Menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian di Bogor



Bersyukur banget aku tinggal di Depok. Jaraknya nggak terlalu jauh dari Bogor dan ada banyaaaak tempat wisata di Kota Hujan ini. Sepertinya setiap tahun ada aja tempat wisata baru di Bogor. 


Kali ini aku mengajak anak-anak menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian. Memang bukan tempat wisata baru. Namun setelah aku mengunjunginya, aku rekomendasiin tempat ini buat Manteman kunjungi juga. 


Asli, ternyata bagian dalam museum ini penuh nilai edukasi, ada banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dengan biaya masuk 0 rupiah! 


Yap, aku nggak mengada-ngada. Untuk bisa menikmati semua koleksi yang ada di museum ini beserta fasilitasnya pengunjung nggak dikenakan biaya. Lokasinya pun sangat strategis. Berada tepat di seberang pintu utama Kebun Raya Bogor! 


Ada apa saja di Museum Tanah dan Pertanian? Yuk, aku ajak Manteman semua buat menjelajahinya juga lewat tulisanku… :) 




Gedung Utama Museum, Gedung Bersejarah Berusia Ratusan Tahun!

Kota Bogor memang identik dengan tanaman, ya. Selain keberadaan Kebun Raya Bogor, di kota ini juga terdapat IPB University. Kampus yang awalnya berfokus pada bidang pertanian. 


Makanya begitu tahu di Bogor ada Museum Tanah dan Pertanian aku nggak heran. Sejarah tentang penelitian pertanian pasti sudah terekam panjang di kota ini. 


Saat anak-anak liburan, aku pun mengajak mereka ke Bogor dan berkunjung ke museum ini. Turun dari kereta di Stasiun Bogor, kemudian kami naik angkot dan langsung turun tepat di depan Museum Tanah dan Pertanian.


Kala itu sedang musim liburan sekolah, jadi selain kami sudah ada beberapa pengunjung lainnya di depan museum meskipun hari masih pagi. Tak menunggu lama, aku dan anak-anak langsung masuk ke dalam gedung museum.


Sebenarnya hal pertama yang langsung membuatku takjub adalah bangunan museum yang terlihat sekali bangunan tua masa kolonial. 




Dan benar saja, setelah berkeliling museum, ada info yang ku dapat mengenai gedung museum ini. Setelah pulang dari museum pun aku mencoba mencari tahu lebih lanjut mengenai sejarah Museum Tanah dan Pertanian. 


Museum ini ternyata menempati bangunan  Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek, sebuah lembaga pengetahuan tentang tanah dan pertanian yang didirikan tahun 1905. Karena itulah usia bangunan ini sudah ratusan tahun, kan! 


Setelah kemerdekaan, bangunan ini diambil oleh Pemerintah Indonesia dan menjadi Lembaga Penelitian Tanah pada 1974. Kemudian barulah menjadi museum pada 29 September 1988. 


Sempat mengalami renovasi, Museum Tanah dan Pertanian kini berdiri tegak di pusat Kota Bogor dan siap menyambut para pengunjung dengan beragam edukasi. 


Nah, begitu masuk bangunan tua peninggalan Belanda ini, aku dan anak-anakku langsung berkeliling melihat berbagai koleksi yang ada di sana. Beragam batu-batuan dari berbagai wilayah di Indonesia dipamerkan. 


Yang aku suka ada instalasi yang menunjukkan berbagai jenis tanah. Bentuk instalasinya memanjang ke bawah seperti tabung yang berisi tanah. Tanah-tanah tersebut kulihat berbeda-beda baik dari warna dan teksturnya. Selain itu, ada juga penjelasan tentang lapisan-lapisan tanah. 






Meski menurutku kurang interaktif tapi berbagai koleksi di museum ini ditempatkan dengan baik. Informasinya juga diberikan dengan baik dan detail. Makanya museum ini memang cocok banget buat jadi tempat fieldtrip anak sekolah… :) 


Oiya, bangunan museum ini meski dari luar tampak kecil tapi ternyata bagian dalamnya luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Dengan alas keramik marmer juga membuat suasananya jadi lebih adem. 


Nah, yang aku nggak nyangka, ternyata Museum Tanah dan Pertanian di Bogor ini nggak hanya menempati satu bangunan saja, tapi tiga bangunan gedung sekaligus! Mantap nggak, tuh! Malah sebenarnya ada satu bangunan lagi tapi diperuntukkan sebagai ruang pertemuan dan guest house atau penginapan pegawai. 





Galeri Pangan dan Pertanian di Masa Depan

Setelah dari gedung utama atau disebut gedung A, kami menuju bangunan selanjutnya di bagian belakang yang disebut gedung C. Oiya, kalau gedung B itu gedung guest house, ya. Jadi pengunjung museum dilarang masuk… :) 


Nah, di gedung C inilah jumlah koleksi dan cerita tentang tanah dan pertanian di Indonesia lebih banyak dibahas. Bahkan sampai terdiri dari tiga lantai, lho. :) 


Di lantai pertama aku sempat takjub melihat diorama subak atau sistem pengairan di Bali. Selain itu ada pula diorama dua kerbau besar yang sedang membajak sawah. Salut sama dekorasi museumnya… :D Anak-anak pun jadi lebih tertarik begitu melihat berbagai diorama di dalam museum ini. 




Oiya, di bangunan C ini aku dan anak-anak juga bisa melihat berbagai jenis sumber pangan, mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dan lainnya. Jenis-jenis padi juga ada infonya di sini. Malah ada juga layar interaktifnya. 


Sumber pangan yang nggak biasa aku lihat seperti sorgum sampai jagung warna ungu juga diperlihatkan dalam bentuk nyata. Menarik banget, ya!


Itu baru hal seru yang ada di lantai satu ya. Beranjak ke lantai dua barulah aku dan anak-anak melihat bagaimana sejarah pertanian dari masa penjajahan sampai masa kemerdekaan. 





Nah, ada satu sudut menarik di lantai dua ini. Terdapat sebuah kedai kopi! Sebenarnya bukan kedai kopi beneran yang di mana pengunjung bisa membeli kopi, ya… :) Kedai ini tampaknya hanya diorama yang memperlihatkan bagaimana perkembangan dunia kopi di Indonesia… :) 




Jika di lantai dua mengenai sejarah, di lantai tiga saatnya melihat ke masa depan! Yes, di lantai tiga gedung ini terdapat informasi menarik mengenai bagaimana teknologi pertanian di masa kini dan nanti. 


Aku melihat terdapat alat yang cukup besar berwarna kuning yang menggantung di satu sudut. Di belakangnya terdapat gambar helikopter. Oh, setelah kuperhatikan ternyata alat ini adalah aerofertilizing atau alat pemupukan menggunakan transporatsi udara! 


Selain itu ada juga teknologi alat pertanian modern, seperti autonomus tractor sampai drone. Di sini pula terdapat penjelasan mengenai smart farming.  




Bagi Manteman yang tertarik dalam bidang pertanian memang pas banget buat ke museum ini. 


Nah, seperti tempat wisata lainnya, di Museum Tanah dan Pertanian juga terdapat beberapa spot untuk foto, lho. Dari mulai diorama rumah petani lengkap dengan dekorasinya. Ada juga spot foto untuk menjadi petani. Disediakan kostum hingga capingnya! :) 





Beristirahat Sejenak di Rooftop Museum Tanah dan Pertanian

Kalau spot foto di museum sudah biasa, gimana dengan rooftop di museum dengan latar pemandangan gunung! Nah, ini dia salah satu hal yang aku kagumi juga dari Museum Tanah dan Pertanian. :) 


Dari gedung C, aku dan anak-anak lanjut ke gedung D yang ternyata di gedung inilah terdapat rooftop dilengkapi dengan saung dan beberapa meja serta kursi. Pas banget, kan, sebagai tempat istirahat setelah berkeliling Museum Tanah dan Pertanian dari depan hingga belakang…




Setelah cukup beristirahat dan mengambil dokumentasi di rooftop, aku dan anak-anak pun bergegas turun untuk pulang. Namun saat turun itulah aku baru sadar kalau di gedung ini juga masih ada berbagai koleksi dan diorama. 


Nah, kalau di gedung D ini temanya tentang peternakan. Dijelaskan berbagai hewan ternak yang dimanfaatkan untuk pertanian. Lucu banget di sini ada banyak diorama sapi dari berbagai daerah, jenis-jenis ayam sampai itik! :D 



Oiya, di gedung D yang disebut juga sebagai galeri peternakan sebenarnya terdapat ruang sinema. Sayangnya pas aku dan anak-anak ke museum ini, ruang sinemanya sedang nggak beroperasi. 


Di gedung ini pula terdapat fasilitas mushola serta playground kecil untuk anak. Gimana, lumayan, banget, kan fasilitas museum ini. 




Kalau boleh dibilang dengan tiket masuk gratis, museum ini sudah oke, sih. Hanya saja menurutku mungkin bisa lebih diperbanyak lagi untuk media interaktifnya. :) 


Aku pun sempat menulis harapan yang dipasang di pohon harapan yang ada di dalam museum. Aku harap doaku bisa terkabul, rakyat Indonesia bis makin makmur dan sejahtera. Aku harap dunia pertanian di Indonesia juga semakin berkembang… 


Gimana, Manteman tertarik juga buat menjelajahi Museum Tanah dan Pertanian? Ajak keluarga dan bikin pengalaman ke museum ini jadi cerita seru, ya! 




Dita Indrihapsari


Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong, Resto Jepang Viral yang Antrenya Panjang!



Biasanya aku paling malas kalau mencoba hal-hal yang viral, terutama tempat makan. Nggak apa-apa banget disebut nggak ngikutin tren… :D 


Kenapa? Karena udah dapat dipastikan kalau hal-hal yang viral itu pasti ruameeee dan ngantri. Itu hal yang paling bikin aku males… Hehe… Tapiiii, akhirnya aku nyoba juga satu restoran viral yang sampai saat ini masih panjang antreannya. OBIHIRO NIKUDON! 


Ada yang sudah pernah mencoba makan di tempat ini juga? Kalau ada yang sudah pernah, gimana, kamu ngantre berapa lama? :D 


Obihiro Nikudon merupakan restoran yang menyajikan menu-menu khas Jepang. Dari namanya, Nikudon merupakan singkatan dari NIKU DONBURI. Niku adalah daging sapi, sedangkan donburi merupakan jenis makanan Jepang berupa semangkuk nasi dengan topping di atasnya. 


Di Obihiro Nikudon kita bisa menikmati sajian semangkuk nasi dengan topping Australian karubi beef yang dipanggang. 


Nah, karubi merupakan potongan daging sapi tanpa tulang yang berasal dari area iga dan jadi salah satu bagian paling populer dalam barbekyu Jepang karena teksturnya yang sangat empuk. Daging ini dikenal memiliki lapisan lemak atau marbling yang melimpah, sehingga menghasilkan rasa yang gurih, juicy, dan aroma yang kaya saat dipanggang.


Gimana, udah kebayang enaknya nggak? :D 


Aku rasa fokus Obihiro Nikudon pada menu ini menjadikan resto Jepang ini jadi incaran banyak penggemar makanan. Apalagi di social media ada banyak juga yang mengulas betapa restoran ini memiliki vibes mirip seperti restoran yang ada di Jepang. Ditambah lagi dengan dekorasinya yang menampilkan Japanese culture. 




Lokasi dan Jam Buka Obihiro Nikudon

Obihiro Nikudon sampai aku menulis tulisan ini terdapat di dua tempat. Awlnya Obihiro Nikudon ada di daerah Gading Serpong. Kemudian Obihiro Nikudon membuka cabangnya di kawasan Blok M. 


Untuk alamat lengkap outlet dan jam bukanya bisa dilihat di bawah ini, ya.


Obihiro Nikudon Gading Serpong

Jl. Ir. Sukarno No. 25, Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15810

0877-7811-3631

Jam buka: 10.00 - 22.00 WIB





Obihiro Nikudon Blok M

Wisma Nasional, Jl. Melawai 5 No.14 Blok M, RT.2/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160

Jam buka: 08.00 - 23.00




Aku berharap semoga Obihiro Nikudon nambah cabang lagi. Jadi bisa lebih menjangkau ke banyak masyarakat. :) 




Bedanya Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong

Pertama kali aku mencoba Obihiro Nikudon di Blok M bersama suami. Nah, nggak berselang lama, aku baru mencoba yang di Gading Serpong bersama seluruh anggota keluarga. 


Karena sudah mencoba di dua tempat ini aku jadi bisa membandingkan beberapa hal. Meskipun sama-sama Obihiro tapi ada perbedaan yang aku rasakan. 


  • Antrean di Obihiro Gading Serpong dan Blok M

Perbedaan pertama dari sisi antrean. Kalau menurutku, antrean di cabang Blok M meskipun jauh lebih ramai tapi relatif lebih rapi. Mungkin karena tempat untuk antreannya lebih representatif juga, sih. 


Di Obihiro Gading Serpong memang disediakan beberapa kursi untuk menunggu di depan dan untuk mengantre. Namun karena restoran tersebut berada di bangunan ruko yang mana bagian depannya sudah langsung tempat parkir mobil dan kanan kirinya sudah ada toko lain, jadi tempat mengantre pun terbatas. 


Makanya karena kurang rapi inilah meskipun aku datang sebagian antrean kedua, tapi pas antrean dibuka dan scan barcode malah keduluan sama yang datangnya baru saja. :’) 


Sedangkan kalau di Blok M ada tahapan antrean. Yang pertama antrean datang, lalu antrean ambil nomor yang dibagi menjadi dua baris (baris A untuk 1-2 pax, baris B untuk 3 pas ke atas). 


Antrean di Obihiro Nikudon Blok M


Setelah dapat nomor kita menunggu untuk dipanggil dan baru bisa masuk. Oiya pada saat antre akan ditanya nama, berapa pax, dan nomor WA ya. 


  • Perbedaan Bagian Dalam

Nah, kalau soal interior di dalamnya, jujur aku lebih nyaman di Obihiro Nikudon Gading Serpong. Rasanya lebih lega aja. Di Obihiro Blok M jarak antar kursinya deket banget jadi kesannya sempit dan lebih pengap. 

Suasana di bagian dalam Obihiro Blok M


Suasana di bagian dalam Obihiro Gading Serpong


Untuk dekorasi sama-sama bagus. Beneran khas Jepang banget dan aku melihat banyak poster serta figurin dari tokoh anime Jepang. Duh, suka banget konsep interior Obihiro! :) 


  • Jam Operasional

Seperti yang sudah aku tulis di atas, jam operasional Obihiro Blok M lebih panjang. Bukanya lebih pagi dan tutupnya pun lebih malam. Mungkin karena di Blok M lebih banyak pengunjungnya juga, ya. Makanya nggak heran kalau jam bukanya pun lebih lama. 


Untuk menu makanan dan minuman yang disajikan sama ya antara Obihiro di Gading Serpong dan Blok M. Menurutku rasanya pun juga konsisten. 


Oiya, satu lagi yang jadi nilai plus di Obihiro NIkudon adalah statusnya yang sudah HALAL CERTIFIED. Makanya aku pun nggak ragu untuk menyantap sajian di restoran khas Jepang ini. 



Menu-Menu di Obihiro Nikudon dan Harganya

Nah, untuk Manteman yang baru mau mencoba makan di Obihiro Nikudon aku akan share juga pilihan menu-menunya, ya.


Manteman bisa pilih menu yang kira-kira cocok dan disukai. Kalau di restoran khas Jepang ini menu Nikudonnya sudah termasuk homemade pickles (acar), ochazuke (kuah ocha dashi), dan dessert (pilih satu diantara: puding karamel, popsicle, kakigori, buah). 


Selain topping daging, di Obihiro Nikudon juga tersedia topping ayam dan unagi, ya. Size bowl-nya pun bisa pilih yang small atau yang large. Minumannya pun ada beberapa macam yang bisa dipilih, termasuk ocha dan infused water yang bisa diisi ulang… :) 







Saat di Obihiro Blok M aku memesan Red Cheddar Cheese Nikudon. Sedangkan di Obihiro Gading Serpong aku memesan Truffle Nikudon. Keduanya size kecil. 


Dua menu ini menurutku seperti ekspektasiku, sih… Dagingnya agak tebal tapi lembut dan juicy. Untuk menu Truffle Nikudon juga berasa banget  aroma truffle-nya. 


Kedua menu utama ini aku memesan yang size small ya. Kenapa nggak yang large karena kami juga memesan side dish menu. Ada beberapa side dish yang aku makan, seperti Negi Yakitori, Gyu Niku Kushiyaki, dan Gyu Niki Shioyaki. 




Menurutku kalau mau nyicip menu-menu tambahan lain, cukup memesan main dish yang ukuran small saja. Tapi kalau lagi lapar berat pesan yang ukuran large juga mestinya aman, ya… :D 


Jangan lupa dapat tambahan dessert jua. Dua kali aku mampir ke Obihiro aku selalu pilih menu dessert puding karamel. Pudingnya enaaaak. Mungkin teksturnya lebih bisa disebut pannacota kali ya. 


Pokoknya pulang dari Obihiro Nikudon asli rasanya kenyaaang banget. Alhamdulillah… 





Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M

Awalnya pas liburan lebaran aku sekeluarga mau makan di Obihiro Blok M. Namun karena saat libur ternyata antreannya panjang banget, aku pun memutuskan untuk kapan-kapan ajalah makan di Obihironya. 


Nah, kebetulan saat weekday suamiku bis ada wktu lowong dan bertepatan pula dnegan tanggal anniversary ke 14 kami. :D Jadilah untuk merayakannya aku dan suami makan di Obihiro Blok M. 





Karena nggak mau ngantre lama, akhirnya kami berdua sepakat untuk datang pagi sekali sekalian sarapan pagi. Jam setengah 8 lebih sedikit kami datang, mengantre, dan berhasil mendapat nomor 7… :D 


Sekitar pukul 8 lebih kami  dipanggil dan dipersilakan duduk di table 22 di lantai dua. Begitu sampai di table-nya suamiku langsung sumringah. Jadi table kami ada di sudut dengan berbagai pajangan dan komik One Piece. Wah, ini, sih enak banget tempatnya! 


Karena sudah tahu mau memesan apa, nggak butuh waktu lama aku dan suami memesan makan. Sayangnya saat di cabang Blok M ini unagi yang ingin dipesan suamiku sedang kosong. Ia pun mememsan menu lainnya. Nggak lama pula makanan pesanan kami pun datang. 


Table di sini agak kecil, ya, jadi langsung penuh dengan pesanan makanan. :) 




Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Gading Serpong

Karena saat makan di Blok M unaginya nggak ada, akhirnya saat makan di Obihiro Gading Serpong inilah suamiku memesan kembali menu unagi. :D Alhamdulillah-nya di sini menu unagi tersedia. 




Nah, saat aku ikut mencobanya memang unagi di sini ukurannya agak besar dan tebal. Enak banget! Nikudon dengan topping unagi juga bisa jadi pilihan favorit, nih! :) 


Oiya, kalau di sini aku datang bersama anak-anak juga, ya. Mereka pun happy banget bisa menikmati makanan Jepang yang jadi favorit mereka. Nggak perlu waktu lama sampai mangkuk mereka berdua langsung habis… :D 





Sata makan di sini, kami menempati table 7 yang juga berada di pojokan. Table ini terletak di lantai dasar. Karena penasaran seperti apa lantai duanya, aku pun sempat ke atas untuk ke toilet sekaligus melihat suasananya. 


Kala itu semua meja tampak sudah terisi. Padahal resto ini baru saja buka. Oiya, meski infonya buka jam 10 tapi ternyata antrean sudah dibuka dari pukul 9 pagi, ya. Dan sekitar pukul 9.30-an kami sudah diperbolehkan masuk dan makan. Good! :D 




Worth It Nggak, Sih, Antre dan Makan di Obihiro Nikudon?


Menurutku menu-menu yang aku makan di Obihiro Nikudon nggak ada yang mengecewkan! Yes, artinya semua makanan yang aku makan memang enak-enak. Daging sapinya tebal dan beneran juicy lucy malini rizky ferbrian (tapi nggak bisa dibeli online)... :D


Kalau ditanya apakah worth it antre untuk makanan ini, maka jawabanku adalah worth it. Alasannya karena aku juga merasa antrenya nggak terlalu lama… :) Namun kalau denger cerita ada yang sampai menunggu hingga tiga jam lebih (bahkan ada yang sampai enam jam) kayaknya aku, sih, nggak sanggup, ya.


Aku nggak akan mau nunggu selama itu untuk sebuah makanan. Prinsipku 




Tips Berkunjung ke Obihiro Nikudon Bagi yang Ingin Mencoba Pertama Kali


Buat Manteman yang belum mencoba Obihiro dan pingin banget buat makan di sana, aku coba kasih beberapa tipsnya, ya, supaya makan di sana jadi pengalaman yang menyenangkan. 


  • Kalau nggak mau terlalu antri, kamu bisa memilih makan di Obihiro Nikudon Gading Serpong. Di sana antreannya nggak seramai yang di Blok M. 


  • Makan di Obihiro saat weekday dibanding saat weekend supaya suasananya nggak terlalu ramai.


  • Datanglah saat satu jam sebelum Obihiro buka. Kamu bisa mulai datang pukul tujuh pagi atau setengah delapan pagi di Obihiro cabang Blok M atau pukul sembilan pagi di Obihiro Gading Serpong. 


  • Lebih aware dengan antrean. Lihat siapa yang datang terlebih dahulu. Jangan sampai menyela antrean atau antrean kita yang disela orang lain. Ikuti petunjuk dari staf Obihiro. 


  • Kamu bisa melihat menu-menu yang ada di Obihiro Nikudon sebelum datang ke restorannya. Menu-menu dan harganya sudah aku lengkapi juga di bagian atas, ya. Jadi ketika sudah dapat table kamu bisa langsung memesan menu yang kamu inginkan. Sudah lama menunggu antrean, jangan sampai lam juga menunggu makanan, kan. :) 




Jadi gimana, Manteman yang belum nyoba Obihiro Nikudon apa jadi tertrik buat segera ke restoran Jepang viral ini? :D 


Tips-tips yang aku berikan bisa dipraktekkan, ya, terutama untuk yang nggak mau antre lama buat nyoba menu-menu perdagingan di sini Kalau ada kesempatan, aku juga pingin balik lagi buat makan di Obihiro Nikudon… :)




Dita Indrihapsari


Menyusuri Noordwijk dan Rijswijk, Kawasan Elit Jakarta Tempo Dulu



Rasanya sudah agak lama nggak mengikuti walking tour, akhirnya saat menjelang akhir puasa lalu, aku mendaftar untuk ikut walking tour bersama Jakarta Good Guide. Ini kali pertama aku mencoba walking tour saat berpuasa. Hmm, penasaran aja, kira-kira aku bakal kuat nggak, ya… :D 


Jadwal walking tour yang biasa aku ikuti dimulai pukul 9 pagi, saat puasa ternyata dimajukan satu jam lebih awal. Pukul 8 pagi aku sudah harus sampai di meeting point untuk mulai walking tour. 


Jadwal yang lebih pagi dimaksudkan supaya selesainya pun lebih cepat dari biasanya. Kebayang kalau sampai siang panas-panasan walking tour dan lagi puasa pula, hausnya kayak apa… Hehehe… 


Nah, pas banget saat melihat jadwal walking tour yang ada, aku tertarik untuk ikut rute Noordwijk/Rijswijk. Rute ini kayaknya, sih, termasuk rute yang jarang aku lihat di jadwal walking tour-nya Jakarta Good Guide. Makanya begitu ada rute ini dan waktunya juga aku bisa, langsung aja gassss… 


Oiya, ada yang tahu nggak ini rute di jalan apa? 


Noordwijk merupakan nama Jalan Juanda di masa kolonial dulu. Sedangkan Rijswijk adalah nama Jalan Veteran. Kedua jalan ini, Jalan Juanda dan Jalan Veteran, saling bersisian dan dipisahkan oleh sungai kecil atau kanal. Dulunya aliran kanal ini disebut sebagai molenvliet. 


Meeting point untuk rute Noordwijk dan Rijswijk ini pun mudah dijangkau, yaitu di dekat Family Mart sebelah Stasiun Juanda. Jadi aku dari Depok pagi-pagi sekali sudah naik kereta menuju Stasiun Juanda. 


Karena hari itu sudah mulai cuti bersama, alhamdulillah kereta pun nggak sepadat biasanya. Kalau hari kerja biasa, kan, kebayang, ya, pagi-pagi penuhnya kayak sarden! :D 


Pukul 8 kurang aku sudah tiba di meeting point. Di sana aku bertemu dengan teman-teman peserta walking tour lainnya. Sementara itu, tour guide untuk rute Noordwijk/Rijswijk ini adalah Kak Ara. Sebelumnya aku pernah ikut walking tour Chinatown yang juga dipandu olehnya. 


Nggak menunggu terlalu lama, akhirnya walking tour ini pun dimulai. Di awal Kak Ara sudah menginfokan kalau rute ini bisa disebut juga rute imajiner. Pasalnya banyak bangunan-bangunan masa kolonial dulu yang sudah nggak ada wujudnya lgi lias sudah dihancurkan. Sayang banget, ya! :( 


Namun tenang aja karena ada juga, kok, bangunan peninggalan Belanda dulu yang sampai sekarang masih ada dan juga masih berfungsi. 


Jadi, gimana perjalanan walking tour menyusuri Noordwijk dan Rijswijk di Jakarta? Yuk, aku ceritain di sini, yaa….




Jalanan Kaum Elit di Jakarta Pada Masanya

Boleh dibilang kalau Noordwijk (Jalan Juanda) dan Rijswijk (Jalan Veteran) merupakan kawasan elit pada masa kolonial.


Noordwijk dan Rijswijk dulunya menjadi tempat bisnis banyak orang, terutama bagi kaum “borjuis”. Di kedua jalan tersebut berdiri banyak hotel megah, toko jam, restoran, toko bakery, toko perhiasan, bank, toko baju, hingga toko pakaian dalam. :) 


Kebayang, kan, dari du ruas jalan ini pastinya adabanyak perputaran uang di masa itu. Nah, di masa kini pun Jalan Juanda dan Veteran juga sebenrnya nggak jauh berbeda. Ada banyak perkantoran, rumah makan, bank, serta toko-toko. 


Apalagi Jalan Juanda dan Veteran juga dekat dengan ring 1 karena terletak di dekat Istana Merdeka. Bahkan pintu masuk beberapa kantor kementerian, dan bahkan Istana Merdek juga bisa dilakukan melalui Jalan Veteran.


Hanya saja memang kalau melihat foto-foto saat masa tempo dulu dan mendengar cerita dari  Kak Ara sebagai guide, aku bisa merasakan hanya orang-orang kaya aja yang dapat melintasi jalan ini. Tiba-tiba aku berimajinasi memakai gaun lebar khas noni-noni Belanda sat melintasi jalan ini. Kalau sekarang, kan, ya, siapa saja bisa melewatinya. :) 


Dari mengikuti walking tour ini pula aku jadi tahu banyak bangunan-bangunan menarik yang ada di Noordwijk dan Rijswik. Bukan hanya penginapan, pertokoan semata, tapi ada kisah seru yang luput dari pandangan mata mengenai tempat-tempat bersejarah di kedua jalan ini.



Hotel Sriwijaya, Ssalah Satu Hotel Tertua di Jakarta

Bukan Hotel Indonesia, bukan Hotel Borobudur, tapi hotel di Jalan Veteran ini disebut-sebut sebagai salah satu hotel tertua di Jakarta yang hingga kini masih ada dan berfungsi sebagai hotel. Namanya Hotel Sriwijaya. Lokasinya persis di sudut Jalan Veteran yang bersisian dengan Masjid Istiqlal. 


Hotel Sriwijaya punya sejarah panjang. Hotel ini berdiri tahun 1863. Awalnya adalah sebuah restoran dan toko kue bernama Cavadino milik Conrad Alexander Willem Cavadino. Kemudian di tahun 1872 usaha ini merambah menjadi sebuah hotel. Karena itu restoran dan toko kue pun menempati bagian yang ada di bagian sisi samping depan. Hingga kini bangunan tersebut masih ada dan menjadi function hall. 




Hotel ini kemudian berganti nama lagi menjadi Hotel du Lion d'Or pada 1899. Lalu, di tahun 1941 berganti nama lagi menjadi Park Hotel. Hingga pada akhirnya tahun 1950 berubah menjadi Hotel Sriwijaya hingga sekarang. 


Hotel ini memiliki halaman parkir yang luas di bagian depan. Terdapat bangunan tambahan di belakang yang kini menjadi restoran hotel. 


Hotel ini pun mengalami renovasi dan pergantian bagian atap yang diubah menjadi dak, bukan lagi beratapkan genteng. 


Di saat puasa dan masa libur lebaran biasanya hotel ini full booked. Lokasinya yang strategis dan cuma “selangkah” dari Masjid Istiqlal membuat hotel ini banyak diminati oleh wisatawan dari luar daerah. 





Grand Hotel Java, Hotel Besar yang Bangkrut! 

Tempat yang sekarang menjadi Markas Besar TNI Angkatan Darat di Jalan Veteran dulunya ternyata sebuah hotel megah yang sangat luas. Namanya Grand Hotel Java. 


Sisa bangunan utama sampai kini ternyata masih berdiri. Hal ini terlihat dari bentuk jendela-jendelanya yang khas. Namun bangunan ini sempat direnovasi dan ditambah ruangannya. 


Sumber: Intisari


Sayangnya saat melewati Mabes, aku dan peserta walking tour lain diminta oleh guide untuk nggak mengambil dokumentasi, baik foto maupun video. Ya, daripada nanti kenapa-kenapa, ya, jadi aku nurut, dong, ya.. :) 


Grand Hotel Java dibangun tahun 1834. Hotel ini memiliki 70 kamar. Nah, selain bangunan hotel, ternyata dulu itu Grand Hotel Java juga memiliki beberapa paviliun yang juga dijadikan tempat menginap dan istirahat tamunya. 


Sumber: Intisari


Nggak nyangkanya, di hotel ini juga ada kandang kuda! Yes, karena dulu kereta kuda masih jadi alat transportasi, di hotel ini disediakan istal dan tempat parkir kuda. Kebayang, kan, ya betapa luasnya hotel ini. 


Hanya saja katanya karena banyak pengunjung yang hanya menjadikan Grand Hotel Java sebagai tempat istirahhat sebentar dan bukan menginap, pada akhirnya hotel ini pun gulung tikar. 


Setelah kemerdekaan, di tahun 1950, hampir semua bangunan Grand Hotel Java diratakan dan menjadi pada akhirnya dijadikan Markas Besar TNI Angkatan Darat. 



Kantor Pusat Kimia Farma

Kalau Manteman pernah melintasi Jalan Veteran ini bisa jadi Manteman pernah melihat kantor pusat Kimia Farma. 


Bangunan kantor Kimia Farma ini ternyata juga sudah ada dari masa kolonial saat jalan ini masih bernama Noordwijk, lho. Dan dulunya bangunan ini pun menjadi tempat perusahaan farmasi Belanda. 


Sumber: Bisnis.com


Kimia Farma memang merupakan perusahaan farmasi pertama di Indonesia. Nah, awalnya, perusahaan farmasi ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1817 dengan nama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. 


Hingga pada akhirnya setelah kemerdekaan sekitar tahun 1958, pemerintah Indonesia melakukan menasionalisasikan dan meleburkan beberapa perusahaan farmasi menjadi Kimia Farma. 



Toko Jam Legendaris, Van Arcken & Co

Masih di Rijswijk, dulu di jalan ini terdapat sebuah toko jam atau arloji terkenal bernama Van Arcken & Co. Toko jam ini berdiri cukup lama dari tahun 1861 sampai 1958. 


Bukan hanya memproduksi jam saja, tapi Van Arcken & Co juga merupakan perussahan yang membuat kerajinan emas, perak, hingga permata. 


Kebayang, kan, kalau customer toko ini juga dari kalangan berada, mulai dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai keluarga Keraton Yogya dan Solo. Nggak hanya itu, Kerajaan Siam atau Thailand dulunya juga kerap memesan perhiasana di Van arcken & Co.  


Sumber: Wikipedia



Hotel Der Nederlanden Jadi Bina Graha

Satu lagi hotel mewah di kawasan Rijswijk adalah Hotel der Nederlanden. Dulunya hotel ini adalah rumah tempat tinggal sampai dibeli oleh Raffles dan menjadi kediamannya. Memasuki zaman kolonial Belanda, Raffles pun menjeal rumah itu ke pemerintah Hindia Belanda.


Di masa Hindia Belanda, bangunan ini menjadi Hotel Der Nederlanden. Lalu pasca kemerdekaan, hotel ini bergnti nama menjadi Hotel Dharma Nirmala.


Fungsinya kemudian berubah menjadi kantor Cakrabirawa. Hingga pada akhirnya pada tahun 1969 bangunan dihancurkan dan diubah menjadi gedung baru sebagai kantor kepresidenan Bina Graha. 




Gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di Noordwijk

NHM merupakan perusahaan dagang Belanda. Kalau Manteman pernah ke Museum Bank Mandiri, nah, di situlah kantor NHM terbesar di Batavia. 


Nggak hanya itu aja, kantor NHM juga terdapat di Noordwijk. Sayangnya, gedung NHM di Noordwijk saat ini sudah nggak ada wujudnya lagi. Gedung tersebut dibongkar pada tahun 1884 dan berganti rupa menjadi gedung Bank Mandiri dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). 


Sumber: Facebook Indonesia Tempo Dulu



Kantor Cabang Percetakan G. Kolff & Co di Hotel Red Top Pecenongan

Saat mengikuti walking tour ini, aku dan semua peserta juga diajak melipir sedikit ke Jalan Pecenongan. 




Nah, di jalan ini juga ada cerita menarik soal adanya kantor cabang percetakan bernama G. Kolff & Co yang sekarang menjadi Hotel Red Top. Bangunan asli percetakan tersebut sudah nggak ada, ya. Setelah gedung percetakan dihancurkan barulah kemudian didirikan bangunan yang sekarang.


Selain usaha percetakan, G. Kolff & Co juga menerbitkan buku. Dan di saat itu perusahaan ini merupakan perusahaan penjualan buku terbesar di Hindia Belanda. Kalau sekarang mungkin bisa dibandingkan dengan Gramedia, ya. :) 


Untuk kantor pusa G. Kolff & Co sendiri ada di kawasan Kota Tua Jakarta. Namun saat ini pun gedungnya sudah nggak ada. 




Dulunya Bank, Sekarang Tetap Menjadi Bank

Di Jalan Juanda terdapat dua Bank Mandiri. Nah, salah satunya Bank Mandiri Kantor Cabang Juanda ini. 


Kalau dilihat dari bangunannya kelihatan, ya, kalau ini bangunan lama. Dan memang betul, dulunya bangunan ini menjadi kantor Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang bergerak di bidang perbankan. Jadi dari dulu sampai sekarang fungsinya masih sama, ya. 


Ada hal menarik yang diceritakan Kak Ara saat aku berada di depan bangunan ini. Jadi, katanya bangunan bank pada masa itu dibuat sangat nyaman dengan langit-langit yang tinggi dan di bagian bawahnya juga dibuat sirkulasi udara agar pengunjung merasa nyaman dan nggak kepanasan. :) 


Sumber: Instagram @museum_mandiri



Toko Oen Pernah ada di Jakarta!

Restoran sekaligus toko kue dan es krim legendaris yang ada di Semarang ternyata dulu juga pernah ada di Noordwijk, lho! Fakta ini baru banget aku tahu pas mengikuti rute walking tour Noordwijk/Rijswijk ini. 


Dulu di tahun 1939, Toko Oen cabang Jakarta dibuka sebagai bentuk perluasan bisnis keluarga Oen. Awalnya Toko Oen buka di Yogyakarta, lalu membuka cabag di Jakarta, Malang, dan Semarang. Kini Tko Oen hanya ada di Semarang saja. 


Toko Oen di Jakarta tutup pada tahun 1973. Kini bangunan Toko Oen sudah hancur dan didirikan bangunan baru yang kini menjadi gedung DBS. 


Sumber: Facebook Lost Jakarta



Tempat Bergosip Mevrouw Belanda di Gedung Bank Indonesia

Ada cerita seru begitu romobongan kami melewati gedung Bank Indonesia di Jalan Juanda (Noordwijk). 


Kak Ara menceritakan dengan antusias kalau dulunya di tempat ini berdiri sebuah restoran dan gedung pertemuan. Di lantai atasnya menjadi tempat berkumpul para mevrouw-mevrouw Belanda dan mereka saling bergosip! :D 


Dulu kabar lebih cepat menyebar dari mulut ke mulut. Karena itulah nggak heran kalau setelah dari pertemuan khusus perempuan itu pasti banyak cerita yang akan muncul di kalangan mereka. :) 






Kapel Katolik Biara Ursulin Santa Maria

Meskipun belum siang tapi rasa panas rasanya sudah mulai menyengat. Namun aku tetap semnagat mengikuti walking tour ini. Sampai kami semua berada di sebuah bangunan putih bersih bertuliskan Santa Maria di atasnya. Ya, inilah gedung tempat di mana para biarawati Katolik berada. 




Cerita mengenai keberadaan Snata Maria di Noordwijk ternyata berawal dari kedatangan tujuh biarawati pada tahun 1856. Mereka sampai ke Batavia dari Rotterdam dengan menggunakan kapal Hermaan. 


Sesampainya di Batavia, mereka tinggal di Noordwijk. Komunitas ini pun berkembang hingga pada saat ini di kawasan tersebut juga terdapat sekolah Santa Maria dan Museum Santa Maria. 





Toko Bakery Caramia

Perjalanan walking tour rehat sejenak di sebuah toko bakery legendaris. Caramia Bakery namanya. 


Toko roti ini ternyata sudah ada sejak tahun 1970-an. Begitu masuk ke dalamnya tampak gaya restoran fast food khas Amerika. :) 


Kue onbitjkoek Caramia Bakery menjadi salah satu kue favorit di sini. Nah, mumpun di sini aku pun membeli kue tersebut dan beberapa roti. Tentunya untuk oleh-oleh suami dan anak-anak, ya. Karena lagi puasa aku nggak bisa makan langsung di sana… :) Begitu sampai di ruah, barulah aku mersakan empuknya roti yang dibuat toko ini… 


Oiya, saat aku di sana, aku juga melihat oma-oma yang membeli roti di toko ini. Sepertinya beliau pelanggan, ya. Rasanya kalau suatu hari nanti akulewat Caramia Bakery, aku mau beli roti lagi di sini… :D 






Kantor Asuransi yang Akhirnya Mati

Satu lagi bangunan kolonial yang masih ada di Noordwijk adalah bangunan ini. Dulunya bangunan ini merupakan kantor Nederlandsh-Indiesche Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ) yang mulai beroperasi pada 1859. Nillmij merupakan perusahaan asuransi jiwa pertama di Hindia Belanda.


Nah, setelah Indonesia merdeka, Nillmij pun dinasionalisasi dengan beberapa perusahaan asuransi jiwa lainnya hingga menjadi Jiwasraya. Sayangnya, baru aja pada Januari 2025, Jiwasraya dicabut izin usahanya oleh OJK. 


Bangunan itu pun sepi dan tutup. Padahal aku ngerasa kalau bangunannya bagus banget. Bahkan aku juga sempat mengintip di bagian dalam gedung yang ternyata ada kaca patri besar yang mirip seperti kaca patri di gedung Museum Mandiri. 






Akhir Perjalanan di Replika Patung Hermes

Kalau pernah ke Musuem Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahillah pasti Manteman pernah melihat sebuah patung di bagian belakang museum. Itulah Patung Dewa Hermes yang awalnya dipajang di jembatan atau Tugu Harmoni, bagian ujung dari Noordwijk dan Rijswijk. . 


Nah, di akhir perjalanan walking tour ini, Kak Ara sebagai tour guide bercerita tentang Patung Hermes tersebut. 


Kini patung yang ada di sana merupakan patung replika. Dulu patung tersebut pernah diduga dicuri. Padahal kenyataannya patung tersebut tertabrak dan jatuh ke dalam sungai di bawahnya. 


Patung Hermes itu ditemukan beberapa bulan kemudian dan dipindahkan ke Museum Fatahillah supaya lebih aman. Hingga pada akhirnya di lokasi awal penempatan patung dibuatlah patung replikanya. 




Huaaaah, lumayan panjang juga, ya, ceritaku kali ini. Hihi… Aku gerasa perjalanan tour rute Noordwijk dan Rijswijk ini memang seru banget buat diceritakan kembali. Saat jalan kaki aku jadi ngebayangi suasana tempo dulu melalui cerita dan gambar-gambar yang diperlihatkan oleh Kak Ara. 


Perjalanan walking tour di bulan puasa juga ternyata nggak seberat yang aku pikir. Meski sudah kena panasnya jalanan, tapi alhamdulillah badan tetap fit sampai buka puasa... :) 


Manteman tertarik juga buat menyusuri Noordwijk dan Rijswijk? :) 




Dita Indrihapsari


 




Contact Form

Name

Email *

Message *