Sejarah dan Fakta Menarik Stasiun Tanjung Priok Jakarta



Bagi warga yang berdomisili di Jakarta Utara bisa jadi Stasiun Tanjung Priok sudah nggak asing lagi, ya. Adakah Manteman yang pernah naik kereta dari stasiun ini?


Meskipun aku juga tinggal di Depok dan nggak terlalu jauh dari Jakarta, tapi baru kali ini bisa berkesempatan menyusuri setiap sudut Stasiun Tanjung Priok Jakarta berkat walking tour spesial bersama Wisata Kreatif Jakarta beberapa bulan lalu. 


Rasanya seneng bangt karena kalau sendiri kayaknya nggak mungkin bisa  masuk sampai ke rooftop bahkan melihat bunker peninggalan Belanda di stasiun ini!


Lokasi Stasiun Tanjung Priok yang nggak jauh dari pelabuhan ternyata memiliki cerita panjang sejak masa kolonial. Usia bangunannya pun sudah berusia 100 tahun lebih, lho. Kalau dilihat sekilas, mungkin nggak semua orang menyadari bangunan stasiun ini jadi  salah satu stasiun paling bersejarah di Indonesia. 

Yuk, aku ceritain gimana sejarahnya Stasiun Tanjung Priok Jakarta dan apa saja hal menarik yang ada di stasiun ini.



Awal Mula Stasiun Tanjung Priok: Ketika Pelabuhan Butuh Jalur Kereta

Keberadaan pelabuhan, tuh, penting banget, kan, ya bagi Batavia tempo dulu. Perdagangan dijalankan dari pelabuhan hingga ke tangan masyarakat. Sebelum ada Pelabuhan Tanjung Priok, ada Pelabuhan Sunda Kelapa yang beroperasi kala itu. 


Nah, pada akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pelabuhan dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok karena kondisi pelabuhan lama yang dianggap kurang memadai untuk kapal-kapal besar.


Pelabuhan Tanjung Priok pun lama-lama berkembang pesat sebagai gerbang utama perdagangan di Batavia. Kapal-kapal dari Eropa, Asia, hingga berbagai wilayah Nusantara bersandar di sini. Aktivitas bongkar muat barang dan mobilitas penumpang sampai meningkat tajam.




Karena makin aktifnya pelabuhan tersebut, transportasi darat yang efisien untuk memindahkan barang dari pelabuhan ke berbagai tempat pun sangat dibutuhkan. 


Nah, kereta api pun jadi solusi utama untuk menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota Batavia serta daerah-daerah lain di Jawa. Lalu dibangunlah stasiun pertama di kawasan Tanjung Priok pada akhir abad ke-19.


Stasiun Tanjung Priok generasi pertama dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken sekitar tahun 1883 dan dibuka pada 2 November 1885.


Namun, perkembangan pelabuhan yang semakin pesat membuat bangunan stasiun awal dianggap nggak lagi memadai. Pemerintah kolonial pun membuat stasiun baru yang lebih besar dan lebih megah.



Pembangunan Stasiun Baru Tanjung Priok: Proyek Ambisius Kolonial

Pembangunan stasiun baru dimulai pada tahun 1914 oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS). Proyek ini dipimpin oleh arsitek dan insinyur Belanda, C.W. Koch. Pembangunan sempat terhambat oleh Perang Dunia I, tapi akhirnya New Stasiun Tanjung Priok rampung dan resmi dibuka pada 6 April 1925.


Stasiun baru ini dirancang bukan hanya sebagai fasilitas transportasi, melainkan juga sebagai gerbang utama bagi para pendatang yang tiba melalui jalur laut. 


Banyak penumpang kapal dari Eropa yang turun di Pelabuhan Tanjung Priok, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api dari stasiun ini menuju pusat kota Batavia atau kota-kota lain di Jawa. Bahkan dulu di stasiun ini juga disediakan banyak kamar seperti hotel, lho!


Karena perannya yang strategis dan penting, bangunan stasiun dirancang megah dan modern. Stasiun ini menjadi simbol kemajuan teknologi dan infrastruktur kolonial. Terlihat, kan, betapa besar dan megahnya stasiun ini. 



Gaya Arsitektur Stasiun Tanjung Priok: Sentuhan Eropa

Salah satu daya tarik utama Stasiun Tanjung Priok adalah arsitekturnya. Saat pertama kali aku berada di Stasiun Tanjung Priok, aku juga ngerasa kagum banget sama bangunannya. 


Stasiun Tanjung Priok berbeda dengan stasiun-stasiun lain yang berada di jalur kereta Jabodetabek, kan.  


Ternyata bangunan Stasiun Tanjung Priok ini mengusung gaya modern awal dengan pengaruh Art Deco yang mulai berkembang di Eropa saat itu.




Salah satu elemen yang menjadi ciri khas Stasiun Tanjung Priok adalah atap peron melengkung (overkapping) yang terinspirasi dari desain Stasiun Centraal Amsterdam. 


Ciri khas gaya arsitektur art deco pada Stasiun Tanjung Priok baru ini juga bisa terlihat pada:

- Garis-garis geometris tegas

- Bentuk bangunan yang simetris

- Jendela-jendela besar

- Ruang utama dengan langit-langit tinggi


Saat turun kereta dan berada di peronnya, aku pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil beberapa dokumentasi di stasiun ini, terutama pada bagian atap peron yang melengkung itu… :) 



Stasiun Tanjung Priok di Masa Kemerdekaan

Saat masa kolonial Stasiun Tanjung Priok berada di masa kejayaannya. Menjadi stasiun yang super sibuk dan disambangi banyak orang, baik orang Belanda maupun pribumi 


Setelah kemerdekaan, pengelolaan kereta api diambil alih oleh pemerintah Indonesia melalui Djawatan Kereta Api (DKA). Stasiun Tanjung Priok pun resmi menjadi milik Indonesia.


Selain kereta barang, Stasiun Tanjung Priok juga mengoperasikan kereta penumpang jarak dekat maupun jarak jauh. 


Namun seiring waktu, peran Stasiun Tanjung Priok mulai berkurang karena perubahan pola transportasi dan distribusi logistik. Aktivitas penumpang pun nggak lagi seramai masa kolonial.


Pada tahun 1999, operasional stasiun sempat dihentikan oleh pemerintah. Beberapa bagian di stasiun mengalami kerusakan dan terbengkalai. Kondisinya sempat memprihatinkan. Padahal bangunan ini punya banyak nilai sejarah. 



Stasiun Tanjung Priok Kembali Beroperasi 

Alhamdulillah-nya pada 2009 Stasiun Tanjung Priok mulai beroperasi kembali. Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia melakukan revitalisasi dan reaktivasi jalur menuju Stasiun Tanjung Priok.


Renovasi dilakukan tanpa menghilangkan karakter asli bangunannya. Struktur utama tetap dipertahankan karena bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian terkait sejak awal 1990-an.


Upaya ini menjadi contoh penting bagaimana bangunan bersejarah bisa tetap difungsikan tanpa kehilangan nilai historisnya.




Saat aku dan teman-teman dari Wisata Kreatif Jakarta mengeliling stasiun ini pun pekerjaan pemeliharaan masih berjalan. Ada ruangan-ruangan yang belum difungsikan karena masih direnovasi. 


Aku berharap banget Stasiun Tanjung Priok bisa 100% berfungsi dan smeua ruangan di dalamnya bisa digunakan.


Oiya, saat ini, Stasiun Tanjung Priok hanya melayani Commuter LIne rute Jakarta Kota - Tanjung Priok serta kereta barang, ya. Meskipun rutenya pendek, tapi, ya, kalau aku perhatikan penumpangnya tetap banyak. 


Aku naik kereta Commuter Line ke Tanjung Priok dari Stasiun Jakarta Kota. Jadwal kereta ke Stasiun Tanjung Priok ada setiap 30 menit sekali, ya. Karena rutenya memang pendek dan cepat nggak heran kalau jadwalnya juga mepet gitu. 



Status Cagar Budaya Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Selain itu juga ditetapkan sebagai benda cagar budaya lewat SK Menbudpar tanggal 25 April 2005.


Perlindungan ini karena bangunan melebihi usia 50 tahun, memiliki nilai arsitektur kolonial, dan memiliki makna penting dalam sejarah perkeretaapian dan transportasi nasional. 


Sebagai bangunan cagar budaya, Stasiun Tanjung Priok nggak boleh diubah sembarangan. Setiap renovasi harus mempertimbangkan nilai sejarah dan keaslian arsitekturnya.





Ruangan- ruangan dan Hal Menarik di Stasiun Tanjung Priok

Setelah menjelajahi Stasiun Tanjung Priok aku mendapati banyak ruangan dan hal-hal menarik yang ada di stasiun ini. Ada beberapa benda yang masih ada sampai sekarang padahal sudah ada sejak masa kolonial dulu. 


Ruangan Pribumi dan Non-Pribumi

Ternyata dahulu saat masa kolonial ada bagian di dalam Stasiun Tanjung Priok yang dibedakan berdasarkan kelas sosial. Ada ruang tunggu khusus pribumi dan ryang tunggu non-pribumi. 


Untuk ruang tunggu non-pribumi alias untuk orang Belanda dan bangsawan bahkan disediakan ruang dansa hingga bar! Sampai saat ini pun keberadaan bar-nya juga masih ada dan ruangannya saat aku datang masih dalam renovasi. 


Sepertinya, sih, ruangan ini akan dijadikan kafe atau ruangan yang bermanfaat lainnya. :) 


Ruang Tunggu Pribumi

Ruang dansa

Ruang bar



Bunker yang Terendam

Stasiun Tanjung Priok ternyata juga memiliki bunker bawah tanah, lho. Bunker ini pun bentuknya seperti terowongan yang katanya, sih, akan menyambung sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok. 





Nah, saat ini bunker tersebut nggak bisa dilewati, ya. Jadi aku hanya bisa melihatnya dari atas saja karena bagian bunker terendam air. :) 



Rooftop Stasiun

Mengikuti walking tour seperti ini kelebihannya juga bisa masuk sampai ke tempat-tempat yang belum tentu bisa dimasuki kalau wisata sendiri. 


Begitupun di Stasiun Tanjung Priok. Saat mengikuti walking tour ini aku bahkan bisa masuk sampai ke rooftop stasiun! Di rooftop ini bisa terlihat dengan jelas Terminal Tanjung Priok dan crane-crane yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok.





Berbagai kendaraan dari yang kecil sampai yang besar juga sibuk berlalu-lalang. Melihat Tanjung Priok dari atas gini aku jadi ngebayangin pada masa kolonial dulu pasti juga suasananya sibuk dan nggak berhenti bergerak, ya. 



Dari Urinoir sampai Lift Makanan

Stasiun Tanjung Priok juga masih menyimpan hal-hal yang sudah dipasang sejak dulu. Aku melihat urinoir asli dari zaman Belanda! Urinoir ini terbilang berukuran besar jika dibandingkan dengan urinoir yang ada sekarang. 




Aku pun juga melihat ruangan dapur di Stasiun Tanjung Priok. Hal ini dibuktikan dengan adanya cooker hood atau alat untuk menyedot atau menyerap uap hasil dari memasak. Selain itu masih ada juga lift makanan yang menghubungkan dapur dan ruang makan. 

Lift katrol dengan kayu tersebut bentuknya kecil dan saat ini juga sudah nggak bisa digunakan lagi. 





Gimana, menarik banget, ya, yang ada di Stasiun Tanjung Priok… :) Bagi Manteman yang belum pernah ke Stasiun Tanjung Priok, yuk, sekali-kali mampir ke stasiun tua ini… Aku berharap semoga stasiun ini tetap terjaga sampai kapanpun…


Dita Indrihapsari


Kuliner Legendaris di Pasar Jatinegara


Jalan-jalan menyusuri Pasar Jatinegara dan sekitarnya seakan membuka memoriku. Duluuu waktu aku masih kecil sampai remaja, aku pernah diajak beberapa kali oleh mamaku ke pasar ini. 


Mamaku seorang penjahit dan suka membuat souvenir. Aku diajak mamaku ke Pasar Jatinegara untuk membeli aksesoris-aksesoris di sana yang memang harganya terbilang lebih terjangkau. 


Selepas belanja, seingatku kami pernah membeli buah, sate, gorengan, dan jajanan lainnya di sana.  


Nah, makanya saat beberapa bulan lalu mengikuti walking tour rute Pasar Jatinegara bersama Jakarta Good Guide (JGG), aku kembali mengenang masa-masa dulu waktu jalan-jalan ke Pasar Jatinegara atau sering juga disebut Pasar Meester ini… :D 


Nggak hanya ke ikon atau bangunan bersejarah, rute walking tour Pasar Jatinegara ternyata juga banyak banget menyambagi tempat-tempat kuliner di sana. Di tulisan ini  aku urutin, ya, tempat-tempat kuliner apa aja yang sempat aku datangi di Pasar Jatinegara dan sekitarnya… :D 



Sate Keroncong

Aku dan teman-teman walking tour melewati Sate Keroncong setelah dari Kantor Pos Jatinegara. Lokasinya dekat dari jalan raya, Jalan Matraman Raya. 


Dari namanya aja udah unik, ya. Kenapa namanya bisa Sate Keroncong? Sebenarnya nama asli warung sate ini adalah Sate Sederhana. Namun karena dulu sering ada pemusik atau pengamen yang memainkan musik keroncong sambil menemani makan para pelanggan sate, akhirnya warung ini pun lebih dikenal dengan nama Sate Keroncong. 





Warung sate ini juga udah ada dari lama banget, lho. Mulai buka sekitar tahun 60-an dan masih bertahan sampai sekarang. 


Katanya menu andalan di sini adalah Sate Kambing. Ada juga menu lain seperti gulai dan tongseng. 


Nah, sayangnya aku memang nggak sempat mencicipi Sate Keroncong ini. Tadinya setelah selesai walking tour mau mampir lagi ke warung sate ini tapi rencana itu nggak terlaksana. Mungkin next time aku mau ke sana lagi, dan siapa tahu ketemu dengan pemain musik keroncongnya juga… :) 



Cakwe Wastafel

Hah? Aku pun kaget, kok, begitu mendengar namanya! Tapi nggak salah, tempat kuliner ini memang dikenal dengan nama Cakwe Wastafel. 


Kenapa dinamakan demikian? Sebabnya satu, tempat penggorengan cakwe itu memang di wastafell :D Iya, jadi wadah menggorengnya kayak disemacam wstafel, bukan penggorengan biasa. Katanya, sih, panasnya lebih merata kalau digoreng di “wastafel” ini.


Aku sempat membeli cakwe yang dilah oleh Bang Zaenal ini seharga Rp 10.000,-. Bayarnya juga bisa pakai QRIS, ya. Nah, untuk rasanya memang enak, sih. Cakwenya juga empuk.






Terminal Combro

Terminal Combro juga termasuk kuliner legend di Pasar Jatinegara. Sudah ada sejak tahun 1990 dan masih banyak banget peminatnya sampai sekarang. Bahkan, kita kalau mau menikmati combronya disarankan untuk pesan dulu via WhatsApp paling nggak sehari sebelumnya. Kalau nggak, ya, bisa gagal makan combro nanti! :D 


Saat aku sampai di Terminal Combro memang terlihat beberapa orang sedang memasak. Ada juga seorang bapak yang sedang mengupas singkong sebagai bahan baku pembuatan combro. Katanya, singkong-singkong itu dari Bogor dan Sukabumi. 





Karena banyak peminat, kalau nggak salah aku hanya berhasil kebagian dua combro aja. Pas mencobanya, memang nggak salah, sih, warung combro ini bisa bertahan lama. Isiannya gurih, padat, dan banyak! Harga satuannya Rp 3500,- aja. 


Nha, di Terminal Combro nggak hanya menjual combro aja tapi juga ada timus, roti goreng isi, gandasturi, ongol-ongol, getuk lindri, martabak mini, dan lainnya. 



Siomay Wawa

Buat yang suka sama siomay atau dimsum, jangan sampai kelewatan jananan ini kalau lagi ke Pasar Jatinegara. Siomay Wawa ini katanya juga termasuk kuliner legend di sana dan sudah ada sejak lama. 


Di sini siomay dan ngohiong dibuat fresh dengan tekstur padat dan rasa gurih dari campuran ayam dan udang. Karena banyaknya permintaan, siomay di sini sering habis cepat. Beberapa pelanggan bahkan memesan sehari sebelumnya supaya kebagian sebelum dagangan ludes.





Nah, kalau dilihat penampakan siomay ini sebenarnya lebih mirip ke dimsum, ya. Ukuran siomaynya sendiri pun juga cukup besar. Untuk satu porsi isi 5 harganya Rp 20.000,-. 


Di sini juga dijual ngohiong dengan harga Rp 25.000,- Kalau ngohiong, bahan utamanya mirip seperti siomay, namun keliatannya ada tambahan sayuran lebih banyak di dalamnya. Dua-duanya sama-sama enak! Pantesan, sih, kalau cepat habis! :D 



Gelora Bakery

Kalau ditanya apa toko roti jadul dan legendaris di Jakarta? Gelora Bakery adalah salah satunya. Toko roti di Pasar Jatinegara ini sudah berdiri dari tahun 1950-an dan dikelola dari generasi ke generasi. 


Meski lokasi toko rotinya berada di dalam gang sempit tanpa papan nama besar, aroma rotinya yang harum mudah tercium saat kita berada dekat dengan toko ini. 


Awalnya Gelora Bakery fokus memproduksi biskuit keras tradisional, namun seiring waktu toko ini mengembangkan lini produknya menjadi berbagai macam roti dan kue. 


Kini di etalase mereka tersedia aneka roti tawar, roti manis, roti asin, butter cookies, dan lainnya. Oiya, semua produknya juga dibuat tanpa bahan pengawet dengan resep klasik yang dipertahankan sejak dulu, ya. 





Nah, pas di Gelora Bakery aku membeli roti yang direkomendasikan banyak orang, yaitu roti smoked beef dan cokelat keju. Benar saja, begitu sampai rumah dan menikmati rotinya, wah, enak banget. Teksturnya lembut. 


Rasanya pingin lagi ke sana, tapi kalau jalan sendiri aku takut nyasar. Hahaha… Lokasinya memang di gang-gang gitu, Manteman. Tapi kalau pakai GMaps sepertinya, sih, bisa… :D 



Kopi Bis Kota

Sepertinya kuliner di Jatinegara, tuh, nggak jauh-jauh dari kata LEGEND! :D Ada lagi, satu toko di Pasar Jatinegara yang juga legendaris, yaitu Toko Sedap Djaja yang memproduksi Kopi Bis Kota. 


Dari kemasannya aja kita bisa tahu kalau kopi ini sudah ada sejak tahun 1943! Bahkan sebelum Indonesia merdeka kopi ini sudah eksis, lho! 


Aku sempat membeli kopinya yang ¼ kg. Kalau nggak salah harganya sekitar Rp 50.000,-. Biji kopinya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia, lho, seperti dari Lampung, Flores, dan lainnya. 


Buat penikmat kopi kataku, sih, sekali-kali coba, deh, main ke Pasar Jatinegara dan jangan lupa beli Kopi Bis Kota di sini!






Es Tebak

Ada yang sudah pernah nyobain Es Tebak? Es Tebak di Pasar Jatinegara jadi salah satu jajanan minuman tradisional yang punya cerita panjang dan menjadi bagian dari kuliner legendaris kawasan pasar ini. 


Minuman khas Sumatera Barat ini berbeda dari es biasa karena menggunakan “tebak”. Nah, tebak ini, tuh, sejenis adonan mirip cendol yang kenyal dan lembut. Tebak jadi isian utama es ini, dipadukan dengan tape ketan, kolang-kaling, cincau, santan kental, sirup merah khas Minang, dan es serut yang melimpah. 





Aku mencoba santapan segar Es Tebak di penjual Es Tebak milik Hj. Aniwarti yang sudah eksis sejak tahun 1978. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga aja tapi juga bagian kecil warisan kuliner yang tetap bertahan lewat generasi ke generasi. 


Lokasinya yang berada di gang sempit pasar membuat suasana bersantapnya terasa unik dan penuh nostalgia. Banyak pengunjung dan pejalan kaki yang sengaja mampir untuk menikmati segelas Es Tebak setelah berjalan menjelajah pasar. :) 


Bagi Manteman yang pernah menjelajah Pasar Jatinegara, adakah rekomendasi jajanan kuliner di sini yang perlu aku coba juga? Kalau ada, boleh banget kasih tahu aku di kolom komentar, yaa… 


Dita Indrihapsari


Fenomena Jasa Fotografer Keliling di Tempat Wisata




Pernah, nggak, sih, Manteman lagi jalan-jalan bareng keluarga ke suatu tempat wisata dan di tempat wisata tersebut ada fotografer keliling yang menawarkan jasanya? 


Aku pikir kehadiran handphone dengan dibekali fitur kamera yang semakin canggih akan membuat keberadaan jasa fotografer keliling di tempat wisata bakalan punah kayak punahnya dinosaurus.


Namun pemikiranku salah! Bahkan, sampai aku menulis tulisan blog ini, beberapa kali aku ke pergi ke tempat wisata bersama keluarga, aku masih mendapati kehadiran para fotografer keliling ini. 


Pertanyaannya, bagaimana bisa mereka masih bertahan? 


Aku coba ulik beberapa fenomena dari dulu saat masih jaya-jayanya keberadaan jasa fotografer keliling sampai saat ini, ya… Kalau Manteman punya pendapat juga tentang fenomena ini bisa share juga pendapat Manteman di kolom komentar… :D 



Dulu Ramai, Sekarang Sepi

Ada masanya kalau dulu kita berkunjung ke pantai, kebun binatang, taman rekreasi, adaaaa aja fotografer keliling yang sigap berdiri dengan kamera menggantung di leher. Mereka segera menawarkan jasa fotonya ke pengunjung yang baru datang. 


Sistemnya juga simpel banget. Pengunjung oke, fotografer mengarahkan gaya, difoto, tunggu beberapa saat untuk hasil cetakan fotonya. 


Ada juga sistem di mana fotografer secara random memfoto pengunjung lalu mencetak hasilnya, kemudian hasil cetakan tersebut dijual di pintu keluar tempat wisata. Kalau pengunjung itu mau, bayar, hasil cetakan bisa dibawa pulang. Kalau nggak mau ditebus, ya, sudah, rugi juga fotografernya.


Biasanya hasil cetakan juga khas banget. Ada template-nya gitu. Bahkan bisa sampai ada tanggal foto tersebut dibuat. 


Dulu, sih, foto-foto seperti itu sering jadi oleh-oleh dan kenang-kenangan, ya. Foto bisa diselipkan di dompet, dipajang di dinding rumah atau dimasukkan ke album keluarga. Rasanya ada kepuasan tersendiri membawa pulang sesuatu yang fisik dari liburan keluarga.


Namun waktu berubah. Cetak foto mulai jarang diminati, album foto tergantikan galeri digital, dan kenangan lebih sering disimpan di cloud, hardisk atau media sosial. Apalagi sekarang semua orang rasanya sudah memiliki handphone yang bisa digunakan untuk memfoto.


Keberadaan fotografer keliling yang dulu ramai, kini mulai sepi. Dari referensi yang aku baca di satu tempat wisata di Jakarta, dulunya sampai ada ratusan fotografer keliling, saat ini hanya tersisa enam saja! 



Teknologi HP dan Perubahan Pola Wisatawan

Perubahan paling terasa yang menyebabkan makin sepinya jasa fotografer keliling tentu datang dari teknologi handphone. 


Sekarang berasa nggak, sih, kalau kamera HP, tuh, bukan lagi sekadar pelengkap di dalam HP. Selain alat komunikasi, HP juga jadi alat dokumentasi… :D 


Makin banyak kamera HP dengan resolusi tinggi, punya fitur stabilisasi, bahkan ada portrait mode dengan efek blur, sampai bantuan AI yang bisa mempercantik hasil foto dalam sekali sentuh. Canggih banget, kan!


Wisatawan yang datang ke tempat wisata pun jadi semakin percaya diri memotret sendiri. Selfie berdua, selfie rame-rame atau bergantian foto dengan anggota keluarga. 


Kalau ingin semua masuk frame dengan pose yang oke, modal tripod kecil juga bisa. Nggak jarang, juga, bisa minta tolong pengunjung lain untuk memencet tombol kamera. Hal ini sekarang sangat lumrah terjadi, kan. 


Nah, mindset pun sekarang juga ikut berubah. Foto liburan nggak lagi harus sempurna atau dicetak rapi. Yang penting ada, cepat, gratis, dan bisa langsung diunggah ke social media. Di titik inilah jasa fotografer keliling mulai tersisih. 



Strategi Bertahan Fotografer Keliling Zaman Sekarang

Meski begitu, fotografer keliling bukan sepenuhnya menyerah. Ada juga, kok, beberapa dari mereka ikut beradaptasi dengan zaman. 


Mereka nggak lagi mengandalkan cetak foto sebagai satu-satunya produk, tapi menawarkan file digital yang bisa langsung dikirim ke HP pengunjung. File foto bisa dikirim lewat WhatsApp, Bluetooth atau AirDrop, tanpa perlu menunggu waktu lama. Ada yang masih tetap memakai kamera, tapi nggak sedikit juga yang memakai HP sebagai senjata utamanya untuk mencari rezeki. 


Harganya pun menyesuaikan dan lebih ramah kantong. Dari beberapa kali aku ke tempat wisata dan lihat video di social media, range harganya sekitar Rp5.000,- sampai Rp10.000,- per foto. 


Beberapa fotografer juga berubah cara pendekatannya. Lebih fleksibel, nggak maksa, dan lebih komunikatif. 


Mereka juga menyesuaikan gaya pengambilan gambar dengan keinginan pengunjung. Bisa foto santai atau pose alami saja.  Tapi mereka juga bisa jadi pengarah gaya seperti layaknya fotografer profesional. :) 


Akhirnya memang harus beradaptasi, ya, supaya pekerjaan tetap berjalan. Satu hal penting: mereka sedang berusaha bertahan, bukan menyerah.



Pakai Jasa Fotografer Keliling Saat di Puncak

Memakai jasa fotografer keliling ini pernah dialami suamiku saat mengajak anak-anak sunmori ke Puncak. 


Ceritanya, suami sempat mengajakku terlebih dahulu ke Puncak, tepatnya ke Telaga Saat dengan naik motor. Perjalanan ke Telaga Saat yang melewati perkebunan teh Ciliwung Tea Estate ternyata sangat membekas. Memang bagus banget view perkebunan teh di sana. 


Nah, beberapa minggu kemudian giliran anak-anak yang diajak ke sana sana ayahnya. Memang nggak ke Telaga Saatnya tapi hanya ke perkebunan tehnya saja. Di perkebunan teh itulah mereka bertemu dengan fotografer keliling yang menjajakan jasanya. 


Akhirnya suami pun memakai jasanya dengan memperoleh 5 atau 6 file foto. Satu file foto harganya Rp5.000,- saja.


Saat dikirim foto-foto mereka di grup Whatsapp keluarga, aku pun langsung tahu kalau mereka pasti pakai jasa fotografer keliling. Hehehe… Hasilnya baguuus dan pastinya momen mereka sunmori bertiga nggak luput dari jepretan kamera… :) 






Penyesalan Kecil di Gunung Kidul, Yogyakarta

Sebaliknya, ada juga pengalaman yang meninggalkan sedikit penyesalan. Saat liburan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, aku sempat ditawari jasa fotografer keliling di sekitar Pantai Indrayanti. 


Namun saat itu aku dan keluarga memilih nggak menggunakan jasanya. Merasa cukup dengan foto seadanya dari HP sendiri.


Barulah setelah pulang, penyesalan kecil itu muncul. Foto-foto yang ada terasa kurang. Nggak ada foto kami sekeluarga lengkap dengan pose yang oke… Padahal momennya dan tempatnya indah, suasananya hangat, dan kemungkinan besar nggak akan terulang persis sama, kan. Hikssss…


Dari situ aku pun jadi belajar satu hal sederhana. Ada momen yang nggak bisa diulang, dan nggak semua momen bisa diwakili oleh foto seadanya. 


Makanya kalau suatu saat aku ada kesempatan lagi buat ke sana bareng keluarga, rasanya mau banget difotoin sama fotografer keliling itu. Harganya pun masih terjangkau, Rp5.000,-/foto. 



Bukan Sekadar Foto, Tapi Soal Berbagi Rezeki

Di luar soal hasil foto, sebenarnya memakai jasa fotografer keliling juga bisa jadi salah satu cara kita untuk berbagi rezeki ke sesama. Kalau kita sedang liburan, punya anggaran lebih, dan ada orang yang menawarkan jasa dengan cara baik, kenapa nggak?


Liburan keluarga bagi kita mungkin soal melepas penat. Tapi bagi orang lain, itu adalah sumber penghasilan. Fotografer keliling adalah bagian dari ekosistem wisata, sama seperti pedagang makanan, tukang parkir atau penjual souvenir.


Tentu dengan satu catatan penting, ya, selama nggak memaksa, nggak mengganggu, dan tetap menghargai pilihan wisatawan.


Oiya, tentang konsep berbagi rezeki ini juga pernah aku alami saat menghadiri acara kelulusan SD anakku. Di depan gedung acara kalau nggak salah aku melihat dua orang fotografer keliling. 


Nah, saat aku dan anakku datang, kami dipotret begitu saja. kemudian saat kami pulang, barulah kami ditawari foto-foto hasil jepretan fotografer keliling tadi. Hasilnya sudah berupa hasil cetak foto, ya. 


Akhirnya aku pun mengambil foto-foto tersebut dan membayar dengan harga yang aku tawar… :D Menurutku foto ini bisa jadi kenang-kenangan. Kalau nggak dibeli juga akan diapakan oleh fotografernya? Apakah akan dibuang begitu saja, kan? Pikirku daripada sayang, ya, alhasil aku beli juga… 


Sebenarnya aku kurang suka kalau difoto-foto begitu saja atau istilahnya difoto candid. Kan, jadi nggak bisa gaya, ya. :D Mana tahu nanti aku juga merem atau muka lagi ketekuk. Hehehe… 




Namun pada akhirnya, foto bukan hanya soal resolusi tinggi atau kamera tercanggih. Foto adalah tentang momen, kebersamaan, dan cerita di baliknya.


Sesekali, mempercayakan kamera pada fotografer keliling bisa menjadi pilihan. Kita mungkin mendapatkan satu foto keluarga yang lebih utuh. Dan di saat yang sama, mereka pun mendapat rezeki halal untuk kehidupannya.



Dita Indrihapsari




Pulau Lengkuas, Pulau Kecil dengan Mercusuar Ikonik di Belitung



Kapal yang kunaiki bersama keluarga bergerak cepat. Samar-samar di depan tampak bangunan tinggi berwarna putih yang siap menyambut kedatangan kami. 


Semakin dekat, bangunan itu pun terlihat semakin nyata. Sampai akhirnya kapal menepi di pulau dengan mercusuar putih yang berdiri megah. Yap, sampailah kami di Pulau Lengkuas, Belitung! 


Pulau Lengkuas merupakan salah satu pulau kecil di Belitung yang namanya hampir selalu muncul saat orang-orang ke Belitung dan berwisata island hopping. 


Bukan tanpa alasan pulau ini jadi magnet tersendiri di Belitung. Pulau Lengkuas memang punya satu ikon yang langsung mencuri perhatian, mercusuar tua berwarna putih peninggalan kolonial yang menjulang tinggi di tengah pulau.


Makanya, saat aku mengajak keluarga liburan ke Belitung, island hopping dan menapaki Pulau Lengkuas masuk ke dalam itinerary perjalanan kami. :) Liburan keluarga ke Belitung rasanya nggak lengkap, deh, tanpa singgah ke Pulau Lengkuas.




Ada yang tahu nggak kenapa namanya Pulau Lengkuas? Apa karena di pulau ini ada banyak lengkuasnya?


Dari beberapa referensi yang aku baca, ternyata bukan karena ada banyak lengkuas di pulau ini. Jadi sebenarnya karena ada mercusuar, orang menyebutnya Pulau Light House. Namun karena penduduk lokal sulit menyebutnya, akhirnya Light House itu pun disebut sebagai Lengkuas! :D 


Gimana, menarik juga, ya, asal usul nama pulau ini. :) 



Menuju Pulau Lengkuas dengan Tour Island Hopping di Belitung

Meskipun suami bisa nyetir mobil, tapi saat liburan ke Belitung kami nggak menyewa mobil sendiri dan kemana-mana sendiri, ya. Aku mikirnya biar nggak ribet, apalagi ngajak anak-anak, akhirnya kami pun memutuskan untuk pakai jasa tour aja. 


Aku memilih untuk tour selama dua hari satu malam tanpa hotel karena kami sudah booking hotel pilihan kami sendiri. Biasanya jasa tour memang ada paket tour yang tanpa hotel dan ada juga yang sekalian sama hotel. 


Dari sekian banyak jasa tour aku memilih yang namanya Belitung Tours. Coba cek aja di Instagram, ya. Sssttt, ini bukan postingan endorse, kok. Hehe… Namun kalau Manteman butuh jasa tour di Belitung, siapa tahu tertarik sama jasa tour yang aku pakai ini. 


Untuk biayanya sekitar Rp800 ribu/orang. Ini sudah termasuk semuanya selama dua hari satu malam itu, ya, tanpa hotel. Kalau aku cek di beberapa tour lain juga harganya sangat bersaing, kok. 


Nah, cara paling praktis untuk mencapai Pulau Lengkuas memang dengan menyewa tour island hopping. Banyak penyedia tour di Belitung yang menawarkan paket ini, biasanya sudah termasuk perahu, pelampung, dan pemandunya juga. 


Jasa tour yang aku sekeluarga pakai nggak hanya tour island hopping tapi juga yang sekalian mengantar keliling kota, tempat wisata lain dan termasuk ke bandara di hari terakhir. 


Bisa aja, sih, sebenarnya nyewa kapal sendiri di tempat. Tapi dasarnya aku nggak mau ribet dan biar sekalian bisa kemana-mana, akhirnya memang pakai jasa tour di Belitung.





Di hari kami island hopping, tour guide menjemput kami langsung di hotel. Kebetulan hotel kami jaraknya juga nggak terlalu jauh dari Pantai Tanjung Kelayang, tempat dimulainya island hopping dengan naik kapal. 


Setelah naik kapal, kami langsung menuju beberapa pulau kecil seperti Batu Burung Garuda, Pulau Pasir, dan Pulau Batu Berlayar. Kemudian barulah kami ke Pulau Lengkuas! Alhamdulillah lancar sepanjang perjalanan dan cuacanya juga cerah banget.



Kesan Pertama Saat Menginjakkan Kaki di Pulau Lengkuas Belitung

Begitu sampai, Pulau Lengkuas menyambut dengan pantai berpasir putih dan air laut yang sangat jernih. Dari bibir pantai saja, dasar laut seperti masih terlihat jelas, lho.


Aku juga memperhatikan batu-batu granit besar tersebar di beberapa sudut pulau. Hal ini memang menjadi ciri khas yang nggak bisa dilepaskan dari pemandangan di Belitung.


Pulau Lengkuas nggak luas. Dalam waktu singkat, kita sudah bisa menjelajahi sebagian besar area pulau yang luasnya hanya 1 hektar ini. 


Mercusuar yang jadi ikon pulau ini pun tampak dekat juga dari bibir pantai. Cukup jalan kaki sebentar saja dari kapal yang bersandar sudah bisa langsung ada di depan mercusuarnya. 


Anak-anak pun langsung bermain air di tepi pantai. Ada juga spot seperti kolam yang dikelilingi batu-batu besar. Ah, senang sekali rasanya ngeliat mereka juga happy main air di sana… :D 


Sambil tetap memperhatikan anak-anak, aku dan suami pun menikmati suasana di pantai pulau ini sambil sesekali mengambil dokumentasi. :)



Sedikit Cerita Tentang Mercusuar Pulau Lengkuas Belitung

Mercusuar Pulau Lengkuas nggak hanya bagus sebagai latar foto aja. Bangunan ini jadi ikon utama yang membuat Pulau Lengkuas berbeda dari pulau-pulau kecil lainnya di Belitung. Tak hanya itu mercusuar ini juga punya kisah panjang tentang keberadaannya di Pulau Lengkuas. 


Mercusuar Pulau Lengkuas dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1882 oleh ZM Willem III. Mercusuar ini memiliki tinggi 70 meter dengan 18 lantai yang di setiap lantainya terdapat jendela. 


Tahun pembuatan mercusuar ini juga terdapat pada papan yang melekat di bagian bawah mercusuar, Kalau dihitung-hitung, berarti mercusuar ini sudah berusia 144 tahun! 




Keberadaan mercusuar di Pulau Lengkuas sangat penting untuk memandu kapal yang akan masuk dan keluar dermaga Pulau Belitung. 


Dulu pengunjung pun diperbolehkan naik ke bagian paling atas mercusuar sehingga bisa melihat keseluruhan Pulau Lengkuas dan pulau-pulau lainnya dari atas ketinggian. 


Sayangnya, saat aku sekeluarga mengunjungi Pulau Lengkuas, mercusuar ini ditutup, nggak lagi bisa dinikmati pengunjung, Wisatawan nggak diperkenankan untuk masuk ke dalam dan naik hingga ke atas. 


Aku pun hanya bisa mengelilingi mercusuar, melihatnya dari dekat. Mercusuar ini seperti sebuah komplek yang dipagari tembok. Disebelah mercusuar terdapat beberapa bangunan yang merupakan rumah para petugas penjaga mercusuar. 



Aktivitas Seru di Pulau Lengkuas Bersama Keluarga

Sebenarnya kalau mercusuar masih aktif dan bisa dinaiki oleh wisatawan, ini akan menjadi aktivitas utama yang ada di pulau ini. Namun meski mercusuar nggak bisa dinaik, sebenarnya ada banyak aktivitas ringan yang bisa dinikmati di Pulau Lengkuas, terutama jika datang bersama keluarga.


- Bermain di Pantai & Snorkeling

Bermain air di pantai tentunya bisa menjadi aktivitas favorit. Ombak di pantai Pulau Lengkuas relatif tenang, cocok untuk anak-anak bermain di tepi pantai dengan pengawasan orang dewasa. 


Bagi yang suka snorkeling, perairan sekitar pulau juga cukup menarik untuk melihat kehidupan bawah laut.





- Dokumentasi Setiap Sudut Pulau

Pulau Lengkuas juga menjadi spot foto keluarga yang cantik. Latar mercusuar, batu granit, dan laut biru hampir selalu menghasilkan foto yang oke tanpa banyak usaha. :) 





- Eksplorasi Pulau Sampai Menemukan Makam

Kalau punya banyak waktu, kita juga bisa mengeksplorasi keseluruhan pulau. Saat berkeliling pulau, aku pun menemukan ada beberapa makan yang dipagar. Aku nggak mencari tahu itu makam-makam siapa saja. 


Saat browsing-browsing pun setelah pulau dari Belitung, aku belum menemukan makam siapa yang ada di Pulau Lengkuas tersebut. Kalau ada Manteman yang tahu soal keberadaan makam ini bisa share di komentar blog ini, yaa… 




- Jajan Pop Mie Sambil Minum Es Kelapa

Selain itu, ada beberapa warung di Pulau Lengkuas yang bisa jadi tempat untuk kita melepas lelah sejenak. Saat di sana, aku sekeluarga sempat makan Pop Mie dan minum es kelapa muda. Harga Pop Mie kalau nggak salah 15 ribu dan es kelapa batok 20 ribu. Tipikal harga di tempat wisata, ya. 


Lumayan banget sebenarnya ada warung-warung ini. Selang beberapa lama kami mengeksplorasi Pulau Lengkuas, hujan turun dengan derasnya. Keberadaan warung-warung jadi penyelamat kami untuk berteduh…


Pas banget makan mie saat hujan diakhiri dengan minum es kelapa dengan pemandangan tepi pantai. Mantap! :D 




Pulau Lengkuas yang Kini Lebih Ramai

Pulau Lengkuas saat ini terasa lebih ramai dan hidup dibandingkan dulu. Terasa lebih hidup, lebih banyak pengunjungnya. Suasana pulau nggak lagi sesunyi dulu. Ya, sekitar tujuh tahun lalu aku sempat mengunjungi pulau ini juga saat solo traveling. 


Saat ini aku bersama teman-teman tour hanya main di pantai saja. Dulu seingatku belum ada warung-warung di pulau ini, Makanya aku agak kaget pas kembali lagi ke Pulau Lengkuas dan melihat deretan warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman. 




Dengan adanya warung-warung ini sebenarnya jadi simbiosis mutualisme, ya, bagi penjual warga lokal dan wisatawan. Hal ini memudahkan pengunjung yang ingin beristirahat sejenak, yang lapar dan butuh energi sebelum melanjutkan perjalanan keliling pulau lainnya. :) Apalagi bagi aku dan suami yang mengajak anak-anak. 


Namun tentunya perlu lebih diperhatikan soal keberadaan sampah-sampah yang ditinggalkan. Semoga, ya, Pulau Lengkuas tetap terjaga kebersihannya!




Perubahan memang jadi hal yang nggak terelakkan, ya, terutama untuk destinasi wisata seindah Pulau Lengkuas. Tapi menurutku walaupun ada perubahan, yang terpenting pesona utamanya masih tetap ada, seperti laut yang jernih, batu granit yang ikonik, dan mercusuar yang berdiri tegak sebagai simbol pulau ini. Dan tentunya kebersihannya.


Pulau Lengkuas mungkin kini lebih ramai, tetapi pulau ini tetap menawarkan pengalaman yang berkesan, terutama jika datang bersama keluarga. 


Gimana, ada rencana untuk mengunjungi pulau cantik dengan mercusuar ikonik ini juga?



Dita Indrihapsari


Telaga Saat Puncak, Perjalanan Naik Motor dari Depok ke Titik Nol Sungai Ciliwung



Suatu hari suamiku berkata, “Yuk, makan Sate Hanjawar lagi!” Tentunya kalau suami ngajak kemana-mana alias jalan-jalan, aku nggak akan menolak… :D Pas tahu suami pingin lagi ke Sate Hanjawar, aku pun langsung mikir, “Bisa kali, nih, sekalian juga ke Telaga Saat!” :D 


Yap, aku baru tahu soal Telaga Saat beberapa bulan lalu saat scrolling socmed. Pasti ada aja konten-konten FYP soal tempat wisata yang mampir di berandaku. Nah, salah satunya Telaga Saat yang lokasinya ada di Puncak. 


Sejak kepo tentang tempat ini, akhirnya sering banget yang muncul di berandaku tentang perjalanan konten kreator ke Telaga Saat. Dari video yang aku lihat, Telaga Saat memang cakep banget! Danau luas dengan dikelilingi oleh perbukitan hijau. 


Lokasinya pun nggak terlalu jauh dari Sate Hanjawar yang mau didatangi suami. 


Akhirnya setelah berembug, aku dan suami pun memutuskan untuk ke Telaga Saat kemudian setelah itu baru ke Sate Hanjawar. Perjalanan dari rumah kami di Depok dengan menaiki sepeda motor NMax. :D 


Aku sebenarnya sudah lama nggak ikut riding ke Puncak. Ada rasa khawatir juga takut capek, pegal linu, masuk angin… :D Tapi, sayang juga kalau rencana yang sudah kami siapkan ini jadi batal karena ketakutanku aja… 



Berangkat dari Depok, Riding Santai ke Arah Puncak

Aku dan suami berangkat dari Depok selepas Subuh. Oiya, malam sebelumnya, kami sudah menitipkan anak-anak dulu di rumah eyangnya. Jadi saat pagi itu kami bisa langsung berangkat. 


Tentunya kami sengaja memilih perjalanan pagi hari supaya terhindar dari macet parah khas jalur Puncak, sekaligus bisa menikmati udara segar pegunungan. :) 


Dari Depok suamiku memacu motor menuju Bogor. Di tengah perjalanan karena belum sarapan pagi, kami berdua pun menyarap bubur ayam di pinggir jalan. Tempat kami sarapan ini nggak terlalu jauh dari Hotel Royal Safari Garden. 


Sarapan di sana sekaligus untuk istirahat dan merenggangkan kaki-kaki sesaat. Meskipun masih pagi sekitar jam 7-an, namun suasana jalanan di Puncak saat itu sudah mulai ramai. Di beberapa spot bahkan ada kepadatan kendaraan, terutama roda empat.  


Usai sarapan, kami pun kembali lagi menuju Telaga Saat. Lakasi telaga ini setelah melewati Wisata Gunung Mas dan Masjid At Taawun. Ini sebagai patokannya, ya. Aku juga memakai Google Maps untuk mencapai Telaga Saat. 



Melewati The Ciliwung Tea Estate, Hamparan Kebun Teh Hijau yang Menenangkan

Setelah melewati Masjid At Taawun, sekitar 1,7 kilometer lagi, motor yang aku naiki berbelok ke arah kiri menuju The Ciliwung Tea Estate. Ya, untuk mencapai Telaga Saat memang harus melewati kawasan perkebunan teh tersebut.  


Di sini ada tiket masuknya, ya. Per orangnya Rp 25.000,- dan untuk motor Rp 10.000,-. Oiya, tiket masuk ini nantinya bisa ditukarkan dengan minuman di cafe yang berada di dekat Telaga Saat.




Beberapa tahun lalu, akses menuju Telaga Saat dikenal cukup menantang. Jalanan rusak, berbatu, dan licin saat hujan. Tapi sekarang, kondisinya jauh lebih baik dan ramah, termasuk untuk pengendara motor. Kini sepanjang melewati perkebunan teh, jalannya sudah di-konblok.


Meski masih ada beberapa bagian jalan tanah dan berbatu, secara keseluruhan jalur menuju Telaga Saat sudah lebih nyaman. Tetap perlu kehati-hatian, terutama jika datang saat hujan, tapi tidak lagi seseram cerita-cerita lama.


Niatnya memang mau ke Telaga Saat, tapi aku dan suami malah dibuat terpesona dengan perkebunan teh di sini. Area perkebunan tehnya luas banget! Di titik ini, aku ngerasanya perjalanan terasa seperti memasuki dunia lain. Apalagi saat itu kabut seperti mulai bergerak turun dari atas. 





Hamparan kebun teh hijau membentang sejauh mata memandang. Jalanan berkelok dengan latar perbukitan membuat kami beberapa kali berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena terlalu sayang kalau dilewati begitu saja tanpa menikmati pemandangannya. Dan tentunya sambil beberapa kali mengambil foto dan video… :D 


Bahkan saat kami berhenti, kami juga sempat mengobrol dengan bapak yang mengambil daun teh dengan membawa truk. Ada ilmu baru soal bagaimana daun teh terbaik dipanen.


Inilah salah satu momen favoritku sepanjang perjalanan ini, riding pelan di tengah kebun teh. Rasanya seperti terapi gratis sebelum sampai ke tujuan utama.



Kesan Pertama Saat Melihat Telaga Saat Puncak

Akhirnya setelah perjalanan melintasi perkebunan teh, aku dan suami sampai juga di parkiran Telaga Saat. Meski baru pukul 8 pagi, suasana parkiran sudah ramai dengan beberapa kendaraan roda dua dan roda empat. 




Di dekat parkiran terdapat bangunan besar yang khas banget. Seperti bangunan pabrik berbata merah. Aku penasaran banget, kan, ya, sebenarnya ini, tuh, bangunan apa. Kelihatan baru, berukuran besar tapi, kok, sepertinya sepi dan nggak terpakai.


Selepas dari Telaga Saat barulah aku sempat browsing mengenai bangunan ini. Ternyata bangunan tersebut memang pabrik teh di Ciliwung Tea Estate 1907. 


Namun bangunan tersebut disegel oleh pemerintah pada tahun 2025 lalu. Penyegelan ini merupakan buntut dari ditertibkannya beberapa bangunan dan tempat wisata yang melakukan alih fungsi lahan tanpa memperhatikan lingkungan. 


Akibat dari alih fungsi tersebut memang bisa fatal, termasuk kerusakan lingkungan dan bisa berdampak pada bencana alam. 


Hmmm, sepertinya memang kalau aku lihat bangunannya besar sekali. Mungkin dari kajian pemerintah ditakutkan ada dampak buruk dengan adanya bangunan tersebut. 




Meski bangunan tersebut disegel, untuk wisata Telaga Saat sendiri sampai saat aku menulis ini tetap beroperasi, ya, Manteman. Apakah tempat wisata ini nantinya harus dikaji lagi atau bagaimana kita ikuti saja perkembangannya. 


Sejauh yang aku lihat begitu memasuki kawasan Telaga Saat kondisinya sangat baik. Untuk masuk ke dalam pengunjung harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp 10.000,- per orang. 




Lanjut dari loket tiket sudah ada jalur pejalan kaki disepanjang telaga. Jadi enak banget kalau mau menyusuri Telaga Saat telah disediakan fasilitasnya. 


Begitu sampai, rasa lelah rasanya memang langsung terbayar. Telaga Saat menyambut dengan suasana yang tenang dan udara yang dingin. Air telaga tampak jernih, dikelilingi pepohonan dan perbukitan hijau. Wah, view-nya beneran baguuusss…





Aku pingin membandingkannya seperti di Swiss. Tapi, kan, aku belum pernah ke sana, ya… :D Lagipula nggak perlulah dibanding-bandingkan, karena setiap tempat pasti punya keistimewaannya masing-masing. 


Telaga Saat terasa cocok untuk siapa saja yang ingin “slow living.” Entah sekadar duduk di tepi telaga, menikmati pemandangan atau mengobrol santai tanpa distraksi. Telaga yang tenang, agak sunyi, dan suasana yang menyejukkan.



Telaga Saat, Titik Nol Kilometer Sungai Ciliwung

Salah satu hal paling menarik dari Telaga Saat adalah statusnya sebagai titik nol Sungai Ciliwung. Sungai yang mengalir melewati Bogor hingga Jakarta ini ternyata bermula dari telaga yang tenang dan bersih ini, lho.


Hal ini pun baru aku ketahui dari konten-konten yang berseliweran di social media. Makin jelas lagi saat aku sampai di telaga ini dan melihat sendiri ada tanda 0 Km Ciliwung lengkap dengan logo Kementerian Pekerjaan Umum (PU). 


Pengelolaan Telaga Saat sepertinya memang ada di bawah Kementerian PU bagian Daerah Aliran Sungai atau DAS. 


Papan penanda titik nol kilometer ini pun jadi spot foto favorit. Berdiri di sini rasanya seperti refleksi ke diri sendiri. Bagaimana air yang tenang di telaga ini nantinya akan mengalir jauh, melewati banyak wilayah, dan memegang peran penting bagi kehidupan banyak orang.



Apalagi aku dan suami juga hidup di Depok yang mana dilintasi juga oleh aliran Sungai Ciliwung. Aku berharap semoga Telaga Saat tetap terjaga kelestariannya sehingga bisa bermanfaat untuk masyarakat. 


Fun fact ini sepertinya membuat kunjunganku dan suami ke Telaga Saat terasa lebih bermakna, bukan sekadar wisata alam biasa. :) 



Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Telaga Saat

Meski suasananya tenang, bukan berarti tidak ada aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Telaga Saat.  Berikut ini list beberapa aktivitas di Telaga Saat yang bisa Manteman coba saat berkunjung ke sana, ya.


1. Foto-Foto dengan Latar Alam

Telaga Saat sangat fotogenik! Mulai dari tepi telaga, papan titik nol kilometer, hingga latar perbukitan dan kebun teh. Semuanya Instagramable tanpa perlu banyak effort. Kalau menurutku cahaya pagi atau sore hari jadi waktu terbaik untuk berburu foto di Telaga Saat, terutama saat kabut tipis mulai turun perlahan.


2. Menikmati Alam di Gazebo

Terdapat beberapa gazebo besar maupun kecil yang ada di sekeliling Telaga Saat. Jadi pengunjung yang mau beristirahat sambil menikmati telaga bisa banget duduk di gazebo.


Nah, aku sendiri nggak ngeh apakah untuk duduk di gazebo ini bayar atau nggak, ya. Namun sepertinya, sih, nggak bayar karena kalau kosong bisa langsung aja ditempati. 


3. Naik Kano atau Perahu

Pengunjung bisa mencoba kano atau perahu untuk menyusuri telaga. Aktivitas ini cocok untuk yang ingin menikmati Telaga Saat dari sudut pandang lebih dekat dengan air, lebih tenang, dan tentu saja, menghasilkan dokumentasi yang cantik.


4. Glamping

Buat Manteman yang ingin menghabiskan waktu lebih lama, tersedia opsi untuk glamping atau camping di sekitar area Telaga Saat. Bangun pagi dengan udara dingin dan pemandangan alam hijau dengan telaga di depan mata tentu bisa jadi pengalaman yang sulit dilupakan, ya.




5. Bird Watching dan Eksplorasi Alam

Selain dikenal sebagai titik nol Sungai Ciliwung, kawasan Telaga Saat juga menyimpan cerita menarik tentang elang jawa , burung endemik Pulau Jawa yang kini berstatus terancam punah. 


Area Telaga Saat dan sekitarnya yang masih hijau, dikelilingi hutan dan perkebunan teh, menjadi habitat alami elang jawa. Kalau beruntung kita bisa melihat elang jawa terbang bebas di sini. 


Selain itu, suamiku juga sempat eksplorasi alam dengan memerhatikan beberapa hewan di sekitar telaga. Dari kodok hingga belalang, dan lainnya… :) 


Telaga Saat ternyata bukan hanya tempat wisata, tetapi juga bagian dari ekosistem penting bagi satwa liar, termasuk elang jawa.


6. Trekking dan Menikmati Alam Sekitar

Area sekitar telaga juga cocok untuk jalan santai atau trekking ringan. Nggak perlu rute ekstrim, cukup menyusuri area kebun teh dan sekitar telaga untuk menikmati alam. Namun untuk trekking juga harus hati-hati, ya. 


Begitu pun jika berjalan di jogging track. Aku sempat terpeleset di jogging track karena licin. Maklum saja, sehari sebelumnya kawasan ini memang turun hujan yang cukup instens. 




7. Menikmati Makan dan Minum di Resto

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, saat masuk The Ciliwung Tea Estate, pengunjung yang membayar tiket masuk akan mendapat benefit free minuman. Nah, kita bisa menukar tiket tersebut di Resto Cilfood yang ada di kawasan telaga Saat (dekat parkiran).


Nah, jika lapar setelah berkeliling Telaga Saat, Manteman bisa pesan makan di restoran ini. 



Tips Penting Sebelum ke Telaga Saat

Setelah berkunjung ke Telaga Saat naik motor dari Depok, aku mau memberikan beberapa tips yang perlu diperhatikan.


- Gunakanlah kendaraan dalam kondisi baik, terutama rem dan ban.

- Pakai jaket, ya, karena udara cukup dingin apalagi kalau bepergian di pagi hari.

- Bawa uang tunai untuk tiket masuk dan parkir.

- Please, jaga kebersihan dan jangan merusak alam sekitar. Kalau mau buang sampah tapi nggak ketemu tempat sampah, simpan dulu sampahnya. 

- Datang lebih pagi agar bisa menikmati suasana Telaga Saat dengan maksimal dan belum terlalu ramai. Kalau info di Google, Telaga Saat buka dari pukul 07.30 - 18.00. 


Kalau Manteman lagi mencari tempat untuk rehat sejenak dari rutinitas, Telaga Saat Puncak layak masuk daftar perjalanan berikutnya. :) 




Setelah dari Telaga Saat, aku dan suami melanjutkan perjalanan ke Sate Hanjawar. Tempat ini memang langganan favorit suamiku. :D Lokasinya ada di dekat Hotel Le Eminance. Lumayan, kan, naik motor dari Depok sampai sana... :D 


Kemudian usai kenyang, kami berdua pun langsung pulang ke Depok lagi dan berharap semoga ada waktu lagi di kemudian hari untuk riding ke Puncak lagi. :) Manteman ada rekomendasi tempat di Puncak yang bisa kami datangi lagi dengan naik motor? 


Dita Indrihapsari




Contact Form

Name

Email *

Message *