Mengunjungi Masjid Al-Munawwarah Witana Harja Pamulang untuk Kajian Sheikh Assim Al-Hakeem


Pas banget saat malam ini aku menulis blog, tadi sore aku dan suami berkesempatan mengunjungi Masjid Al-Munawwarah yang berlokasi di kawasan Witana Harja, Pamulang, Tangerang Selatan. 


Ini menjadi pengalaman pertamaku datang ke masjid tersebut. Tujuan kami ke sana bukan sekadar untuk beribadah, tapi juga menghadiri kajian bersama Sheikh Assim Al-Hakeem, seorang pendakwah asal Arab Saudi yang selama ini cukup sering kulihat di media sosial.


Berbekal Google Maps, alhamdulillah perjalanan kami menuju masjid berjalan lancar tanpa harus menyasar ke mana-mana. Hehehe... Sebelum bercerita tentang kajiannya, aku mau mengajak Manteman mengenal Masjid Al-Munawwarah terlebih dahulu, termasuk fasilitas dan suasananya berdasarkan pengalamanku saat berkunjung ke sana, ya.



Mengenal Masjid Al-Munawwarah Witana Harja, Pamulang

Masjid Al-Munawwarah berada di Jalan Witana Harja Raya No. 6, Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokasinya berada di kawasan permukiman Witana Harja sehingga masjid ini bisa menjadi salah satu tempat ibadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Pamulang dan sekitarnya.


Dari penelusuranku, masjid ini ternyata sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih tegak berdiri sampai sekarang. Info ini aku dapat dari salah satu postingan di akun Instagram masjid. Dari bangunannya sendiri aku sudah menduga, sih, kalau ini pasti termasuk masjid yang sudah lama. 


Masjid ini memang bukanlah tempat ibadah yang baru dibangun. Namun, aku belum menemukan catatan resmi yang menyebutkan secara pasti kapan pembangunan masjid ini pertama kali dimulai atau kapan diresmikan. Jadi, untuk tahun berdirinya, aku belum bisa memastikan informasinya, nih. Kalau ada Manteman yang tahu infonya boleh banget share di kolom komentar, yaa… :D 


Saat ini, Masjid Al-Munawwarah menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan keagamaan, salah satunya kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Aku sendiri datang ke sini untuk mengikuti salah satu kajian tersebut.



Fasilitas Masjid Al-Munawwarah Witana Harja Pamulang

Dari pengamatanku saat berkunjung, ada beberapa fasilitas yang cukup menarik untuk diceritakan.


1. Area Parkir yang Cukup Luas

Salah satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah area parkirnya. Saat aku datang untuk menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem, terlihat banyak mobil dan sepeda motor terparkir di area masjid.


Meskipun dipadati kendaraan jamaah, area parkirnya terlihat cukup luas untuk menampung kendaraan yang datang saat acara berlangsung. Di sekitar area ini juga terdapat beberapa tenant makanan yang mengikuti bazar untuk meramaikan acara kajian.


Nah, karena berada di dalam pemukiman, bagian depan masjid juga langsung taman gitu. Jadi aku dan suami bahkan sempat makan jajanan yang sudah kami beli dan memakannya di taman. Hehehe…



2. Toilet dan Tempat Wudhu Perempuan

Untuk fasilitas perempuan, toilet dan tempat wudhu berada di lantai satu. Tersedia beberapa bilik toilet serta banyak keran air yang bisa digunakan untuk berwudhu.


Dari segi jumlah, fasilitas ini cukup membantu, terutama ketika masjid sedang ramai oleh jamaah seperti saat acara kajian yang aku hadiri.


Namun, ada satu hal yang menurutku masih bisa ditingkatkan, yaitu kondisi lantainya. Di beberapa bagian, lantai terlihat kusam sehingga kesan bersih dan terawatnya belum terlalu terasa.


Mungkin karena masjid ini sudah cukup tua dan lama digunakan makanya hal tersebut bisa sampai terjadi. Makanya menurutku perawatan berkala menjadi hal yang penting agar fasilitasnya tetap nyaman bagi jamaah. Tentunya, ini merupakan pengamatanku saat berkunjung aja, ya, bukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi masjid setiap harinya.



3. Ruang Serbaguna di Lantai Satu

Selain toilet dan tempat wudhu, di lantai satu juga terdapat ruang serbaguna. Ruangan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan di masjid, termasuk sebagai tempat bagi jamaah perempuan untuk mengikuti kajian.


Saat kajian berlangsung, acara utama diselenggarakan di lantai dua. Namun, jamaah perempuan juga bisa menyimak materi dari lantai satu dengan bantuan televisi yang menampilkan jalannya kajian.


Menurutku, fasilitas ini cukup membantu karena jamaah perempuan memiliki alternatif tempat untuk mengikuti acara tanpa harus berada langsung di ruang utama di lantai dua.



4. Ruang Salat di Lantai Dua

Ruang salat utama berada di lantai dua. Ketika masuk ke area ini, kesan pertama yang kurasakan adalah ruangannya cukup lega dan luas.


Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat jendela yang semi terbuka. Dari sepenglihatanku, ruangan ini tampaknya lebih mengandalkan sirkulasi udara alami dan kipas angin karena aku tidak melihat adanya AC.


Keberadaan banyak kipas angin membantu sirkulasi udara di dalam ruangan. Meski begitu, kenyamanan suhu tentu bisa terasa berbeda, tergantung jumlah jamaah dan kondisi cuaca saat itu.




Untuk perlengkapan salat, aku kebetulan membawa mukena sendiri dari rumah. Jadi, aku nggak sempat menggunakan mukena yang disediakan masjid dan belum bisa bercerita tentang kondisi kebersihannya.


Secara keseluruhan, ruang salatnya cukup luas untuk menampung jamaah, termasuk ketika ada kegiatan kajian yang dihadiri banyak orang.



Menghadiri Kajian Sheikh Assim Al-Hakeem di Masjid Al-Munawwarah

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang menjadi alasan utama kedatanganku dan suami ke Masjid Al-Munawwarah.


Jujur, aku senang sekali akhirnya bisa menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung. Selama ini, aku lebih sering melihat beliau melalui video di media sosial. Rasanya tentu berbeda ketika biasanya hanya menonton dari layar ponsel, lalu akhirnya bisa hadir di tempat yang sama untuk mendengarkan tausiyahnya secara langsung.


Kajian yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Wasting Time” atau tentang menyia-nyiakan waktu.




Sesuai dengan yang kudengar, Sheikh Assim Al-Hakeem menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Buat jamaah yang terbiasa mendengarkan ceramah berbahasa Inggris, tentu hal ini bukan masalah. Namun, bagaimana dengan jamaah yang belum terlalu memahami bahasa tersebut?


Untungnya, panitia menyediakan beberapa televisi dengan subtitle bahasa Indonesia. Jadi, jamaah yang kurang memahami bahasa Inggris tetap bisa mengikuti materi yang disampaikan.


Menurutku, fasilitas terjemahan seperti ini penting sekali dalam sebuah kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Pesan yang disampaikan bisa menjangkau lebih banyak orang, bukan hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris.


Tema tentang menyia-nyiakan waktu juga terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita sering kali sibuk menjalani rutinitas, mengerjakan berbagai pekerjaan atau menghabiskan waktu dengan ponsel tanpa benar-benar menyadari bagaimana waktu berlalu.


Melalui kajian seperti ini, kita diajak untuk kembali memikirkan bagaimana waktu yang dimiliki sebaiknya digunakan. Apalagi, dalam kehidupan seorang muslim, waktu bukan hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga kesempatan untuk beribadah, menuntut ilmu, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.


Buat Manteman yang penasaran dengan isi kajiannya, rekaman acara ini bisa ditonton di link ini ya YouTube Masjid Al-Munawwarah Witana Harja.



Pengalaman Pertama yang Berkesan di Masjid Al-Munawwarah

Berkunjung ke Masjid Al-Munawwarah Witana Harja menjadi pengalaman tersendiri buatku. Selain bisa mengikuti kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung, aku juga jadi mengenal salah satu masjid di kawasan Pamulang yang selama ini belum pernah kudatangi.


Tentunya yang paling berkesan kesempatan untuk menuntut ilmu secara langsung. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa mendengarkan kajian yang biasanya hanya kita ikuti melalui media sosial, kali ini dalam suasana majelis ilmu bersama jamaah lainnya. :)


Semoga kedepannya semakin banyak kesempatan untuk menghadiri kajian-kajian seperti ini. Bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi pengingat agar kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki dengan lebih baik dan bermanfaat. Gimana, setuju nggak Manteman? 🙂



Dita Indrihapsari



Stamp Hunting di Blok M, Berburu Stamp Lucu di 5 Tempat Seru



Kalau mendengar kata Blok M, apa yang langsung terlintas di pikiran Manteman? Tempat kulineran, belanja, beli buku atau sekadar jalan-jalan sambil menikmati suasana Jakarta? Buatku, ada satu hal lagi, nih, yang bikin Blok M jadi makin spesial! Blok M ternyata punya satu aktivitas seru lainnya yang bisa bikin kita betah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, yaitu stamp hunting alias berburu stamp! :D 


Beberapa waktu lalu, aku bersama dua temanku, Isti dan Ciwul, meluangkan waktu untuk jalan-jalan ke Blok M. Kali ini, tujuan kami bukan sekadar mencicipi kuliner viral, melainkan berburu stamp di beberapa tempat.


Sebenarnya, Isti dan Ciwul sudah lebih dulu melakukan stamp hunting di Blok M bersama Mak Andinih beberapa waktu sebelumnya. Sayangnya, waktu itu aku belum bisa ikut. Mereka sempat berburu stamp di Matalokal dan Roti Buaya yang ada di kawasan M Bloc. Mendengar cerita mereka, aku jadi makin penasaran ingin ikut berburu stamp juga. Hihi… :D 


Makanya pas ada rencana stamp hunting lagi di Blok M aku nggak mau nyia-nyiain waktu. Yes, akhirnya, kesampaian juga! :D 


Nah, di kesempatan kali ini, kami menyusuri Blok M Hub, yang dulunya dikenal sebagai Blok M Mal, lalu melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat lain di sekitar Blok M.


Buat yang belum familiar, stamp hunting merupakan aktivitas mengumpulkan cap atau stempel bergambar dari berbagai tempat. Biasanya, setiap lokasi punya desain stamp yang berbeda dan ada ciri khas tersendiri. Kita tinggal membawa buku atau kertas untuk mengumpulkan cap tersebut.


Kelihatannya sederhana, ya? Namun, justru di situlah keseruannya! :D Ada rasa penasaran setiap kali menemukan tempat baru, apalagi kalau desain stamp-nya lucu dan unik. Belum lagi kalau tempatnya juga menjual barang-barang menarik atau punya makanan enak. 


Niat awal cuma berburu stamp, eh, pulangnya malah membawa belanjaan dan pengalaman baru. Hahaha! :D 


Nah, berikut cerita pengalamanku berburu stamp di lima tempat yang kami kunjungi di kawasan Blok M kali ini.



1. Kopi Aloo, Berburu Stamp Sambil Menikmati Suasana Gramedia Jalma

Pemberhentian pertama kami adalah Kopi Aloo yang berada di Gramedia Jalma. Begitu sampai, kami langsung tertarik melihat koleksi stamp yang tersedia. Ada lima jenis stamp dengan gambar berbeda-beda. Menurutku, desainnya bagus dan terasa dipikirkan dengan baik, bukan sekadar menampilkan logo brand aja.


Salah satu yang menarik perhatianku adalah stamp bergambar bangunan Blok M Square yang dipadukan dengan maskot Kopi Aloo. Sebagai brand kopi yang hadir di kawasan Blok M, rasanya pas sekali kalau ada unsur ikonik dari kawasan ini dalam desain stamp-nya.


Selain itu, ada dua stamp yang menampilkan maskot Kopi Aloo sedang meracik kopi. Ada juga gambar maskot yang sedang duduk santai sambil membaca buku, ditemani segelas kopi.


Nah, desain terakhir ini aku suka karena terasa cocok dengan suasana Gramedia Jalma. Kebayang menikmati kopi sambil baca buku yang baru dibeli di Gramed… Hehe…. 




Dua stamp lainnya menampilkan tulisan Kopi Aloo dengan jenis huruf yang berbeda. Meskipun sama-sama berupa tulisan, tampilannya tetap menarik dan bisa jadi variasi tersendiri dalam koleksi stamp.


Untuk mendapatkan stamp di sini, pengunjung bisa mendapatkannya secara gratis. Namun, tentu aja kami nggak hanya datang untuk mencap buku, ya. Aku dan teman-teman juga membeli minuman dan camilan di Kopi Aloo.


Menurutku, ini salah satu hal menyenangkan dari stamp hunting. Kita bisa menemukan alasan untuk mampir ke tempat yang mungkin sebelumnya belum masuk daftar kunjungan, lalu sekalian menikmati apa yang ditawarkan tempat tersebut. :)


Kopi Aloo

Lokasi: Gramedia Jalma

Alamat detail: Jl. Melawai 3 No.12, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 08.00 - 22.00

Stamp: Gratis berdasarkan pengalaman kunjungan kami



2. Sovlo Experience Hub, Surga Stamp Hunting dengan Banyak Pilihan

Kalau Manteman berencana melakukan stamp hunting di Blok M, menurutku Sovlo Experience Hub wajib masuk daftar kunjungan. Serius, tempat ini punya banyaaaaak banget pilihan stamp!


Bayangin, di satu tempat saja kami bisa mendapatkan 14 stamp ditambah satu stamp berseri. Banyak banget, kan? Pantas saja kami menghabiskan waktu cukup lama di sini dan berasa pegelnya juga ahahaha (kalau ini kayaknya masalah faktor U)….


Begitu melihat koleksi stamp-nya, rasanya ingin mencoba semuanya. Apalagi desainnya beragam dan banyak yang menggambarkan suasana Blok M serta kehidupan Jakarta dengan cara yang unik dan jenaka.


Ada stamp bergambar bajaj dengan tulisan Welcome to Negara Blok M. Ada pula tulisan OTW Blok M dan Hidup Negara Blok M. Selain itu, ada stamp bergambar Monas yang langsung mengingatkan kita pada salah satu ikon paling terkenal di Jakarta.


Menurutku, desain seperti ini punya daya tarik tersendiri. Bukan hanya lucu untuk dikoleksi, tetapi juga bisa menjadi kenang-kenangan kecil dari perjalanan ke Blok M. Apalagi buat orang yang suka mengabadikan perjalanan lewat jurnal atau scrapbook, stamp seperti ini pasti menyenangkan untuk ditempel di halaman khusus.


Namun, ada satu koleksi yang paling seru buatku, yaitu stamp berseri.


Jadi, ada lima stamp yang kalau dicap secara berurutan akan membentuk satu gambar utuh. Karena gambarnya saling menyambung, kita harus benar-benar memperhatikan posisi setiap cap saat menempelkannya ke kertas.


Kalau posisi stamp pertama dan berikutnya nggak pas, gambar akhirnya bisa terlihat kurang menyatu. Hahaha! Jadi, selain butuh ketelitian, aktivitas ini juga terasa seperti menyusun puzzle kecil.


Aku sendiri jadinya seneng deh dengan aktivitas yang menggabungkan kreativitas dan eksplorasi seperti ini. Rasany beda dari sekadar datang ke sebuah tempat untuk foto aja, karena ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan bawa pulang sebagai kenang-kenangan.




Selain berburu stamp, kami juga sempat melihat-lihat berbagai produk yang dijual di Sovlo Experience Hub. Barang-barangnya lucu-lucu, mulai dari pakaian, jaket, tas, hingga beragam pernak-pernik yang menarik perhatian.


Akhirnya, meskipun tujuan awalnya cuma berburu stamp, aku malah membeli beberapa barang, seperti pin, stiker, dan art print. Memang, ya, kalau sudah bertemu barang-barang lucu, godaan untuk membawa pulang satu atau dua barang itu sulit ditolak. :D 


Buatku, Sovlo Experience Hub menjadi salah satu tempat paling berkesan dalam perjalanan kali ini. Koleksi stamp-nya banyak, desainnya unik, dan ada kesempatan untuk menemukan produk kreatif yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya.


Sovlo Experience Hub

Lokasi: Blok M Hub, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Jam buka: 10.00 - 21.00 

Stamp: Gratis berdasarkan pengalaman kunjungan kami

Tips: Sediakan waktu lebih lama untuk mampir ke sini karena koleksi stamp-nya cukup banyak. Jangan lupa membawa buku stamp atau kertas yang cukup lebar untuk mencoba stamp berseri!





3. Information Center Blok M Hub, Akhirnya Berhasil Mendapatkan Stamp!

Setelah puas berburu stamp di Sovlo Experience Hub, kami melanjutkan perjalanan ke Information Center Blok M Hub.


Lokasinya berada di bagian tengah Blok M Hub. Tempat ini menyediakan stamp gratis yang bisa menjadi tambahan koleksi bagi pengunjung yang sedang melakukan stamp hunting.


Ada cerita kecil yang membuat kunjungan kali ini terasa lebih menyenangkan. Ciwul ternyata sudah dua kali datang ke Blok M, tetapi dua kali itu pula ia belum berhasil mendapatkan stamp di Information Center karena petugasnya sedang nggak ada.


Nah, pada kunjungan kali ini, akhirnya kami bisa mendapatkan stamp tersebut! Yeaaayyy, akhirnya, yaaa… :D


Sementara itu, aku justru baru pertama kali melakukan stamp hunting di Blok M dan langsung berhasil mendapatkannya. Hahaha, berarti lumayan beruntung, ya!


Untuk desainnya, menurutku stamp Information Center ini juga keren karena menggabungkan beberapa elemen khas kawasan Blok M dalam satu gambar.


Ada gambar gedung Blok M Square yang ikonik, MRT, dan koridor Blok M Hub dengan bentuk melengkung. Semuanya dirangkai dalam satu desain stamp yang menarik.




Dari satu gambar saja, kita bisa mengenali beberapa elemen yang lekat dengan Blok M, mulai dari pusat perbelanjaan hingga transportasi umum yang menjadi bagian penting kehidupan warga Jakarta.


Di sini, kami juga sempat berfoto bersama kakak petugas yang berjaga. Orangnya ramah dan terlihat senang melihat kami begitu antusias mencap stamp di buku masing-masing. :D 


Momen sederhana seperti ini justru menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman jalan-jalan terasa lebih menyenangkan. Selain mendapatkan koleksi baru, kami juga bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kami temui selama perjalanan.


Information Center Blok M Hub

Lokasi: Area tengah Blok M Hub, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Jam operasional area: Perlu dicek kembali melalui informasi resmi Blok M Hub

Ketersediaan stamp: Bergantung pada keberadaan petugas di lokasi

Stamp: Gratis

Tips: Jangan terlalu berharap dapat stamp di sini. Stamp belum tentu bisa didapatkan setiap kali berkunjung karena bisa jadi sedang nggak ada petugasnya. Tapi semoga, ya, setelah ini stamp-nya selalu ada dan mudah didapat. 



4. Jurnal Risa, Berburu Stamp Bergambar Hantu Lucu Sambil Makan Siang

Dari semua tempat yang kami kunjungi, Jurnal Risa menjadi salah satu yang memang sudah aku incar sejak awal.


Alasannya sederhana aja, sih, soalnya di kafe ini ada stamp bergambar hantu yang lucu! :D 


Buat yang mengikuti cerita Jurnal Risa, nama ini tentu sudah nggak asing lagi, kan. Jurnal Risa dikenal melalui konten yang berkaitan dengan kisah misteri dan pengalaman penelusuran dunia gaib. Konsep kafenya pun juga vintage gothic dan ada kesan horornya gitu! 


Nah, aku penasaran ingin mendapatkan stamp bergambar hantunya. Untungnya, waktu kami datang bertepatan dengan jam makan siang. Jadi, sekalian aja kami mampir untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan.


Kalau nggak salah, stamp di sini juga bisa didapatkan secara gratis. Namun, karena kami memang ingin mencoba makanannya, kunjungan kali ini bukan hanya untuk berburu stamp.


Aku memilih menu paket yang menurutku cukup menarik karena sudah mencakup makanan, minuman, dan es krim. Menu yang kupesan adalah Nasi Ayam Panggang Madu, Yakult Lychee, dan es krim vanila. Karena paket, harganya juga ada potongan. Lumayanlah! :D 


Untuk rasa, menurutku makanannya juga lumayan. Hanya saja, porsi makanannya terasa agak sedikit buatku. Jadi, kalau Manteman termasuk tipe yang makannya cukup banyak, mungkin perlu mempertimbangkan hal ini saat memilih menu.


Setelah selesai makan, tentu saja kami nggak lupa melakukan misi utama: mencap stamp ke buku masing-masing! Hihihi….





Ada tiga desain stamp yang tersedia di Jurnal Risa. Stamp pertama menampilkan gambar menu kopi susu. Stamp kedua menampilkan gambar hantu yang sejak awal sudah membuatku penasaran. Sementara itu, stamp ketiga menggambarkan gedung Blok M Square yang berdampingan dengan piano di dalam kafe Jurnal Risa Blok M.


Dari ketiganya, stamp ketiga ini juga menarik perhatianku karena ukurannya cukup besar. Aku puas sekali saat mencapnya ke buku. Apalagi, desainnya dilengkapi bingkai di sekeliling gambar sehingga hasil cap terlihat lebih dekoratif.


Buatku, Jurnal Risa menjadi contoh bahwa stamp hunting bisa dipadukan dengan kegiatan lain. Kita bisa menikmati makanan, melihat-lihat suasana tempat, lalu membawa pulang kenang-kenangan berupa cap yang khas. Ah, seru banget!


Jurnal Risa

Lokasi: Blok M Hub, Lt. B1 Blok 137 (dekat Mie Kangkung Kite & Ayam Renald) 

Alamat: Jl. Sultan Hasanuddin Dalam, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 09.00 - 22.00

Stamp: Berdasarkan pengalaman kami, tersedia tiga desain stamp berbeda.

Tips: Kalau ingin sekalian makan siang, cek menu dan harga terbaru terlebih dahulu. Harga paket serta ketersediaan stamp siapa tahu bisa berubah sewaktu-waktu.



5. TanaTeh, Penutup Stamp Hunting dengan Stamp Maskot yang Menggemaskan!

Setelah berkeliling dan mendapatkan banyak stamp, TanaTeh jadi tempat terakhir yang kami datangi sebelum pulang.


Kunjungan kali ini juga punya tujuan lain. Ciwul memang datang untuk membuat konten endorsement, sedangkan aku dan Isti sekalian mengambil footage untuk kebutuhan blog dan media sosial. 


Jadi, selain berburu stamp, kami juga memanfaatkan waktu untuk membuat konten. Maklum, kalau jalan bareng teman-teman yang sama-sama suka membuat konten, biasanya ada saja yang bisa dikerjakan. Hahaha! :D 


TanaTeh punya stamp yang menurutku lucu banget. Desain utamanya berukuran besar dan menampilkan maskot TanaTeh, yaitu karakter mbak kepik yang sedang memegang gelas TanaTeh berukuran hampir sebesar badannya.


Kebayang, kan, bagaimana menggemaskannya gambar ini? Rasanya ingin langsung mencap di buku begitu melihat desainnya. :D 


Selain stamp besar tersebut, ada juga stamp berukuran lebih kecil yang menampilkan wajah maskotnya. Jadi, kita bisa mendapatkan variasi gambar yang berbeda untuk melengkapi koleksi.




Menurutku, ukuran stamp juga berpengaruh terhadap hasil akhirnya di buku. Stamp yang besar bisa menjadi elemen utama pada satu halaman, sedangkan stamp kecil cocok digunakan sebagai pelengkap. Kalau ditata bersama foto, tiket, atau catatan perjalanan, hasilnya bisa menjadi jurnal yang lebih menarik, ya.


Hal lain yang membuat stamp TanaTeh terlihat menonjol adalah warna merahnya yang menyala. 


TanaTeh menjadi penutup yang menyenangkan untuk perjalanan kami kali ini. Setelah menghabiskan waktu menjelajahi berbagai tempat, rasanya puas melihat koleksi stamp yang berhasil kami kumpulkan.


TanaTeh

Lokasi: Pasaraya Blok M, lantai LG, Jakarta Selatan.

Alamat detail: Pasaraya, Gedung A, Jl. Iskandarsyah Raya No.2 Blok.M Lt.LG, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 10.00 - 20.00

Stamp: Tersedia stamp besar bergambar maskot dan stamp kecil bergambar wajah maskot berdasarkan pengalaman kunjungan kami.



Tips Stamp Hunting di Blok M agar Makin Seru!

Dari pengalaman berburu stamp di Blok M, ada beberapa hal yang menurutku bisa membantu Manteman yang ingin mencoba aktivitas serupa.


1. Bawa buku atau kertas khusus stamp hunting

Buku khusus akan memudahkan kita menyimpan koleksi stamp supaya nggak tercecer. Pilih kertas yang cukup tebal agar tinta nggak mudah tembus ke halaman berikutnya.


Kalau suka journaling, kamu juga bisa menambahkan tanggal, nama tempat, atau cerita singkat di samping setiap stamp. Jadi, buku tersebut bukan hanya berisi kumpulan cap, tetapi juga menjadi catatan perjalanan yang bisa dibuka kembali kapan aja.



2. Siapkan ruang untuk stamp berukuran besar

Pengalaman di Sovlo, Jurnal Risa dan TanaTeh mengajarkanku bahwa nggak semua stamp berukuran kecil. Ada desain yang cukup besar sehingga membutuhkan ruang tersendiri.


Sebaiknya jangan memenuhi seluruh halaman dengan tulisan atau gambar sebelum mengetahui ukuran stamp yang akan didapatkan. Dengan begitu, hasil akhirnya bisa lebih rapi.



3. Cek informasi terbaru sebelum berangkat

Nggak semua lokasi selalu menyediakan stamp setiap saat. Ada kemungkinan petugas sedang nggak berada di tempat, layanan berubah atau desain stamp diperbarui. Kalau memungkinkan, cek informasi melalui akun media sosial resmi atau tanyakan kepada pengelola sebelum datang.



4. Susun rute agar nggak bolak-balik

Karena Blok M memiliki banyak tempat menarik yang tersebar di beberapa area, ada baiknya mengelompokkan lokasi berdasarkan kedekatannya.


Untuk perjalanan kali ini, kami mengunjungi Kopi Aloo, Sovlo Experience Hub, Information Center Blok M Hub, Jurnal Risa, dan TanaTeh. Manteman bisa menyesuaikan urutan berdasarkan lokasi stamp dan jam operasional masing-masing tempat.



5. Siapkan budget untuk jajan dan belanja

Memang, mendapatkan stamp bisa gratis. Namun, bukan berarti perjalanan ini pasti tanpa pengeluaran.


Kami membeli minuman dan camilan di Kopi Aloo, makan siang di Jurnal Risa, dan aku juga membeli beberapa pernak-pernik di Sovlo Experience Hub.


Jadi, siapkan bujet sesuai kebutuhan, ya! Kalau memang berniat sekalian kulineran atau membeli suvenir, kamu bisa memasukkannya ke anggaran jalan-jalan.



Stamp Hunting, Cara Seru Menjelajahi Blok M

Dari lima lokasi yang kami kunjungi, masing-masing punya karakter dan desain stamp yang berbeda. Kopi Aloo menghadirkan perpaduan kopi dan buku, Sovlo Experience Hub menawarkan koleksi stamp yang melimpah, Information Center Blok M Hub punya gambar ikonik kawasan Blok M, Jurnal Risa menawarkan desain yang unik, dan TanaTeh menutup perjalanan dengan maskot yang menggemaskan.


Buat Manteman yang suka journaling, mengoleksi benda unik, atau mencari kegiatan berbeda saat main ke Jakarta, stamp hunting di Blok M bisa menjadi pilihan menarik. Apalagi, aktivitas ini bisa digabungkan dengan wisata kuliner, belanja, atau sekadar nongkrong bersama teman.


Kalau suatu hari nanti aku kembali ke Blok M, sepertinya aku masih ingin berburu stamp di tempat-tempat lain yang belum sempat dikunjungi. Ternyata, lima lokasi saja sudah menghasilkan begitu banyak cerita dan koleksi baru.


Sekarang aku jadi penasaran, nih. Di antara lima tempat yang kuceritakan tadi, stamp mana yang paling menarik menurut Manteman? Atau justru ada tempat stamp hunting lain di Blok M yang wajib masuk daftar kunjungan berikutnya?


Cerita, dong, siapa tahu bisa jadi tujuan stamp hunting-ku selanjutnya! Hehe… :D



Dita Indrihapsari


Makan Siang Keluarga di Amanaia Depok Mall



Beberapa waktu lalu, aku dan keluarga makan siang di Amanaia yang berada di Depok Mall. Sebenarnya, ada satu alasan sederhana kenapa kali ini kami memilih makan di sini lagi. Yap, kami masih punya voucher makan dari kunjungan sebelumnya… Hehehe… :D 


Voucher yang kami punya totalnya lumayan banget, yaitu Rp500.000, terdiri dari lima lembar voucher masing-masing senilai Rp100.000. Sebelum datang, aku sempat memastikan dulu kepada pihak Amanaia apakah semua voucher tersebut bisa digunakan dalam satu kali transaksi. Untungnya, jawabannya bisa!


Lumayan banget, kan? Soalnya aku pernah punya pengalaman di tempat makan lain yang ternyata hanya memperbolehkan satu voucher digunakan untuk satu transaksi. Jadi, kalau punya lima voucher, mau nggak mau harus datang lima kali atau pesannya lima bill. Ah, ribet! :D Nah, di Amanaia ternyata kelima voucher kami bisa langsung digunakan sekaligus.


Karena sudah dapat konfirmasi, kami pun meluncur ke Amanaia Depok Mall untuk makan siang bersama keluarga.



Amanaia Depok Mall, Dulunya Telaga Sampireun

Buat yang mungkin sudah lama tinggal di Depok, nama tempat makan ini mungkin terasa familiar. Amanaia sendiri memiliki beberapa cabang di kawasan Jabodetabek dan juga Bali.


Nah, Amanaia yang ada di Depok Mall ini sebelumnya dikenal sebagai restoran Telaga Sampireun. Jadi, kalau dulu pernah makan di Telaga Sampireun yang lokasinya di area Depok Mall, sebenarnya tempatnya kurang lebih masih terasa familiar, terutama dari konsep tempat makannya.


Konsep Amanaia memang mengusung suasana makan yang cukup berbeda dari restoran pada umumnya. Di sini ada pilihan makan di saung dengan konsep lesehan, meskipun tersedia juga area dengan meja dan kursi.


Saat kami datang, kebetulan sedang ada acara pernikahan. Ada salah satu ruangan yang digunakan untuk acara dan bagian tengah area restoran juga sedang dipenuhi tamu undangan.


Akibatnya, kami sempat harus jalan memutar untuk menuju saung. Tapi menurutku nggak masalah, kok. Memang suasananya terlihat lebih ramai dari biasanya, tapi nggak sampai membuat pengalaman makan kami terganggu.



Makan di Saung dengan Kolam Ikan

Aku sekeluarga mendapat saung nomor 10. Nah, salah satu hal yang langsung menarik perhatian anak-anak saat sampai di Amanaia apalagi kalau bukan kolam yang berada di tengah-tengah area saung.


Di kolam tersebut ada banyak ikan yang berenang. Anak-anak tentu aja langsung senang karena bisa sekalian memberi makan ikan sambil menunggu makanan datang.


Menariknya, pakan ikannya sudah tersedia di masing-masing saung, ya, dan bisa dipakai secara gratis. Jadi, nggak perlu membeli pakan tambahan lagi.


Saat kami datang, staf juga sempat memberi tahu bahwa kolam tersebut baru selesai menjalani perawatan. Jadi, mungkin jumlah ikan yang terlihat nggak sebanyak biasanya.


Buat anak-anak, sih, nggak masalah, tetap menyenangkan aja. Mereka sempat beberapa saat sibuk memperhatikan ikan dan sesekali menabur pakan ke dalam kolam.


Menurutku, konsep seperti ini memang salah satu nilai tambah Amanaia kalau datang bersama keluarga. Anak-anak punya aktivitas sendiri selama menunggu makanan, sementara orang dewasa bisa ngobrol santai.


Selain itu, buat anak-anak yang masih until juga ada playground. Kecil, sih, tapi lumayanlah, ya, bisa buat main. Fasilitas musholanya juga cukup oke. Ada mukena bersih yang disediakan di dalam mushola.



Pesanan Menu Makan Siang

Nah, setelah duduk di saung dan melihat-lihat menu, kami akhirnya memesan beberapa menu untuk dimakan bersama.


Menu yang kami pesan saat itu adalah:

  • Gurame Goreng Mangga Rempah


  • Bawal Bakar Parape


  • Cumi Goreng Madu

  • Sate Jamur

  • Kangkung Polos

  • Kecombrang Teri

  • Nasi Liwet


Karena kami datang sekeluarga, aku memang lebih suka memesan beberapa menu untuk makan tengah seperti ini. Jadi, masing-masing orang bisa mencoba makanan yang berbeda-beda tanpa harus pesan satu menu untuk satu orang.


Menurutku, porsi makanan di Amanaia cukup pas untuk konsep makan bersama seperti ini. Nggak terlalu sedikit, tapi juga nggak kerasa berlebihan.


Untuk minumannya sendiri, aku memesan Es Markisa Bunga Telang. Aku suka banget minuman ini karena rasanya segar. Perpaduan rasa markisa yang asam-manis dengan bunga telang juga membuat tampilannya menarik.


Warna birunya dari bunga telang terlihat cantik dan jadi salah satu minuman yang cukup menarik untuk difoto sebelum diminum.


Apalagi setelah makan berbagai menu yang cukup berbumbu, minuman yang segar seperti ini terasa pas untuk menemani makan siang.


Dari beberapa menu yang kami coba, ada beberapa yang menurutku rasanya cukup enak dan menarik.


Bawal Bakar Parape termasuk yang aku suka. Begitu juga dengan Kecombrang Teri yang punya rasa cukup kuat dan cocok dimakan bersama nasi hangat. Tapi kalau ditanya mana yang paling jadi favoritku, jawabannya Sate Jamur.


Aku suka banget Sate Jamurnya. Rasanya enak, berbumbu, dan menurutku termasuk salah satu menu yang menarik untuk dicoba kalau makan di sini. :D 


Sementara itu, ada satu menu yang menurut kami masih bisa ditingkatkan, yaitu Gurame Goreng Mangga Rempah.


Menurut lidah aku dan suami, rasa bumbunya terasa kurang nendang. Bukan berarti nggak enak atau sampai membuat kami kecewa, ya. Hanya saja, dibandingkan menu lainnya, Gurame Goreng Mangga Rempah ini menurut kami masih kurang berbumbu.



Kritik Jujur, Malah Dapat Buah Gratis

Nah, ada cerita menarik saat kami selesai makan. Ketika hendak membayar, salah satu staf menanyakan bagaimana kesan kami setelah makan di Amanaia.


Suamiku pun menjawab dengan jujur. Kami menyampaikan kalau secara keseluruhan makanannya oke, tetapi untuk Gurame Goreng Mangga Rempah menurut kami rasanya masih agak kurang.


Kami menyampaikannya bukan dalam konteks marah atau kecewa. Namanya juga pengalaman makan, tentu setiap orang punya selera masing-masing. Kami hanya menyampaikan apa yang benar-benar kami rasakan supaya bisa menjadi masukan untuk restoran ke depannya.


Nah, yang membuat kami cukup terkesan, ternyata feedback tersebut mendapatkan respons yang baik dari pihak Amanaia.


Kami malah diberikan buah secara gratis oleh staf atau manajer di sana sebagai bentuk apresiasi.


Menurutku, hal seperti ini patut diapresiasi. Karena menerima kritik dari pelanggan memang nggak selalu mudah. Tapi di Amanaia, setidaknya kami merasakan bahwa masukan dari pengunjung diterima dengan baik dan nggak dianggap sebagai sesuatu yang negatif.



Makan Siang Santai Bareng Keluarga

Secara keseluruhan, makan siang kami di Amanaia Depok Mall kali ini cukup menyenangkan.


Mulai dari bisa menggunakan lima voucher sekaligus, makan di saung, anak-anak yang senang memberi makan ikan, sampai pilihan makanan yang bisa disantap bersama-sama, semuanya membuat pengalaman makan terasa cukup lengkap.


Memang ada satu menu yang menurut kami rasanya masih kurang berbumbu, tapi justru kami mendapatkan pengalaman positif ketika menyampaikan feedback tersebut kepada pihak restoran.


Dan menurutku, itu juga bagian dari pengalaman makan di sebuah restoran.  Nggak harus selalu bilang semuanya enak. Kalau ada yang menurut kita kurang, selama disampaikan dengan baik, seharusnya memang bisa menjadi masukan untuk restoran agar semakin baik.


Kalau sedang mencari tempat makan keluarga di Depok dengan konsep saung dan ingin punya suasana makan yang sedikit berbeda, Amanaia Depok Mall bisa menjadi salah satu pilihan.


Dan kalau kebetulan punya voucher makan seperti kami, jangan lupa tanyakan dulu aturan penggunaannya. Siapa tahu bisa langsung dipakai semuanya dalam satu transaksi. Lumayan banget, kan? Hehe… :D 



Dita Indrihapsari


Manfaat Sunmori Bareng Anak, Bisa Jadi Quality Time yang Seru




Suamiku termasuk orang yang seneng banget ngajak anak-anak naik motor. Dulu, ketika kedua anak kami masih agak kecil, masih pada SD, mereka suka, tuh, bertiga naik motor bareng buat sunmori alias sunday morning ride… Hehe… :D 


Sekarang? Wah, sudah beda cerita. :D Anak pertama kami sekarang sudah kelas 8 SMP, sementara adiknya kelas 5 SD. Badannya sudah semakin besar dan kalau bertiga di atas satu motor rasanya sudah nggak mungkin lagi. Bukan cuma soal nyaman atau nggaknya, ya, tapi tentu saja faktor keamanan juga harus jadi pertimbangan, kan.


Ternyata kondisi ini nggak membuat suamiku berhenti mengajak anak-anak sunmori. Contohnya aja pas aku nulis tulisan ini, tadi pagi suamiku sunmori berdua aja dengan anak kedua kami. :D 


Nah, karena itulah, aku pun jadi keide gimana kalau sunmorinya gantian aja. Tadi sudah sama adik, nah, minggu depan gantian, deh, sunmori sama kakak. 


Menurutku, sunmori bergantian gini malah jadi menarik karena masing-masing anak akhirnya punya waktu khusus berdua dengan ayahnya. :D Terus aku ke mana? Me time juga dong. Kalau nggak rebahan di rumah, ya, ngapain, kek… Hehehe… 


Lanjut soal sunmori lagiiii. Biasanya, rute sunmori suami dan anak-anak dari Depok menuju Sentul atau Puncak. Berangkat pagi, menikmati udara yang masih enak, lalu mencari tempat untuk sarapan, liat view sebelum akhirnya pulang.


Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir, sunmori nggak harus selalu ke daerah pegunungan juga, sih. Sesekali mungkin bisa juga coba ke arah Jakarta. Berangkat pagi dari Depok, keliling Jakarta, lalu sekalian cari tempat makan dan puas-puasin wisata kuliner.


Jadi tujuan perjalanannya bukan cuma “naik motor” aja, tapi ada cerita lain yang bisa didapat sepanjang perjalanan. Dari situ aku pun jadi kepikiran, sebenarnya apa saja sih manfaat sunmori bareng anak?


Kalau dilihat sekilas, mungkin aktivitas ini terdengar sederhana banget, ya. Cuma naik motor keliling pagi-pagi. Tapi ternyata kalau dipikir-pikir lagi ada beberapa hal yang bisa didapat anak maupun orang tua. Apa aja???



Bisa Jadi Quality Time Ayah dan Anak

Anak-anak semakin besar, waktu bersama orang tua juga biasanya semakin berkurang, kan.


Waktu kecil, anak mungkin masih sering ikut ke mana-mana. Mau diajak jalan, ayo. Mau diajak makan, ikut. Tapi ketika sudah mulai besar, apalagi sudah SMP, kesibukannya semakin banyak. Sekolah, tugas, teman, kegiatan, sampai punya kesibukan sendiri di rumah.


Makanya, waktu berdua seperti ini menurutku justru jadi semakin penting. Ketika hanya berdua di atas motor, ayah dan anak punya waktu untuk ngobrol tanpa ada anggota keluarga lain yang ikut nimbrung.


Apalagi anak-anakku semua, kan laki-laki, ya. Jadi aku pun pingin mereka menuju remaja dan dewasa bisa dapat banyak insight dari ayahnya sendiri. 


Mungkin ngobrolnya pun bukan sesuatu yang serius. Bisa saja mulai dari cerita tentang sekolah, teman, makanan yang mau dicari, sampai komentar random sepanjang perjalanan. Tapi justru obrolan-obrolan seperti itu yang kadang susah didapat kalau sedang di rumah.


Aku jadi ingat kata praktisi parenting (duh, aku lupa banget siapa namanya) kalau “di dalam keluarga, ngobrol hal yang nggak penting itu PENTING!” :D 



Obrolan dengan Anak Bisa Lebih Mengalir

Ada satu hal yang menurutku juga menarik dari perjalanan bersama anak. Kadang, anak justru lebih gampang cerita ketika kita sedang melakukan sesuatu bersama daripada ketika sengaja diajak ngobrol.


Coba saja tanya, “Gimana sekolah hari ini?” Jawabannya mungkin cuma, “Biasa.” Selesai. :D


Tapi ketika sedang di perjalanan, obrolan bisa muncul begitu saja. Misalnya sedang melewati sekolah, tiba-tiba cerita tentang teman. Lihat tempat makan, ngobrol soal makanan favorit. Atau mungkin dari satu topik bisa nyambung ke cerita lain yang sebelumnya nggak terpikir untuk dibicarakan.


Buat orang tua, momen seperti ini sebenarnya berharga. Apalagi ketika anak sudah mulai memasuki usia remaja dan perlahan-lahan mulai punya dunianya sendiri.



Anak Belajar Menikmati Perjalanan

Sunmori juga bisa membuat anak belajar bahwa bepergian itu nggak selalu harus punya tujuan besar gitu, lho.


Kadang perjalanan itu sendiri sudah menyenangkan. Anak bisa melihat suasana jalan di pagi hari, melihat orang-orang mulai beraktivitas, melewati tempat yang belum pernah dilihat atau sekadar menikmati pemandangan sepanjang jalan.


Kalau biasanya pergi bersama keluarga menggunakan mobil, naik motor berdua dengan ayah tentu memberikan pengalaman yang berbeda. Apalagi kalau sesekali rutenya diganti.


Hari ini ke Sentul, lain kali ke Puncak, kemudian mungkin mencoba keliling Jakarta sambil berburu kuliner. Bisa jadi lama-lama anak yang malah bertanya, “Minggu depan kita sunmori ke mana?” 😀


Oiya, sunmori juga bisa jadi satu cara anak nggak main gadget selama dalam perjalanan, ya. 



Mengenalkan Tempat dan Kuliner Baru

Sunmori nggak harus selalu pergi ke tempat yang jauh. Tapi asyiknya ke tempat-tempat yang beda jadi ada cerita baru lagi setiap minggunya. 


Misalnya dari Depok menuju Jakarta. Bisa sekalian mampir ke tempat makan yang sudah lama ingin dicoba, mencari sarapan legendaris atau mungkin mengunjungi tempat bersejarah.


Jadi dalam satu perjalanan, anak mendapatkan beberapa pengalaman sekaligus. Ini juga bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan berbagai tempat di sekitar kita kepada anak.


Kadang kita terlalu sibuk mencari destinasi wisata yang jauh, padahal di sekitar tempat tinggal kita aja masih banyak tempat yang bisa dieksplorasi.



Orang Tua Bisa Sekalian Menyalurkan Hobi

Kalau suami memang suka naik motor dan suka eksplor, ngajak anak sunmori menurutku bisa jadi kegiatan yang nyenengin. 


Hobinya tetap jalan, tapi sekaligus bisa menghabiskan waktu bersama anak. Anak mendapatkan pengalaman baru, ayah juga bisa menikmati hobinya.


Buatku, ini salah satu bentuk quality time yang cukup natural. Nggak perlu membuat acara khusus atau menyusun itinerary yang panjang. Tinggal menentukan mau pergi ke mana, memastikan semuanya siap, lalu berangkat.


Kalau kebetulan menemukan tempat makan enak di perjalanan, itu baru namanya bonus. :D



Sunmori Nggak Harus Jauh

Seperti yang aku bilang sebelumnya, sunmori tuh nggak perlu tempat yang jauh. Dari kebiasaan suamiku mengajak anak-anak sunmori ini, aku jadi semakin merasa kalau quality time bersama anak sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.


Nggak harus selalu liburan keluar kota. Nggak harus menginap di hotel. Nggak harus pergi ke tempat wisata yang sedang ramai.


Cukup bangun pagi, naik motor berdua, lalu mencari sarapan di tempat yang belum pernah didatangi. :D 


Yang penting tentu saja tetap memperhatikan keamanan. Pastikan anak menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai, kondisi motor baik, dan pilih rute serta waktu perjalanan yang aman. Kalau cuaca atau kondisi jalan kurang mendukung, nggak perlu memaksakan diri juga, ya.


Dan karena sekarang anak-anak sudah semakin besar, menurutku sistem sunmori bergiliran ini justru punya sisi positif tersendiri.


Minggu ini waktunya anak pertama. Minggu depan giliran adiknya. Masing-masing jadi punya cerita sendiri bersama ayahnya.


Mungkin sekarang mereka menganggapnya biasa saja. Cuma pergi naik motor dan makan di luar. Tapi siapa tahu beberapa tahun lagi, ketika sudah besar, mereka justru mengingat momen-momen sederhana seperti ini.


Atau mungkin nanti mereka sudah punya motor sendiri dan justru gantian mengajak ayahnya jalan-jalan. :D



Dita Indrihapsari


Bukabuku Kafe Tebet, Library Cafe Unik untuk Kerja dan Nongkrong



Beberapa waktu lalu, aku, Isti, dan Ciwul janjian untuk kerja bareng di sebuah kafe di kawasan Tebet. Maklum, sesekali memang perlu keluar rumah kalau mau mengerjakan sesuatu. Biar suasananya berbeda dan mungkin ide-ide juga jadi lebih lancar. Ya, kaaan? :D 


Kali ini kami memilih sebuah tempat yang menurutku cukup unik karena konsepnya. Namanya Bukabuku Kafe. Dari namanya bisa ketebak ya kalau tempat ini mengusung konsep library cafe gitu. 


Jadi, selain bisa makan dan minum, pengunjung juga bisa membaca buku-buku yang tersedia di dalam kafe ini. Buat aku yang memang suka tempat-tempat dengan suasana dan konsep seperti ini, tentunya seneng banget bisa ke sini untuk pertama kalinya. Hehehe.. :D 



Bukabuku Kafe Tebet, Kafe dengan Konsep Perpustakaan

Begitu masuk ke Bukabuku, kita akan menemukan area kafe dengan meja dan kursi seperti kafe pada umumnya. Tapi yang membuat tempat ini berbeda adalah keberadaan rak-rak buku di berbagai sudut ruangan.


Buku-buku tersebut bisa dibaca oleh pengunjung selama berada di kafe.


Konsep seperti ini menurutku menarik karena membuat pengalaman nongkrong dan kerja bareng teman jadi sedikit berbeda. Kita nggak cuma datang, pesan makanan, kerja, ngobrol, lalu pulang. Kalau sedang ingin menikmati waktu dengan lebih santai, kita juga bisa mengambil buku dari rak dan membacanya.


Suasananya juga terasa cukup nyaman untuk menghabiskan waktu beberapa jam di sini. Kebetulan waktu itu aku memang datang bersama Isti dan Ciwul untuk kerja bareng, jadi kami membawa laptop dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Sesekali ngobrol, sesekali fokus ke laptop. Dan tentu saja diselingi makan dan minum sambil baca beberapa lembar buku dan tentunya ambil footage juga… :D 



Koleksi Buku yang Bisa Dibaca Pengunjung

Salah satu hal yang cukup menarik perhatianku adalah koleksi buku di Bukabuku.


Pilihan bukunya ternyata cukup beragam. Ada novel Indonesia, novel berbahasa Inggris, buku pengetahuan, sampai buku cerita anak-anak.


Jadi bukan hanya buku-buku yang ditujukan untuk satu kelompok pembaca aja, yaa…



Buat orang dewasa yang ingin membaca novel atau buku pengetahuan ada pilihannya. Kalau datang bersama anak-anak, tersedia juga buku cerita anak yang bisa dibaca. Kebetulan pas aku di sana juga ada ibu yang mengajak anak-anaknya ngafe bareng termasuk buat baca buku juga. Seru, yaaa! 


Bahkan di rak tepat di belakangku ada deretan komik-komik juga, lho! Rasanya kalau punya waktu lebih lama di sini aku pingin baca komik jugaaa…. :D 


Menurutku ini salah satu hal yang membuat konsep library cafe seperti Bukabuku menarik. Kita bisa datang dengan tujuan yang berbeda-beda, tapi tetap bisa menikmati ruang yang sama.


Selain rak-rak buku, ada juga satu sudut yang dilengkapi karpet untuk pengunjung yang ingin membaca sambil duduk di bawah.


Aku suka banget dengan ide area seperti ini.


Kalau sedang ingin membaca buku dengan suasana lebih santai, rasanya memang lebih enak duduk lesehan daripada harus terus duduk di kursi. Kalau lain kali datang ke sini dan punya waktu lebih banyak, aku jadi pingin mencoba duduk di area ini sambil pilih buku. :D 



Pilihan Menu di Bukabuku Tebet

Karena tempat ini juga merupakan kafe, tentu saja selain buku ada berbagai pilihan makanan dan minuman yang bisa dipesan.


Pilihan makanannya cukup beragam, mulai dari makanan Western, Indonesia, sampai Asia. Jadi kalau datang bersama teman-teman dengan selera yang berbeda, sepertinya cukup mudah menemukan menu yang sesuai, ya.


Aku sendiri waktu itu memilih Kofta Beef Burger Yoghurt Sauce.



Namanya cukup menarik karena burger ini menggunakan kofta beef dan dilengkapi yoghurt sauce. Setelah dicoba, menurutku rasanya pun enak.


Porsinya juga cukup besar dan mengenyangkan. Buatku ini penting karena kami memang datang untuk bekerja, bukan sekadar nongkrong sebentar. Jadi setelah makan, energi bisa kembali dan laptop pun bisa dibuka lagi. Hehehe. :D 


Untuk minumannya, aku memilih Ice Lychee Tea aja yang standar, yaa. Setelah makan berat memang aku lebih suka minuman yang agak ringan dan segar seperti teh dingin dengan rasa leci ini.



Nama Minuman yang Terinspirasi dari Buku

Selain makanannya, ada satu hal lagi yang menurutku menarik dari menu Bukabuku, yaitu nama-nama minumannya.


Sesuai dengan konsep library cafe, nama beberapa minuman di sini dibuat dengan mengambil inspirasi dari buku atau karya sastra.


Misalnya ada Serat Centhini, The Odyssey Machiato, Sarsaparilla Narnia, dan The Lychee Gatsby.


Unik, ya? :D




Aku suka ketika sebuah tempat punya konsep yang kemudian diterapkan sampai ke detail-detail kecil seperti ini. Jadi bukan cuma menyediakan rak buku untuk memperkuat dekorasi, tapi nama menu pun ikut dibuat sesuai dengan tema.



Cara ke Bukabuku Tebet dari Depok Naik KRL

Nah, buat Manteman yang datang dari Depok menggunakan KRL, aku punya sedikit catatan soal perjalanan menuju Bukabuku Kafe ini.


Meskipun lokasinya berada di Tebet, dari pengalaman aku waktu ke sana, turun di Stasiun Cawang justru terasa lebih dekat dibanding turun di Stasiun Tebet.


Waktu itu aku berangkat dari rumah di Depok naik KRL, kemudian turun di Stasiun Cawang. Dari stasiun, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Bukabuku.


Durasi perjalanan dari Stasiun Cawang ke Bukabuku kurang lebih sekitar 20 menit jalan kaki.


Memang lumayan, tapi menurutku masih cukup menyenangkan karena sepanjang perjalanan kita bisa melewati kawasan Tebet Eco Park.


Kalau cuaca sedang enak dan memang suka jalan kaki, perjalanan dari Stasiun Cawang ke Bukabuku ini bisa sekalian menjadi jalan santai.


Tapi tentu saja kalau membawa banyak barang atau lagi nggak pingin berjalan kaki selama itu, bisa memilih transportasi lanjutan dari stasiun, seperti ojek online. Nah, buat mikrotrans aku coba cari tahu dulu , ya. Soalnya sempat lihat mikrotrans tapi aku kurang paham untuk rute yang melewati kafe ini.



Bukabuku Tebet Cocok untuk Kerja dan Ngumpul Bareng Teman

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di sana bersama Isti dan Ciwul, menurutku Bukabuku cukup menarik untuk dimasukkan ke daftar kafe yang bisa dicoba di Tebet.


Terutama kalau Manteman mencari tempat yang bukan sekadar kafe untuk makan dan minum, tapi juga punya aktivitas lain yang bisa dilakukan.


Mau kerja sambil buka laptop bisa. Mau ketemu teman juga bisa. Mau baca buku bisa. Bahkan kalau datang bersama anak-anak, ada juga pilihan buku cerita anak yang bisa mereka baca. :D 


Konsep library cafe seperti ini menurutku memberikan pengalaman yang sedikit berbeda dari cafe pada umumnya.



Bukabuku Kafe 

Jl. Tebet Barat IX No. 1A, Jakarta

Buka setiap hari 07.00 - 22.00



Dita Indrihapsari


Dessert di Sushi Tei, Ternyata Pilihannya Banyak dan Enak!



Kalau dengar nama Sushi Tei, apa, nih, yang langsung kebayang di pikiran Manteman? Sushi, sashimi, ramen atau berbagai menu ala Jepang lainnya?


Aku sama keluarga juga biasanya datang ke Sushi Tei dengan tujuan utama makan sushinya sampai berbagai menu lainnya yang memang sudah cukup familiar buatku.


Tapi setelah berkali-kali ke Sushi Tei, aku justru nemuin satu bagian dari menu Sushi Tei yang ternyata cukup menarik untuk dicoba dan pingin aku bahas di blog ini: Yes, seperti di judul, aku bakal bahas soal dessert-nya!


Selain berbagai menu savory yang bisa jadi pilihan untuk makan siang atau makan malam, Sushi Tei juga punya cukup banyak pilihan dessert. Jadi, buat yang setelah makan sushi masih punya ruang buat sesuatu yang manis, ternyata pilihannya nggak cuma satu atau dua, lho


Aku sendiri memang belum mencoba semua menu dessert-nya. Sejauh ini ada beberapa dessert Sushi Tei yang sudah pernah aku coba, yaitu Mikan Cake, Yoghurt Berry Sando, Choco Cloud, Chocolate Ice Cream, dan Lava Cake.



Mikan Cake

Salah satu dessert yang pernah aku coba adalah Mikan Cake. Awalnya aku pilih menu ini karena melihat tampilan fotonya. Menarik banget, kelihatannya seger!


Nama menunya pun bikin langsung bikin penasaran, Mikan sendiri merupakan sebutan untuk jenis jeruk Jepang. 


Menu dessert yang satu ini memang rasa jeruk yang segar, persis seperti tampilannya yang warna oranye. Jadi dessert ini terasa seperti pilihan yang berbeda dibanding dessert cokelat yang biasanya lebih umum.


Buatku, Mikan Cake cocok untuk jadi penutup setelah makan makanan yang cukup berat. Setelah menikmati sushi atau menu lainnya, rasanya memang menyenangkan kalau ditutup dengan sesuatu yang manis dan punya karakter rasa yang berbeda.


Aku termasuk yang kadang suka bingung kalau harus memilih dessert. Nah, Mikan Cake ini bisa jadi salah satu pilihan kalau sedang ingin mencoba dessert selain cokelat. Untuk satu porsi Mika Cake ini juga bisa banget kalau dimakan bareng. 



Yoghurt Berry Sando

Dessert berikutnya yang sudah pernah aku coba adalah Yoghurt Berry Sando.


Kalau melihat namanya saja, sudah bisa kebayang, ya, ada perpaduan yoghurt dan buah berry yang menjadi bagian dari dessert ini.


Aku memang suka dessert yang rasanya nggak melulu tentang cokelat atau rasa manis yang pekat. Setelah makan sushi, aku justru pingin sesuatu yang terasa lebih ringan dan menyegarkan, seperti Yoghurt Berry Sando ini.


Bentuknya pun unik seperti sandwich yang bertumpuk. Bagian atas dan bawahnya crispy dan di bagian tengahnya barulah ada yoghurt berry ice. Rasanya asam manis, jadi enaknya memang makan semua elemen yang ada di dessert ini ya biar bisa ngerasain rasa balance dari asam manisnya… :D 


Buat yang suka perpaduan rasa yoghurt dengan buah-buahan berry, menu ini sepertinya cukup menarik untuk masuk dalam daftar dessert yang perlu dicoba kalau Mnateman makan di Sushi Tei.



Choco Cloud

Kalau sebelumnya aku menyebut dessert dengan rasa buah, kali ini ada Choco Cloud yang cocok banget buat pencinta cokelat.Dari namanya saja sudah terdengar cukup menggoda, ya.


Aku memang termasuk orang yang masih gampang tergoda kalau melihat pilihan dessert berbahan dasar cokelat. Jadi setelah melihat ada Choco Cloud di menu, pingin langsung nyoba, deh. 



Apalagi lihat bentuknya juga lucu gitu kayak bola-bola dengan warna biru mudaaaa sekali seperti awan. Makanya nggak heran kalau dinamain Choco Claud.


Seingatku, ya, bagian luarnya tuh renyah sedangkan bagian dalamnya kayak tekstur cake tapi agak kenyal gitu. Lalu di bagian paling dalamnya ada cokelat. Wah, enak banget, nih.


Apalagi karena bentuknya bola-bola jadi bisa makan barengan juga untuk satu porsi ini kalau Manteman rela berbagi… Hehehe…



Chocolate Ice Cream

Kalau ingin yang lebih simpel, Sushi Tei juga punya pilihan Chocolate Ice Cream.


Ini termasuk dessert yang menurutku aman untuk dipilih kalau lagi pingin sesuatu yang manis tanpa terlalu banyak pertimbangan.


Chocolate ice cream juga biasanya cukup mudah diterima oleh berbagai usia. Jadi kalau makan bersama keluarga dan ada anggota keluarga yang bingung mau memilih dessert apa, pilihan seperti ini bisa jadi salah satu opsi.


Selain chocolate, dari daftar menu dessert Sushi Tei yang aku lihat ternyata pilihan rasa ice cream-nya juga cukup beragam.


Ada Vanilla Ice Cream, Matcha Ice Cream, Ogura Ice Cream, Sakura Ice Cream, Black Sesame Ice Cream, Earl Grey with Orange Ice Cream, hingga Kyoho Grape Ice Cream.


Nah, bagian ini yang menurutku menarik.


Karena kalau biasanya kita datang ke restoran Jepang dan menemukan dessert berupa ice cream, pilihannya mungkin hanya vanilla, cokelat atau matcha. Di Sushi Tei ternyata ada beberapa rasa yang lebih unik juga.


Ada black sesame, sakura, sampai Earl Grey with Orange dan Kyoho Grape. Jadi kalau suatu saat aku datang lagi, rasanya ada beberapa rasa yang masih ingin dicoba. Hehe :D 



Lava Cake

Ini dia salah satu dessert favoritku di Sushi Tei. Apalagi kalau bukan Lava Cake.


Buat pencinta cokelat, lava cake rasanya memang selalu punya daya tarik tersendiri, ya. Apalagi kalau bagian tengahnya mengeluarkan lelehan cokelat yang berpadu dengan cake dan ice cream.




Nah, beberapa kali aku pesan Lava Cake, pas moment of truth-nya selalu meleleh sih cokelatnya yang keluar. Jadi nggak pernah fail, ya… :D 


Di Sushi Tei, Lava Cake juga disajikan bersama ice cream. Nah, biasanya aku daspat yang es krim matcha. 


Perpaduan cokelat sama matcha juga enak banget menurutku, ya. Rasa manis mix dengan rasa agak pahit gitu jadinya klop aja!



Pilihan Dessert Sushi Tei Ternyata Banyak!

Setelah mencoba beberapa dessert tadi, baru aku sadar kalau pilihan dessert di Sushi Tei ternyata lumayan banyak.


Selain dessert yang sudah pernah aku coba, ada juga beberapa pilihan cake dan mousse seperti Puzzle Mousse, Matcha Opera Cake, dan Double Chocolate Mousse.






Kalau sedang makan bersama keluarga atau teman, dessert juga bisa jadi pilihan untuk sharing. Pesan satu atau dua menu dessert, kemudian dicicipi bersama-sama. Dengan begitu, kita bisa mencoba beberapa rasa sekaligus tanpa harus membeli semuanya sendiri.


Buatku, dessert di Sushi Tei ini cukup worth it untuk dicoba. Jadi, kalau selama ini setiap makan di Sushi Tei Manteman langsung tutup menu setelah selesai makan makanan utama, mungkin lain kali boleh juga lihat-lihat bagian dessert-nya.


Siapa tahu ada menu yang bikin penasaran.


Kalau aku sendiri, setelah mencoba beberapa dessert tadi, masih punya beberapa nama yang masuk daftar “next time mau coba ini.” 😁



Dita Indrihapsari


Jembatan Gantung Cisarum Rumpin Bogor: Spot Hidden Gem Pinggir Sungai Cisadane

 



Ada kalanya perjalanan yang paling berkesan justru datang dari rencana yang meleset. Itulah yang terjadi waktu aku dan suami memutuskan berburu durian ke Rumpin, Kabupaten Bogor. 


Awalnya suamiku mengajak untuk cari durian lokal di daerah Rumpin yang katanya enak-enak, lalu pulang. Tapi siapa sangka, perjalanan hari itu berubah jadi salah satu momen jalan-jalan paling menyenangkan yang pernah aku alami, gara-gara satu hal, suamiku nggak nurut sama Google Maps! :D 



Awal Mula "Kesasar" yang Berujung Indah

Berangkat dari Depok sekitar jam 7-an pagi, jalanan masih lancar dari Depok menuju Bogor melewati kawasan Parung. Selepas Parung, aku mulai menyalakan Google Maps karena memang nggak tahu arah ke Rumpin. 


Tapi entah kenapa, di tengah jalan suamiku malah berbelok ke arah lain, masuk ke jalan-jalan kampung yang lebih kecil dan berkelok-kelok. Kata suamiku, dia penasaran aja sama jalan yang dilewatinya itu. 


Aku sempat protes, "lho, ini kok malah muter-muter, ke mana sih?" Soalnya jalanannya makin masuk ke perkampungan, jauh dari kesan jalan utama menuju tempat durian. 


Tapi namanya juga jalan-jalan santai di akhir pekan, aku pun akhirnya cuma bisa pasrah aja sambil menikmati pemandangan kampung yang masih asri. Rumah-rumah penduduk, kebun-kebun kecil, sampai anak-anak yang main di halaman. 


Ditambah lagi ternyata di jalanan yang kami lewati ini masih ada beberapa pesepeda juga. Aku pun dalam hati jadi sedikit lega. Ternyata nggak sepi- epi amat, kok. Malah jadi seru juga bisa lihat pesepeda yang semangat banget, hehe… 


Dan benar saja, "kesasar" itu ternyata membawa kami ke sebuah tempat yang sama sekali nggak ada di rencana awal. Tiba-tiba aja kami melewati sebuah warung kecil di pinggir sungai, dengan pemandangan langsung ke jembatan gantung berwarna merah yang membentang panjang di atas air. 


Nah, itulah pertama kalinya aku melihat Jembatan Gantung Cisarum!



Ramainya Warung Pinggir Sungai, Jadi Titik Kumpul Pesepeda dan Warga Lokal



Suamiku nggak langsung buru-buru menggas motornya. Begitu melewati warung tersebut dan melihat adanya tempat duduk di pinggir sungai, akhirnya ia pun menepikan motornya. Aku dan suami akhirnya menuju warung untuk melihat apa yang bisa dimakan di sana… :) 


Oiya, warung pinggir sungai ini ternyata cukup ramai. Padahal lokasinya jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi di dalam kampung. Ternyata warung ini memang jadi semacam tempat wisata warga sekitar dan juga jadi tempat istirahat para pesepeda. 


Aku melihat ada cukup banyak pesepeda yang berhenti untuk istirahat sambil ngobrol santai. Ada juga warga lokal yang datang sekadar rekreasi keluarga, duduk-duduk santai menikmati angin sungai sambil melihat pemandangan.


Kami pun istirahat sebentar sebelum perjalanan ke durian Rumpin. Aku pikir, toh, durian nggak akan lari ke mana. Hehe… Iya, kan? :D



Ngemil Gorengan Hangat sambil Ngadem di Pinggir Sungai

Menu di warung ini sederhana tapi pas banget buat menemani saat santai di pinggir sungai. Ada gorengan, lontong, singkong kelapa, dan pisang rebus, ditemani dengan segelas es teh manis yang segar. 


Tempat duduk disediakan dalam dua pilihan. Ada yang di dalam warung, dengan meja dan bangku biasa. Tapi ada juga meja kursi yang sengaja diletakkan persis di pinggir sungai, menghadap langsung ke jembatan gantung dan aliran air.




Kami tentu saja memilih yang di pinggir sungai. Aku dan suami alhamdulillah banget mendapat tempat duduk di pinggir sungai yang baru saja kosong. Sayang banget kalau sudah sampai sejauh ini tapi nggak menikmati pemandangannya secara langsung, kan…



Sensasi Melintasi Jembatan Gantung Cisarum

Setelah cukup beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumpin, kami sengaja menyempatkan diri untuk melintasi jembatannya secara langsung. Dari kejauhan, jembatan ini kelihatan gagah dengan warna merahnya yang mencolok di antara hijaunya pepohonan sekitar. 


Namun begitu benar-benar melewatinya, baru, deh, aku jadi tahu gimana kondisi jembatannya. Jembatannya memang panjang, tapi ternyata cukup sempit.




Dari tengah jembatan, pemandangan sungai di bawahnya kelihatan jelas, begitu juga suasana kampung di kedua sisi yang dihubungkan oleh jembatan ini. Momen singkat menyeberang itu jadi salah satu bagian favorit kami dari seluruh perjalanan hari itu.



Fakta-Fakta Menarik Seputar Jembatan Gantung Cisarum

Biar nggak cuma cerita jalan-jalan doang, aku juga sempat cari tahu lebih jauh soal jembatan ini. Ternyata ada beberapa fakta menarik yang sayang kalau dilewatkan:

  • Nama resmi vs nama populer. Nama resminya adalah Jembatan Gantung Cibeteung Muara, tapi warga sekitar lebih akrab menyebutnya Jembatan Cisarum. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Rumpin dan Kecamatan Ciseeng di Kabupaten Bogor. Nama Cisarum sendiri sepertinya diambil dari kata Cibeutueng Muara - Sadane - Rumpin. 

  • Begitu melihat bentuk jembatannya dari jauh, aku merasa kalau jembatan ini agak mirip yaa sama Jembatan Golden Gate di Amerika Serikat! :D


  • Panjang tapi sempit. Jembatan ini memiliki panjang 120 meter dan lebar 1,8 meter. Dibangun dengan biaya sekitar Rp6,8 miliar dari APBN Tahun Anggaran 2023 dan dirancang untuk dilalui pejalan kaki, sepeda, serta sepeda motor. Yes, mobil dilarang melintasi jembatan, ya. Ya, karena pasti nggak muat! :D 


  • Jembatan ini masih baru dan dibangun Pemerintah. Pembangunannya diselesaikan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, pada akhir 2023. Jembatan ini resmi beroperasi sejak Januari 2024.

  • Dulu, warga menyeberang pakai rakit bambu. Sebelum jembatan ini berdiri, warga yang ingin menyeberang dari Ciseeng ke Rumpin mengandalkan penyeberangan tradisional memakai rakit bambu yang sudah beroperasi sejak tahun 1960-an. Tarifnya sekitar Rp5.000 per motor atau harus memutar cukup jauh lewat jalan darat.


  • Sekarang durasi perjalanan jadi jauh lebih cepat. Waktu tempuh dari desa Cibeuteung Muara ke desa Rumpin yang dulunya butuh minimal 30 menit, kini bisa dipangkas jadi hanya lima sampai sepuluh menit saja.


  • Jadi favorit pesepeda akhir pekan. Meski jarang diberitakan media besar, keberadaan jembatan ini sudah menjadi ikon baru di kedua kecamatan dan pada hari libur sering dijadikan bagian dari rute gowes para pehobi sepeda. Jadi pantas saja kalau kami melihat banyak sepeda terparkir di warung tadi.


  • Ada makam keramat di dekatnya. Di sekitar jalan pendekat sisi Rumpin terdapat makam Syeh H. Abdul Ateng Raksak Kusuma, salah satu tokoh penyebar ajaran Islam di Kecamatan Rumpin dan Ciseeng. Sejak jembatan ini dibangun, kawasan makam tersebut kini dilengkapi warung dan pendopo istirahat.



Tips Kalau Mau Berkunjung ke Jembatan Gantung Cisarum

Kalau kamu tertarik mampir ke sini, ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan:

  • Siapkan kendaraan yang nyaman untuk jalan kampung. Akses menuju warung dan jembatan melewati jalan-jalan kecil khas pedesaan, jadi lebih nyaman kalau naik motor atau mobil dengan ground clearance yang cukup.


  • Datang di pagi atau sore hari. Suasana lebih adem dan pemandangan sungai terasa lebih syahdu, apalagi kalau datang menjelang sore saat cahaya matahari mulai lembut.


  • Hati-hati saat menyeberangi jembatan. Karena lebarnya terbatas dan cukup ramai dilalui motor serta sepeda, sebaiknya berjalan di sisi jembatan dan tetap waspada saat berpapasan dengan kendaraan lain.


  • Jangan buru-buru pergi. Nikmati dulu suasana di warung pinggir sungainya, sambil ngobrol santai atau sekadar duduk memandangi jembatan dan aliran air sungai.



Kadang Rencana Meleset Justru Membawa Cerita Terbaik

Niat awal kami hanya numpang lewat buat beli durian di Rumpin, eh, malah dapat bonus ngadem di pinggir sungai, ngemil gorengan, dan menyeberangi jembatan gantung yang kini jadi ikon baru warga Bogor. :D 




Perjalanan yang tadinya terasa "nyasar" justru memberi cerita dan pengalaman yang nggak akan kami dapatkan kalau terus patuh mengikuti rute Google Maps. Hehe…


Buat Manteman  yang kebetulan lewat daerah Rumpin–Ciseeng, coba, deh, sempatkan mampir sebentar ke Jembatan Gantung Cisarum. Selain jadi spot foto yang menarik, tempat ini juga cocok buat rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, entah itu untuk berburu durian seperti kami, atau sekadar healing singkat di akhir pekan. 



Dita Indrihapsari


9 Spot Foto Ikonik di Taman Bunga Nusantara

 



Buat Manteman yang lagi nyari destinasi liburan bernuansa alam sekaligus estetik untuk bikin konten, Taman Bunga Nusantara yang berlokasi di Cianjur bisa jadi salah satu pilihannya!


Taman bunga terbesar di Indonesia ini menawarkan banyak banget taman tematik dengan desain yang kalau menurutku cukup detail, ya. Di sana ada taman dengan nuansa Bali, Prancis, hingga Jepang. Semuanya dalam satu kawasan yang asri dan sejuk. 


Nggak heran, deh, kalau taman ini menjadi lokasi favorit juga untuk hunting foto, baik untuk liburan keluarga, pasangan, maupun sekadar jalan-jalan santai bersama teman… :D 


Nah, dari sekian banyak sudut cantik di sana, berikut 9 spot foto ikonik yang bisa kamu singgahi saat berkunjung ke Taman Bunga Nusantara.



1. Patung Kucing Topiary



Spot pertama yang langsung mencuri perhatianku adalah patung kucing raksasa! Nah, biasanya patung berbentuk sesuatu yang dibuat dari tanaman ini disebut topiary. 


Lucu banget, deh, patungnya! Wujudnya memang mirip kucing lagi duduk manis dengan pita besar berwarna pink melingkar di lehernya. Detail muka kucing dengan mata hijau dan hidung hitam dibuat sangat realistis, apalagi di patung kucing ini juga tampak seperti ada tekstur "bulu" dari daun-daun yang dipangkas rapi. 


Yang bikin unik bukan hanya bentuknya, tapi juga ukurannya! Wah, gede banget, kan! :D Spot ini cocok difoto dari jarak agak jauh supaya seluruh badan patung kucing masuk ke dalam frame. :) 



2. Jam Raksasa di Clock Garden



Di bagian depan Taman Bunga Nusantara terdapat Clock Garden. Di taman ini ada  jam raksasa berbentuk lingkaran yang jarum jamnya dibuat menyerupai baling-baling helikopter berwarna merah dan hitam. Angka romawi besar tersusun di jam raksasa ini. 


Kalau dari eye level bentuk jam raksasa ini mungkin nggak akan terlihat jelas, ya. Kita bisa melihatnya dengan jelas kalau dari jarak yang agak jauh dan dari bagian agak atas. :D 


Jam raksasa ini sendiri dibatasi oleh pagar besi melengkung sebagai pembatasnya. Sejujurnya aku agak lupa waktu aku ke sana jamnya beneran jalan atau nggak, sih.. :D 



3. Gerbang Candi Bentar Bali  



Menurutku, ya, tempat ini jadi satu spot yang paling sering dijadikan latar foto pengunjung, deh. Kapan lagi bisa foto dengan nuansa khas Bali banget tapi di dekat Puncak! Nah, ini dia tempatnya. :D 


Bangunan ini seperti gerbang candi bentar khas Bali. Dua menara batu ukir tinggi menjulang dengan detail relief lengkap dengan patung penjaga di kaki gerbang. Rasanya benar-benar seperti nuansa pura di Pulau Dewata, ya. 


Warna merah bata yang berpadu dengan ukiran batu berlumut menambah kesan autentik. Nah, berdiri di tengah celah gerbang sambil memegang salah satu sisinya bisa jadi alternatif pose kalau Manteman foto di sini. Kalau sama keluarga juga bisa dengan sambil berdiri atau duduk, ya. 



4. Taman Bali



Nah, setelah melewati gerbang pura, aku dan keluarga masuk ke kawasan Taman Bali yang dipenuhi elemen khas budaya Bali. Ada patung-patung batu bergaya tradisional, kolam kecil dengan air mancur dari patung, hingga pepohonan kamboja yang cabangnya menjulur.


Jalan setapak berbatu di area ini juga menambah kesan otentik seperti sedang berjalan di pekarangan pura atau halaman rumah khas Bali sungguhan. Kalau ke Taman Bunga Nusantara jangan lupa buat foto di sini, ya! 



5. Rumah Khas Jepang



Di Taman Bunga Nusantara juga terdapat Taman Jepang. Zen banget rasanya di sini. Sepi dan rapi! Di dalam taman khas Jepang ini ada bangunan kayu dengan atap genteng bertumpuk khas arsitektur tradisional Jepang. 


Bangku kayu panjang di dalam gazebo ini menjadi tempat istirahat sekaligus spot foto yang nyaman, dikelilingi pepohonan tinggi dan taman hijau yang tertata rapi di sekelilingnya.


Nah, selain di dalam bangunan khas Jepang ini, Manteman juga bisa banget foto di jembatan yang menyeberangi aliran air. 



6. Patung Merak Topiary



Selain kucing raksasa, Taman Bunga Nusantara juga punya topiary berbentuk burung merak. Unik banget, deh, bentuknya. Jadi sayap burung merak ini dibentuk oleh bunga-bunga berwarna pink ungu. :)


Bentuk lehernya yang panjang menjulang juga membuat patung ini terlihat elegan dari kejauhan, terutama saat dipadukan dengan latar bangunan utama taman yang beratap joglo dan taman bunga warna-warni di sekelilingnya.


Spot ini paling cantik difoto dari kejauhan dengan sudut lebar supaya keseluruhan pola taman bunga dan bentuk merak topiary bisa tertangkap dalam satu frame.



7. Taman Perancis



Buat Manteman  yang suka gaya taman formal Eropa, Taman Perancis wajib masuk daftar kunjungan saat berada di Taman Bunga Nusantara. 


Area ini didesain dengan jalan setapak lurus yang membelah taman. Ada pagar tanaman yang dipangkas rapi berbentuk pilar, kursi taman putih klasik, serta hamparan tanaman di kanan-kirinya.


Menariknya, di taman ini juga ada air mancur, lho. Tapi sayangnya pas aku dan keluarga di sana yang menyala nggak semuanya. 



8. Menara Pandang



Ini dia spot yang paling mencolok dari kejauhan. Sebuah menara pandang setinggi lima lantai dengan atap kerucut bergaya arsitektur Nusantara. Menaranya berwarna hijau dengan aksen putih. 


Menara ini punya tangga dan balkon berundak di setiap lantainya, memungkinkan pengunjung naik hingga ke puncak untuk melihat pemandangan taman dari ketinggian. 


Dari bawah, menara ini terlihat megah dengan latar langit dan pegunungan di kejauhan. Bagus banget buat foto di sini!. Jangan lupa naik ke atas juga untuk menikmati panorama seluruh kawasan taman dari atas, ya!



9. Kolam Air Terjun Bertingkat



Spot terakhir yang nggak kalah oke adalah kolam air mancur bertingkat yang mengalir dari bangunan utama menuju kolam besar di bagian bawah.


Air yang mengalir melalui beberapa tingkatan menciptakan efek air terjun mini. Di sekelilingnya ada tanaman bunga berjejer rapi, berpadu dengan bangunan utama beratap joglo besar di latar belakang. 


Spot ini paling ideal difoto dari tepi kolam bagian bawah, sehingga pantulan bangunan di air dan semburan air bisa tertangkap sekaligus dalam satu foto.



Info Sebelum Berkunjung ke Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara berlokasi di Jalan Mariwati Km. 7, Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur, Jawa Barat, nggak terlalu jauh dari kawasan Puncak dan berdekatan dengan Gunung Gede Pangrango. 


Taman ini buka setiap hari, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional, dengan jam operasional sebagai berikut:

Weekday: Pukul 08.00–17.00 WIB 

Weekend: Pukul 08.00–17.30 WIB 


Untuk memudahkan berkeliling area seluas 35 hektare ini, tersedia beberapa pilihan kendaraan sewa seperti Garden Tram, Dotto Train, dan Mobil Wira-wiri yang beroperasi mengelilingi taman lengkap dengan panduan informasi singkat. 


Selain sembilan spot foto ikonik di atas, taman ini juga punya area bermain anak hingga keranjang sultan!


Dengan kombinasi udara sejuk khas pegunungan dan spot foto yang beragam, Taman Bunga Nusantara memang layak jadi destinasi wisata sehari yang menyenangkan sekaligus Instagramable.



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *