Bosan dengan Label "Serasa di Jepang" atau "Vibes Bali" pada Tempat Wisata



Belakangan ini, setiap kali melihat konten tentang tempat wisata, hotel, atau penginapan di media sosial, ada satu hal yang mulai sering membuatku merasa bosan. Yap, sesuai judul tulisan aku ini. Aku mau sedikit curhat soal penggunaan label yang membandingkan sebuah tempat dengan destinasi lain. :D


Misalnya, ada penginapan yang disebut punya vibes Bali. Ada tempat wisata yang katanya serasa sedang berada di Jepang. Atau sebuah resort yang suasananya mirip seperti di Eropa.


Sebenarnya, beberapa kali saat membuat konten di media sosial, aku juga pernah menggunakan kalimat serupa. Misalnya, menyebut sebuah tempat punya vibes seperti di suatu negara atau menggambarkannya sebagai tempat ala destinasi tertentu. Hehehe…. :D 


Aku paham banget, kok, penggunaan kalimat seperti itu memang bisa membantu orang jadi ngebayangin suasana sebuah tempat. Apalagi kalau audiens belum pernah berkunjung ke sana. Perbandingan seperti itu terkadang jadi cara yang praktis untuk menggambarkan sesuatu.


Tapi, entah kenapa, belakangan ini aku justru mulai merasa bosan dengan cara promosi seperti ini, ya. Ada yang ngerasain juga nggak, sih, sama apa yang aku rasain ini? 


Aku jadi ngerasa gimana, ya, bertanya-tanya aja, memangnya sebuah tempat wisata harus selalu terlihat seperti destinasi luar negeri atau tempat lain supaya dianggap menarik, ya?



Kenapa Harus Selalu Dibandingkan dengan Tempat Lain?

Kalimat seperti "serasa liburan ke Jepang" atau "nggak perlu jauh-jauh ke Bali" mungkin terdengar lebih menjual dibandingkan sekadar menyebut nama tempat dan fasilitasnya.


Namun, kalau hampir setiap tempat menggunakan pendekatan yang sama, rasanya jadi kurang menarik.


Ada sebuah penginapan dengan bangunan bergaya tropis, langsung disebut punya suasana Bali. Ada taman dengan bunga warna-warni dan bangunan bernuansa tradisional, kemudian dibandingkan dengan Jepang. Ada pula tempat makan dengan bangunan bergaya klasik yang disebut punya nuansa Eropa.


Padahal, belum tentu semuanya benar-benar punya pengalaman yang serupa dengan tempat yang dijadikan pembanding.


Menurutku, ada perbedaan antara memberikan gambaran suasana dan menjadikan destinasi lain sebagai standar untuk menilai daya tarik sebuah tempat.


Aku nggak mempermasalahkan kalau memang ada kemiripan. Toh, inspirasi desain bangunan, arsitektur, maupun konsep tempat kan memang udah dipikirin sama pengelola dari awal, ya. Tapi, apakah setiap kemiripan itu harus selalu dijadikan identitas utama dalam promosinya?



Indonesia Punya Keunikan yang Nggak Kalah Menarik

Kalau dipikir-pikir, negara kita sebenarnya punya begitu banyak keunikan yang bisa diangkat.


Kita punya alam yang beragam, mulai dari pantai, pegunungan, hutan, danau, sampai desa-desa dengan suasana yang masih sangat kental dengan kehidupan lokal.


Belum lagi kekayaan budaya, arsitektur tradisional, kuliner, dan cerita sejarah dari setiap daerah.


Setiap tempat punya karakter masing-masing. Bahkan, dua destinasi yang lokasinya berdekatan aja bisa menawarkan pengalaman yang sangat berbeda.


Misalnya, daripada menyebut sebuah penginapan di kawasan pegunungan sebagai tempat dengan vibes Swiss, kenapa nggak mengangkat suasana pegunungan Indonesia yang ditawarkan? Udara sejuk, pemandangan hijau, kabut pagi, atau kehidupan masyarakat di sekitarnya justru bisa menjadi daya tarik tersendiri.


Begitu juga dengan tempat wisata yang memiliki taman indah atau bangunan unik. Daripada terus-menerus dibandingkan dengan Jepang atau Eropa, kenapa nggak menceritakan konsep, keunikan desain, dan pengalaman yang bisa didapatkan pengunjung?


Menurutku, justru hal-hal seperti inilah yang membuat sebuah destinasi punya identitas.


By the way, apa yang aku tulis barusan di atas sebenarnya buat ngingetin diriku sendiri juga, sih. Yes, karena memang selama ini pun aku melakukan hal itu. Nah, tapi pernah juga ada klien yang memang maunya hook seperti itu ya mau nggak mau aku ikutin… :D Waktu itu mungkin aku juga belum menemukan titik rasa bosannya kayak sekarang. Hehehe…



Promosi yang Menarik Nggak Harus Selalu Pakai Perbandingan

Aku juga jadi kepikiran kalau  cara kita mempromosikan sebuah tempat bisa ikut membentuk ekspektasi orang yang ingin berkunjung.


Ketika sebuah penginapan disebut punya vibes Bali, orang mungkin membayangkan suasana tropis, kolam renang, pepohonan rindang, atau arsitektur khas yang sering mereka temui di Bali.


Ketika sebuah tempat disebut serasa di Jepang, mungkin yang terbayang adalah taman dengan bunga sakura, bangunan tradisional, atau suasana khas Negeri Sakura.


Padahal, setelah datang langsung, pengalaman yang didapatkan bisa aja berbeda.


Bukan berarti tempat tersebut jelek atau nggak menarik. Hanya saja, label yang digunakan sejak awal sudah membentuk ekspektasi tertentu gitu, kan.


Menurutku, akan jauh lebih menarik kalau promosi sebuah destinasi berfokus pada apa yang benar-benar ditawarkan. Hooknya ke situ. Menarik atau nggaknya memang gimana kita meramu kata-katanya. Bisa ceritakan fasilitasnya, suasananya, aktivitas yang bisa dilakukan, pemandangan di sekitarnya, atau pengalaman unik yang mungkin nggak bisa ditemukan di tempat lain.


Nggak perlu selalu mencari kemiripan dengan destinasi yang sudah lebih dulu populer.



Mulai Melihat Keunikan di Setiap Tempat

Setiap tempat punya ciri khasnya masing-masing, rasanya sayang kalau keunikan tersebut hanya dijadikan embel-embel dari destinasi lain.


Suatu tempat nggak harus disebut jadi Bali versi lain, Jepang versi lokal atau Eropa dalam bentuk miniatur agar menarik untuk dikunjungi.


Kita punya identitas sendiri. Kita punya cerita, budaya, alam, dan pengalaman yang layak untuk diperkenalkan apa adanya.


Jadi, mungkin sudah waktunya kita mulai mengubah cara memandang dan mempromosikan tempat wisata kali, yaa. Bukan lagi sibuk mencari kemiripan dengan destinasi lain baik di luar negeri maupun dalam negeri, tapi lebih banyak menggali dan menceritakan apa yang membuat tempat tersebut istimewa.


Sebuah tempat sebenarnya nggak harus mirip dengan tempat lain untuk bisa menjadi destinasi yang menarik… Iya, kan…? 😀



Dita Indrihapsari



Aturan Menggunakan Gerbong Restorasi Kereta Api


Buat yang sering bepergian menggunakan kereta api jarak jauh atau antarkota, pasti sudah nggak asing lagi dengan yang namanya gerbong restorasi atau kereta makan. Iya, kan? :D Gerbong ini jadi salah satu fasilitas yang cukup menarik perhatian penumpang, apalagi buat mereka yang ingin menikmati makanan sambil melihat pemandangan sepanjang perjalanan. :)


Aku sendiri termasuk orang yang cukup familiar dengan perjalanan menggunakan kereta api. Sejak kecil, setiap liburan sekolah, keluargaku hampir selalu pergi ke Solo untuk mengunjungi rumah Eyang. Bisa dibilang, naik kereta api sudah menjadi bagian dari kenangan masa kecilku.


Namun, ada satu hal yang baru aku lakukan setelah berkeluarga, yaitu menikmati makanan langsung di gerbong restorasi. :D 



Pengalaman Makan di Gerbong Restorasi Kereta Api

Dulu, setiap kali bepergian naik kereta api bersama keluarga, Mama selalu menyiapkan bekal makanan dari rumah atau membelinya di jalan untuk bekal. Jadi, selama perjalanan kami lebih sering makan bersama di tempat duduk masing-masing aja.


Selain membawa bekal, dulu pedagang makanan juga masih cukup banyak yang bisa masuk ke dalam kereta, kan. Jadi, kalau ingin membeli makanan atau minuman, tinggal menunggu pedagang lewat atau membeli sesuatu di stasiun.


Itulah sebabnya meskipun sudah sering naik kereta api sejak kecil, aku justru belum punya banyak pengalaman makan di gerbong restorasi… Hehe…


Nah, setelah berkeluarga dan mulai sering bepergian bersama suami dan anak-anak, aku jadi punya keinginan untuk mencoba pengalaman tersebut. Rasanya seru juga, ya, sesekali ninggalin tempat duduk sendiri, jalan ke gerbong restorasi, terus nikmatin makanan di sana.


Pengalaman makan di gerbong restorasi ini pernah aku ceritakan juga di artikel ini, ya:

Asyiknya Makan di Gerbong Restorasi Kereta Api Gajayana


Waktu itu, aku dan anak-anak menikmati makanan sambil melihat pemandangan dari jendela kereta yang cukup besar. Kami memesan mie ayam dan cuanki. Hehe… Keliatannya kayak sederhana, ya, tapi rasanya menyenangkan sekali!


Anak-anak pun ternyata ikut senang. Bahkan, keberadaan gerbong restorasi menjadi salah satu hal yang mereka nantikan, lho, setiap kali naik kereta api jarak jauh.


Sejak saat itu, kalau ada kesempatan bepergian ke luar kota menggunakan kereta api, aku biasanya menyempatkan diri untuk mampir ke gerbong restorasi. Nah, biasanya kami sekeluarga bakal gantian ke gerbong restorasinya. Pokoknya antara aku atau suamiku harus masih ada di kursi untuk jaga barang… :) 



Fenomena Gerbong Restorasi yang Ramai Jadi Perbincangan

Namun, belakangan ini aku beberapa kali menemukan cerita dan keluhan di media sosial tentang penggunaan gerbong restorasi.


Salah satu yang cukup sering dibahas adalah gerbong restorasi yang penuh oleh penumpang. Menariknya, ternyata nggak semua orang yang duduk di sana sedang menikmati makanan atau minuman.


Ada yang terlihat sedang membuka laptop dan bekerja. Bahkan, ada juga yang duduk cukup lama meskipun nggak sedang makan ataupun melakukan aktivitas pekerjaan.


Hal seperti ini tentu menimbulkan pro dan kontra, ya.


Di satu sisi, gerbong restorasi memang menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Suasananya berbeda dari gerbong penumpang biasa. Ada meja, kursi, jendela besar, dan kita bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan perjalanan.


Apalagi buat penumpang yang melakukan perjalanan panjang, mungkin duduk di gerbong restorasi terasa seperti mendapatkan suasana baru setelah berjam-jam berada di kursi penumpang. Kalau bosan kayaknya gerbong restorasi memang bisa jadi andalan banget, kan. 


Namun, di sisi lain, kita juga perlu paham kalau kapasitas gerbong restorasi terbatas. Kalau terlalu banyak penumpang yang duduk berlama-lama, tentu orang lain yang ingin makan di sana bisa kesulitan mendapatkan tempat.


Terus, sebenarnya gimana aturan menggunakan gerbong restorasi kereta api?



Aturan Menggunakan Gerbong Restorasi Kereta Api

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami dulu fungsi utama gerbong restorasi, nih.


Gerbong restorasi merupakan fasilitas kereta api yang disediakan untuk melayani kebutuhan makan dan minum penumpang. Di dalamnya terdapat area pemesanan makanan, dapur untuk menyiapkan hidangan, serta meja dan kursi untuk penumpang yang ingin menikmati makanan atau minuman.


Jadi, meskipun suasananya mungkin terlihat seperti kafe atau restoran kecil, fungsi utamanya tetap sebagai tempat makan selama perjalanan kereta api.


Nah, aku mengutip informasi yang pernah disampaikan PT KAI di Threads 13 Agustus 2025, ya. Penumpang yang membeli dan menikmati makanan atau minuman di gerbong restorasi diimbau untuk kembali ke tempat duduk masing-masing setelah selesai.


Hal ini karena kapasitas ruang restorasi terbatas dan perlu digunakan secara bergantian oleh penumpang lainnya.


Dari penjelasan tersebut, ada beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan saat menggunakan fasilitas gerbong restorasi.


1. Gerbong Restorasi Bukan Co-working Space

Ini salah satu hal yang belakangan cukup sering viral di media sosial. Memang, bekerja menggunakan laptop selama perjalanan kereta api bukan sesuatu yang aneh. Apalagi sekarang banyak orang yang bisa bekerja dari mana saja atau menerapkan sistem Work From Anywhere (WFA).


Namun, gerbong restorasi bukanlah ruang kerja bersama atau co-working space.


Kalau memang ingin menyelesaikan pekerjaan menggunakan laptop, sebaiknya lakukan dari tempat duduk masing-masing. Beberapa jenis kereta bahkan sudah menyediakan meja lipat kecil di depan kursi yang bisa digunakan untuk meletakkan laptop.


Kalaupun ada penumpang yang sesekali membuka laptop ketika sedang menikmati makanan di gerbong restorasi, tentu berbeda ceritanya dengan mereka yang sengaja menempati meja dalam waktu lama hanya untuk bekerja.


Apalagi kalau sampai melakukan rapat daring dengan suara yang mengganggu penumpang lain.



2. Segera Kembali ke Tempat Duduk Setelah Selesai Makan

Menurutku, ini termasuk etika paling penting saat berada di gerbong restorasi, ya.


Setelah selesai menikmati makanan dan minuman, sebaiknya kita nggak berlama-lama lagi di sana. 


Jumlah meja dan kursi di gerbong restorasi nggak sebanyak kursi penumpang dalam satu rangkaian kereta. Sementara itu, ada banyak penumpang yang mungkin ingin menikmati makanan di sana.


Jadi, memberikan kesempatan kepada penumpang lain untuk menggunakan fasilitas yang sama merupakan bentuk kepedulian kita.


Kita juga perlu memahami kalau nggak semua penumpang punya kesempatan atau waktu yang sama untuk datang ke gerbong restorasi. Ada yang baru bisa mampir saat jam makan siang, makan malam atau ketika perjalanan sudah berlangsung beberapa jam.


Dengan menggunakan fasilitas sesuai kebutuhan, penumpang lain pun bisa mendapatkan kesempatan yang sama.



3. Sebaiknya Membeli Makanan atau Minuman dari Gerbong Restorasi

Kalau memang ingin duduk dan menikmati suasana gerbong restorasi, sebaiknya pesan makanan atau minuman yang tersedia di sana.


Pilihannya cukup beragam, mulai dari makanan berat, mi instan, camilan, hingga berbagai jenis minuman.


Saat aku dan keluarga naik Kereta Api Gajayana, misalnya, kami sempat menikmati mie ayam dan cuanki serta minum teh. Ada juga berbagai pilihan minuman dan camilan yang bisa dibeli.


Selain bisa menikmati makanan di tempat yang berbeda, membeli produk yang tersedia di gerbong restorasi juga menjadi bentuk dukungan terhadap layanan makanan dan minuman yang disediakan oleh KAI.


Lalu, gimana kalau kita membawa bekal sendiri dari rumah?


Sebenarnya nggak masalah membawa bekal untuk perjalanan kereta api. Aku pun dulu terbiasa melakukan hal tersebut bersama keluarga.


Namun, sesuai imbauan PT KAI, jika membawa makanan atau minuman sendiri, sebaiknya dinikmati di tempat duduk masing-masing, bukan menggunakan meja dan kursi di gerbong restorasi, ya.



4. Jaga Kebersihan Meja dan Area Makan

Hal lain yang nggak kalah penting adalah menjaga kebersihan setelah selesai makan.


Pastikan sampah kemasan makanan, botol minuman, tisu, atau sisa makanan dibuang ke tempat sampah yang tersedia. Jangan meninggalkan meja dalam keadaan kotor atau berantakan untuk penumpang berikutnya.


Walaupun nantinya ada petugas yang membantu membersihkan area tersebut, bukan berarti kita bisa mengabaikan kebersihan begitu saja.



Gunakan Gerbong Restorasi dengan Bijak, Yuk!

Menurutku, keberadaan gerbong restorasi merupakan salah satu fasilitas yang membuat perjalanan kereta api jarak jauh semakin menyenangkan.


Apalagi sekarang pengalaman naik kereta api bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain. Ada banyak hal yang bisa dinikmati selama perjalanan, termasuk mencicipi makanan di dalam kereta sambil melihat pemandangan dari jendela.


Aku sendiri masih senang menyempatkan diri ke gerbong restorasi setiap kali melakukan perjalanan antarkota. Begitu juga anak-anak yang selalu antusias kalau diajak makan di sana. :D


Namun, setelah mengetahui lebih jauh mengenai fungsi dan ketentuan penggunaannya, rasanya kita juga perlu lebih bijak saat memanfaatkan fasilitas ini.


Nggak ada salahnya menikmati makanan dengan santai, mengobrol sebentar bersama keluarga. Namun, jangan sampai kenyamanan kita justru mengurangi kesempatan penumpang lain untuk menikmati fasilitas yang sama.


Apalagi, gerbong restorasi merupakan fasilitas bersama yang kapasitasnya terbatas.


Jadi, yuk, gunakan gerbong restorasi sesuai fungsinya. Kalau sudah selesai makan, berikan kesempatan kepada penumpang lain untuk menikmati pengalaman yang sama.


Kalau Manteman sendiri, bagaimana? Apakah termasuk yang suka makan di gerbong restorasi setiap kali naik kereta api jarak jauh? Atau justru lebih nyaman menikmati bekal makanan dari tempat duduk masing-masing?


Yuk, cerita di kolom komentar! :)




Dita Indrihapsari


Pengalaman Pertama ke Natuna, dari Pantai Indah, Sunset, dan Perjalanan Naik Pesawat ATR

pengalaman-pertama-ke-natuna-alamnya-indah-banget


Perjalananku ke Natuna sekitar tiga tahun lalu ternyata ninggalin kesan dan kenangan yang nggak terduga! :)  Dari perjalanan singkat ke pulau itu, ada pengalaman yang terus kuingat sampai bertahun-tahun kemudian.


Saat itu, aku berkesempatan mengunjungi Natuna untuk urusan pekerjaan. Perjalanan menuju salah satu wilayah kepulauan di Provinsi Kepulauan Riau ini cukup panjang. 


Aku berangkat dari Jakarta ke Pontianak dulu dengan pesawat karena di Pontianak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Lalu dari Pontianak barulah aku dan teman-temanku menggunakan kapal laut dan baru tiba di Natuna setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua malam.


Sementara itu, perjalanan pulangnya justru memberikan pengalaman baru yang nggak kalah berkesan. Untuk kembali ke Jakarta, aku harus naik pesawat kecil dari Natuna menuju Batam, lalu melanjutkan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta.


Makanya kalau diingat-ingat lagi, perjalanan ke Natuna ini kayak punya ceritanya sendiri. Mulai dari perjalanan panjang menuju lokasi, pemandangan alam yang bikin takjub, sampai pengalaman pertama naik pesawat ATR yang sukses bikin aku deg-degan setengah mati! :)



Perjalanan ke Natuna yang Panjang

Natuna bukan destinasi yang bisa aku datangi begitu saja dari Jakarta dengan perjalanan singkat. Ada beberapa tahapan perjalanan yang harus dilalui, dan pengalaman aku saat itu cukup berbeda dari perjalanan ke kota-kota lain yang pernah aku kunjungi.


Aku berangkat dari Pontianak menggunakan kapal laut. Perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar dua malam kalau ingatanku nggak meleset, ya. Maklum, perjalanan ini sudah cukup lama jadi aku memang agak lupa-lupa ingat. :D 


Pengalaman naik kapal menuju Natuna sebenarnya sudah pernah aku ceritakan juga dalam tulisan tentang pengalaman naik KM Bukit Raya. Jadi, kali ini aku nggak akan membahas perjalanan lautnya terlalu panjang, ya.


Selama ini, kalau membayangkan perjalanan ke luar kota untuk urusan pekerjaan, mungkin yang terlintas adalah naik pesawat dan tiba beberapa jam kemudian. Namun, perjalanan menuju Natuna mengingatkan aku bahwa kondisi geografis setiap daerah di Indonesia berbeda-beda. 


Asli, sebagai orang yang selalu hidup di kota dan dekat dengan Jakarta, aku nggak bisa ngebayangin gimana kalau hidup di daerah 3T. Dan kalau aku ngalamin sendiri, memang hidup dekat Jakarta memang sebuah privilege tersendiri karena kemudahan segala-galanya… Ah, agak sedih sebenernya kalau ingat lagi gimana akses untuk ke daerah 3T dan fasilitas untuk masyarakatnya yang ada juga sangat terbatas… 


Sebagai negara kepulauan, negara kita punya banyak wilayah yang membutuhkan perjalanan khusus untuk bisa dijangkau. Natuna menjadi salah satu tempat yang membuat aku merasakan sendiri bagaimana jarak dan akses transportasi itu di daerah 3T jadi tantangan banget.


Meski datang untuk bekerja, aku tetap senang karena mendapatkan kesempatan melihat langsung salah satu wilayah Indonesia yang sebelumnya mungkin hanya aku kenal dari peta atau berita.


Dengan segala keterbatasan akses dibanding ibukota negara, aku sama sekali nggak nyesel bisa ke Natuna. Ya, karena memang seindah itu alamnya! :’) 



Jatuh Hati pada Pantai di Natuna

Kalau ditanya apa yang paling aku ingat dari Natuna, salah satunya tentu saja keindahan alamnya.


Natuna punya pantai dengan batu-batu besar yang mengingatkan aku pada pantai-pantai di Belitung. Bebatuan granit yang tersebar di kawasan pesisir membuat pemandangannya terlihat khas gitu.


Buat aku, pemandangan seperti ini punya daya tarik tersendiri. Perpaduan antara laut, pasir pantai, dan batu-batu besar menciptakan lanskap yang berbeda dari pantai yang hanya memiliki hamparan pasir.


Pastinya melihatnya secara langsung tentu memberikan kesan yang berbeda dibandingkan hanya melihat foto di internet.


Aku memang nggak punya banyak waktu untuk mengeksplorasi Natuna saat itu. Tujuan utama kedatangan aku adalah pekerjaan, jadi kesempatan untuk berkeliling dan menikmati berbagai destinasi wisata juga terbatas.


Namun, dari apa yang sempat aku lihat, Natuna punya potensi keindahan alam yang membuat aku pingin banget bisa lebih eksplor pulau ini.


Aku jadi ngabayangin gimana rasanya kalau suatu hari bisa kembali ke Natuna bukan untuk bekerja, melainkan khusus untuk berwisata. :D 


Pasti nyenengin  kalau punya waktu lebih banyak untuk menikmati pantainya, melihat berbagai sudut alamnya, dan mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat didatangi dalam perjalanan sebelumnya.


Dan tentunya aku juga mau banget menginap kembali di Adiwana Jelita Sejuba. Satu malam saat itu di resort hotel yang punya pantai privat ini rasanya kurang banget! :D 



Sunset Cantik dalam Perjalanan dari Pelabuhan ke Hotel

Oiya, ada satu momen lain yang masih aku ingat dari perjalanan ke Natuna, yaitu ketika melihat sunset dalam perjalanan dari pelabuhan menuju hotel.


Masya Allah, bagus banget!


Pemandangan matahari terbenam memang selalu punya daya tarik tersendiri, ya, Manteman. Apalagi ketika bisa melihatnya di tempat yang baru pertama kali dikunjungi.


Momen sunset saat itu menjadi salah satu kenangan yang melekat dari perjalananku ke Natuna.


Menariknya, aku nggak sedang berada di lokasi wisata khusus untuk menikmati matahari terbenam. Aku justru melihat pemandangan itu dalam perjalanan menuju hotel.


Sayangnya, saat itu aku dan teman-temanku nggak punya banyak waktu untuk berhenti dan menikmati pemandangannya lebih lama. Perjalanan masih harus berlanjut karena sebentar lagi sudah mau malam.


Meski begitu, pemandangan matahari terbenam tersebut tetap menjadi salah satu hal yang aku ingat ketika membicarakan Natuna. :)



Pengalaman Pertama Naik Pesawat ATR, Deg-degan Banget!

Nah, kalau perjalanan berangkat ke Natuna memberikan pengalaman naik kapal laut selama kurang lebih dua malam, perjalanan pulangnya justru menghadirkan pengalaman yang berbeda.


Untuk kembali ke Jakarta, aku harus terbang dari Natuna menuju Batam terlebih dahulu. Dari Batam, barulah aku melanjutkan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta.


Yang membuat perjalanan ini cukup berkesan adalah pengalaman pertama aku naik pesawat ATR.


Jujur, aku deg-degan banget! :D 


Ini pertama kalinya aku naik pesawat kecil seperti itu. Ada perasaan gugup yang muncul karena aku belum pernah merasakan pengalaman  yang sama sebelumnya, kan.


Namanya juga pengalaman pertama, ya. Walaupun perjalanan udara bukan hal yang benar-benar asing buatku, mencoba jenis pesawat yang belum pernah dinaiki sebelumnya tetap bisa menimbulkan perasaan berbeda. Apalagi ini pesawat kecil. 


Kalau diingat sekarang, rasanya agak lucu juga.


Aku yang awalnya deg-degan justru memilih tidur selama penerbangan. Kalau ingatan aku nggak salah, aku tertidur dan baru terbangun ketika pesawat sudah hampir mendarat di Batam.


Lho, tahu-tahu sudah mau sampai saja! :D


Perjalanan dari Natuna ke Batam ini memakan waktu sekitar satu setengah jam, kalau aku nggak salah ingat.


Jadi, alih-alih terus merasa gugup sepanjang perjalanan, aku malah melewatkan sebagian waktu penerbangan dengan tidur.


Entah karena sudah lelah setelah perjalanan sebelumnya atau karena ingin mengalihkan perhatian dari rasa deg-degan, yang jelas tidur menjadi pilihan aku saat itu. Hahaha. :D  


Namun untungnya aku sempat melihat indahnya Natuna dari atas saat sudah berada di dalam pesawat itu… :) 



Natuna, Tempat yang Masih Ingin Aku Jelajahi Lagi

Perjalanan ke Natuna sekitar tiga tahun lalu memang bukan perjalanan wisata yang aku rencanakan secara khusus. Aku datang untuk pekerjaan dan nggak punya banyak waktu untuk menjelajahi berbagai tempat di sana.


Meski begitu, ada beberapa hal yang masih aku ingat sampai sekarang.


Pantai dengan batu-batu besar yang mengingatkan aku pada Belitung, sunset cantik yang terlihat dalam perjalanan dari pelabuhan menuju hotel, masjid raya yang megah, serta pengalaman pertama naik pesawat ATR dalam perjalanan pulang.


Semua itu menjadi bagian dari kenangan aku tentang Natuna. :) 


Aku juga sadar kalau perjalanan ke suatu tempat nggak selalu harus berakhir dengan daftar panjang destinasi yang berhasil dikunjungi. Walaupun belum sempat mengeksplorasi Natuna secara maksimal, aku merasa beruntung pernah mendapatkan kesempatan untuk datang langsung ke sana. :)


Natuna punya keindahan alam yang menarik untuk dijelajahi. Perjalanan menuju ke sana memang membutuhkan waktu, tetapi pengalaman yang didapatkan membuat aku ingin lagi ke pulau itu.


Siapa tahu, suatu harnanti aku bisa kembali ke Natuna untuk menuliskan cerita perjalanan yang baru. Aamiin aamiiiin… :D 


Kalau Manteman sendiri, pernah juga nggak punya pengalaman mengunjungi suatu tempat untuk urusan pekerjaan, tapi justru menemukan hal-hal menarik yang terus diingat sampai sekarang? Yuk, ceritain juga di komen atau di tulisan blog Mnateman juga… 😀



Dita Indrihapsari


7 Kuliner Khas Makassar yang Wajib Dicoba



Beberapa tahun lalu, aku pernah berkunjung ke Makassar bersama keluarga. Waktu itu, anak-anak masih kecil banget dan tujuan perjalanan kami sebenarnya untuk mengikuti outing kantor suami. Jadi, kesempatan untuk menjelajahi kota dan berburu kuliner khasnya memang belum terlalu banyak. Yap, soalnya kami mengikuti jadwal rundown yang sudah ada kan. 


Nah, kalau nggak salah ingat, saat di Makassar itu aku sempat mencicipi Coto Makassar. Sayangnya, aku pun kayak sudah nggak terlalu ingat detail pengalaman makannya. Hehe… :D


Untungnya, sekarang kalau mau makan kuliner khas Makassar, aku nggak mesti pergi jauh-jauh ke sana. :D Di Depok, ada restoran yang menyajikan aneka makanan khas Makassar dan bisa menjadi pilihan saat ingin mencicipi kuliner dari daerah tersebut.


Sebelum bercerita lebih jauh tentang tempat makan itu, yuk, kenalan dulu dengan beberapa kuliner khas Makassar yang menarik untuk dicoba!



1. Coto Makassar

Kalau nyebut kuliner khas Makassar, bisa jadi, nih, Coto Makassar yang paling pertama terlintas di pikiran. Gimana, nggak, soalnya dari namanya aja, kan, memakai nama kota itu, ya… :) 


Coto Makassar merupakan hidangan berkuah dengan bahan utama daging sapi dan bisa dilengkapi jeroan. Salah satu ciri khasnya adalah kuah berwarna kecokelatan dengan rasa gurih dan aroma rempah yang kuat.


Kalau yang aku baca dari referensi, kuahnya dibuat menggunakan berbagai bumbu, termasuk kacang tanah yang dihaluskan hingga menghasilkan tekstur yang khas.


Biasanya, nih, Coto Makassar disantap bersama buras atau ketupat sebagai pengganti nasi. Perpaduan kuah gurih, potongan daging, dan buras membuat hidangan ini cocok dinikmati saat sarapan maupun makan siang.


Aku sendiri pernah mencicipi Coto Makassar saat berkunjung ke Makassar. Belakangan, aku juga kembali mencicipinya ketika makan bersama suami di sebuah restoran khas Makassar di Depok yang tadi aku sebut di atas… :D



2. Sop Konro dan Konro Bakar

Selain coto, ada sop konro yang juga terkenal sebagai kuliner khas Makassar.


Makanan ini menggunakan iga sapi sebagai bahan utama. Kuahnya memiliki warna cokelat gelap. Aroma rempahnya kuat, rasanya gurih yang agak beda dari sup daging pada umumnya.


Warna gelap kuah konro berasal dari penggunaan kluwak/kluwek. Buat Manteman pencinta rawon pasti udah nggak asing, kan, ya sama nama bumbu ini.  Yap, kluwek dipakai juga untuk membuat rawon sehingga warna kuahnya hitam. 


Nah, buat Manteman yang lebih suka makanan dengan tekstur sedikit kering, ada juga konro bakar. Iga sapi dimasak terlebih dahulu hingga empuk, kemudian dibakar dengan bumbu hingga aromanya semakin menggugah selera. 


Duh, pas nulis ini aku, tuh, jadi pingin banget rasanya makan konro bakar. Kebayang enaknya makan iga empuk yang bumbunya meresap! :D 


Baca Juga: Menjajal Berbagai Wahana di Trans Studio Makassar



3. Pallubasa

Pallubasa juga termasuk kuliner berkuah khas Makassar yang layak masuk daftar makanan untuk dicoba.


Sekilas, hidangan ini memang terlihat mirip dengan Coto Makassar karena sama-sama menggunakan daging sapi atau jeroan dan memiliki kuah berwarna kecokelatan.


Nah, bedanya, Pallubasa punya kuah yang agak berbeda. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan kelapa parut sangrai yang menambah aroma dan rasa gurih pada masakan ini.


Pallubasa biasanya disantap bersama nasi putih. Ada juga yang menambahkan kuning telur ke dalam kuahnya yang panas. Alhasil teksturnya pun jadi lebih kaya gitu!


Kalau Manteman termasuk pencinta makanan berkuah dengan cita rasa rempah yang kuat, Pallubasa bisa menjadi pilihan menarik saat berkunjung ke Makassar atau kalau datang ke restoran khas Makassar di kota Manteman. 



4. Mie Titi

Nah, kalau pingin mencoba kuliner Makassar selain makanan berkuah daging, ada Mie Titi.


Saat pertama kali melihat hidangan ini, aku langsung teringat dengan ifumie. Mienya digoreng sampai kering, kemudian disiram kuah kental yang berisi sayuran dan biasanya dilengkapi ayam atau seafood.


Perpaduan mi yang renyah dengan kuah gurih membuat Mie Titi punya sensasi makan yang seru! Hihi… Tekstur mi perlahan berubah setelah terkena kuah, tetapi justru itulah yang menurutku membuat hidangan ini jadi unik.


Aku sendiri sudah mencicipi Mie Titi saat makan bersama suami di Daeng Carammeng. Pengalaman makan di sana sudah pernah aku ceritakan di blog, ya. Buat yang penasaran dengan suasana restoran dan menu yang kami pesan, Manteman bisa membaca tulisanku di sini:

Daeng Carammeng, Restoran Khas Makassar di Depok



5. Jalangkote

Kalau sedang ingin ngemil, ada kuliner khas Makassar, yaitu jalangkote yang bisa dicoba.


Jalangkote merupakan camilan yang bentuknya sekilas mirip pastel. Bagian luarnya kulit tipis, sedangkan bagian dalamnya berisi campuran bahan seperti sayuran, bihun, dan terkadang ada telur atau daging.


Salah satu hal yang membedakannya dari pastel adalah cara penyajiannya. Jalangkote biasanya dinikmati bersama sambal atau saus bercita rasa asam dan pedas.


Menurutku, camilan seperti ini cocok banget dinikmati saat sore hari sambil minum teh atau kopi. Kalau sedang berwisata kuliner di Makassar, jalangkote bisa menjadi pilihan untuk mengisi perut di sela-sela kita menjelajahi kota. Jadi kangen, deh, pingin ke Makassar lagi… :) 


Baca Juga: Menyusuri Sungai Pute di Maros Sulawesi Selatan



6. Pisang Epe

Makassar juga punya kuliner berbahan dasar pisang yang menarik untuk dicoba, yaitu pisang epe.


Berbeda dengan es pisang ijo, pisang epe disajikan dalam keadaan hangat. Pisang yang dipakai untuk bikin makanan ini biasanya pisang kepok yang belum terlalu matang. Pisang dipanggang kemudian dipipihkan. Setelah itu, pisang diberi saus gula merah yang manis.


Sederhana, tetapi perpaduan aroma pisang panggang dan saus gula merah membuat camilan ini keliatan spesial!


Pisang epe juga dikenal sebagai salah satu jajanan yang bisa ditemukan di kawasan Pantai Losari. Wah, aku jadi inget, deh, waktu itu keliling Pantai Losari sambil dorong stroller. Sekarang anakku yg di stroller sudah kelas 5 SD. Time flies so fast, ya! :D 



7. Es Pisang Ijo

Dari sekian banyak kuliner khas Makassar, ada satu makanan yang paling menarik buatku. Nggak lain dan nggak bukan, yaitu es pisang ijo. :D 


Kalau mengikuti cerita di blog ini, mungkin Manteman sudah tahu kalau aku memang suka es pisang ijo. Bahkan, keinginan untuk menikmati menu penutup khas Makassar inilah yang akhirnya membuatku mencari restoran khas Makassar di sekitar rumah. Hihi…


Es pisang ijo dibuat dari pisang yang dibalut adonan berwarna hijau, kemudian disajikan bersama bubur sumsum, sirup manis, dan es. Ada juga variasi penyajian yang menggunakan tambahan susu kental manis.


Buatku, daya tarik es pisang ijo nggak hanya pada rasanya yang manis, tetapi juga perpaduan teksturnya.


Ada pisang yang lembut, balutan adonan dari tepung warna hijau yang kenyal, serta bubur sumsum yang halus. Ketika semuanya dinikmati bersama sirup dan es, rasanya jadi semakin nyeeesss, gitu, lho! Duh, nggak bisa digambarkan dengan kata-kata enaknya! :D


Aku suka perpaduan rasa manisnya yang terasa pas, apalagi kalau disantap dalam keadaan dingin. Rasanya sulit menolak semangkuk es pisang ijo apalagi saat cuaca sedang panas, yaa. Hehe…


Menariknya, makanan ini juga menjadi alasan di balik pengalaman kulinerku bersama suami di Daeng Carammeng.. Setelah sempat datang ketika restorannya tutup, akhirnya kami berhasil kembali dan mencicipi menu yang sudah lama membuatku penasaran. :D


Kalau Manteman sendiri, sudah pernah mencoba kuliner khas Makassar yang mana saja? Dan kalau harus memilih satu, makanan Makassar apa yang paling jadi favorit Manteman? 😀



Dita Indrihapsari


Sovlo Experience Hub Blok M Hub, Berburu Stamp dan Pernak-pernik Lucu



Beberapa minggu lalu, aku bersama dua temanku, Isti dan Ciwul, jalan-jalan ke kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Kali ini, agenda kami cukup seru, yaitu berburu stamp alias stamp hunting di beberapa tempat. Salah satu destinasi yang sudah masuk daftar kunjungan kami adalah Sovlo Experience Hub yang berada di Blok M Hub.


Buat Manteman yang sudah membaca tulisanku tentang Stamp Hunting di Blok M, pasti tahu kalau Sovlo menjadi salah satu tempat dengan koleksi stamp paling banyak yang kami temukan selama perjalanan.


Namun, ternyata ada hal lain yang membuatku senang berkunjung ke sini. Bukan cuma karena stamp-nya, tetapi juga karena koleksi produk Sovlo yang lucu-lucu banget!



Lokasi Sovlo Experience Hub di Blok M Hub

Sovlo Experience Hub berlokasi di Blok M Hub, Jakarta Selatan. Buat Manteman yang belum tahu, Blok M Hub merupakan pusat perbelanjaan yang dulunya dikenal sebagai Blok M Mal.


Waktu itu, aku dan teman-teman masuk ke Blok M Hub dari arah kafe Jurnal Risa. Dari sana, kami harus berjalan sampai mendekati bagian ujung area untuk menemukan Sovlo Experience Hub.


Jadi, kalau Manteman baru pertama kali berkunjung ke sini, jangan heran kalau perlu sedikit usaha untuk menemukannya, ya. Hehehe… :D


Namun, begitu sampai dan melihat tokonya, rasanya senang banget! Apalagi, aku sudah punya beberapa baju koleksi Sovlo sebelumnya. Makanya, kesempatan berkunjung langsung ke tokonya jadi berasa senengnya. Aplaagi sekarang store Sovlo di Margo City Depok yang di dekat rumahku udah nggak ada.. Hiksss…



Sovlo, Brand Lokal yang Menggandeng Ilustrator Indonesia

Buat Manteman yang belum familiar, Sovlo merupakan brand lokal yang menghadirkan beragam produk dengan desain ilustrasi menarik. Mulai dari pakaian, tas, sampai aksesori, banyak produknya yang menampilkan karya ilustrator lokal.


Aku pribadi salut dengan konsep yang diusung Sovlo. Menurutku, bekerja sama dengan ilustrator lokal merupakan salah satu cara menarik untuk memberi ruang bagi para kreator Indonesia agar karya mereka bisa dinikmati lebih banyak orang.




Apalagi, ilustrasi yang ditampilkan punya karakter tersendiri. Ada yang menggemaskan, penuh warna, unik, sampai mengangkat unsur budaya lokal Indonesia. Jadi, produk yang dihasilkan terasa berbeda dari barang-barang dengan desain yang itu-itu aja.


Nah, hal ini juga yang membuatku tertarik mengoleksi beberapa baju Sovlo. Seru aja rasanya memakai produk yang desainnya punya cerita dan karakter tersendiri. Beda dari yang lain!


Baca Juga: Pengalaman Makan di Obihiro Nikudon Blok M dan Gading Serpong



Melihat Koleksi Baju, Jaket, Tas, hingga Pernak-pernik Lucu

Begitu masuk ke Sovlo Experience Hub, aku langsung tertarik melihat berbagai produk yang dipajang. Ada koleksi baju, jaket, tas, dan aneka aksesori dengan desain ilustrasi yang menarik.


Kalau Manteman suka barang-barang unik, menurutku toko ini bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk dijelajahi. Soalnya, pilihan produknya cukup beragam dan bukan hanya pakaian saja.


Salah satu yang menarik perhatianku adalah berbagai pernak-pernik kecil yang bisa dijadikan aksesori tambahan. Ada banyak pin dengan gambar lucu yang harganya mulai dari Rp5.000-an. Cocok banget buat Manteman yang suka mengoleksi pin atau ingin menambahkan hiasan kecil pada tas dan pouch kesayangan.


Selain pin, tersedia juga stiker, art print dan kartu pos dengan desain ilustrasi yang menarik. Buat yang suka journaling atau scrapbook seperti aku, produk-produk semacam ini tentu menggoda banget, kan,untuk dibawa pulang. Bisa dijadikan dekorasi halaman jurnal sekaligus kenang-kenangan dari perjalanan. 




Ada juga area untuk membuat bag charm sendiri dengan pilihan aksesori yang bisa disesuaikan. Jadi, Manteman bisa berkreasi memilih pernak-pernik sesuai selera untuk membuat hiasan tas yang lebih personal. Ada juga stiker sablon tempel buat di tas gitu. Lucu banget!


Jujur, kalau sudah melihat barang-barang kecil yang lucu seperti ini, rasanya ingin melihat semuanya satu per satu. Pokoknya ati-ati aja kalap kalau ke tempat ini! :D Hahaha!



Berburu 14 Stamp dan Satu Stamp Berseri di Sovlo Experience Hub

Nah, sekarang kita masuk ke alasan utama kedatanganku dan teman-teman ke Sovlo Experience Hub! Yup, kami datang untuk berburu stamp. Dan ternyata, koleksi stamp di sini banyaaaaak banget!


Bayangkan, ada 14 stamp ditambah satu stamp berseri yang bisa kami coba. Kalau biasanya dalam satu tempat tersedia sekitar tiga sampai lima desain stamp, di Sovlo jumlahnya jauh lebih banyak.


Buatku, lima stamp saja sudah termasuk banyak untuk satu lokasi. Jadi, ketika menemukan koleksi sebanyak ini, tentu aja kami langsung bersemangat untuk mencoba semuanya. Hehe :D 


Desain stamp-nya pun beragam. Ada gambar bajaj dengan tulisan Welcome to Negara Blok M, tulisan OTW Blok M, hingga Hidup Negara Blok M. Ada juga ilustrasi Monas yang menjadi salah satu ikon terkenal Jakarta.


Desain-desain tersebut terasa cocok dengan suasana Blok M yang punya karakter khas sebagai salah satu kawasan populer di Jakarta. Hasil cap-nya juga bisa menjadi kenang-kenangan kecil dari perjalanan kami.


Namun, yang paling menarik perhatianku adalah stamp berseri yang terdiri dari lima desain.


Jadi, kelima stamp tersebut bisa dicap secara berurutan untuk membentuk satu gambar utuh. Seru banget, kan?


Karena setiap bagian gambarnya saling menyambung, kami harus memperhatikan posisi saat mencapnya di kertas. Kalau kurang tepat, hasil akhirnya bisa terlihat kurang menyatu. Rasanya seperti menyusun puzzle, tapi menggunakan stempel!




Aku dan teman-teman sampai menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencoba semua stamp yang tersedia. Lama-lama tangan juga terasa pegal karena harus mencap satu per satu. Hahaha…


Tapi, namanya juga sudah telanjur antusias, ya. Kalau belum mencoba semuanya, rasanya kurang puas!


Buat Manteman yang suka journaling, scrapbook, atau mengoleksi stamp dari berbagai tempat, menurutku Sovlo Experience Hub wajib masuk daftar kunjungan. Jangan lupa membawa buku stamp atau kertas yang cukup luas supaya bisa mencoba berbagai desainnya, termasuk stamp berseri.


Baca Juga: Masjid Nurul Iman Blok M Square



Belanja Pernak-pernik Sekaligus Berburu Stamp

Menurutku, salah satu hal menarik dari Sovlo Experience Hub adalah kita bisa melakukan dua aktivitas sekaligus, yaitu melihat-lihat produk lokal dan berburu stamp.


Buatku, ini pengalaman yang menyenangkan karena kunjungan ke toko nggak hanya soal belanja. Ada aktivitas lain yang membuat kita ingin meluangkan waktu lebih lama untuk menjelajahi setiap sudutnya.





Apalagi, kalau datang bersama teman-teman yang punya ketertarikan serupa. Kami bisa saling menunjukkan hasil cap, membandingkan desain, dan ikut senang ketika berhasil mendapatkan stamp yang diinginkan.


Jadi, meskipun awalnya datang dengan misi mengumpulkan stamp, pengalaman berkunjung ke Sovlo terasa lebih lengkap karena ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan. Termasuk kami juga akhirnya beli perintilan di siniiii! :D



Sovlo Experience Hub, Destinasi Menarik untuk Pecinta Barang Lucu

Buatku, Sovlo Experience Hub menjadi salah satu tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi saat menjelajahi Blok M. Selain bisa melihat berbagai produk dengan ilustrasi lokal yang menarik, aku juga mendapatkan pengalaman stamp hunting yang berkesan bareng teman-teman.


Koleksi stamp-nya yang melimpah. Bahkan, kami sampai pegal mencap satu per satu karena saking banyaknya pilihan. Hahaha…


Kalau Manteman berencana jalan-jalan ke Blok M, terutama bersama teman yang suka journaling, mengoleksi aksesori, atau mencari produk lokal yang unik, coba masukkan Sovlo Experience Hub ke daftar kunjungan, deh.


Siapa tahu, awalnya cuma berniat berburu stamp, eh, malah menemukan pernak-pernik lucu yang akhirnya dibawa pulang. :D



Dita Indrihapsari


Pengalaman Naik KA Cakrabuana Cirebon–Gambir Jakarta, Nyaman di Kelas Eksekutif!



Sekitar dua bulan lalu, aku harus melakukan perjalanan ke Cirebon untuk menemani kakakku yang sedang dirawat di rumah sakit. Bukan untuk liburan atau jalan-jalan seperti biasanya, melainkan karena kakakku mengalami kecelakaan saat sedang bekerja di kota tersebut.


Setelah sekitar lima hari berada di Cirebon, akhirnya aku kembali ke Depok dengan menggunakan kereta api. Kali ini, aku memilih Kereta Api Cakrabuana dari Stasiun Cirebon Kejaksan menuju Stasiun Gambir, Jakarta.


Jujur, setelah empat malam tidur beralaskan matras di lantai rumah sakit, rasanya aku ingin menikmati perjalanan pulang dengan lebih nyaman. Makanya, kali ini aku memilih kelas eksekutif. :’)


Ternyata, perjalanan pulang naik KA Cakrabuana ini cukup menyenangkan. Selain waktu tempuhnya relatif singkat, pemandangan sepanjang perjalanan juga membuatku bisa menikmati perjalanan meskipun cuma pergi sendirian.


Nah, di tulisan kali ini aku mau berbagi pengalaman naik KA Cakrabuana dari Cirebon ke Gambir, mulai dari alasan memilih kereta ini, harga tiket, suasana perjalanan, sampai kenyamanan kursi kelas eksekutifnya. 


Siapa tahu bisa menjadi referensi buat Manteman yang berencana bepergian dengan rute yang sama. Yuk, ikuti ceritaku!



Perjalanan ke Cirebon untuk Menemani Kakak di Rumah Sakit

Jadi, ceritanya kakakku, Mba Dina, sedang bertugas di Cirebon ketika mengalami kecelakaan yang cukup parah hingga menyebabkan tulang kakinya patah. Kondisi tersebut membuat kakakku harus menjalani operasi di rumah sakit di Cirebon.


Masalahnya, selama bekerja di sana, kakakku tinggal di kos dan nggak ada keluarga yang menetap di Cirebon. Karena kondisinya membutuhkan pendampingan, aku pun memutuskan untuk berangkat ke sana.


Sebenarnya, aku masih punya kakak yang lain, yaitu Mba Dini. Namun, saat itu iajuga sedang menjalankan tugas pekerjaan di Solo. Rencananya, setelah urusannya selesai, kami akan bergantian menjaga Mba DIna di rumah sakit.


Akhirnya, aku menghabiskan waktu selama lima hari empat malam di Cirebon. Selama di sana, aku menemani kakak menunggu operasi sekaligus membantu merawatnya setelah operasi.


Perjalanan ke Cirebon sendiri aku lakukan dengan naik Kereta Api Blambangan Ekspres dari Stasiun Pasar Senen dan turun di Stasiun Cirebon Kejaksan.


Aku juga sudah menuliskan cerita tentang stasiun ini, mulai dari sejarah, arsitektur, hingga beberapa fasilitas yang sempat aku temui. Kalau Manteman penasaran, bisa membaca tulisan lengkapnya di sini:


Menjelajahi Stasiun Cirebon Kejaksan: Dari Sejarahnya, Arsitektur, sampai Pengalaman Naik Kereta Cakrabuana


Nah, setelah lima hari di Cirebon dan akan bertukar jaga dengan Mba DIni, akhirnya aku bersiap untuk kembali ke Depok. Kali ini, perjalanan pulang akan menjadi cerita tersendiri karena aku mencoba kereta api yang belum pernah aku naiki, yaitu KA Cakrabuana.



Memesan Tiket KA Cakrabuana Sehari Sebelum Keberangkatan

Salah satu hal yang cukup melegakan saat merencanakan perjalanan pulang adalah aku masih bisa mendapatkan tiket KA Cakrabuana meskipun memesannya hanya sehari sebelum keberangkatan. :) 


Alhamdulillah, waktu itu pilihan tempat duduk yang tersedia masih cukup banyak. Jadi, aku masih bisa memilih kursi sesuai kelas yang diinginkan.


Aku sendiri baru tahu kalau KA Cakrabuana itu termasuk layanan kereta yang relatif baru. Kereta ini mulai beroperasi 1 Februari 2025 dengan layanan yang menghubungkan Purwokerto dan Gambir, termasuk perjalanan dari Cirebon menuju Jakarta.




Karena ingin perjalanan pulang terasa lebih nyaman setelah beberapa hari menemani kakak di rumah sakit, aku akhirnya memilih kelas eksekutif.


Pertimbangannya sederhana, sih. Selama empat malam di rumah sakit, aku tidur beralaskan matras di lantai. Walaupun bisa beristirahat, tentu rasanya berbeda dengan tidur di kasur yang nyaman. Jadi, untuk perjalanan pulang, aku ingin sedikit memanjakan diri dengan duduk lebih nyaman selama di kereta.


Harga tiket yang kubayar waktu itu sekitar Rp230.000 untuk kelas eksekutif. Menurutku, harga tersebut masih cukup terjangkau untuk perjalanan dengan fasilitas yang lebih nyaman, apalagi waktu tempuhnya juga relatif singkat.


Oiya, perlu diingat juga kalau harga tiket bisa berubah tergantung tanggal perjalanan, ketersediaan kursi, dan tarif yang berlaku saat pemesanan, ya. Jadi, sebaiknya cek kembali harga terbaru melalui aplikasi Access by KAI sebelum berangkat.



Jadwal Kereta Api Cakrabuana Cirebon–Gambir

Buat Manteman yang sedang mencari jadwal KA Cakrabuana, kereta ini melayani beberapa relasi, termasuk perjalanan dari Cirebon menuju Gambir dan sebaliknya.


Berdasarkan jadwal yang dipublikasikan KAI, berikut jadwal keberangkatan dan kedatangannya.


Jadwal KA Cakrabuana dari Cirebon menuju Gambir

Stasiun Cirebon: berangkat pukul 16.00 WIB

Stasiun Jatibarang: tiba pukul 16.28 WIB, berangkat pukul 16.30 WIB

Stasiun Haurgeulis: tiba pukul 16.58 WIB, berangkat pukul 17.00 WIB

Stasiun Pegadenbaru: tiba pukul 17.10 WIB, berangkat pukul 17.12 WIB

Stasiun Bekasi: tiba pukul 18.17 WIB, berangkat pukul 18.19 WIB

Stasiun Gambir: tiba sekitar pukul 18.43 WIB


Jadwal KA Cakrabuana dari Gambir menuju Cirebon

Stasiun Gambir: berangkat pukul 10.50 WIB

Stasiun Bekasi: tiba pukul 11.16 WIB, berangkat pukul 11.18 WIB

Stasiun Cikampek: tiba pukul 11.58 WIB, berangkat pukul 12.00 WIB

Stasiun Haurgeulis: tiba pukul 12.36 WIB, berangkat pukul 12.50 WIB

Stasiun Jatibarang: tiba pukul 13.19 WIB, berangkat pukul 13.21 WIB

Stasiun Cirebon: tiba sekitar pukul 13.50 WIB


Jadwal di atas bisa aja berubah sewaktu-waktu, ya. Jadi, untuk memastikan jadwal keberangkatan pada tanggal perjalananmu, jangan lupa mengeceknya kembali melalui website dan social media resmi KAI.



Berapa Harga Tiket KA Cakrabuana Cirebon–Gambir?

Selain jadwal, informasi harga tiket tentu menjadi salah satu hal yang dicari sebelum memutuskan naik kereta api.


KA Cakrabuana menyediakan pilihan kelas ekonomi dan eksekutif untuk perjalanan pada relasi tertentu. Berdasarkan informasi tarif yang pernah diumumkan KAI pada 2025, harga tiket relasi Cirebon–Gambir untuk kelas ekonomi berada di kisaran Rp130.000–Rp150.000, sedangkan kelas eksekutif sekitar Rp180.000–Rp210.000.


Sementara itu, tiket kelas eksekutif yang aku beli waktu itu sekitar Rp230.000.



Ada kemungkinan perbedaan harga karena tanggal perjalanan dan tarif yang berlaku saat pemesanan. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dijadikan gambaran aja, bukan patokan harga tetap, ya.


Kalau ingin membandingkan harga kelas ekonomi dan eksekutif, Manteman bisa mengecek langsung di Access by KAI. Dengan begitu, bisa memilih kelas yang sesuai dengan bujet dan kebutuhan perjalanan.


Buatku pribadi, selisih harga tiket menjadi pertimbangan yang cukup masuk akal karena aku ingin beristirahat dengan lebih nyaman setelah beberapa hari berada di rumah sakit.



Pengalaman Naik KA Cakrabuana Kelas Eksekutif

Akhirnya, tibalah waktunya naik KA Cakrabuana dari Stasiun Cirebon Kejaksan menuju Gambir.


Sebelum berangkat, aku sempat memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat area stasiun. Seperti yang sudah aku ceritakan di artikel sebelumnya, Stasiun Cirebon Kejaksan punya bangunan yang menarik dan fasilitas yang cukup memadai untuk menunggu keberangkatan kereta.


Setelah proses check in selesai, sholat, dan beli sedikit oleh-oleh untuk anak-anak, aku masuk ke kereta dan mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera pada tiket.


Kursinya nyaman dan ruang kaki cukup lega

Salah satu hal yang langsung aku perhatikan tentu saja tempat duduknya. Karena memilih kelas eksekutif, aku berharap bisa duduk dengan nyaman selama perjalanan.


Menurutku, kursi KA Cakrabuana yang kutempati cukup nyaman. Ruang untuk kaki juga masih terasa cukup luas, jadi aku nggak merasa terlalu sempit selama duduk.


Buatku, hal seperti ini penting, apalagi ketika melakukan perjalanan setelah hari-hari yang melelahkan. Bisa duduk dengan nyaman selama perjalanan membuat badan terasa lebih rileks.


Memang, setiap orang bisa punya penilaian berbeda soal kenyamanan kursi. Namun, berdasarkan pengalamanku waktu itu, fasilitas tempat duduk kelas eksekutifnya sudah cukup memenuhi kebutuhan perjalanan pulang.


Menikmati pemandangan sawah sepanjang perjalanan

Hal lain yang kusukai dari perjalanan ini adalah pemandangan di luar jendela.


Beberapa kali, aku melihat hamparan sawah di sepanjang jalur yang dilewati kereta. Pemandangan seperti ini selalu punya daya tarik tersendiri buatku. Rasanya menyenangkan melihat suasana pedesaan dari balik jendela kereta, apalagi ketika perjalanan berlangsung dengan tenang.




Walaupun kali ini bepergian sendirian, aku tetap bisa menikmati perjalanan dengan caraku sendiri. Nggak harus mengobrol dengan teman perjalanan atau melakukan banyak hal. Duduk santai sambil melihat pemandangan di luar jendela pun sudah cukup menyenangkan.


Perjalanan terasa singkat

Hal berikutnya yang cukup berkesan adalah durasi perjalanan yang terasa singkat.


Dari Cirebon menuju Gambir, perjalanan KA Cakrabuana yang kualami berlangsung sekitar dua jam empat puluh lima menit. Buatku, durasi tersebut cukup nyaman untuk perjalanan antarkota.


Nggak terasa, kereta sudah mendekati Jakarta dan perjalanan pun hampir selesai. Apalagi setelah beberapa hari menjalani rutinitas di rumah sakit, tentu ada rasa lega ketika akhirnya bisa kembali ke rumah dan beristirahat dengan lebih tenang.



Kesan Setelah Naik KA Cakrabuana dari Cirebon ke Gambir

Secara keseluruhan, aku cukup menikmati perjalanan pulang naik KA Cakrabuana dari Cirebon menuju Gambir.


Mulai dari proses pemesanan tiket yang masih memungkinkan dilakukan sehari sebelum keberangkatan, kursi kelas eksekutif yang nyaman, ruang kaki yang cukup lega, sampai pemandangan sawah yang beberapa kali terlihat sepanjang perjalanan, semuanya membuat perjalanan terasa menyenangkan.


Menurutku, harga tiket kelas eksekutif yang kubayar sekitar Rp230.000 juga masih cukup affordable untuk pengalaman perjalanan yang kudapatkan.


Tentu saja, pengalamanku ini bersifat personal, yaa. Kenyamanan dan harga tiket bisa berbeda untuk setiap penumpang, tergantung kebutuhan serta waktu keberangkatan.


Buat Manteman yang berencana bepergian dari Cirebon menuju Jakarta, KA Cakrabuana bisa menjadi salah satu pilihan transportasi yang layak dipertimbangkan. Jangan lupa mengecek jadwal, harga tiket, dan ketersediaan kursi sebelum memesan, ya!


Perjalanan kali ini mungkin bukan perjalanan yang kurencanakan untuk bersenang-senang. Aku datang ke Cirebon karena ingin menemani kakak yang sedang membutuhkan keluarga di sisinya.


Namun, di tengah situasi yang cukup melelahkan itu, perjalanan pulang naik KA Cakrabuana memberiku kesempatan untuk beristirahat sejenak dan menikmati perjalanan dengan lebih nyaman.


Setelah lima hari empat malam di Cirebon, akhirnya aku bisa kembali ke rumah dengan membawa cerita baru. Bukan tentang destinasi wisata atau kuliner yang kucoba, melainkan tentang perjalanan yang jadi bagian dari pengalaman hidupku.


Semoga kakakku segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Dan semoga cerita pengalamanku naik KA Cakrabuana Cirebon–Gambir ini bisa membantu Manteman yang sedang mencari referensi perjalanan dengan kereta api, yaa.



Dita Indrihapsari



5 Inspirasi Menu ala Rumah Makan Padang untuk Makan Bersama Keluarga

 


Makan bersama keluarga di rumah makan Padang sering terasa seru karena pilihan menunya beragam. Ada lauk berbumbu, sayuran, sambal, sampai olahan telur yang bisa diambil sesuai selera. Inspirasi seperti ini juga bisa dibawa ke meja makan di rumah tanpa harus memasak seluruh pilihan sekaligus.


Mulailah dengan menentukan satu hidangan utama. Setelah itu, pilih pendamping yang memberi perbedaan tekstur atau rasa. Cara ini membantu persiapan tetap masuk akal, terutama ketika hanya memasak untuk beberapa orang.


Berikut lima inspirasi menu ala rumah makan Padang yang bisa dipertimbangkan. Anggap sebagai titik awal untuk mencari resep, bukan satu patokan yang mewakili seluruh variasi masakan Minang.


 

1. Talua barendo untuk pilihan lauk berbahan telur

Talua barendo menarik bagi keluarga yang menyukai olahan telur dengan tekstur berbeda. Bagian pinggir dan isiannya memberi pengalaman makan yang tidak sama dengan telur ceplok biasa.


Jika ingin membuatnya, ikuti resep yang jelas mengenai adonan, wajan, dan cara memasak. Ketebalan adonan berpengaruh pada hasil, sehingga jumlah telur sebaiknya disesuaikan dengan ukuran alat.


Sajikan dalam potongan yang mudah dibagi. Untuk satu meja kecil, lauk telur ini dapat ditemani nasi putih dan sayuran, tanpa harus ditambah beberapa lauk lain.


 

2. Ayam pop sebagai inspirasi hidangan utama

Ayam pop bisa masuk daftar ketika keluarga ingin mencoba menu ayam yang berbeda dari goreng kecap atau ayam bersaus. Sebelum menyiapkan bahan, pilih resep yang memang membahas cara pengolahannya secara lengkap.


Perhatikan potongan ayam dan urutan pengerjaan. Jangan langsung menyamakan cara memasaknya dengan ayam goreng biasa hanya karena sama-sama memakai bahan utama ayam.


 Untuk penyajian, atur sambal dan pelengkap secara terpisah. Anggota keluarga yang menyukai rasa lebih ringan bisa mengambil sesuai kebutuhan, sementara yang ingin pedas dapat menambah sendiri.


 

3. Gulai sayuran untuk memberi variasi di meja

Sayuran berkuah dapat menjadi pasangan bagi lauk yang lebih kering. Pilih satu jenis atau kombinasi yang sesuai dengan resep, misalnya olahan nangka muda atau daun singkong.


 Kedua bahan tersebut tidak bisa langsung saling menggantikan tanpa menyesuaikan persiapan. Tekstur dan cara pengolahannya berbeda, sehingga lebih baik menentukan menu sebelum berbelanja.


 Jika memilih gulai sebagai pendamping, lauk utama tidak harus sama-sama berkuah pekat. Perbedaan bentuk sajian membantu setiap menu terasa punya perannya sendiri.


 

4. Sambal ijo sebagai pelengkap, bukan kewajiban

 Sambal ijo dapat memberikan pilihan tambahan bagi yang menyukai rasa pedas. Sajikan di wadah kecil agar tidak mendominasi seluruh hidangan sejak awal.


Perhatikan jenis dan jumlah cabai yang dipakai. Warna hijau tidak otomatis berarti rasa pedasnya ringan, sehingga cicipi dan sesuaikan dengan kebiasaan makan keluarga.


Kehadiran sambal juga tidak berarti semua lauk harus dibumbui pedas. Menu dasar yang lebih sederhana bisa memberi ruang bagi setiap orang untuk menyusun kombinasi sendiri.



5. Olahan nasi untuk malam yang ingin lebih ringkas

Ada kalanya keluarga ingin menikmati satu piring utama tanpa menyiapkan banyak lauk. Pada kesempatan seperti ini, olahan nasi dengan bumbu dan pelengkap bisa menjadi pilihan.


 Salah satu ide yang dapat dilihat adalah nasi goreng Padang dari Sasa. Halaman tersebut menyediakan racikan serta tahapan lengkap, sehingga pembaca yang tertarik bisa menyiapkan bahan sebelum mulai memasak.


Sasa MSG dibuat melalui fermentasi tetes tebu dan membantu memperkuat rasa gurih. Gunakan secukupnya sambil mempertimbangkan seluruh bumbu dan bahan pelengkap yang sudah masuk.


 

Rencanakan satu kombinasi, bukan seluruh daftar

Jika memilih nasi putih, pasangkan dengan satu lauk dan satu sayuran. Misalnya, lauk telur dengan sayur berkuah, atau ayam dengan pendamping yang lebih sederhana. Sambal dapat menjadi pilihan tambahan.


Kalau olahan nasi sudah menjadi hidangan utama, pelengkapnya cukup yang memang disukai. Tidak perlu memasak beberapa porsi menu besar hanya agar meja tampak penuh.


Sebelum belanja, tanyakan menu mana yang paling ingin dicoba keluarga. Dengan menentukan pilihan bersama, inspirasi kuliner dari luar rumah bisa berkembang menjadi kegiatan memasak yang lebih menyenangkan, tanpa membuat persiapan terasa seperti mengelola dapur rumah makan.



Dita Indrihapsari



Mengunjungi Masjid Al-Munawwarah Witana Harja Pamulang untuk Kajian Sheikh Assim Al-Hakeem


Pas banget saat malam ini aku menulis blog, tadi sore aku dan suami berkesempatan mengunjungi Masjid Al-Munawwarah yang berlokasi di kawasan Witana Harja, Pamulang, Tangerang Selatan. 


Ini menjadi pengalaman pertamaku datang ke masjid tersebut. Tujuan kami ke sana bukan sekadar untuk beribadah, tapi juga menghadiri kajian bersama Sheikh Assim Al-Hakeem, seorang pendakwah asal Arab Saudi yang selama ini cukup sering kulihat di media sosial.


Berbekal Google Maps, alhamdulillah perjalanan kami menuju masjid berjalan lancar tanpa harus menyasar ke mana-mana. Hehehe... Sebelum bercerita tentang kajiannya, aku mau mengajak Manteman mengenal Masjid Al-Munawwarah terlebih dahulu, termasuk fasilitas dan suasananya berdasarkan pengalamanku saat berkunjung ke sana, ya.



Mengenal Masjid Al-Munawwarah Witana Harja, Pamulang

Masjid Al-Munawwarah berada di Jalan Witana Harja Raya No. 6, Pamulang Barat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokasinya berada di kawasan permukiman Witana Harja sehingga masjid ini bisa menjadi salah satu tempat ibadah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Pamulang dan sekitarnya.


Dari penelusuranku, masjid ini ternyata sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih tegak berdiri sampai sekarang. Info ini aku dapat dari salah satu postingan di akun Instagram masjid. Dari bangunannya sendiri aku sudah menduga, sih, kalau ini pasti termasuk masjid yang sudah lama. 


Masjid ini memang bukanlah tempat ibadah yang baru dibangun. Namun, aku belum menemukan catatan resmi yang menyebutkan secara pasti kapan pembangunan masjid ini pertama kali dimulai atau kapan diresmikan. Jadi, untuk tahun berdirinya, aku belum bisa memastikan informasinya, nih. Kalau ada Manteman yang tahu infonya boleh banget share di kolom komentar, yaa… :D 


Saat ini, Masjid Al-Munawwarah menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan keagamaan, salah satunya kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Aku sendiri datang ke sini untuk mengikuti salah satu kajian tersebut.



Fasilitas Masjid Al-Munawwarah Witana Harja Pamulang

Dari pengamatanku saat berkunjung, ada beberapa fasilitas yang cukup menarik untuk diceritakan.


1. Area Parkir yang Cukup Luas

Salah satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah area parkirnya. Saat aku datang untuk menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem, terlihat banyak mobil dan sepeda motor terparkir di area masjid.


Meskipun dipadati kendaraan jamaah, area parkirnya terlihat cukup luas untuk menampung kendaraan yang datang saat acara berlangsung. Di sekitar area ini juga terdapat beberapa tenant makanan yang mengikuti bazar untuk meramaikan acara kajian.


Nah, karena berada di dalam pemukiman, bagian depan masjid juga langsung taman gitu. Jadi aku dan suami bahkan sempat makan jajanan yang sudah kami beli dan memakannya di taman. Hehehe…



2. Toilet dan Tempat Wudhu Perempuan

Untuk fasilitas perempuan, toilet dan tempat wudhu berada di lantai satu. Tersedia beberapa bilik toilet serta banyak keran air yang bisa digunakan untuk berwudhu.


Dari segi jumlah, fasilitas ini cukup membantu, terutama ketika masjid sedang ramai oleh jamaah seperti saat acara kajian yang aku hadiri.


Namun, ada satu hal yang menurutku masih bisa ditingkatkan, yaitu kondisi lantainya. Di beberapa bagian, lantai terlihat kusam sehingga kesan bersih dan terawatnya belum terlalu terasa.


Mungkin karena masjid ini sudah cukup tua dan lama digunakan makanya hal tersebut bisa sampai terjadi. Makanya menurutku perawatan berkala menjadi hal yang penting agar fasilitasnya tetap nyaman bagi jamaah. Tentunya, ini merupakan pengamatanku saat berkunjung aja, ya, bukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi masjid setiap harinya.



3. Ruang Serbaguna di Lantai Satu

Selain toilet dan tempat wudhu, di lantai satu juga terdapat ruang serbaguna. Ruangan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan di masjid, termasuk sebagai tempat bagi jamaah perempuan untuk mengikuti kajian.


Saat kajian berlangsung, acara utama diselenggarakan di lantai dua. Namun, jamaah perempuan juga bisa menyimak materi dari lantai satu dengan bantuan televisi yang menampilkan jalannya kajian.


Menurutku, fasilitas ini cukup membantu karena jamaah perempuan memiliki alternatif tempat untuk mengikuti acara tanpa harus berada langsung di ruang utama di lantai dua.



4. Ruang Salat di Lantai Dua

Ruang salat utama berada di lantai dua. Ketika masuk ke area ini, kesan pertama yang kurasakan adalah ruangannya cukup lega dan luas.


Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat jendela yang semi terbuka. Dari sepenglihatanku, ruangan ini tampaknya lebih mengandalkan sirkulasi udara alami dan kipas angin karena aku tidak melihat adanya AC.


Keberadaan banyak kipas angin membantu sirkulasi udara di dalam ruangan. Meski begitu, kenyamanan suhu tentu bisa terasa berbeda, tergantung jumlah jamaah dan kondisi cuaca saat itu.




Untuk perlengkapan salat, aku kebetulan membawa mukena sendiri dari rumah. Jadi, aku nggak sempat menggunakan mukena yang disediakan masjid dan belum bisa bercerita tentang kondisi kebersihannya.


Secara keseluruhan, ruang salatnya cukup luas untuk menampung jamaah, termasuk ketika ada kegiatan kajian yang dihadiri banyak orang.



Menghadiri Kajian Sheikh Assim Al-Hakeem di Masjid Al-Munawwarah

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang menjadi alasan utama kedatanganku dan suami ke Masjid Al-Munawwarah.


Jujur, aku senang sekali akhirnya bisa menghadiri kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung. Selama ini, aku lebih sering melihat beliau melalui video di media sosial. Rasanya tentu berbeda ketika biasanya hanya menonton dari layar ponsel, lalu akhirnya bisa hadir di tempat yang sama untuk mendengarkan tausiyahnya secara langsung.


Kajian yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Wasting Time” atau tentang menyia-nyiakan waktu.




Sesuai dengan yang kudengar, Sheikh Assim Al-Hakeem menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Buat jamaah yang terbiasa mendengarkan ceramah berbahasa Inggris, tentu hal ini bukan masalah. Namun, bagaimana dengan jamaah yang belum terlalu memahami bahasa tersebut?


Untungnya, panitia menyediakan beberapa televisi dengan subtitle bahasa Indonesia. Jadi, jamaah yang kurang memahami bahasa Inggris tetap bisa mengikuti materi yang disampaikan.


Menurutku, fasilitas terjemahan seperti ini penting sekali dalam sebuah kajian yang menghadirkan penceramah dari luar negeri. Pesan yang disampaikan bisa menjangkau lebih banyak orang, bukan hanya mereka yang fasih berbahasa Inggris.


Tema tentang menyia-nyiakan waktu juga terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita sering kali sibuk menjalani rutinitas, mengerjakan berbagai pekerjaan atau menghabiskan waktu dengan ponsel tanpa benar-benar menyadari bagaimana waktu berlalu.


Melalui kajian seperti ini, kita diajak untuk kembali memikirkan bagaimana waktu yang dimiliki sebaiknya digunakan. Apalagi, dalam kehidupan seorang muslim, waktu bukan hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga kesempatan untuk beribadah, menuntut ilmu, dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.


Buat Manteman yang penasaran dengan isi kajiannya, rekaman acara ini bisa ditonton di link ini ya YouTube Masjid Al-Munawwarah Witana Harja.



Pengalaman Pertama yang Berkesan di Masjid Al-Munawwarah

Berkunjung ke Masjid Al-Munawwarah Witana Harja menjadi pengalaman tersendiri buatku. Selain bisa mengikuti kajian Sheikh Assim Al-Hakeem secara langsung, aku juga jadi mengenal salah satu masjid di kawasan Pamulang yang selama ini belum pernah kudatangi.


Tentunya yang paling berkesan kesempatan untuk menuntut ilmu secara langsung. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa mendengarkan kajian yang biasanya hanya kita ikuti melalui media sosial, kali ini dalam suasana majelis ilmu bersama jamaah lainnya. :)


Semoga kedepannya semakin banyak kesempatan untuk menghadiri kajian-kajian seperti ini. Bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi pengingat agar kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki dengan lebih baik dan bermanfaat. Gimana, setuju nggak Manteman? 🙂



Dita Indrihapsari



Stamp Hunting di Blok M, Berburu Stamp Lucu di 5 Tempat Seru



Kalau mendengar kata Blok M, apa yang langsung terlintas di pikiran Manteman? Tempat kulineran, belanja, beli buku atau sekadar jalan-jalan sambil menikmati suasana Jakarta? Buatku, ada satu hal lagi, nih, yang bikin Blok M jadi makin spesial! Blok M ternyata punya satu aktivitas seru lainnya yang bisa bikin kita betah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, yaitu stamp hunting alias berburu stamp! :D 


Beberapa waktu lalu, aku bersama dua temanku, Isti dan Ciwul, meluangkan waktu untuk jalan-jalan ke Blok M. Kali ini, tujuan kami bukan sekadar mencicipi kuliner viral, melainkan berburu stamp di beberapa tempat.


Sebenarnya, Isti dan Ciwul sudah lebih dulu melakukan stamp hunting di Blok M bersama Mak Andinih beberapa waktu sebelumnya. Sayangnya, waktu itu aku belum bisa ikut. Mereka sempat berburu stamp di Matalokal dan Roti Buaya yang ada di kawasan M Bloc. Mendengar cerita mereka, aku jadi makin penasaran ingin ikut berburu stamp juga. Hihi… :D 


Makanya pas ada rencana stamp hunting lagi di Blok M aku nggak mau nyia-nyiain waktu. Yes, akhirnya, kesampaian juga! :D 


Nah, di kesempatan kali ini, kami menyusuri Blok M Hub, yang dulunya dikenal sebagai Blok M Mal, lalu melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat lain di sekitar Blok M.


Buat yang belum familiar, stamp hunting merupakan aktivitas mengumpulkan cap atau stempel bergambar dari berbagai tempat. Biasanya, setiap lokasi punya desain stamp yang berbeda dan ada ciri khas tersendiri. Kita tinggal membawa buku atau kertas untuk mengumpulkan cap tersebut.


Kelihatannya sederhana, ya? Namun, justru di situlah keseruannya! :D Ada rasa penasaran setiap kali menemukan tempat baru, apalagi kalau desain stamp-nya lucu dan unik. Belum lagi kalau tempatnya juga menjual barang-barang menarik atau punya makanan enak. 


Niat awal cuma berburu stamp, eh, pulangnya malah membawa belanjaan dan pengalaman baru. Hahaha! :D 


Nah, berikut cerita pengalamanku berburu stamp di lima tempat yang kami kunjungi di kawasan Blok M kali ini.



1. Kopi Aloo, Berburu Stamp Sambil Menikmati Suasana Gramedia Jalma

Pemberhentian pertama kami adalah Kopi Aloo yang berada di Gramedia Jalma. Begitu sampai, kami langsung tertarik melihat koleksi stamp yang tersedia. Ada lima jenis stamp dengan gambar berbeda-beda. Menurutku, desainnya bagus dan terasa dipikirkan dengan baik, bukan sekadar menampilkan logo brand aja.


Salah satu yang menarik perhatianku adalah stamp bergambar bangunan Blok M Square yang dipadukan dengan maskot Kopi Aloo. Sebagai brand kopi yang hadir di kawasan Blok M, rasanya pas sekali kalau ada unsur ikonik dari kawasan ini dalam desain stamp-nya.


Selain itu, ada dua stamp yang menampilkan maskot Kopi Aloo sedang meracik kopi. Ada juga gambar maskot yang sedang duduk santai sambil membaca buku, ditemani segelas kopi.


Nah, desain terakhir ini aku suka karena terasa cocok dengan suasana Gramedia Jalma. Kebayang menikmati kopi sambil baca buku yang baru dibeli di Gramed… Hehe…. 




Dua stamp lainnya menampilkan tulisan Kopi Aloo dengan jenis huruf yang berbeda. Meskipun sama-sama berupa tulisan, tampilannya tetap menarik dan bisa jadi variasi tersendiri dalam koleksi stamp.


Untuk mendapatkan stamp di sini, pengunjung bisa mendapatkannya secara gratis. Namun, tentu aja kami nggak hanya datang untuk mencap buku, ya. Aku dan teman-teman juga membeli minuman dan camilan di Kopi Aloo.


Menurutku, ini salah satu hal menyenangkan dari stamp hunting. Kita bisa menemukan alasan untuk mampir ke tempat yang mungkin sebelumnya belum masuk daftar kunjungan, lalu sekalian menikmati apa yang ditawarkan tempat tersebut. :)


Kopi Aloo

Lokasi: Gramedia Jalma

Alamat detail: Jl. Melawai 3 No.12, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 08.00 - 22.00

Stamp: Gratis berdasarkan pengalaman kunjungan kami



2. Sovlo Experience Hub, Surga Stamp Hunting dengan Banyak Pilihan

Kalau Manteman berencana melakukan stamp hunting di Blok M, menurutku Sovlo Experience Hub wajib masuk daftar kunjungan. Serius, tempat ini punya banyaaaaak banget pilihan stamp!


Bayangin, di satu tempat saja kami bisa mendapatkan 14 stamp ditambah satu stamp berseri. Banyak banget, kan? Pantas saja kami menghabiskan waktu cukup lama di sini dan berasa pegelnya juga ahahaha (kalau ini kayaknya masalah faktor U)….


Begitu melihat koleksi stamp-nya, rasanya ingin mencoba semuanya. Apalagi desainnya beragam dan banyak yang menggambarkan suasana Blok M serta kehidupan Jakarta dengan cara yang unik dan jenaka.


Ada stamp bergambar bajaj dengan tulisan Welcome to Negara Blok M. Ada pula tulisan OTW Blok M dan Hidup Negara Blok M. Selain itu, ada stamp bergambar Monas yang langsung mengingatkan kita pada salah satu ikon paling terkenal di Jakarta.


Menurutku, desain seperti ini punya daya tarik tersendiri. Bukan hanya lucu untuk dikoleksi, tetapi juga bisa menjadi kenang-kenangan kecil dari perjalanan ke Blok M. Apalagi buat orang yang suka mengabadikan perjalanan lewat jurnal atau scrapbook, stamp seperti ini pasti menyenangkan untuk ditempel di halaman khusus.


Namun, ada satu koleksi yang paling seru buatku, yaitu stamp berseri.


Jadi, ada lima stamp yang kalau dicap secara berurutan akan membentuk satu gambar utuh. Karena gambarnya saling menyambung, kita harus benar-benar memperhatikan posisi setiap cap saat menempelkannya ke kertas.


Kalau posisi stamp pertama dan berikutnya nggak pas, gambar akhirnya bisa terlihat kurang menyatu. Hahaha! Jadi, selain butuh ketelitian, aktivitas ini juga terasa seperti menyusun puzzle kecil.


Aku sendiri jadinya seneng deh dengan aktivitas yang menggabungkan kreativitas dan eksplorasi seperti ini. Rasany beda dari sekadar datang ke sebuah tempat untuk foto aja, karena ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan bawa pulang sebagai kenang-kenangan.




Selain berburu stamp, kami juga sempat melihat-lihat berbagai produk yang dijual di Sovlo Experience Hub. Barang-barangnya lucu-lucu, mulai dari pakaian, jaket, tas, hingga beragam pernak-pernik yang menarik perhatian.


Akhirnya, meskipun tujuan awalnya cuma berburu stamp, aku malah membeli beberapa barang, seperti pin, stiker, dan art print. Memang, ya, kalau sudah bertemu barang-barang lucu, godaan untuk membawa pulang satu atau dua barang itu sulit ditolak. :D 


Buatku, Sovlo Experience Hub menjadi salah satu tempat paling berkesan dalam perjalanan kali ini. Koleksi stamp-nya banyak, desainnya unik, dan ada kesempatan untuk menemukan produk kreatif yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya.


Sovlo Experience Hub

Lokasi: Blok M Hub, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Jam buka: 10.00 - 21.00 

Stamp: Gratis berdasarkan pengalaman kunjungan kami

Tips: Sediakan waktu lebih lama untuk mampir ke sini karena koleksi stamp-nya cukup banyak. Jangan lupa membawa buku stamp atau kertas yang cukup lebar untuk mencoba stamp berseri!





3. Information Center Blok M Hub, Akhirnya Berhasil Mendapatkan Stamp!

Setelah puas berburu stamp di Sovlo Experience Hub, kami melanjutkan perjalanan ke Information Center Blok M Hub.


Lokasinya berada di bagian tengah Blok M Hub. Tempat ini menyediakan stamp gratis yang bisa menjadi tambahan koleksi bagi pengunjung yang sedang melakukan stamp hunting.


Ada cerita kecil yang membuat kunjungan kali ini terasa lebih menyenangkan. Ciwul ternyata sudah dua kali datang ke Blok M, tetapi dua kali itu pula ia belum berhasil mendapatkan stamp di Information Center karena petugasnya sedang nggak ada.


Nah, pada kunjungan kali ini, akhirnya kami bisa mendapatkan stamp tersebut! Yeaaayyy, akhirnya, yaaa… :D


Sementara itu, aku justru baru pertama kali melakukan stamp hunting di Blok M dan langsung berhasil mendapatkannya. Hahaha, berarti lumayan beruntung, ya!


Untuk desainnya, menurutku stamp Information Center ini juga keren karena menggabungkan beberapa elemen khas kawasan Blok M dalam satu gambar.


Ada gambar gedung Blok M Square yang ikonik, MRT, dan koridor Blok M Hub dengan bentuk melengkung. Semuanya dirangkai dalam satu desain stamp yang menarik.




Dari satu gambar saja, kita bisa mengenali beberapa elemen yang lekat dengan Blok M, mulai dari pusat perbelanjaan hingga transportasi umum yang menjadi bagian penting kehidupan warga Jakarta.


Di sini, kami juga sempat berfoto bersama kakak petugas yang berjaga. Orangnya ramah dan terlihat senang melihat kami begitu antusias mencap stamp di buku masing-masing. :D 


Momen sederhana seperti ini justru menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman jalan-jalan terasa lebih menyenangkan. Selain mendapatkan koleksi baru, kami juga bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kami temui selama perjalanan.


Information Center Blok M Hub

Lokasi: Area tengah Blok M Hub, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Jam operasional area: Perlu dicek kembali melalui informasi resmi Blok M Hub

Ketersediaan stamp: Bergantung pada keberadaan petugas di lokasi

Stamp: Gratis

Tips: Jangan terlalu berharap dapat stamp di sini. Stamp belum tentu bisa didapatkan setiap kali berkunjung karena bisa jadi sedang nggak ada petugasnya. Tapi semoga, ya, setelah ini stamp-nya selalu ada dan mudah didapat. 



4. Jurnal Risa, Berburu Stamp Bergambar Hantu Lucu Sambil Makan Siang

Dari semua tempat yang kami kunjungi, Jurnal Risa menjadi salah satu yang memang sudah aku incar sejak awal.


Alasannya sederhana aja, sih, soalnya di kafe ini ada stamp bergambar hantu yang lucu! :D 


Buat yang mengikuti cerita Jurnal Risa, nama ini tentu sudah nggak asing lagi, kan. Jurnal Risa dikenal melalui konten yang berkaitan dengan kisah misteri dan pengalaman penelusuran dunia gaib. Konsep kafenya pun juga vintage gothic dan ada kesan horornya gitu! 


Nah, aku penasaran ingin mendapatkan stamp bergambar hantunya. Untungnya, waktu kami datang bertepatan dengan jam makan siang. Jadi, sekalian aja kami mampir untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan.


Kalau nggak salah, stamp di sini juga bisa didapatkan secara gratis. Namun, karena kami memang ingin mencoba makanannya, kunjungan kali ini bukan hanya untuk berburu stamp.


Aku memilih menu paket yang menurutku cukup menarik karena sudah mencakup makanan, minuman, dan es krim. Menu yang kupesan adalah Nasi Ayam Panggang Madu, Yakult Lychee, dan es krim vanila. Karena paket, harganya juga ada potongan. Lumayanlah! :D 


Untuk rasa, menurutku makanannya juga lumayan. Hanya saja, porsi makanannya terasa agak sedikit buatku. Jadi, kalau Manteman termasuk tipe yang makannya cukup banyak, mungkin perlu mempertimbangkan hal ini saat memilih menu.


Setelah selesai makan, tentu saja kami nggak lupa melakukan misi utama: mencap stamp ke buku masing-masing! Hihihi….





Ada tiga desain stamp yang tersedia di Jurnal Risa. Stamp pertama menampilkan gambar menu kopi susu. Stamp kedua menampilkan gambar hantu yang sejak awal sudah membuatku penasaran. Sementara itu, stamp ketiga menggambarkan gedung Blok M Square yang berdampingan dengan piano di dalam kafe Jurnal Risa Blok M.


Dari ketiganya, stamp ketiga ini juga menarik perhatianku karena ukurannya cukup besar. Aku puas sekali saat mencapnya ke buku. Apalagi, desainnya dilengkapi bingkai di sekeliling gambar sehingga hasil cap terlihat lebih dekoratif.


Buatku, Jurnal Risa menjadi contoh bahwa stamp hunting bisa dipadukan dengan kegiatan lain. Kita bisa menikmati makanan, melihat-lihat suasana tempat, lalu membawa pulang kenang-kenangan berupa cap yang khas. Ah, seru banget!


Jurnal Risa

Lokasi: Blok M Hub, Lt. B1 Blok 137 (dekat Mie Kangkung Kite & Ayam Renald) 

Alamat: Jl. Sultan Hasanuddin Dalam, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 09.00 - 22.00

Stamp: Berdasarkan pengalaman kami, tersedia tiga desain stamp berbeda.

Tips: Kalau ingin sekalian makan siang, cek menu dan harga terbaru terlebih dahulu. Harga paket serta ketersediaan stamp siapa tahu bisa berubah sewaktu-waktu.



5. TanaTeh, Penutup Stamp Hunting dengan Stamp Maskot yang Menggemaskan!

Setelah berkeliling dan mendapatkan banyak stamp, TanaTeh jadi tempat terakhir yang kami datangi sebelum pulang.


Kunjungan kali ini juga punya tujuan lain. Ciwul memang datang untuk membuat konten endorsement, sedangkan aku dan Isti sekalian mengambil footage untuk kebutuhan blog dan media sosial. 


Jadi, selain berburu stamp, kami juga memanfaatkan waktu untuk membuat konten. Maklum, kalau jalan bareng teman-teman yang sama-sama suka membuat konten, biasanya ada saja yang bisa dikerjakan. Hahaha! :D 


TanaTeh punya stamp yang menurutku lucu banget. Desain utamanya berukuran besar dan menampilkan maskot TanaTeh, yaitu karakter mbak kepik yang sedang memegang gelas TanaTeh berukuran hampir sebesar badannya.


Kebayang, kan, bagaimana menggemaskannya gambar ini? Rasanya ingin langsung mencap di buku begitu melihat desainnya. :D 


Selain stamp besar tersebut, ada juga stamp berukuran lebih kecil yang menampilkan wajah maskotnya. Jadi, kita bisa mendapatkan variasi gambar yang berbeda untuk melengkapi koleksi.




Menurutku, ukuran stamp juga berpengaruh terhadap hasil akhirnya di buku. Stamp yang besar bisa menjadi elemen utama pada satu halaman, sedangkan stamp kecil cocok digunakan sebagai pelengkap. Kalau ditata bersama foto, tiket, atau catatan perjalanan, hasilnya bisa menjadi jurnal yang lebih menarik, ya.


Hal lain yang membuat stamp TanaTeh terlihat menonjol adalah warna merahnya yang menyala. 


TanaTeh menjadi penutup yang menyenangkan untuk perjalanan kami kali ini. Setelah menghabiskan waktu menjelajahi berbagai tempat, rasanya puas melihat koleksi stamp yang berhasil kami kumpulkan.


TanaTeh

Lokasi: Pasaraya Blok M, lantai LG, Jakarta Selatan.

Alamat detail: Pasaraya, Gedung A, Jl. Iskandarsyah Raya No.2 Blok.M Lt.LG, RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan 

Jam buka: 10.00 - 20.00

Stamp: Tersedia stamp besar bergambar maskot dan stamp kecil bergambar wajah maskot berdasarkan pengalaman kunjungan kami.



Tips Stamp Hunting di Blok M agar Makin Seru!

Dari pengalaman berburu stamp di Blok M, ada beberapa hal yang menurutku bisa membantu Manteman yang ingin mencoba aktivitas serupa.


1. Bawa buku atau kertas khusus stamp hunting

Buku khusus akan memudahkan kita menyimpan koleksi stamp supaya nggak tercecer. Pilih kertas yang cukup tebal agar tinta nggak mudah tembus ke halaman berikutnya.


Kalau suka journaling, kamu juga bisa menambahkan tanggal, nama tempat, atau cerita singkat di samping setiap stamp. Jadi, buku tersebut bukan hanya berisi kumpulan cap, tetapi juga menjadi catatan perjalanan yang bisa dibuka kembali kapan aja.



2. Siapkan ruang untuk stamp berukuran besar

Pengalaman di Sovlo, Jurnal Risa dan TanaTeh mengajarkanku bahwa nggak semua stamp berukuran kecil. Ada desain yang cukup besar sehingga membutuhkan ruang tersendiri.


Sebaiknya jangan memenuhi seluruh halaman dengan tulisan atau gambar sebelum mengetahui ukuran stamp yang akan didapatkan. Dengan begitu, hasil akhirnya bisa lebih rapi.



3. Cek informasi terbaru sebelum berangkat

Nggak semua lokasi selalu menyediakan stamp setiap saat. Ada kemungkinan petugas sedang nggak berada di tempat, layanan berubah atau desain stamp diperbarui. Kalau memungkinkan, cek informasi melalui akun media sosial resmi atau tanyakan kepada pengelola sebelum datang.



4. Susun rute agar nggak bolak-balik

Karena Blok M memiliki banyak tempat menarik yang tersebar di beberapa area, ada baiknya mengelompokkan lokasi berdasarkan kedekatannya.


Untuk perjalanan kali ini, kami mengunjungi Kopi Aloo, Sovlo Experience Hub, Information Center Blok M Hub, Jurnal Risa, dan TanaTeh. Manteman bisa menyesuaikan urutan berdasarkan lokasi stamp dan jam operasional masing-masing tempat.



5. Siapkan budget untuk jajan dan belanja

Memang, mendapatkan stamp bisa gratis. Namun, bukan berarti perjalanan ini pasti tanpa pengeluaran.


Kami membeli minuman dan camilan di Kopi Aloo, makan siang di Jurnal Risa, dan aku juga membeli beberapa pernak-pernik di Sovlo Experience Hub.


Jadi, siapkan bujet sesuai kebutuhan, ya! Kalau memang berniat sekalian kulineran atau membeli suvenir, kamu bisa memasukkannya ke anggaran jalan-jalan.



Stamp Hunting, Cara Seru Menjelajahi Blok M

Dari lima lokasi yang kami kunjungi, masing-masing punya karakter dan desain stamp yang berbeda. Kopi Aloo menghadirkan perpaduan kopi dan buku, Sovlo Experience Hub menawarkan koleksi stamp yang melimpah, Information Center Blok M Hub punya gambar ikonik kawasan Blok M, Jurnal Risa menawarkan desain yang unik, dan TanaTeh menutup perjalanan dengan maskot yang menggemaskan.


Buat Manteman yang suka journaling, mengoleksi benda unik, atau mencari kegiatan berbeda saat main ke Jakarta, stamp hunting di Blok M bisa menjadi pilihan menarik. Apalagi, aktivitas ini bisa digabungkan dengan wisata kuliner, belanja, atau sekadar nongkrong bersama teman.


Kalau suatu hari nanti aku kembali ke Blok M, sepertinya aku masih ingin berburu stamp di tempat-tempat lain yang belum sempat dikunjungi. Ternyata, lima lokasi saja sudah menghasilkan begitu banyak cerita dan koleksi baru.


Sekarang aku jadi penasaran, nih. Di antara lima tempat yang kuceritakan tadi, stamp mana yang paling menarik menurut Manteman? Atau justru ada tempat stamp hunting lain di Blok M yang wajib masuk daftar kunjungan berikutnya?


Cerita, dong, siapa tahu bisa jadi tujuan stamp hunting-ku selanjutnya! Hehe… :D



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *