One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi Bareng Teman Arisan dengan Sewa Small Bus Bigbird

 

sewa-small-bus-hiace-bigbird


Kalau sudah kumpul dengan teman-teman arisan, biasanya obrolan kami nggak jauh dari keluarga, sekolah anak, atau rekomendasi tempat makan baru. 


Namun entah bagaimana, beberapa waktu lalu obrolan itu berubah jadi rencana one day trip bersama ke Situ Gunung di Sukabumi dengan sewa Hiace Bigbird.


Awalnya hanya bercanda aja. Namun semakin sering dibahas, semakin serius pula rencana tersebut. :) 


Akhirnya kami sepakat menentukan tanggal keberangkatan dan mulai menyusun itinerary perjalanan. Aku, tuh, paling seneng bagian ngerencanain gini. Apalagi kalau rencananya jadi kenyataan dan sesuai ekspektasi. Wah, pasti happy banget rasanya… :D



Rencana One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi

Tujuan utama perjalanan kali ini adalah menikmati suasana alam di kawasan Situ Gunung, Sukabumi. Beberapa teman memang sudah pernah ke sana, tapi sebagian besar belum pernah mencoba berjalan di jembatan gantung ikonik yang terkenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia, bahkan di Asia.


Bayangin aja panjang jembatan gantung ini mencapai 535 meter. Aku sendiri sebelumnya sudah pernah mencoba berjalan di jembatan ini. Saat pertama kali mencoba, rasanya deg-degan banget. Apalagi saat itu weekend dan banyak pengunjung. Wah, berasa banget goyangnya. :) 


Bisa dibilang tema one day trip kali ini ini adalah Dare to Explore! Ya, karena selain akan mengeksplorasi jembatan gantung, di kawasan Situ Gunung juga terdapat danau dan air terjun yang memanjakan mata. 


Kalau mau lebih menantang lagi, ada juga flying fox yang merupakan flying fox terpanjang di Indonesia dengan panjang 753 meter. Selain itu ada juga wahana Keranjang Sultan dan Keranjang Langit yang sedang viral. 


Gimana, banyak juga, kan, yang bisa dijelajahi di Situ Gunung? Makanya destinasi ini jadi pilihan aku dan teman-teman untuk refreshing sejenak dari penatnya kehidupan sehari-hari. :) 


Dan karena ingin puas menjelajah tanpa perlu menginap, kami memilih konsep perjalanan pulang-pergi dalam satu hari saja. Next time, kalau ada keluangan waktu baru, deh, kami akan rencanakan lagi jalan-jalan yang lebih lama… Hehe… 



Itinerary One Day Trip ke Situ Gunung Sukabumi

Untuk perjalanan one day trip ke Situ Gunung kali ini, aku membuat itinerary atau rencana perjalanan yang bisa jadi panduan selama perjalanan. Dengan adanya itinerary ini kami pastinya berharap perjalanan ini lancar tanpa kendala berarti. 


Berikut itinerary sederhana one day trip ke Situ Gunung Sukabumi bersama teman-teman arisanku.


05.00 WIB

Berkumpul di meeting point Jalan Margonda Depok.


09.00 WIB

  • Tiba di kawasan wisata dan mulai menjelajahi Jembatan Gantung Situ Gunung, Curug Sawer, serta Danau Situ Gunung. Flying fox dan Keranjang Langit optional (tergantung cuaca, dan situasi).


  • Istirahat, sholat, dan makan siang.

16.00 WIB

Menuju tempat oleh-oleh khas Sukabumi. 


18.00 WIB

  • Perjalanan kembali menuju Depok.


  • Sholat dan makan malam di perjalanan. 

22.00 WIB

Perkiraan tiba di Depok.


Meski jadwalnya cukup padat, kami tetap optimis untuk ketepatan waktu. Hal ini karena perjalanan menggunakan small bus memungkinkan seluruh rombongan berangkat bersama tanpa perlu memikirkan konvoi beberapa kendaraan.



Tantangan Saat Traveling Rombongan

Nah, masalah dalam bepergian salah satunya sudah pasti soal transportasi. Dengan jumlah peserta yang ikut sebanyak 8 atau 9 orang, membuat kami harus memilih antara membawa mobil masing-masing atau menyewa kendaraan khusus. 


Dulu saat aku ke Situ Gunung Sukabumi bersama circle pertemanan yang lain, aku dan rombongan menggunakan beberapa mobil pribadi. Secara teori memang terlihat praktis, tetapi kenyataannya agak cukup merepotkan.


Ada yang terlambat berangkat, ada yang salah mengambil jalur, ada yang berhenti lebih dulu untuk mengisi bahan bakar. Komunikasi antar kendaraan juga nggak selalu lancar.


Belum lagi persoalan biaya tol, bensin, dan parkir yang harus dibagi-bagi. Bagi yang menyetir, perjalanan jauh juga cukup melelahkan. Saat peserta lain bisa tidur atau menikmati pemandangan, pengemudi harus tetap fokus di balik selama berjam-jam.


Karena itulah, kali ini kami mencari solusi yang lebih praktis agar semua anggota arisan yang ikut bisa menikmati perjalanan tanpa harus bergantian menjadi driver.


Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami akhirnya memilih sewa Hiace atau small bus dari Bigbird. :)


Sebelumnya kami juga sempat mencari beberapa opsi mobil travel Hiace yang nyaman untuk perjalanan rombongan kecil, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada armada Charlie dari Bigbird.



Kenapa Memilih Sewa Hiace di Bigbird?


sewa-hiace-bigbird

Alasan utama kenapa kami memilih Bigbird sebenarnya sederhana saja. Saat mencari layanan sewa mobil Hiace terdekat dari area Depok untuk perjalanan ke Sukabumi, kami menemukan kalau Bigbird memiliki armada small bus yang disebut Charlie dengan kapasitas yang pas untuk rombongan kecil. Terdapat Charlie Regular dan Charlie Premium yang bisa dipilih. 


Fasilitas yang ditawarkan oleh armada ini juga lengkap banget untuk perjalanan jarak menengah hingga jarak jauh.


Yang membuat aku semakin yakin adalah adanya pengemudi profesional dari Bluebird Group. Dengan reputasinya, ada perasaan aman kalau memakai jasa dari perusahaan tersebut. 


Karena charter Hiace Charlie sudah termasuk driver, jadi nggak ada satu pun peserta yang harus mengorbankan waktu istirahat untuk menyetir. Selain itu, harga rentalnya juga sudah termasuk bensin, lho. :)


Sejak awal perjalanan, kami tinggal duduk santai dan menikmati suasana road trip ke Sukabumi. Bagiku pribadi, ini menjadi salah satu keuntungan terbesar. Apalagi perjalanan menuju Sukabumi membutuhkan waktu beberapa jam. 


Rasanya jauh lebih nyaman ketika semua anggota rombongan bisa menikmati perjalanan bersama. Kami bisa ngobrol, ngemil cemilan yang kami bawa, sampai karaoke bareng juga bisa!


Interior yang Nyaman Untuk Perjalanan Seharian

Kenyamanan selama perjalanan tentunya jadi faktor penting, ya. Apalagi kalau rute yang ditempuh cukup panjang atau memakan waktu seharian penuh. Hiace Bigbird hadir dengan interior yang dirancang untuk mendukung kenyamanan tersebut, meski ada sedikit perbedaan konfigurasi antara tipe Charlie Bus dan Charlie Premium.


Pada tipe Charlie Bus, kabin dilengkapi 14 kursi berbahan fabric yang bisa direbahkan (reclining seat), sehingga penumpang tetap bisa beristirahat dengan nyaman meski duduk cukup lama. Kapasitas bagasinya terbatas, jadi tipe ini lebih cocok untuk rombongan dengan barang bawaan yang nggak terlalu banyak. Pas banget, sih, kalau PP seharian ke Sukabumi!


sewa-charlie-bus-charlie-premium-bigbird
Image: https://www.bluebirdgroup.com/product/charter-bus


Sementara itu, Charlie Premium menawarkan pengalaman yang lebih lega dengan konfigurasi 9 kursi yang didesain lebih empuk dan nyaman. Dengan jumlah kursi yang lebih sedikit dibanding Charlie Bus, jarak antar penumpang pun jadi lebih luas. Kapasitas bagasinya juga lebih besar, sehingga lebih leluasa membawa banyak oleh-oleh dari Sukabumi. :)


Kedua tipe ini sama-sama dibekali fasilitas multimedia system serta LED TV dengan DVD player. Untuk urusan keamanan, keduanya juga sudah dilengkapi fire extinguisher, medical kit, dan windows breaker sebagai bagian dari standar keselamatan perjalanan.


Perjalanan Anti Bosan Berkat Fasilitas Hiburan

Salah satu hal yang membuat road trip terasa menyenangkan adalah suasana selama perjalanan.


Di dalam small bus ini tersedia entertainment system lengkap dengan LED TV 24 inchi dengan DVD player dan sound system. Selama perjalanan kami bisa memutar video YouTube, nonton drakor, mendengarkan musik, hingga karaoke nyanyi bersama.


Aku membayangkan, suasana yang awalnya masih mengantuk setelah berangkat subuh perlahan berubah menjadi lebih hidup.


Bagi yang ingin tetap terhubung dengan internet, tersedia juga fasilitas WiFi. Dengan adanya fasilitas ini jadi makin gampang, kan, mau update Instagram Story selama perjalanan pulang. :) 


Dengan segala fasilitasnya, perjalanan yang biasanya terasa lama jadi nggak terasa membosankan.


Detail Kecil yang Membuat Perjalanan Lebih Nyaman

Selain fasilitas utama, ada beberapa detail kecil yang menurutku cukup penting dan dimiliki oleh small bus ini.


Misalnya keberadaan blackout double curtain yang membantu mengurangi cahaya matahari dari luar. Saat perjalanan siang hari, kabin jadi terasa lebih teduh sehingga nyaman digunakan untuk beristirahat.


Selain itu, terdapat fitur foldable tray untuk menaruh bekal makanan. Nah, kalau tiba-tiba ada pekerjaan mendadak pas lagi jalan, fitur ini bisa banget digunakan sebagai tempat tablet juga. 


Ada pula coolbox yang berguna untuk menyimpan minuman dingin selama perjalanan. Kami jadi bisa membawa beberapa botol minuman dan buah potong supaya tetap segar selama di perjalanan.


Untuk kebutuhan gadget, tersedia 4 USB port sehingga penumpang nggak perlu berebut colokan saat mengisi daya ponsel. Bagi rombongan yang gemar membuat konten perjalanan sepertiku, fasilitas ini tentu sangat membantu.


Faktor Keamanan yang Membuat Lebih Tenang

Selain kenyamanan, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan penting saat memilih kendaraan untuk perjalanan bersama.


Charlie Bigbird telah dilengkapi dengan fire extinguisher, window breaker, dan medical kit sebagai perlengkapan keselamatan standar.


Kehadiran perlengkapan tersebut memberikan rasa tenang selama perjalanan. Ditambah lagi, kendaraan dikemudikan oleh pengemudi profesional dari Bluebird Group yang sudah berpengalaman menangani berbagai rute perjalanan.


Sebagai penumpang, kami bisa lebih fokus menikmati perjalanan tanpa harus memikirkan kondisi lalu lintas atau mencari rute terbaik.



Menikmati Keindahan Situ Gunung Tanpa Lelah di Perjalanan

Berjalan di atas jembatan Gantung Situ Gunung selalu menjadi pengalaman yang menantang sekaligus menyenangkan. Setelah puas menikmati pemandangan dari atas jembatan, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Sawer yang menawarkan udara sejuk khas pegunungan.


curug-sawer-sukabumi


Lalu, perjalanan pun ditutup dengan bersantai di sekitar Danau Situ Gunung sebelum akhirnya berburu oleh-oleh khas Sukabumi. Meski aktivitas seharian cukup padat, kami nggak merasa terlalu lelah karena perjalanan sejak pagi berlangsung nyaman.



Solusi Praktis untuk Traveling Grup Kecil

Sewa small bus memang menjadi solusi untuk traveling bersama grup kecil. Dibandingkan membawa beberapa mobil pribadi, seluruh peserta bisa berkumpul dalam satu kendaraan sehingga suasana perjalanan terasa lebih seru. Koordinasi juga lebih mudah karena tidak perlu konvoi atau saling menunggu di jalan.


Buat yang lagi cari sewa Hiace luxury, Bigbird Charlie juga ada versi premium yang ideal untuk perjalanan privat & menginginkan pengalaman perjalanan dengan fasilitas yang lebih eksklusif serta kenyamanan ekstra.


sewa-hiace-bigbird
Image: https://drive.google.com/file/d/1Z6LYmJlqZ9GzR0nhmK00_LmxdwerhvBV/view?usp=drive_link


Bagi keluarga besar, komunitas, teman arisan atau rombongan yang ingin bepergian bersama, layanan ini bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Apalagi kalau peserta trip lebih banyak lagi, kita juga bisa, lho, sewa bis Bigbird


Bigbird juga menyediakan juga Big Bus (Alpha) dan Medium Bus (Bravo) yang bisa disesuaikan dengan jumlah peserta trip. Cara untuk charter bus di Bigbird juga mudah. karena sudah ada banyak perwakilan di berbagai kota. 


One day trip ke Situ Gunung bersama teman-teman arisan jadi bukti kalau perjalanan yang menyenangkan bukan hanya soal destinasinya, tetapi juga tentang bagaimana cara kita menuju ke sana.


Dan untuk perjalanan rombongan seperti ini, aku pribadi merasa sewa small bus Hiace Bigbird membuat seluruh pengalaman menjadi lebih praktis, nyaman, dan tentunya lebih seru! Bahkan bagi yang lagi cari opsi sewa hiace luxury atau sewa mobil Hiace terdekat untuk berbagai kebutuhan perjalanan, Bigbird bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan.


Untuk Manteman yang mau jalan-jalan bareng teman atau saudara dengan layanan Bigbird bisa langsung klik link di bawah ini ya:


Customer Care Bluebird Group di nomor +62 811-1794-1234 atau hubungi call center di kota masing-masing. Manteman bisa klik menu Contact Us di website www.bluebirdgroup.com untuk tau nomor call center Bigbird di kota masing-masing.


Yuk, jalan-jalan ke Sukabumi dan kota-kota lain di Indonesia! :) 



Dita Indrihapsari
















Sejarah Masjid Istiqlal: Dari Sekadar Lewat Trotoar, Jadi Penasaran Tentang Cerita Dibaliknya!


Masih dalam rangkaian cerita staycation kami di Hotel Borobudur kemarin. Pagi itu aku sekeluarga memutuskan jalan kaki menyusuri trotoar menuju Monas. Cuaca Jakarta yang masih adem membuat rencana ini terasa pas, lumayan buat olahraga santuy sambil berasa jadi turis di kota sendiri... :D


Nah, di tengah perjalanan, aku dan keluarga sempat lewat depan Masjid Istiqlal. Ini yang menarik, biasanya kalau ke Istiqlal, kami naik mobil dan langsung masuk ke area parkiran. Jadi selama ini aku nggak pernah benar-benar memperhatikan bagian depan masjid dari sisi jalan. 


Begitu jalan kaki, baru deh aku sadar ada papan nama atau signage besar bertuliskan "Masjid Istiqlal" di depan gerbang di seberang Lapangan Banteng yang selama ini luput dari perhatianku. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung foto di depannya... :D


Nah, momen kecil itulah yang bikin aku penasaran sama gimana ceritanya Masjid Istiqlal bisa dibangun dan kenapa bisa sebesar itu. :D 


Padahal sudah beberapa kali ke Istiqlal, entah untuk sholat atau sekadar lewat aja, tapi aku belum pernah benar-benar tahu bagaimana sejarah berdirinya masjid ini. Jadi, sepulang dari jalan-jalan, aku coba cari tahu lebih dalam. Ternyata sejarahnya panjang dan cukup menarik, jauh lebih dari sekadar bangunan ibadah biasa.



Berawal dari Cita-Cita yang Tertunda Puluhan Tahun

Keinginan punya masjid besar di Jakarta sebenarnya sudah muncul sejak zaman kolonial Belanda. Waktu itu, masjid-masjid yang ada di ibu kota hanya berukuran kecil dan tersebar di kampung-kampung. 


Belum ada satupun masjid berskala nasional yang bisa mewakili identitas umat Islam di tengah kota Jakarta.


Ide ini sempat dibahas lagi sekitar tahun 1944, ketika beberapa ulama dan tokoh Islam bertemu di kediaman Bung Karno di kawasan Pegangsaan Timur. Sayangnya, karena situasi masih di bawah kekuasaan Jepang, gagasan tersebut belum bisa direalisasikan.


Nah, barulah pada 1950, setelah Indonesia merdeka, ide ini dibicarakan lebih serius oleh Menteri Agama saat itu, Wahid Hasyim, bersama sejumlah tokoh Islam lainnya. Pembangunan masjid besar ini digagas sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia, sekaligus mengingat peran besar umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan. 


Dari situlah nama "Istiqlal" dipilih. ternyata kata Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang artinya "merdeka".


Pada 1953, pertemuan sejumlah tokoh Islam di Jakarta menghasilkan rekomendasi pembentukan Yayasan Masjid Istiqlal yang baru resmi disahkan pada 7 Desember 1954 setelah mendapat restu langsung dari Presiden Soekarno.






Proyek Ambisius Era Soekarno

Bicara soal Istiqlal, memang benar kalau masjid ini bisa dibilang bagian dari deretan proyek besar Soekarno di era 1960-an, sejalan dengan semangatnya membangun ibu kota dengan bangunan-bangunan monumental, termasuk Monas yang kami tuju pagi itu. 


Soekarno ingin Istiqlal jadi simbol kebesaran bangsa yang baru merdeka, bukan sekedar tempat sholat biasa.


Soal lokasi, awalnya sempat ada perbedaan pendapat. Wakil Presiden Mohammad Hatta mengusulkan lokasi di Jalan Thamrin karena dekat permukiman. Namun Soekarno lebih memilih kawasan Taman Wijaya Kusuma, tak jauh dari Lapangan Banteng, lokasi peninggalan kolonial yang menurutnya punya nilai historis tersendiri. 


Usulan Soekarno inilah yang akhirnya disepakati dan Istiqlal pun dibangun tepat di samping Gereja Katedral, posisi yang hingga kini jadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.



Arsiteknya Bukan Seorang Muslim

Ini bagian yang menurutku paling menarik dan sempat aku ragukan sendiri sebelum akhirnya kucek ulang. Yap, benar banget kalau arsitek Masjid Istiqlal bukan seorang Muslim.


Desain masjid ini dipilih melalui sayembara terbuka yang digagas langsung oleh Soekarno. Dari sayembara itu, terpilih desain karya Frederich Silaban yang beraga Protestan dengan judul "Ketuhanan.”


Menariknya, latar belakang keyakinan Silaban nggak menjadi masalah besar saat itu. Rancangannya dinilai paling sesuai dengan visi Soekarno tentang sebuah masjid modern, kokoh, dan megah, jauh berbeda dari masjid-masjid tradisional beratap genteng yang umum ditemui di Indonesia kala itu. Bahkan kabarnya, tokoh ulama Buya Hamka sempat memeluk Silaban sebagai bentuk apresiasi atas karyanya.


Desain Silaban penuh dengan simbolisme. Dua belas pilar utama masjid melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni 12 Rabiul Awal. Kubah utama berdiameter 45 meter menjadi penanda tahun kemerdekaan Indonesia.



Proses Panjang Hingga 17 Tahun

Peletakan batu pertama pembangunan Istiqlal dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun perjalanan pembangunannya ternyata nggak mulus. 


Prosesnya sempat terhenti beberapa kali karena masalah pendanaan, krisis ekonomi dan politik, hingga pergantian kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto.


Pembangunan akhirnya dilanjutkan di bawah Menteri Agama M. Dahlan, dengan Idham Chalid sebagai koordinator panitia pembangunan yang baru. 


Total proses pembangunan memakan waktu sekitar 17 tahun, hingga akhirnya Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.





Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Sampai sekarang, Istiqlal dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini mampu menampung ratusan ribu jamaah sekaligus. 


Bagiku, yang lebih berkesan justru cerita di baliknya. Bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka berusaha mewujudkan simbol persatuan lewat proses panjang, melibatkan berbagai latar belakang keyakinan, dan akhirnya berdiri berdampingan damai dengan Gereja Katedral di sebelahnya.


Jadi lain kali kalau ke Istiqlal, coba, deh, sesekali jalan kaki dari arah luar, bukan langsung masuk parkiran. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga baru sadar ada detail-detail kecil yang selama ini terlewat, termasuk papan nama sederhana yang menyimpan cerita panjang di baliknya. :)



Referensi:




Dita Indrihapsari

5 Patung di Kawasan Monas Jakarta



Waktu itu aku sekeluarga staycation di Hotel Borobudur, Jakarta. Namanya juga staycation, agenda paginya, ya, jalan-jalan santai aja sebelum sarapan… :D


Karena Monas jaraknya nggak terlalu jauh dari hotel dan sekalian mau olahraga pagi, kami pun memutuskan jalan kaki ke sana. Niatnya, sih, cuma mau hirup udara pagi dan ngambil dokumentasi sekedarnya, sambil ngajak anak-anak buat “gerak!” Hehe…





Tapi begitu sampai dan mulai keliling kawasan Monas, aku baru sadar satu hal yang selama ini luput dari perhatianku. Ternyata di kawasan Monas itu ada patung-patung besar yang tersebar di beberapa titik. 


Bukan sekadar pajangan aja, tapi masing-masing punya kisah dan makna sejarah sendiri-sendiri, lho, pas aku telusuri di beberapa referensi. 


Selama ini aku cuma tahu Monas identik dengan tugu emasnya dan museum di bawahnya aja. Eh, ternyata di sekelilingnya juga ada semacam "galeri pahlawan" berupa patung-patung di area terbuka yang mungkin jarang diperhatikan orang.


Nah, pagi itu aku berhasil mengabadikan tiga patung, yaitu Patung MH Thamrin, Patung Pangeran Diponegoro, dan Patung IKADA. Dua patung lainnya, Patung RA Kartini dan Patung Chairil Anwar, belum sempat aku capture langsung. Tapi biar cerita soal patung di Monas ini lengkap, aku bakal ceritain juga kelimanya sekalian, ya. 



1. Patung Pangeran Diponegoro

Ini dia patung pertama yang aku temui ada di sisi utara Taman Monas. Patung ini menghadap langsung ke arah Istana Kepresidenan. Kelihatan gagah banget, kan, Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda!


Begitu lihat, langsung kebayang Perang Diponegoro tahun 1825-1830 yang bikin Belanda kewalahan setengah mati. Pangeran Diponegoro akhirnya dijebak lewat perundingan, dibuang ke Makassar, dan wafat saat masa pengasingan di sana pada 8 Januari 1855.


Patung seorang pahlawan yang sedang menunggang kuda juga punya arti tertentu dilihat dari posisi kakinya. Kalau kedua kaki depan kuda terangkat, artinya sang penunggang gugur di medan perang. 


Kalau cuma satu kaki yang terangkat, tandanya meninggal karena sakit atau kecelakaan. Nah, kalau semua kaki kuda menapak tanah, berarti pahlawan tersebut wafat karena usia tua. 




Pada patung Diponegoro, kedua kaki depan kudanya terangkat ke atas. Sebenarnya Pangeran Diponegoro tidak wafat saat perang, tapi dalam masa pengasingan. Mungkin ini jadi simbolis mengenang perjuangannya sampai akhir.


Nah, setelah aku baca referensi, aku juga baru tahu kalau patung ini bukan buatan pematung sembarangan, lho. Patungnya dikerjakan oleh pemahat Italia bernama Cobertaldo yang sengaja dikirim ke Indonesia untuk mempelajari sejarah Pangeran Diponegoro.


Menariknya lagi, awalnya patung ini ternyata rencananya diresmikan pada 17 Agustus 1965. Namun karena kondisi perpolitikan Indonesia saat itu sedang nggak stabil, rencana itu pun batal, Sampai sekarang Patung Pangeran Diponegoro yang ada di Monas belum pernah diresmikan. :) 



2. Patung MH Thamrin

Di bagian sisi barat Taman Monas yang menghadap Jalan Medan Merdeka Barat, ada Patung Mohammad Husni Thamrin atau MH Thamrin. Nama MH Thamrin tentunya nggak asing, ya, karena jadi nama jalan utama di Jakarta.


Beliau adalah pahlawan nasional asli Betawi. Lahir di Batavia pada 16 Februari 1894 dan dikenal sebagai tokoh Betawi pertama yang duduk di Volksraad alias Dewan Rakyat pada masa Hindia Belanda. Pemikiran beliau soal pemerintah yang harus mendekat ke rakyat masih relevan banget sampai hari ini.


Patung MH Thamrin di Monas menampilkan bagian dada ke atas. Patung ini dibuat oleh pematung bernama Arsono dan diresmikan pada 11 Januari 1982. 




Baca Juga: Menjelajahi Budaya Betawi di Museum Betawi Setu Babakan



3. Patung IKADA

Nah, ini yang menurutku paling unik ceritanya dan letaknya ada di sisi selatan Monas. Beda dari yang lain, IKADA bukan nama orang. IKADA adalah singkatan dari lapangan luas yang dulu jadi cikal bakal kawasan Monas sekarang. 


Monumen atau patung ini dibuat untuk mengenang Rapat Ikada pada 19 September 1945, ketika para pemuda dan rakyat berkumpul untuk mendengar pidato Bung Karno nggak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan.


Saat itu situasinya sangat nggak aman. Tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap tetap berjaga di sekitar lapangan. Bung Karno sendiri sempat khawatir rapat itu bisa memicu bentrokan. Tapi rapat tetap jalan.




Patung ini menggambarkan lima sosok manusia yang berkumpul. Jumlah lima ini ternyata bukan kebetulan. Konon, pada masa pendudukan Jepang, berkumpul lebih dari lima orang itu dilarang karena dianggap bisa jadi ajang merencanakan pemberontakan. 


Jadi patung ini secara diam-diam merekam semangat perlawanan yang harus disiasati bahkan lewat cara berkumpul. Patung ini dirancang oleh Sunaryo, dosen ITB, dan diresmikan pada 20 Mei 1988.



4. Patung RA Kartini

Meskipun aku belum sempat foto langsung, patung ini nggak kalah menarik untuk diceritakan. Letaknya di sisi timur Taman Monas, menghadap ke arah Gambir. 


RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879 dan dikenal luas sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Hari lahirnya sekarang diperingati sebagai Hari Kartini setiap 21 April.


Meski lahir dari keluarga bangsawan, beliau nggak diam aja melihat ketimpangan yang dialami perempuan pada masanya. Sayangnya, Kartini wafat muda di usia 25 tahun, pada 17 September 1904. 


Yang bikin patung ini unik, pahatannya menggambarkan tiga pose Kartini sekaligus dalam satu momen. Kartini sedang menari, berjalan, dan mengasuh anak. 


Kalau diperhatikan lebih teliti, di bagian bawah patung juga ada tulisan berhuruf Jepang. Ternyata patung ini memang merupakan hadiah dari pemerintah Jepang untuk Indonesia. Kalau kalian mampir ke Monas, coba, deh, amati detail ini dari dekat.



5. Patung Chairil Anwar

Terakhir, berdiri Patung Chairil Anwar. Chairil lahir di Medan pada 26 Juli 1922, dan dijuluki sebagai maestro puisi Indonesia. Sajak-sajaknya yang penuh semangat sempat jadi bahan bakar semangat perjuangan melawan penjajahan. Sayangnya, Chairil wafat muda karena sakit, pada 28 April 1949 di Jakarta.


Ia dikenal sebagai pelopor Angkatan 45 dan dianggap sebagai jembatan menuju puisi modern Indonesia. Sampai sekarang karya-karyanya masih sering dibacakan di berbagai acara sastra maupun peringatan hari kemerdekaan. 


Patungnya, yang menampilkan wajah tenang memandang lurus ke depan dibuat oleh pematung Arsono, sama seperti pematung yang mengerjakan Patung MH Thamrin. Patung ini diresmikan pada 21 Maret 1986.


Baca Juga: Cara Naik ke Puncak Monas



Jalan-Jalan ke Monas yang Berujung Belajar Sejarah

Awalnya aku kira jalan pagi ke Monas ini cuma bakal jadi rutinitas staycation biasa aja. Keluar hotel, jalan kaki, foto-foto, pulang sarapan. Tapi ternyata dari lima patung yang tersebar di empat penjuru Taman Monas ini, aku jadi belajar banyak hal yang selama ini nggak pernah aku perhatikan, meskipun sudah berkali-kali ke Monas sejak kecil… :D 


Ada kisah perjuangan dari Diponegoro dengan kudanya, perjuangan politik dari MH Thamrin, semangat rakyat yang nekat berkumpul demi mendengar pidato kemerdekaan lewat Patung IKADA, perjuangan emansipasi dari Kartini, sampai perlawanan lewat kata-kata dari Chairil Anwar. 


Lima patung, lima sisi, lima cara berjuang, tapi semuanya tetap bermuara pada satu hal yang sama, yaitu rasa cinta pada bangsa ini. :’) 


Jadi kalau Manteman berencana ke Monas, coba juga luangkan waktu jalan-jalan di taman di sekelilingnya. Siapa tahu, seperti aku, Manteman juga bakal nemuin cerita-cerita kecil yang selama ini terlewat begitu saja.



Dita Indrihapsari


Sejarah Detos (Depok Town Square), Mal Legendaris di Margonda Depok



Buat kamu yang lahir dan besar di Depok, rasanya mustahil, deh, kalau nggak kenal sama Detos alias Depok Town Square. :D 


Mal yang berdiri megah di Jalan Margonda Raya ini bukan cuma sekadar tempat belanja, tapi juga saksi bisu banyak cerita: nongkrong bareng teman sepulang sekolah atau ngampus, jajan di foodcourt, sampai nonton bioskop pertama kali bareng gebetan. Hehe…Ada yang punya pengalaman gitu juga di Detos? 


Di tahun 2026 ini, usia Detos ternyata sudah genap 21 tahun, lho. Nah, perjalanan mal ini selama dua dekade lebih ini ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik untuk ditelusuri. Apalagi sekarang di social media juga sudah banyak banget konten-konten soal Detos. Yuk, kita bahas mal ini! :) 



Awal Mula Detos Berdiri

Depok Town Square resmi beroperasi sejak tahun 2005. Mal ini dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Lokasinya berada tepat di Jalan Margonda Raya, jalan protokol yang bisa disebut sebagai jantungnya Kota Depok. 


Posisi strategis ini membuat Detos langsung jadi primadona begitu dibuka. Apalagi mal berlantai lima ini deket banget ke Stasiun Pondok Cina lewat pintu belakangnya, sehingga gampang diakses mahasiswa Universitas Indonesia (UI) maupun warga yang tinggal di sekitarnya.


Dengan luas area puluhan ribu meter persegi dan banyaknya unit tenant, Detos di masa jayanya menawarkan hampir semua yang dibutuhkan warga Depok. Mulai dari restoran, gerai handphone, bioskop, tempat main anak, sampai deretan tenant fashion. 


Nggak heran kalau generasi 2000-an menjadikan Detos sebagai destinasi wajib buat nongkrong dan belanja. :D



Ketika Mal Saingan Muncul, Detos Perlahan Meredup

Aku inget banget, deh, pas mau kuliah ke luar kota di tahun 2004 Detos memang sedang dibangun dan dibuka setahun kemudian. Begitu juga dengan mal di seberangnya, yaitu Margo City.


Seingatku Margo City dibuka setahun kemudian di 2006. Jalan Margonda pun makin ramai dengan hadirnya dua mal yang berhadap-hadapan ini. 


Margo City pun menjelma jadi salah satu pusat perbelanjaan paling hits di Depok. Setiap hari, Margo City ramai dikunjungi dengan deretan tenant kekinian yang terus diperbarui mengikuti tren. Yang tadinya luas, Margo City sekarang makin luas lagi setelah direnovasi setelah pandemi.


Berbanding terbalik dengan tetangganya, Detos justru pelan-pelan mengalami penurunan. Fenomena ini sebenarnya lazim terjadi pada mal-mal generasi awal di berbagai kota besar Indonesia. 


Setelah bertahun-tahun jadi mal yang laris, Detos mulai kehilangan daya tariknya, terutama di bagian lantai-lantai atas.



Lantai Bawah Masih Hidup, Lantai Atas Kian Sepi

Menariknya, kondisi Detos sekarang nggak sepenuhnya suram. Kalau Manteman masuk ke lantai dasar dan lantai satu, suasananya masih cukup hidup. 


Di sinilah kini Detos dikenal sebagai salah satu pusat thrifting terbesar di Depok. Dengan deretan tenant fashion yang menjual pakaian bekas branded dengan harga miring. 


Aku pun pernah juga nge-thrift di Detos. Tapi memang kalau nge-thrift harus sabar dan teliti, ya. Alhamdulillah aku bisa dapat yang sesuai keinginanku juga, sih. :D Kisaran harga thrift di sini juga beragam, mulai dari 10 ribu sampai ratusan ribu juga ada!


Selain tempat thrifting, di Detos juga masih ada beberapa restoran, Matahari, Hypermart dan bioskop Cinepolis. Tenant-tenant tersebut pun aku lihat masih beroperasi normal. 


Apalagi kalau ke Cinepolisnya, wah, harga tiket yang relatif terjangkau dibanding bioskop di mal-mal lainnya.


Nah, Detos itu, kan, bagian atasnya berkonsep seperti ITC, ya. Jadi banyak kios-kios gitu. Sayangnya, begitu naik ke lantai-lantai atas, suasana berubah drastis karena banyak bangeeeet kios yang sudah tutup. Suasana jauh lebih sepi dibanding bagian bawah mal. 


Pemandangan ini jadi gambaran umum bagaimana mal-mal lama di Indonesia berjuang bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru yang lebih segar dan menawarkan banyak pilihan untuk pengunjungnya. 


Tapi, aku salut banget, sih, sama Detos yang nggak tutup! :D Mal ini masih berjuang dan bertahan. Bahkan sekarang juga ada jalur masuk dari Stasiun Pondok Cina yang sudah ada fasilitas apartemen juga di dekatnya. 


Sebenarnya fasilitas di Detos pun ikut berkembang. Salah satunya adalah kehadiran tempat olahraga, seperti FitHub, kolam renang Khodijah Muslimah Center, lapangan futsal. Hal ini bisa jadi bukti kalau Detos terus berusaha beradaptasi meski di tengah tantangan persaingan yang ketat, ya. Mungkin hal ini juga yang bikin Detos masih “hidup” sampai saat ini. :)



Kabar Baru: Sekolah Dian Harapan Bakal Hadir di Detos

Nah, di tengah citra "mal yang mulai ditinggalkan" ini, muncul kabar yang cukup mengejutkan sekaligus bikin penasaran aku sebagai warga Depok. 


Pas lagi scrolling socmed, tetiba aku baca berita kalau Pelita Harapan Group mengumumkan rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan (SDH) di Kota Depok, yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2027. 


Sekolah ini akan berada di Detos. Iyah, beneran! Aku penasaran, sih, nantinya apakah ruang kelasnya bakal berada di kios-kios lantas atas Detos yang sepi itu? 


Ternyata ini juga bukan pertama kalinya Pelita Harapan Group membuka sekolah di dalam gedung mal. Sebelumnya, Sekolah Dian Harapan juga sudah resmi dibuka di Tamini Square, menempati area lantai lower ground.


Konsep ini sejalan dengan strategi Lippo Malls dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah fungsi mal, dari sekadar pusat belanja jadi ruang belajar, bersosialisasi, sekaligus hiburan bagi masyarakat modern.


Melihat pola ini, cukup masuk akal kalau nantinya SDH Depok akan menempati bagian lantai atas Detos yang selama ini memang cenderung sepi dan banyak kios kosong. Kalau benar begitu, ini bisa jadi solusi sekaligus win-win solution, ya. Lantai yang tadinya mangkrak bisa dihidupkan kembali dengan fungsi baru. 


Sementara itu Detos sendiri bakal mendapat "napas baru" untuk tetap relevan di tengah persaingan mal-mal modern di Depok.



Detos, Bukan Sekadar Mal tapi Bagian dari Memori Warga Depok

Terlepas dari naik turunnya performa bisnis, Detos tetap punya tempat khusus di hati banyak warga Depok. Akses yang makin mudah dari kampus UI dan Stasiun Pondok Cina membuat mal ini tetap ramai dikunjungi mahasiswa dan komuter setiap harinya. 


Selain jadi surganya thrifting, Detos juga masih rutin menggelar berbagai event, serta menyediakan pilihan tempat makan dan hiburan keluarga yang lengkap. Aku pernah ke Detos bertepatan dengan event Pramuka. Wih, ramenya bukan main! :D 


Kalau rencana kehadiran Sekolah Dian Harapan di Detos benar-benar terwujud pada 2027 nanti, bisa dibilang ini akan jadi babak baru dalam perjalanan panjang mal legendaris ini. 


Dari pusat perbelanjaan yang sempat berjaya, meredup, hingga mungkin bertransformasi menjadi ruang yang lebih multifungsi: tempat belanja, thrifting, nonton, sekaligus tempat menuntut ilmu.


Buat warga Depok, Detos mungkin boleh berubah bentuk dan fungsi dari waktu ke waktu. Tapi satu hal yang pasti, memori yang terekam di setiap lantainya selalu jadi bagian dari cerita hidup orang Depok, apapun yang terjadi pada mal ini ke depannya.


Kalau Manteman, terutama yang tinggal di Depok, ada memori apa, nih, di Detos? Yuk, share di kolom komentar… :D



Dita Indrihapsari

8 Permainan Timezone yang Jadi Favorit Semua Usia



Selama ini aku selalu mikir kalau Timezone itu ya tempat main anak-anak. Tapi ternyata anggapan itu langsung runtuh begitu aja pas liburan sekolah kemarin. Kami sekeluarga menghabiskan waktu liburan dengan main di Timezone Margo City Depok dan Timezone Pacific Place. 


Awalnya sih niatnya cuma nemenin anak-anak main. Eh, nggak taunya malah aku dan suami ikut kebawa suasana dan akhirnya ikut-ikutan nyobain beberapa permainannya. :D


Jujur aja, keluarga kami memang bukan tipe yang terbiasa wara-wiri ke Timezone. Biasanya kalau liburan, ya, lebih sering ke alam atau wisata kuliner. Tapi ternyata, main di Timezone itu seru banget, lho! Walaupun memang pas sekali datang, harus siap ngerogoh kocek lumayan dalam, yaaa. Hehehe... :D


Nah, dari pengalaman kemarin, ada beberapa permainan yang menurutku jadi favorit semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Yuk, aku ceritain satu-satu apa aja permainannya!!



1. Bumper Car, Permainan Klasik yang Selalu Bikin Ketawa!

Bumper Car ini kayaknya emang permainan yang nggak pernah gagal bikin suasana rame, deh. Waktu itu anakku main bareng teman-teman sekolahnya. Begitu masuk arena dan mobil-mobilnya mulai bergerak, teriakan dan suara ketawa mereka pun langsung memenuhi ruangan. :D




Serunya lagi, anak-anak jadi punya "misi" masing-masing buat saling nabrak mobil temannya. Padahal ya cuma nabrak-nabrakan doang, tapi ekspresi mereka pas berhasil "nge-bom" mobil temannya itu lucu banget. Aku sampai ikutan ketawa liatin dari luar arena.



2. Virtual Reality 360, Diputar-putar Sampai Bikin Pusing Tapi, Kok, Nagih, Ya!

Kalau yang ini, aku sendiri nggak ikut main. Anak-anak yang nyoba untuk pertama kalinya dan aku cuma videoin aja. :D 


Oiya, buat yang mau nyoba wahana ini, ada syarat tinggi badan minimal, kalau nggak salah sekitar 140 cm.




Begitu anak-anak duduk dan alat pengamannya terpasang, permainan langsung dimulai. Dan beneran, badan mereka diputar 360 derajat berkali-kali! Aku yang cuma nonton dari luar aja udah ikutan pusing ngebayangin sensasinya.


Tapi herannya, begitu turun, anak-anak malah ketawa-ketawa dan pingin nyoba lagi. Katanya sih seru banget, apalagi kombinasi visual di dalam headset VR-nya bikin sensasi muter-muternya makin terasa nyata.



3. Basketball Arcade, Favorit Sepanjang Masa

Nah, kalau yang satu ini rasanya emang jadi favorit hampir semua orang, ya. Dari anak kecil sampai orang dewasa yang main ke Timezone, pasti pernah main Basketball Arcade.




Permainan ini bisa dimainkan berdua atau bertiga, tergantung berapa banyak mesin yang tersedia berjajar. Waktu itu pas anak-anak main sampai bikin kompetisi kecil-kecilan, siapa yang paling banyak masukin bola dalam waktu terbatas.


Seru banget suasananya! Apalagi kalau bola sudah mulai keluar dari mesin secara otomatis dan kita harus buru-buru masukin bola sebanyak mungkin. Rasanya adrenalin ikut naik walaupun cuma main santai aja,



4. Bowling, Ternyata Nggak Semua Timezone Punya!

Ini salah satu yang bikin aku penasaran dan akhirnya cari tahu lebih lanjut. Ternyata nggak semua gerai Timezone menyediakan wahana bowling ini, lho. Hanya beberapa cabang tertentu aja yang punya fasilitas ini. 


Nah, kebetulan dua tempat main Timezone yang aku dna keluarga smbangi, yaitu di Timezone Margo City dan Timezone Pacific Place ada semua fasilitas permainan bowling ini. 





Bowling di Timezone ini biasanya disebut Social Bowling. Bedanya dengan bowling biasa, di sini kita nggak perlu pakai sepatu khusus segala. Selain itu, jalur atau lane-nya juga didesain lebih pendek dibanding lane bowling pada umumnya, jadi capeknya nggak seberapa tapi tetap seru buat dimainkan bareng-bareng.


Karena konsepnya emang dibuat lebih santai dan bisa tetap berkompetisi juga, permainan ini juga cocok banget buat lomba kecil-kecilan bareng keluarga atau teman. Kalau ke Timezone yang kebetulan ada fasilitas ini, rasanya sayang banget kalau dilewatkan.



5. Nerf Arcade, Serunya Tembak-tembakan Ala Anak-anak

Buat yang suka permainan tembak-tembakan tapi versi seru dan aman, Nerf Arcade ini jawabannya. Anak-anakku kelihatan antusias banget pas main ini. Mereka jadi kayak lagi ikutan misi rahasia gitu, sambil sesekali ketawa-ketawa kalau berhasil kena sasaran.




6. Racing Arcade, Ngerasain Sensasi Balapan Tanpa Ribet

Kalau lagi pengen ngerasain sensasi balapan tapi nggak perlu ribet ke sirkuit beneran, apalagi masih anak-anak, Racing Arcade ini bisa jadi solusinya. :D 



Ada pilihan simulator mobil dan motor. Anak-anak tentunya seneng banget bisa duduk di kursi simulatornya sambil pegang setir kecil, seolah-olah lagi ikut balapan beneran.


Meski cuma simulasi, tapi getaran dan efek suaranya lumayan bikin suasana jadi makin hidup.



7. Air Hockey, Permainan Klasik yang Mejanya Makin Kece

Air hockey ini termasuk permainan yang dari dulu aku kenal. Bedanya, sekarang tampilan meja-mejanya jauh lebih keren dibanding yang aku ingat waktu kecil dulu


Lampu-lampu LED-nya bikin suasana main jadi lebih hidup, apalagi kalau lagi seru-serunya kompetisi bareng  keluarga!





8. Virtual Reality Paragliding, Berasa Terbang Beneran!

Nah, kalau ditanya wahana mana yang paling berkesan buatku pribadi, jawabannya pasti VR Paragliding ini. Aku dan anakku sempat mencobanya di Timezone Margo City dengan tema dinosaurus.


Begitu headset VR dipasang dan permainan dimulai, rasanya beneran kayak lagi terbang di antara dinosaurus-dinosaurus raksasa. Yang bikin makin seru, ada efek anginnya juga, bahkan sesekali ada percikan air kecil yang bikin sensasinya makin nyata. Kayak nonton film 4D tapi kita yang jadi pemeran utamanya!


Aku dan anakku sampai teriak-teriak kegirangan sepanjang permainan. Aku sendiri yang awalnya cuma penasaran, jadi ikutan excited banget begitu nyoba VR ini. Oiya, bedanya dengan VR 360 kalau VR Paragliding ini nggak berputar ya tapi turun naik aja seperti naik paragliding beneran. 



Bukti Kalau Main Seru-seruan di Timezone Nggak Kenal Batas Umur 

Dari semua pengalaman main di Timezone Depok dan Timezone Pacific Place kemarin, aku jadi sadar satu hal: Timezone itu bukan cuma soal anak-anak main game sendirian sementara orang tua nunggu di pinggir. Timezone dan mungkin tempat main sejenis lainnya, seperti Funworld, Amazing World, atau Kidzania menghadirkan pengalaman seru yang bisa dinikmati bareng-bareng, sekeluarga.


Setiap wahana punya keseruan masing-masing, dari yang santai kayak air hockey, sampai yang bikin adrenalin naik kayak VR 360 dan VR Paragliding. Belum lagi momen kompetisi kecil-kecilan yang bikin kebersamaan keluarga makin terasa.


Memang, sih, main di Timezone butuh budget yang nggak sedikit. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, momen kebersamaan dan pengalaman selama main bareng itu rasanya sepadan banget dengan yang dikeluarkan.


Kalau Manteman ada rencana liburan bareng keluarga dan bingung mau ke mana, coba deh sesekali mampir ke Timezone. Siapa tahu, seperti aku, kalian juga bakal ketagihan dan pengen balik lagi lain waktu. :)




Dita Indrihapsari


5 Aktivitas Alam di Sentul yang Seru untuk Liburan Keluarga



Sentul memang nggak ada matinya! :D Lokasinya yang nggak jauh dari Jakarta, Bogor, maupun Depok, kawasan ini menjadi destinasi favorit untuk melepas penat tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Apalagi di saat weekend, wah, Sentul pasti bakalan ramai terus!


Selain terkenal dengan deretan kafe estetiknya dan pilihan berbagai penginapan, Sentul juga menyimpan banyak pilihan aktivitas alam yang cocok untuk keluarga, teman, hingga para pencari adrenalin!


Aku sendiri sudah beberapa kali menghabiskan akhir pekan di Sentul, baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. 


Menariknya, setiap berkunjung selalu ada pengalaman baru yang bisa dicoba. Mulai dari trekking menuju air terjun, off road menggunakan jeep, hingga outbound bersama anak-anak. Bahkan, kini ada juga aktivitas seru seperti river tubing, canyoning, dan caving yang mulai banyak diminati wisatawan.


Kalau sedang mencari ide wisata alam di Sentul, berikut lima aktivitas seru yang menurutku layak masuk dalam daftar liburan Manteman.



1. Trekking Menjelajahi Curug dan Goa di Sentul

Kalau ditanya aktivitas favoritku di Sentul, jawabannya pasti trekking. Pas nulis ini aku jadi kangen banget pingin trekking di Sentul lagi! :D


Sentul memiliki banyak jalur trekking dengan tingkat kesulitan yang beragam. Ada jalur yang ramah untuk keluarga dengan anak-anak, ada juga trek yang cukup menantang bagi para pencinta alam


Aku dan keluarga sudah beberapa kali mengikuti trekking menuju beberapa destinasi alam yang terkenal, seperti Curug Leuwi Hejo, Curug Leuwi Cepet, hingga Goa Garunggang.


Perjalanan menuju curug menjadi pengalaman yang menyenangkan karena jalurnya didominasi pepohonan hijau. Udaranya kerasa masih segar, apalagi kalau jalannya pagi. Selain itu nggak jarang jalurnya juga melewati sungai-sungai kecil. 


Nah, anak-anak juga seneng banget kalau diajak trekking di Sentul. Mereka paling semangat dan biasanya, sih, selalu ada di urutan depan pas lagi trekking… :D  


Yang paling aku ingat saat trekking ke Goa Garunggang, aku dan keluarga punya pengalaman yang berbeda. Di jalur trek ini Kita jadi bisa melihat formasi bebatuan besar yang membentuk lorong alami ke arah gua secara vertikal. Di sekitaran gua juga banyak batuan-batuan yang menghiasi kawasan wisata ini. Yakin, sih, tempat ini juga jadi favorit para fotografer karena tampilannya sangat fotogenik.


Pilihan rute trekking di Sentul memangsangat beragam. Kita bisa memilih perjalanan santai sekitar satu hingga dua jam atau jalur yang lebih panjang sesuai kemampuan fisik dan tentunya umur anak. 



2. Off Road Jeep yang Memacu Adrenalin

Pengalaman terbaru yang paling berkesan bagiku adalah mencoba off road jeep di Sentul bersama teman-teman.


Bukan hanya orang dewasa yang ikut, anak-anak juga ikut merasakan serunya petualangan ini. Kami serombongan berangkat menggunakan dua unit jeep sehingga suasananya jadi makin ramai.


Begitu memasuki jalur off road, sensasi petualangan langsung terasa. Jalannya penuh tanjakan, turunan curam, jalan berbatu, lumpur, hingga beberapa kali harus menerobos aliran sungai.


Setiap kali jeep melintasi sungai atau jalur berbatu yang ekstrim seluruh penumpang otomatis berteriak sekaligus tertawa. Dan senangnya, anak-anak justru terlihat paling menikmati momen itu… :D 


Aktivitas ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati sisi lain Sentul yang lebih menantang dibanding sekadar berwisata kuliner atau nongkrong di kafe.



3. Outbound di Taman Budaya Sentul

Ternyata Sentul juga memiliki pilihan aktivitas edukatif sekaligus menyenangkan sambil mengenal alam untuk anak-anak, nih.


Pengalaman ini dirasakan anak-anakku saat mendapat undangan ulang tahun dari teman sekolahnya di Taman Budaya Sentul.


Selama ini aku mengira Taman Budaya hanya menyediakan area bermain dan ruang terbuka. Ternyata di sana juga tersedia berbagai paket outbound yang dapat disesuaikan dengan usia peserta.


Anak-anak keliatan antusias banget mengikuti setiap tantangan. Mereka bisa belajar memanjat, berjalan di atas jembatan kayu, melewati jembatan tali, hingga mencoba berbagai permainan yang melatih keseimbangan dan keberanian. Kalau ikut aktivitas ini motoriknya jadi benar-benar terasah, yaa…


Selain menyenangkan dan melatih motorik, aktivitas outbound juga memiliki banyak manfaat. Anak-anak belajar bekerja sama, meningkatkan rasa percaya diri, hingga belajar menyelesaikan tantangan dengan mandiri.


Nah, yang aku suka juga, seluruh permainan didampingi oleh instruktur sehingga orang tua nggak perlu terlalu khawatir.Kalau sedang mencari wisata anak di Sentul, menurutku outbound di Taman Budaya bisa menjadi pilihan menarik selain playground atau taman bermain biasa.



4. River Tubing Menyusuri Sungai dengan Ban Karet

Beberapa waktu terakhir, river tubing di Sentul mulai semakin populer. Peserta bisa menyusuri aliran sungai menggunakan ban karet besar sambil mengikuti arus sungai.


Sepanjang perjalanan, peserta akan melewati bebatuan, arus sungai yang tenang, hingga beberapa bagian yang cukup menantang. Sebelum memulai aktivitas, peserta akan dibekali pelampung, helm, dan pengarahan dari pemandu. 


Menurutku, river tubing cocok bagi wisatawan yang ingin mencoba aktivitas air lebih banyak. Pemandangan di sepanjang sungai juga masih asri, cocok banget buat refreshing, ya!


Kalau berencana mencoba river tubing, sebaiknya siapkan pakaian ganti karena hampir bisa dipastikan seluruh tubuh akan basah. :D 



5. Canyoning dan Caving, Tantangan untuk Para Petualang

Kalau ingin menguji adrenalin lebih jauh lagi, Sentul juga menawarkan aktivitas canyoning dan caving.


Jujur aja, sampai sekarang aku belum pernah mencoba keduanya. :D Sebenarnya penasaran juga karena beberapa kali melihat foto dan video soal canyoning dan caving Sentul di social media. Namun di sisi lain, aku juga rada khawatir, sih, melihat tingkat tantangannya.


Canyoning merupakan aktivitas menyusuri aliran sungai pegunungan dari bagian atas menuju dasar dengan memanfaatkan teknik rappelling menggunakan tali, harness, helm, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Peserta akan turun mengikuti aliran air sambil melewati tebing, air terjun, dan bebatuan. Kebayang serunya tapi juga seremnya… :D 


Sementara itu, caving merupakan kegiatan menjelajahi gua alami. Selama perjalanan, peserta akan memasuki lorong-lorong, melihat formasi batuan yang terbentuk, hingga menikmati suasana gelap yang benar-benar berbeda dari aktivitas wisata pada umumnya.


Kalau suatu hari nanti keberanianku sudah terkumpul, rasanya canyoning dan caving bakal jadi salah satu aktivitas pertama yang ingin sekali kucoba di Sentul. :D 



Gimana, dari kelima aktivitas alam di Sentul, mana yang pernah Manteman coba? 


Sentul memang bukan hanya soal kafe kekinian atau staycation di hotel atau villa aja.. Kawasan ini juga menjadi surga bagi pencinta aktivitas alam. 


Dari semua aktivitas yang pernah aku coba, trekking masih menjadi favoritku karena memberikan kesempatan menikmati alam dengan santai sekaligus quality time bersama keluarga. Namun pengalaman off road jeep ternyata juga berhasil memberikan kesan yang sulit dilupakan. Terlalu seruuuuu! :D


Sekarang tinggal menunggu waktu dan keberanian untuk akhirnya mencoba canyoning dan caving. Siapa tahu nanti justru menjadi pengalaman paling seru selama menjelajahi Sentul.


Kalau kamu berencana menghabiskan akhir pekan di kawasan Bogor, jangan hanya datang untuk nongkrong di kafe. Yuk, cobain salah satu aktivitas alam di atas!



Dita Indrihapsari


Pengalaman Pertama Naik Mikrotrans Jakarta, Gratis dan Mudah!



Mateman ada yang sudah pernah naik Mikrotrans Jakarta ? :D 


Jujur aja, meskipun sudah beberapa kali menggunakan transportasi umum seperti KRL, aku belum pernah sekalipun naik Mikrotrans. Selama ini aku selalu ngira kalau transportasi ini, tuh, cukup membingungkan karena rutenya banyak dan cara menggunakannya pun belum kupahami. 


Nah, pengalaman pertamaku naik Mikrotrans justru terjadi secara nggak sengaja saat pulang dari acara journaling bersama dua temanku, Isti dan Ciwul, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. 


Siapa sangka, perjalanan pulang yang awalnya hanya ingin kembali ke Stasiun Cikini dengan jalan kaki malah menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka mataku tentang betapa mudahnya menggunakan transportasi umum di Jakarta. 


Beruntunglah wahai kalian warga Jakartaaaaa. Sebagai warga Depok, aku iri, aku bilang… :D 



Berangkat ke Cikini Naik KRL

Hari itu kami berencana untuk journaling bareng di Senyawa+ Space yang ada di Jalan Raden Saleh, Cikini. Kami  berangkat dari Stasiun Depok Baru menggunakan KRL menuju Stasiun Cikini. 


Dari Stasiun Cikini, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Senyawa+ Space.


Jaraknya memang masih memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Sambil mengobrol, kami menikmati suasana kawasan Cikini yang selalu ramai. 


Sebenarnya sempat kepikiran untuk ke sana dari Stasiun Cikini dengan naik taksi online. Tapi begitu melihat rutenya yang memutar, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki ajalah, sekalian bakar kalori. :D 



Mengenal Senyawa+ Space, Tempat Journaling yang Seru!

Sesampainya di Senyawa+ Space, aku langsung paham kenapa tempat ini cukup sering muncul di media sosial. Yap, aku juga tahunya tempat ini dari temanku dan video-video yang ada di Instagram serta TikTok. 


Senyawa+ Space bukan hanya sebuah working space biasa. Tempat ini jadi ruang kreatif yang mempertemukan berbagai komunitas, pekerja kreatif, ilustrator lokal, hingga para pecinta seni.


Area di dalamnya cukup luas dengan konsep industrial yang dipadukan sentuhan modern. Banyak sudut yang nyaman untuk bekerja menggunakan laptop, diskusi,baca buku, atau sekadar menikmati suasana yang tenang.


Hal yang paling menarik perhatianku adalah adanya area yang menampilkan berbagai karya ilustrator dan kreator lokal. Mulai dari art print, stiker, postcard, notebook, hingga berbagai merchandise unik dipajang dengan sangat menarik. Rasanya seperti masuk ke toko kecil yang dipenuhi karya seni. Setiap lihat karyanya, tuh, aku selalu bilang “iiiihh lucu, iiih gemes banget!” Jadi pingin punya semuanyaaaa! :D 


Nah, dii dalam Senyawa+ Space ini juga terdapat Saharsa Coffee, sebuah coffee shop yang menjadi tempat favorit banyak pengunjung untuk menikmati kopi sambil bekerja ataupun ngobrol santai.


Seperti yang aku bilang, agenda utama kami hari itu adalah journaling. Beberapa jam kami habiskan dengan menulis di journal masing-masing sambil sesekali mengobrol dan bertukar cerita. Tentunya juga sambil melihat stiker-stiker lucu yang kami beli juga di sana dan juga menegak minuman masing-masing yang kami beli di Saharsa Coffee.



Rencana Pulang yang Berubah Mendadak

Karena nggak bisa terlalu lama di sana (maklum anak-anak sudah mau pulang sekolah), kami pun memutuskan untuk segera kembali ke Depok. Nah, awalnya kami berniat mengulang rute saat datang, yaitu berjalan kaki menuju Stasiun Cikini.


Namun, nggak lama setelah keluar dari Senyawa+ Space, sebuah Mikrotrans terlihat dari kejauhan. Kami bertiga saling berpandangan beberapa detik. Rasanya, tuh, kayak sama-sama punya pikiran “Guys, kita mesti coba, nih, naik Mikrotrans. Siapa tahu lewat depan Stasiun Cikini!” :D 


Dan benar saja, ketika MIkrotrans makin dekat dan berhenti tepat di depan kami, kami pun langsung naik setelah tahu kalau Mikrotrans ini juga berhenti di depan Stasiun Cikini. 


Dan di situlah pengalaman pertamaku naik Mikrotrans dimulai.



Pengalaman Pertama Naik Mikrotrans

Begitu masuk ke dalam kendaraan, aku ngerasanya kami masih sedikit bingung. Wajar, sih, soalnya, kan ini pertama kali aku dan teman-teman naik Mikrotrans.


Nah, aku memang sudah membawa kartu e-money, tetapi belum tahu kapan harus melakukan tap kartu. Karena masih sama-sama kebingungan, kami langsung duduk terlebih dahulu.


Untungnya, penumpang lain yang berada di dalam Mikrotrans dengan memberi tahu kalau bisa langsung tap pas masuk. Setelah duduk pun nggak masalah untuk tap kartunya. 


Kartu e-money ditempelkan pada mesin yang tersedia di dalam Mikrotrans. Penumpang pun ngasih tahu kalau pas turun kartu e-money di-tap kembali. Ternyata caranya sangat mudah, ya. 


Aku pun ngerasa senang karena ternyata penumpang lain juga sangat membantu kami yang baru pertama kali menggunakan Mikrotrans. :D 





Selama perjalanan, kami juga sempat ngobrol sebentar dengan seorang ibu yang duduknya di dekat kami.


Beliau baru saja berobat dari RSCM dan hendak menuju Stasiun Cikini untuk melanjutkan perjalanan pulang menggunakan kereta. Menurutku, momen singkat seperti ini justru membuat perjalanan terasa hangat. :)



Ternyata Naik Mikrotrans Gratis!

Hal yang paling membuatku kagum adalah ketika mengetahui bahwa tarif Mikrotrans adalah Rp0 alias gratis.


Tentu saja ada syaratnya. Penumpang tetap harus melakukan tap kartu uang elektronik saat naik dan kembali melakukan tap saat turun dari kendaraan.


Jadi meskipun nggak ada biaya perjalanan yang dipotong, proses tap tetap wajib dilakukan sebagai bagian dari sistem pencatatan perjalanan. Menurutku ini kebijakan yang sangat membantu masyarakat.


Bayangin saja, warga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu mengeluarkan ongkos tambahan untuk perjalanan menggunakan Mikrotrans.


Bagi pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat yang setiap hari menggunakan transportasi umum, fasilitas seperti ini tentu sangat meringankan biaya transportasi.



Jakarta dan Transportasi Umumnya yang Semakin Nyaman

Aku benar-benar senang melihat perkembangan transportasi umum di Jakarta. Mulai dari KRL, MRT, LRT, Transjakarta, hingga Mikrotrans, semuanya saling terhubung dan semakin memudahkan mobilitas masyarakat.


Bahkan bagi orang seperti aku yang dari Depok dan nggak setiap hari beraktivitas di Jakarta, keberadaan transportasi umum ini sangat membantu.


Nggak heran jika kini semakin banyak orang mulai beralih menggunakan transportasi umum. Selain lebih hemat, cara ini juga membantu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan.


Perjalanan ke Senyawa+ Space yang awalnya hanya ingin menjadi waktu berkualitas bersama teman-teman untuk journaling, ternyata perjalanan pulangnya justru memberikan cerita yang berkesan.


Kalau nanti berkunjung lagi ke Cikini, sepertinya aku nggak akan ragu untuk kembali naik Mikrotrans. Bahkan, sekarang aku jadi penasaran ingin mencoba rute-rute lainnya. :)




Dita Indrihapsari


5 Hotel dengan Fasilitas Perpustakaan



Belakangan ini, semakin banyak hotel yang punya fasilitas perpustakaan sebagai nilai tambah bagi tamunya. Bukan sekadar rak buku di sudut ruangan aja, beberapa hotel bahkan memiliki perpustakaan dengan desain estetik, koleksi buku beragam, hingga suasana yang membuat tamu hotel betah untuk berlama-lama.


Aku pernah beberapa kali menginap di hotel dengan fasilitas perpustakaan ini. Wah, rasanya senang sekali begitu tahu pihak hotel aware dengan dunia literasi. Apalagi saat ini tingkat literasi di negara kita, kan, juga masih tergolong rendah, ya. Makanya kalau ada hotel yang punya fasilitas perpustakaan, tuh, aku sangat apresiasi. 


Kalau Manteman sedang mencari inspirasi staycation yang berbeda dari biasanya, berikut lima hotel dengan fasilitas perpustakaan yang menarik untuk dikunjungi.



1. Paviliun Raden Saleh, Menginap Dekat Salah Satu Perpustakaan Terbaik di Jakarta


Image: Booking.com


Lokasi Paviliun Raden Saleh yang berada di dalam kompleks TIM membuat tamu hotel memiliki akses mudah ke berbagai fasilitas seni, budaya, dan literasi yang ada di kawasan tersebut. Salah satu yang paling menarik tentu saja adalah Perpustakaan Jakarta.


Perpustakaan Jakarta saat ini menjadi salah satu perpustakaan publik paling populer di Indonesia. Setelah direvitalisasi, tempat ini tampil modern dengan desain yang nyaman dan koleksi buku yang sangat beragam.


Aku sendiri jujur aja belum pernah main ke TIM lagi setelah direvitalisasi. Makanya pingin banget suatu hari nanti menginap di Paviliun Raden Saleh sekaligus mengajak anak-anak membaca di Perpustakaan Jakarta ini. :) 



2. Novotel BSD, Punya Secret Library yang Viral

Image: Booking.com


Belum lama dibuka, Hotel Novotel BSD langsung mencuri perhatian para pencinta staycation, nih. Salah satu fasilitas yang paling banyak dibicarakan di social media adalah perpustakaannya yang bernama Secret Library.


Sesuai namanya, perpustakaan ini dirancang seperti ruang rahasia gitu. Pintu masuknya dibuat menyatu dengan desain interior sehingga nggak langsung terlihat oleh pengunjung. 


Begitu masuk ke dalam, pengunjung akan disambut suasana hangat dengan desain yang modern dan estetik. Rak-rak buku tertata rapi dan sangat tinggi. Kalau yang aku lihat dari video-video yang beredar di social media juga pencahayaannya terang dan membuat nyaman. Di dalamnya juga terdapat deretan kursi-kursi dan meja. 


Koleksi bukunya pun nggak main-main, lho. Tersedia sekitar 1000 buku dari berbagai genre, mulai dari motivasi, pengembangan diri, sastra, hingga buku-buku populer lainnya. 


Dengan desainnya yang menarik dan estetik, nggak heran kalau Secret Library sempat viral di media sosial dan menjadi salah satu daya tarik utama Hotel Novotel BSD. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menginap, tapi juga ingin merasakan pengalaman membaca di perpustakaan yang unik tersebut.



3. Hotel Kuretakeso Kemang, Surganya Pencinta Manga



Beberapa tahun lalu aku pernah menginap bersama keluarga di Hotel Kuretakeso Kemang dan menuliskan pengalamannya di blog. Saat menginap di sana, hotel bertema Jepang ini memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hotel-hotel lain di Jakarta.


Selain desain interior yang kental dengan nuansa Negeri Sakura, hotel ini juga memiliki fasilitas onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Namun, ada satu fasilitas yang menurutku juga sangat menarik, yaitu Manga Corner.


Manga Corner merupakan perpustakaan mini yang berisi berbagai komik Jepang populer. Saat aku berkunjung, tersedia banyak judul terkenal seperti One Piece, Naruto, Fairy Tail, Detective Conan, hingga Kobochan.


Menariknya lagi, sebagian besar koleksi komik tersebut menggunakan bahasa Jepang asli. Jadi, selain membaca, fasilitas ini juga bisa menjadi sarana belajar bahasa Jepang, ya.


Bagi penggemar budaya Jepang, keberadaan Manga Corner tentu menjadi nilai tambah yang membuat pengalaman menginap di Hotel Kuretakeso terasa lebih menyenangkan. 



4. Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung, Perpustakaan yang Menyimpan Jejak Sejarah



Tahun lalu aku dan keluarga menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung. Sampai sekarang, hotel ini masih menjadi salah satu hotel favoritku di Belitung.


Lokasinya berada tepat di tepi pantai yang tenang, Cocok banget buat jia-jiwa introvert-ku… :D  


Di balik fasilitas pantai pribadinya, ternyata hotel ini juga memiliki perpustakaan yang cukup unik. Bukan hanya menyediakan buku bacaan, perpustakaan ini turut menyimpan berbagai koleksi peninggalan Lo Sam Kie.


Lo Sam Kie merupakan seorang sinshe atau ahli pengobatan tradisional Tionghoa yang berasal dari Guangdong, Cina. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1901 dan kemudian dikenal luas di Belitung karena dedikasinya membantu masyarakat melalui ilmu pengobatan yang dimilikinya.


Di area perpustakaan, pengunjung dapat melihat berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan kehidupannya. Kehadiran koleksi tersebut membuat perpustakaan ini terasa seperti perpaduan antara ruang baca dan mini museum.


Aku suka sekali dengan konsep seperti ini. Saat membaca buku, kita juga bisa belajar tentang sejarah lokal dan mengenal tokoh penting yang pernah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat setempat.


Nah, untuk koleksi bukunya menurutku memang nggak terlalu banyak. Namun ada beberapa novel populer dan klasik di hotel ini. 



5. The Orient Jakarta, Perpustakaan Mewah The Library Lounge

Image: Booking.com


Aku sebenarnya belum pernah menginap di The Orient Jakarta. Namun, setelah membaca tulisan Mba Annie Nugraha tentang The Library Lounge di blognya, aku langsung memasukkan hotel ini ke dalam daftar tempat yang ingin aku kunjungi. :D


Hotel bintang lima yang berada di kawasan Sudirman ini memang dikenal memiliki desain interior yang unik. Nuansa mewahnya berpadu dengan sentuhan budaya Indonesia yang kuat.


Salah satu fasilitas menarik di hotel ini adalah The Library Lounge yang berada di lantai lima. Dari foto-foto yang kulihat, suasananya terasa sangat homey sekaligus elegan.


Interiornya memadukan unsur vintage dan modern. Ada kursi-kursi kayu tempo dulu, ornamen batik, relief artistik, hingga dekorasi yang membuat ruangan terasa hangat. 


Alih-alih terlihat formal seperti perpustakaan pada umumnya, tempat ini justru menghadirkan suasana seperti ruang keluarga yang nyaman.


Selain membaca buku, pengunjung ternyata juga bisa menikmati makanan dan minuman yang tersedia di area lounge. Kebayang, kan, asyiknya duduk santai di sofa empuk, ditemani secangkir kopi hangat dan buku menarik di perpustakaan mewah. 



Baca Juga: 5 Hotel Tertua di Jakarta dan Sejarahnya



Kelima hotel dan penginapan di atas menunjukkan kalau membaca buku tetap memiliki tempat istimewa dalam pengalaman menginap.


Ada yang menghadirkan perpustakaan rahasia yang viral, ada yang menyediakan koleksi manga Jepang, ada pula yang menggabungkan literasi dengan sejarah dan budaya.


Kalau Manteman mau menginap di hotel dengan fasilitas perpustakaan yang mana? Atau ada hotel dengan fasilitas membaca yang belum aku sebutkan di atas? Yuk, share di kolom komentar di bawah, yaa… 




Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *