama? :D 


Obihiro Nikudon merupakan restoran yang menyajikan menu-menu khas Jepang. Dari namanya, Nikudon merupakan singkatan dari NIKU DONBURI. Niku adalah daging sapi, sedangkan donburi merupakan jenis makanan Jepang berupa semangkuk nasi dengan topping di atasnya. 


Di Obihiro Nikudon kita bisa menikmati sajian semangkuk nasi dengan topping Australian karubi beef yang dipanggang. 


Nah, karubi merupakan potongan daging sapi tanpa tulang yang berasal dari area iga dan jadi salah satu bagian paling populer dalam barbekyu Jepang karena teksturnya yang sangat empuk. Daging ini dikenal memiliki lapisan lemak atau marbling yang melimpah, sehingga menghasilkan rasa yang gurih, juicy, dan aroma yang kaya saat dipanggang.


Gimana, udah kebayang enaknya nggak? :D 


Aku rasa fokus Obihiro Nikudon pada menu ini menjadikan resto Jepang ini jadi incaran banyak penggemar makanan. Apalagi di social media ada banyak juga yang mengulas betapa restoran ini memiliki vibes mirip seperti restoran yang ada di Jepang. Ditambah lagi dengan dekorasinya yang menampilkan Japanese culture. 




Lokasi dan Jam Buka Obihiro Nikudon

Obihiro Nikudon sampai aku menulis tulisan ini terdapat di dua tempat. Awlnya Obihiro Nikudon ada di daerah Gading Serpong. Kemudian Obihiro Nikudon membuka cabangnya di kawasan Blok M. 


Untuk alamat lengkap outlet dan jam bukanya bisa dilihat di bawah ini, ya.


Obihiro Nikudon Gading Serpong

Jl. Ir. Sukarno No. 25, Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15810

0877-7811-3631

Jam buka: 10.00 - 22.00 WIB


obihiro-nikudon-gading-serpong



Obihiro Nikudon Blok M

Wisma Nasional, Jl. Melawai 5 No.14 Blok M, RT.2/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160

Jam buka: 08.00 - 23.00


obihiro-nikudon-blok-m


Aku berharap semoga Obihiro Nikudon nambah cabang lagi. Jadi bisa lebih menjangkau ke banyak masyarakat. :) 


Baca Juga: Bumi Semboja Bogor, Resto Nostalgia di Rumah Nenek



Bedanya Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong

Pertama kali aku mencoba Obihiro Nikudon di Blok M bersama suami. Nah, nggak berselang lama, aku baru mencoba yang di Gading Serpong bersama seluruh anggota keluarga. 


Karena sudah mencoba di dua tempat ini aku jadi bisa membandingkan beberapa hal. Meskipun sama-sama Obihiro tapi ada perbedaan yang aku rasakan. 


  • Antrean di Obihiro Gading Serpong dan Blok M

Perbedaan pertama dari sisi antrean. Kalau menurutku, antrean di cabang Blok M meskipun jauh lebih ramai tapi relatif lebih rapi. Mungkin karena tempat untuk antreannya lebih representatif juga, sih. 


Di Obihiro Gading Serpong memang disediakan beberapa kursi untuk menunggu di depan dan untuk mengantre. Namun karena restoran tersebut berada di bangunan ruko yang mana bagian depannya sudah langsung tempat parkir mobil dan kanan kirinya sudah ada toko lain, jadi tempat mengantre pun terbatas. 


Makanya karena kurang rapi inilah meskipun aku datang sebagian antrean kedua, tapi pas antrean dibuka dan scan barcode malah keduluan sama yang datangnya baru saja. :’) 


Sedangkan kalau di Blok M ada tahapan antrean. Yang pertama antrean datang, lalu antrean ambil nomor yang dibagi menjadi dua baris (baris A untuk 1-2 pax, baris B untuk 3 pas ke atas). 


antrian-di-obihiro-nikudon-blok-m
Antrean di Obihiro Nikudon Blok M


Setelah dapat nomor kita menunggu untuk dipanggil dan baru bisa masuk. Oiya pada saat antre akan ditanya nama, berapa pax, dan nomor WA ya. 


  • Perbedaan Bagian Dalam

Nah, kalau soal interior di dalamnya, jujur aku lebih nyaman di Obihiro Nikudon Gading Serpong. Rasanya lebih lega aja. Di Obihiro Blok M jarak antar kursinya deket banget jadi kesannya sempit dan lebih pengap. 

obihiro-nikudon-blok-m
Suasana di bagian dalam Obihiro Blok M


obihiro-nikudon-gading-serpong
Suasana di bagian dalam Obihiro Gading Serpong


Untuk dekorasi sama-sama bagus. Beneran khas Jepang banget dan aku melihat banyak poster serta figurin dari tokoh anime Jepang. Duh, suka banget konsep interior Obihiro! :) 


  • Jam Operasional

Seperti yang sudah aku tulis di atas, jam operasional Obihiro Blok M lebih panjang. Bukanya lebih pagi dan tutupnya pun lebih malam. Mungkin karena di Blok M lebih banyak pengunjungnya juga, ya. Makanya nggak heran kalau jam bukanya pun lebih lama. 


Untuk menu makanan dan minuman yang disajikan sama ya antara Obihiro di Gading Serpong dan Blok M. Menurutku rasanya pun juga konsisten. 


Oiya, satu lagi yang jadi nilai plus di Obihiro NIkudon adalah statusnya yang sudah HALAL CERTIFIED. Makanya aku pun nggak ragu untuk menyantap sajian di restoran khas Jepang ini. 


Baca Juga: Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara



Menu-Menu di Obihiro Nikudon dan Harganya

Nah, untuk Manteman yang baru mau mencoba makan di Obihiro Nikudon aku akan share juga pilihan menu-menunya, ya.


Manteman bisa pilih menu yang kira-kira cocok dan disukai. Kalau di restoran khas Jepang ini menu Nikudonnya sudah termasuk homemade pickles (acar), ochazuke (kuah ocha dashi), dan dessert (pilih satu diantara: puding karamel, popsicle, kakigori, buah). 


Selain topping daging, di Obihiro Nikudon juga tersedia topping ayam dan unagi, ya. Size bowl-nya pun bisa pilih yang small atau yang large. Minumannya pun ada beberapa macam yang bisa dipilih, termasuk ocha dan infused water yang bisa diisi ulang… :) 


menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong

menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong

menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong

menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong


Saat di Obihiro Blok M aku memesan Red Cheddar Cheese Nikudon. Sedangkan di Obihiro Gading Serpong aku memesan Truffle Nikudon. Keduanya size kecil. 


Dua menu ini menurutku seperti ekspektasiku, sih… Dagingnya agak tebal tapi lembut dan juicy. Untuk menu Truffle Nikudon juga berasa banget  aroma truffle-nya. 


Kedua menu utama ini aku memesan yang size small ya. Kenapa nggak yang large karena kami juga memesan side dish menu. Ada beberapa side dish yang aku makan, seperti Negi Yakitori, Gyu Niku Kushiyaki, dan Gyu Niki Shioyaki. 


menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong


Menurutku kalau mau nyicip menu-menu tambahan lain, cukup memesan main dish yang ukuran small saja. Tapi kalau lagi lapar berat pesan yang ukuran large juga mestinya aman, ya… :D 


Jangan lupa dapat tambahan dessert jua. Dua kali aku mampir ke Obihiro aku selalu pilih menu dessert puding karamel. Pudingnya enaaaak. Mungkin teksturnya lebih bisa disebut pannacota kali ya. 


Pokoknya pulang dari Obihiro Nikudon asli rasanya kenyaaang banget. Alhamdulillah… 


dessert-puding-karamel-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong


Baca Juga: Mie Belitung Atep, Kuliner Khas di Belitung



Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M

Awalnya pas liburan lebaran aku sekeluarga mau makan di Obihiro Blok M. Namun karena saat libur ternyata antreannya panjang banget, aku pun memutuskan untuk kapan-kapan ajalah makan di Obihironya. 


Nah, kebetulan saat weekday suamiku bis ada wktu lowong dan bertepatan pula dnegan tanggal anniversary ke 14 kami. :D Jadilah untuk merayakannya aku dan suami makan di Obihiro Blok M. 


obihiro-nikudon-blok-m

obihiro-nikudon-blok-m


Karena nggak mau ngantre lama, akhirnya kami berdua sepakat untuk datang pagi sekali sekalian sarapan pagi. Jam setengah 8 lebih sedikit kami datang, mengantre, dan berhasil mendapat nomor 7… :D 


Sekitar pukul 8 lebih kami  dipanggil dan dipersilakan duduk di table 22 di lantai dua. Begitu sampai di table-nya suamiku langsung sumringah. Jadi table kami ada di sudut dengan berbagai pajangan dan komik One Piece. Wah, ini, sih enak banget tempatnya! 


Karena sudah tahu mau memesan apa, nggak butuh waktu lama aku dan suami memesan makan. Sayangnya saat di cabang Blok M ini unagi yang ingin dipesan suamiku sedang kosong. Ia pun mememsan menu lainnya. Nggak lama pula makanan pesanan kami pun datang. 


Table di sini agak kecil, ya, jadi langsung penuh dengan pesanan makanan. :) 




Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Gading Serpong

Karena saat makan di Blok M unaginya nggak ada, akhirnya saat makan di Obihiro Gading Serpong inilah suamiku memesan kembali menu unagi. :D Alhamdulillah-nya di sini menu unagi tersedia. 


menu-di-obihiro-nikudon-blok-m-dan-gading-serpong


Nah, saat aku ikut mencobanya memang unagi di sini ukurannya agak besar dan tebal. Enak banget! Nikudon dengan topping unagi juga bisa jadi pilihan favorit, nih! :) 


Oiya, kalau di sini aku datang bersama anak-anak juga, ya. Mereka pun happy banget bisa menikmati makanan Jepang yang jadi favorit mereka. Nggak perlu waktu lama sampai mangkuk mereka berdua langsung habis… :D 


obihiro-nikudon-gading-serpong

obihiro-nikudon-dan-gading-serpong



Sata makan di sini, kami menempati table 7 yang juga berada di pojokan. Table ini terletak di lantai dasar. Karena penasaran seperti apa lantai duanya, aku pun sempat ke atas untuk ke toilet sekaligus melihat suasananya. 


Kala itu semua meja tampak sudah terisi. Padahal resto ini baru saja buka. Oiya, meski infonya buka jam 10 tapi ternyata antrean sudah dibuka dari pukul 9 pagi, ya. Dan sekitar pukul 9.30-an kami sudah diperbolehkan masuk dan makan. Good! :D 




Worth It Nggak, Sih, Antre dan Makan di Obihiro Nikudon?


Menurutku menu-menu yang aku makan di Obihiro Nikudon nggak ada yang mengecewkan! Yes, artinya semua makanan yang aku makan memang enak-enak. Daging sapinya tebal dan beneran juicy lucy malini rizky ferbrian (tapi nggak bisa dibeli online)... :D


Kalau ditanya apakah worth it antre untuk makanan ini, maka jawabanku adalah worth it. Alasannya karena aku juga merasa antrenya nggak terlalu lama… :) Namun kalau denger cerita ada yang sampai menunggu hingga tiga jam lebih (bahkan ada yang sampai enam jam) kayaknya aku, sih, nggak sanggup, ya.


Aku nggak akan mau nunggu selama itu untuk sebuah makanan. Prinsipku 


Baca Juga: Taste of Australia 2026, Serunya Masak Bersama Callum Hann & Mencicipi Kuliner Khas Australia



Tips Berkunjung ke Obihiro Nikudon Bagi yang Ingin Mencoba Pertama Kali


Buat Manteman yang belum mencoba Obihiro dan pingin banget buat makan di sana, aku coba kasih beberapa tipsnya, ya, supaya makan di sana jadi pengalaman yang menyenangkan. 


  • Kalau nggak mau terlalu antri, kamu bisa memilih makan di Obihiro Nikudon Gading Serpong. Di sana antreannya nggak seramai yang di Blok M. 


  • Makan di Obihiro saat weekday dibanding saat weekend supaya suasananya nggak terlalu ramai.


  • Datanglah saat satu jam sebelum Obihiro buka. Kamu bisa mulai datang pukul tujuh pagi atau setengah delapan pagi di Obihiro cabang Blok M atau pukul sembilan pagi di Obihiro Gading Serpong. 


  • Lebih aware dengan antrean. Lihat siapa yang datang terlebih dahulu. Jangan sampai menyela antrean atau antrean kita yang disela orang lain. Ikuti petunjuk dari staf Obihiro. 


  • Kamu bisa melihat menu-menu yang ada di Obihiro Nikudon sebelum datang ke restorannya. Menu-menu dan harganya sudah aku lengkapi juga di bagian atas, ya. Jadi ketika sudah dapat table kamu bisa langsung memesan menu yang kamu inginkan. Sudah lama menunggu antrean, jangan sampai lam juga menunggu makanan, kan. :) 


obihiro-nikudon-gading-serpong



Jadi gimana, Manteman yang belum nyoba Obihiro Nikudon apa jadi tertrik buat segera ke restoran Jepang viral ini? :D 


Tips-tips yang aku berikan bisa dipraktekkan, ya, terutama untuk yang nggak mau antre lama buat nyoba menu-menu perdagingan di sini Kalau ada kesempatan, aku juga pingin balik lagi buat makan di Obihiro Nikudon… :)




Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *