Stasiun Depok Baru Akhirnya Bakal Punya Lift, Setelah Bertahun-tahun Jadi Keluhan Penumpang

 



Kalau Manteman setiap hari naik KRL dari Stasiun Depok Baru, pasti tahu rasanya. Begitu mau naik atau turun dari kereta dan harus pindah peron, satu-satunya akses, ya, cuma tangga. Nggak ada pilihan lain! 


Tangganya pun bukan tangga yang santai gitu, lho. Tapi cukup banyak, agak curam, dan ada beberapa bagian yang menyempit.  Buat orang yang sehat dan fit aja biosa bikin ngos-ngosan, apalagi buat lansia, ibu hamil, dan teman-teman disabilitas.


Aku benar-benar pernah mengalaminya sendiri. Dulu, waktu hamil anak pertama dan kedua, aku masih rutin naik KRL dari Depok Baru untuk kerja. Setiap hari harus turun-naik tangga itu buat pindah peron. Rasanya bukan cuma capek fisik, tapi juga was-was. 


Bayangin perut besar, jalan di tangga yang padat orang, sambil jaga keseimbangan supaya nggak terpeleset. Di jam sibuk pagi atau pulang kerja, situasinya lebih parah lagi karena banyak orang buru-buru.



Jadi Keluhan Banyak Orang!

Ternyata keluhan ini bukan cuma dirasain sama aku aja. Awal tahun ini, isu akses Stasiun Depok Baru kembali ramai dibicarakan dan diangkat oleh berbagai media nasional. 


Dari berita-berita itu jadi makin keliatan jelas kalau banyak keluhan soal akses satu-satunya untuk pindah peron di stasiun ini berupa underpass yang isinya tangga aja, tanpa lift maupun eskalator. 


Beberapa warga yang diwawancarai media juga menceritakan pengalaman yang mirip denganku. Ada yang bercerita kerabatnya sampai memilih pindah naik dari stasiun lain karena tidak kuat lagi menaiki tangga di Depok Baru. Ada juga cerita tentang teman disabilitas netra yang akhirnya jarang mau naik KRL lagi karena kesulitan akses. 


Seorang ibu hamil yang jadi narasumber media pun menggambarkan rasa was-wasnya sendiri. Naik tangga sambil pegang perut, di kanan-kiri orang buru-buru, kadang sampai nggak sempat berpegangan. 


Ada pula kisah lansia pengguna tongkat yang setiap pindah peron harus memilih antara memaksakan diri naik tangga sendiri atau menunggu ada orang baik yang mau membantu.


Yang bikin ironis, sebenarnya di setiap peron sudah disediakan kursi roda untuk penumpang prioritas. Tapi kursi roda itu jadi nggak berguna kalau satu-satunya jalan pindah peron tetap saja lewat tangga.

 

Sedih banget, kan, ya. Sebagai warga Depok aku, tuh, udah ngeluhin hal ini dari lama. Aku hamil pertama aja tahun 2012. Artinya sudah 14 tahun dan masalahnya nggak terselesaikan! :(


Akibat banyak pemberitaan yang viral itu, sebenarnya pihak KAI Commuter udah sempat menyampaikan permintaan maaf atas belum adanya fasilitas lift maupun eskalator di stasiun ini. 



Akhirnya Mau Ada Lift Juga!

Nah, setelah bertahun-tahun keluhan ini muncul, akhirnya ada titik terang, nih. Dari berita yang aku baca,  di bulan September ini ada kabar kalau proyek pembangunan lift di Stasiun Depok Baru sudah mulai berjalan. 


Proyek ini ditargetkan selesai akhir tahun 2026. Kalau benar terealisasi, ini pastinya bakal jadi kabar yang sangat melegakan buat lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang selama ini harus berjuang lebih keras hanya untuk naik kereta di Stasiun Depok Baru. :) 


Semoga aja prosesnya lancar dan benar-benar selesai sesuai target,karena buat sebagian orang keberadaan lift itu bukan sekadar kenyamanan tambahan, tapi kebutuhan dasar supaya mereka bisa naik transportasi publik dengan aman, nyaman, dan tenang.



Sedikit Cerita tentang Stasiun Depok Baru

Di luar soal akses, sebenarnya Stasiun Depok Baru ini punya daya tarik tersendiri, lho. Kalau Manteman perhatikan, bangunan Stasiun Depok Baru cukup besar dan bentuknya beda dari kebanyakan stasiun KRL lain di jalur yang sama. 


Ada bagian bangunan yang menjulang dengan beberapa lantai. Tapi jujur aja, sampai sekarang aku sendiri masih suka penasaran, lantai-lantai atas itu sebenarnya dipakai untuk apa aja, ya? 


Kelihatannya nggak semua area di stasiun ini dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan penumpang, padahal ruangnya cukup luas. Mungkin kedepannya pihak KAI bisa memikirkan juga supaya bangunan sebesar itu punya fungsi yang lebih optimal, enggak cuma soal akses vertikal seperti adanya lift tapi juga pemanfaatan ruangannya.


Lokasi stasiun ini juga sebenarnya sangat strategis. Begitu keluar dari stasiun, kita sudah dekat dengan ITC Depok dan Ciplaz. Dekat juga dengan Balai Kota, Terminal Depok, dan akses bus menuju bandara. 


Belum lagi posisinya yang persis di pinggir Jalan Margonda Raya, jalan utama Depok yang selalu ramai. Jadi buat siapa pun yang butuh transit dari kereta ke moda transportasi lain atau sekadar mau mampir belanja atau makan sebelum atau sesudah naik kereta, Stasiun Depok Baru ini sebenarnya lokasinya sudah sangat pas.


Sayangnya, potensi strategis ini jadi kurang maksimal kalau akses di dalam stasiunnya sendiri masih menyulitkan sebagian penumpang.



Dari Kereta Berjubel Tanpa AC Sampai Sekarang

Kalau ngomongin soal Stasiun Depok Baru, aku jadi flashback ke awal-awal kerja dulu. Waktu itu commuter line belum seperti sekarang. Aku masih ingat betul gimana rasanya naik kereta ekonomi tanpa AC, jendela dibuka lebar-lebar biar ada angin masuk. 


Bahkan bukan rahasia lagi kalau dulu banyak juga penumpang yang nekat naik di atas atap kereta demi bisa berangkat kerja tepat waktu. Padahal jelas-jelas berbahaya. Suasana di dalam gerbong juga jauh dari kata tertib. 


Dibandingkan dulu, sekarang commuter line sudah jauh lebih baik. Sudah ber-AC, sistemnya lebih teratur dengan tap in-tap out, jadwalnya juga lebih terjadwal rapi. Walaupun, ya, tetap aja masih berjubel terutama di jam sibuk, apalagi kalau kereta sedikit terlambat datang, penumpang di peron bisa menumpuk banyak sekali.


Tapi seenggaknya dari sisi kenyamanan dan keteraturan, perubahannya terasa jauh sekali kalau dibandingkan belasan tahun lalu. Harga tiket kereta pun sampai sekarang masih sangat terjangkau.


Cuma memang, satu PR besar yang belum kelar-kelar dari dulu sampai sekarang, ya, soal akses di Stasiun Depok Baru ini.


Semoga aja dengan rencana pembangunan lift yang katanya akan selesai akhir tahun ini, Stasiun Depok Baru bisa jadi lebih ramah untuk semua orang. Stasiun ini sudah jadi saksi perjalanan banyak warga Depok termasuk aku dari masa ke masa. Jadi, aku berharap banget stasiun ini makin baik lagi ke depannya… :)



Dita Indrihapsari


Suasana Tenang di Taman Jepang, Taman Bunga Nusantara



Sebenarnya sudah agak lama sejak aku dan keluarga jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara di Cianjur. Yap, tempat wisata ini memang berada di Kabupaten Cianjur, ya, meski banyak yang mengira lokasinya di Puncak atau Cipanas. Soalnya aku juga beranggapan seperti itu. Hehehe… :D 


Nah, meski udah lama ke sana, sekitar setahun yang lalu, tapi ada satu sudut Taman Bunga Nusantara yang sampai sekarang aku masih ingat banget gimana bentuknya dan setenang apa saat aku berada di sana. 


Seperti judul yang sudah aku tulis, aku memang mau menceritakan tentang Taman Jepang yang ada di Taman Bunga Nusantara. Dari sekian banyak taman tematik yang ada di sana, entah kenapa area inilah yang rasanya paling membekas. Di taman ini aku memang cukup lama mengeksplornya dibanding taman-taman yang lain. 


Dan di blog ini pun, Taman Jepang jadi tulisan pertamaku yang berkaitan dengan Taman Bunga Nusantara. Bahkan tulisan Taman Bunga Nusantara secara keseluruhan aja belum aku tulis, lho, di blog ini… :D 



Kesan Pertama yang Bikin Waw!

Taman Bunga Nusantara luassss banget, kan, ya. Sata berjalan mengitarinya, sampailah aku dan keluarga melewati tembok panjang. Ternyata di dalam tembok itulah Taman Jepang berada. 


Begitu masuk ke area Taman Jepang, aku langsung merasa suasananya cocok banget,, nih, sama aku yang… introvert! Wkwkwk…  Apalagi pas kami berada di taman tersebut, hanya kamilah pengunjung di sana. Sepiiiii….


Kalau di taman-taman lain di Taman Bunga Nusantara kita bisa disuguhi bunga warna-warni, di Taman Jepang semuanya kerasa lebih minimalis dan tertata rapi.. Setiap elemen dari batu, tanaman, sampai jalan setapak seperti sudah dipikirkan dengan sangat matang supaya saling melengkapi. 


Makanya pas masuk ke Taman Jepang di sini aku juga ngerasa kalau konsep taman seperti ini bisa banget jadi referensi untuk taman di rumah. 


Yang pertama kali menarik perhatianku adalah gazebo atau paviliun bergaya Jepang yang berdiri di tengah taman. Bentuknya benar-benar mengingatkanku sama suasana taman-taman tradisional yang sering kita lihat di foto-foto atau film Jepang gitu.




Atapnya khas dengan warnanya kayu cokelat tua yang kontras tapi keliatan nyatu banget sama warna hijau di sekelilingnya. Berdiri sebentar di dalamnya sambil melihat pemandangan taman rasanya kayak lagi healing. Nggak lupa juga aku meminta suami untuk mengambil fotoku di dalam paviliun ini. :D



Kolam dan Aliran Sungai Kecil Bebatuan

Salah satu hal yang membuat Taman Jepang ini jadi terasa lebih hidup adalah adanya kolam besar yang mengalirkan air ke semacam aliran sungai kecil. Airnya jernih, mengalir pelan melewati susunan batu-batu alam yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat natural. 


Lumayan banget jadi ada suara gemericik air ini entah kenapa punya efek menenangkan. Ditambah lagi ada banyak bebatuan di sepanjang alirannya. 


Kombinasi antara air, batu, dan tanaman hijau inilah yang menurutku jadi kekuatan utama dari konsep taman gaya Jepang. Ssemuanya terasa seimbang, tidak ada yang mendominasi.


Dari segi tanaman, Taman Jepang di Taman Bunga Nusantara menghadirkan koleksi yang cukup khas seperti taman-taman tematik lainnya. Ada pohon-pohon bonsai yang dipangkas rapi. 


Selain bonsai dan tanaman air, ada pula pepohonan rindang yang sengaja ditanam agar suasana taman terasa teduh dan sejuk. Cocok dengan udara pegunungan Cianjur yang memang adem. 


Penataan tanaman di sini juga keliatan nggak sembarangan. Rimbun tapi tetap rapi, hijau tapi nggak monoton gitu karena diselingi dengan bebatuan dan elemen kayu di sana-sini, termasuk gazebonya.



Meski Buatan, Tetap Terasa Istimewa

Satu hal yang sempat terpikir olehku, taman ini, kan, sepenuhnya buatan manusia, ya, bukan taman Jepang asli. Tapi entah kenapa, itu sama sekali nggak ngurangi keindahannya. 


Justru sebaliknya, aku jadi kagum dengan gimana penataannya bisa begitu detail dan rapi, mulai dari pemilihan tanaman, penempatan batu, sampai desain gazebo yang kesannya autentik. 


Buat aku dan keluarga, Taman Jepang ini jadi salah satu spot favorit selama berkunjung ke Taman Bunga Nusantara. Kalau Manteman berencana ke sana, jangan buru-buru melewati taman ini hanya karena terlihat "biasa saja" dari luar. Coba luangkan waktu sedikit lebih lama, duduk di gazebo, dengarkan suara air mengalir, dan rasakan sendiri bedanya suasana di sini dibanding taman-taman tematik lainnya. :)



Info Taman Bunga Nusantara

Selain Taman Jepang, Taman Bunga Nusantara sebenarnya adalah kawasan wisata taman tematik yang jauh lebih luas. Areanya mencapai lebih dari 23 hektar dan koleksi ribuan jenis bunga dari berbagai belahan dunia. Berikut beberapa informasi praktis yang bisa jadi panduan sebelum berkunjung.



Lokasi

Taman Bunga Nusantara berada di Jl. Mariwati KM 7, Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43254. Lokasinya berada di dekat kawasan Cipanas-Puncak dengan suhu udaranya yang cenderung sejuk khas pegunungan.



Jam Operasional & Harga Tiket Masuk

Jam buka: Setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB (weekend), 09.00–17.00 WIB (weekday)

Tiket masuk: Rp50.000

Harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, jadi ada baiknya dicek ulang lewat website atau akun media sosial resmi Taman Bunga Nusantara sebelum berangkat, ya.


Taman Tematik Lainnya

Selain Taman Jepang, ada beberapa taman tematik lain yang juga sayang dilewatkan, di antaranya Taman Prancis dengan desain simetris ala Eropa, Taman Bali dengan nuansa arsitektur Pulau Dewata, Taman Mawar dan Taman Palem dengan koleksi tanamannya masing-masing, Taman Air dengan teratai dan bunga bakung, serta Taman Labirin yang seru untuk dijelajahi bersama anak-anak.



Fasilitas

Taman Bunga Nusantara juga dilengkapi rumah kaca berisi koleksi bunga langka, wahana keliling taman seperti Dotto Train dan Garden Tram, area bermain anak, restoran dan kafe, gazebo serta area piknik, mushola, toilet, toko suvenir, dan area parkir yang luas.



Taman Bunga Nusantara cocok banget jadi destinasi liburan keluarga, apalagi kalau Manteman mau merasakan suasana sejuk pegunungan sekaligus menikmati keindahan taman-taman tematik dari berbagai negara dalam satu kawasan. 


Dan buatku pribadi, Taman Jepang tetap jadi favorit di Taman Bunga Nusantara ini. Taman yang penuh ketenangan di tengah taman yang begitu luas. 😀



Dita Indrihapsari


Singgah di Masjid Agung Baitul Faizin, Cibinong, Masjid Megah di Kompleks Pemda Bogor



Hari itu jadwal kami cukup padat. Aku dan suami menemani anak kami lomba angklung di auditorium Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Begitu lomba selesai, hal pertama yang kami cari adalah tempat sholat karena sudah masuk waktu sholat dzuhur. 


Kebetulan, masjid terdekat dari gedung tempat lomba berlangsung adalah Masjid Agung Baitul Faizin. Buat aku dan keluarga, ini juga jadi kesempatan baru karena kami memang senang mencoba sholat di masjid-masjid yang belum pernah kami kunjungi setiap kali sedang bepergian. :) Jadilah siang itu jadi pengalaman pertama kami sholat di Masjid Agung Baitul Faizin, Cibinong, Bogor.



Lokasi Masjid Agung Baitul Faizin

Masjid Agung Baitul Faizin berada di area Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor, tepatnya di kawasan Jalan Tegar Beriman, Cibinong. Posisinya menyatu dengan kawasan perkantoran pemerintahan, jadi harus masuk dulu ke area kompleks Pemda sebelum sampai ke gerbang masjid.


Jujur, aku sempat kaget begitu masuk. Nggak nyangka, sih, masjidnya sebesar itu, dengan bagian dalam yang juga luas banget. Dari luar terlihat megah, begitu masuk ke dalam, kesan luasnya makin terasa.


Kalau soal akses masuk, kendaraan bisa masuk lewat gerbang kompleks Pemda, lalu langsung menuju area parkir yang ada di depan atau samping masjid. Nah, ini yang agak bikin aku bingung. Selama di sana, aku cuma melihat mobil yang parkir di area parkir masjid. Aku nggak sempat melihat di mana letak parkir khusus motor dan sejauh ini aku juga belum berhasil menemukan informasi resmi soal titik parkir motor di kawasan ini. 


Jadi kalau Manteman berencana ke sini naik motor, ada baiknya bertanya langsung ke petugas atau satpam di gerbang kompleks begitu sampai, supaya nggak salah parkir atau malah kejauhan jalan kaki dari tempat parkir ke masjid, ya.



Fasilitas Tempat Wudhu dan Toilet

Begitu sampai, aku langsung masuk dan naik ke bagian atas masjid untuk sholat. Baru belakangan aku sadar kalau ruang wudhu dan toilet itu ada di lantai dasar, bukan di lantai yang sama dengan ruang sholat utama.


Tempat wudhunya sendiri cukup luas, dengan banyak keran air yang tersedia sehingga sepertinya nggak perlu antre lama meskipun sedang ramai. Kebetulan pas aku di sana lagi sepi, ruang wudhu pun kosong. 


Sayangnya, kondisi lantainya agak kotor saat aku ke sana, dan aku juga nggak melihat ada petugas jaga perempuan di area wudhu tersebut. Toiletnya pun menurutku kurang bersih. Sayang banget karena dari segi ukuran dan fasilitas sebenarnya sudah cukup memadai. Semoga kedepannya kebersihannya bisa lebih diperhatikan lagi, apalagi masjid ini kan levelnya masjid agung di kompleks pemerintahan kabupaten, ya.


Oiya, untuk menuju area wudhu, Manteman juga harus menuruni cukup banyak anak tangga dari ruang sholat utama. Awalnya aku sempat berpikir masjid ini kurang ramah untuk lansia dan penyandang disabilitas. Tapi ternyata dugaanku salah! Di masjid ini juga tersedia toilet dan tempat wudhu khusus untuk lansia dan disabilitas, jadi kebutuhan mereka bisa tetap terakomodasi.


Meski begitu, kalau membawa anak-anak, tetap perlu ekstra hati-hati, ya, karena tangganya cukup banyak dan curam di beberapa titik.



Area Sholat Masjid

Setelah beres wudhu, aku naik lagi ke area sholat khusus perempuan. Nah, sebelum masuk ke tempat sholat, aku sempat memperhatikan ada bedug berukuran besar di lantai atas masjid dengan ukiran nama masjid di bagian atas bedug.


Nah, secara keseluruhan, sih, area sholat di masjid ini memang sangat luas. Langit-langitnya tinggi dan begitu berdiri di dalamnya, kesan juga megah langsung terasa.


Tapi ada satu hal yang menurutku agak disayangkan. Ruang sholat khusus perempuan terasa cukup sempit dibandingkan area sholat laki-laki. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa proporsinya bisa sejomplang itu. 


Aku paham, sih, jamaah laki-laki memang lebih diutamakan untuk sholat berjamaah di dalam masjid. Tapi rasanya banyak masjid besar di Indonesia punya pola yang sama, sehingga hal ini jadi semacam pertanyaan yang berulang setiap kali aku mampir ke masjid baru. :)


Terlepas dari itu, area sholat perempuannya terlihat rapi. Saat aku di sana, ada beberapa jamaah perempuan lain yang juga sedang sholat, bahkan ada yang memanfaatkan waktu untuk istirahat sejenak di dalam masjid. Di salah satu sisi dinding juga tersedia mukena yang digantung untuk dipinjam pengunjung. Karena aku bawa mukena sendiri, jadi aku nggak mencoba fasilitas mukena yang disediakan di sana.



Suasana di Sekitar Masjid

Nah, bagian ini yang paling bikin aku excited. Begitu keluar dari masjid dan melihat area depannya, ternyata ada taman atau ruang terbuka publik yang cukup luas di sana. Meski waktu itu tengah hari, pas jam Dzuhur yang biasanya panas terik, tetap aja ada orang yang berlalu-lalang di taman ini. 


Aku bahkan sempat melihat ada yang asyik main sepatu roda (inline skate) dan beberapa orang lain yang santai duduk-duduk menikmati suasana.


Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah bangunan mirip tugu berbentuk bulan sabit di area depan masjid. Bentuknya cantik dan di bagian bawahnya ada tulisan nama-nama tempat lengkap dengan keterangan jarak dalam kilometer. 


Sepertinya itu menunjukkan jarak dari masjid atau tugu ini ke kota-kota atau tempat-tempat yang tertulis. Sayangnya aku belum sempat menelusuri lebih detail konsep atau makna di balik tugu ini, jadi kalau ada yang tahu lebih lanjut, boleh banget cerita di kolom komentar, yaaa. :D


Satu lagi yang bikin suasana sekitar masjid ini hidup adalah keberadaan beberapa lapak UMKM di salah satu sisi bangunan. Ada yang jual bakso, siomay, dan berbagai jajanan lainnya. 


Nggak heran, saat aku ke sana di akhir pekan, suasana di sekitar masjid jadi lumayan ramai berkat kehadiran para pedagang ini. Rasanya jadi lebih hidup, karena orang-orang nggak cuma datang untuk sholat, tapi juga menikmati ruang publik di sekitarnya.



Buat sebuah masjid yang berada di dalam kompleks perkantoran pemerintahan, Masjid Agung Baitul Faizin ini ternyata oke juga, lho. Ada taman terbuka yang ramah untuk publik, ada jajanan UMKM, dan bangunan masjidnya sendiri megah dengan area sholat yang luas. 


Meski ada beberapa catatan soal kebersihan fasilitas wudhu dan toilet, ya, secara keseluruhan ini jadi pengalaman sholat perdana yang cukup berkesan buat aku dan keluarga.


Masjid ini buka 24 jam dan terbuka juga untuk para musafir. Bagi yang butuh tempat istirahat dari perjalnana jauh bisa banget ke masjid ini dan memanfaatkan ruang yang ada di dalam masjid. 


Kalau Manteman muslim yang kebetulan lagi ada urusan di kawasan Pemda Cibinong atau sekadar lewat di Jalan Tegar Beriman, nggak ada salahnya mampir sholat di sini sambil menikmati suasana taman depannya. 


Siapa tahu Manteman juga penasaran sama tugu bulan sabit dan bedug besar yang aku ceritakan tadi! 😀



Dita Indrihapsari




 


Urban People, Patung Ikonik di Orchard Road Singapura



Ada, nih, satu titik di Orchard Road yang rasanya wajib disinggahi oleh setiap turis yang berkunjung ke Singapura, terutama kalau rutenya lewat ION Orchard. Di anak tangga dekat salah satu pintu masuk mal itu, berdiri enam patung manusia warna-warni yang jadi tempat buat para wisatawan foto-foto. :D 


Waktu aku dan teman-teman akhirnya sampai di Orchard Road setelah seharian menyusuri Singapura, kami juga melakukannya! Hehehe… Rasanya nggak afdol pulang tanpa mengabadikan momen di depan patung-patung ini. 


Jadilah kami berhenti sejenak, mengeluarkan hape, dan mengambil beberapa footage sambil bergantian berpose di sela-sela sosok-sosok patung tersebut. Momen kecil itu jadi salah satu kenangan paling berkesan dari perjalanan kami di Singapura. :D


Manteman juga sudah pernah foto di sana tapi belum tahu cerita dibalik patung tersebut? Nah, sekarang aku mau sedikit cerita tentang URBAN PEOPLE! Yes, itulah nama seni patung instalasi yang berada di tempat tersebut… :) 



Siapa di Balik Urban People?

Patung Urban People merupakan karya seniman asal Swiss, Kurt Laurenz Metzler. Seniman ini  lahir pada 26 Januari 1941 di Balgach, Swiss. Sejak kecil ia ternyata menang sudah menunjukkan ketertarikan pada seni. 


Tapi, ya, seperti orang tua kita juga di sini, ibunya juga sempat ngingetin kalau dunia seni pahat bukanlah profesi yang stabil secara finansial. Meski begitu, Metzler tetap menempuh pendidikan seni di Schule fur Gestaltung, Zurich, dan meraih diploma sebagai pematung pada 1963.


Nah, dari keahliannya inilah yang bisa sampai membawa Metzler berkeliling dunia. Ciri khas patung yang dibuatnya memang menampilkan sosok manusia dengan gaya khas. Warna cerah, terbuat dari fiberglass dan poliester, serta punya karakter yang jenaka tapi tetap terasa manusiawi gitu. 


Karya-karyanya tersebar di ruang publik berbagai kota besar, mulai dari Zurich, New York, Los Angeles, hingga Singapura. Metzler meninggal dunia pada Desember 2024 di usia 83 tahun, namun karya-karyanya, termasuk Urban People tetap berdiri dan terus disinggahi orang dari seluruh dunia.



Filosofi di Balik Urban People

Nah, patung Urban People yang ada di Orchard Road ini terdiri dari enam patung berbahan aluminium. Masing-masing patung dicat dengan warna mencolok yang berbeda-beda, yaitu merah, hijau, ungu, limau, dan merah muda. 


Setiap sosok menggambarkan karakter urban yang berbeda-beda juga. Ada yang membawa tas belanja, ada juga yang membaca koran. Patung-patung ini, tuh, kayak mencerminkan kehidupan sehari-hari di kawasan perbelanjaan dan bisnis seperti Orchard Road.




Oiya, kalau yang aku baca-baca di referensi, katanya filosofi utama di balik karya patung ini adalah interaksi. 


Berbeda dari kebanyakan patung publik yang hanya bisa dipandangi dari kejauhan, Urban People justru dibuat supaya orang-orang bisa mendekat, menyentuh, bahkan "berinteraksi" dengannya patung-patung itu. ‘


Bener aja, kan, kalau foto sama patung Urban People pasti bisa aja kita memegang tangannya, merangkulnya atau sekadar berdiri berdampingan. ‘


Nah, makanya katanya konsep inilah yang bikin karya Metzler terasa berbeda. Dia menempatkan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa dinikmati siapa aja dan kapan aja.



Kenapa Ditempatkan di ION Orchard?

Yang menarinya, kalau diperhatikan lebih detail, salah satu patung perempuan warna ungu terlihat membawa tas belanja berwarna perak bertuliskan logo ION Orchard. 


Ada juga patung pria warna merah yang sedang membaca koran juga membawa koran dengan cerita seputar mal tersebut. Detail-detail kecil ini menunjukkan kalau karya patung tersebut memang dirancang khusus untuk ION Orchard.


Urban People dibuat secara khusus bersamaan dengan pembukaan mal tersebut pada 2009. Saat itu, ION Orchard memang punya program seni yang cukup ambisius. Mal ini seperti mau menghadirkan sejumlah karya seni publik di area sekitar bangunannya. Selain Urban People, ada juga "Nutmeg & Mace" karya Kumari Nahappan yang berdiri di sudut Orchard dan Paterson Road.


Penempatan Urban People di anak tangga dekat pintu masuk mal juga ada alasannya, lho. Area tersebut merupakan salah satu titik dengan lalu-lalang pejalan kaki tertinggi di sepanjang Orchard Road. Nah, sehingga karya ini otomatis jadi seperti menyambut siapa pun yang datang ke Orchard Road, kan. 



Bagi banyak turis, termasuk aku dan teman-temanku, Urban People sudah jadi semacam tempat wajib saat di Orchard Road. Kayaknya Kurt Laurenz Metzler berhasil mencapai tujuannya, ya. Dia bisa bikin seni terasa dekat dan menjadi bagian dari perjalanan setiap orang yang melewatinya. :)


Dita Indrihapsari


Kenapa Semua Orang Tiba-Tiba Sibuk Berburu Stempel? Membedah Fenomena Stamp Rally di Jakarta!



Coba, deh, perhatikan sekeliling Manteman pas lagi ada event komunitas, mal atau festival belakangan ini. Ada yang megang buku kecil, antre di beberapa booth berbeda, terus dengan semangat minta dicap. :D 


Ternyata, ini, tuh, bukan tren baru yang lahir kemarin sore. Namanya stamp rally dan fenomena ini sudah puluhan tahun jadi bagian dari budaya jalan-jalan di Jepang, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Jakarta! :D 


Apa Sebenarnya Stamp Rally Itu?

Stamp rally adalah aktivitas mengunjungi beberapa titik atau lokasi tertentu, bisa stasiun kereta, booth pameran, gerai restoran, sampai museum, untuk mengumpulkan stempel unik menggunakan kartu atau buku panduan khusus. Setiap titik biasanya punya desain stempel yang berbeda dan jadi bagian dari satu tema besar.


Setelah semua stempel terkumpul, peserta biasanya bisa menukarkannya dengan hadiah, merchandise eksklusif, diskon, sampai kesempatan ikut lucky draw. Tapi menariknya, buat banyak orang, hadiah itu cuma bonus. Yesss, sensasi "berburu" dan rasa puas melihat buku panduan penuh cap atau stempel ituah yang justru jadi daya tarik utamanya.



Dari Stasiun Kereta di Fukui, Menjelma Jadi Budaya Nasional!

Akar dari stamp rally sebenarnya bisa jadi ada dua. Yang pertama dan lebih tua adalah tradisi goshuin. Stempel kaligrafi yang diberikan di kuil dan altar Shinto kepada peziarah sebagai bukti kunjungan mereka. Tradisi ini sudah berjalan lama sebelum kereta api ada di Jepang.


Yang kedua dan jadi cikal bakal langsung dari stamp rally modern adalah eki stamp atau stempel stasiun kereta. 


Cerita asal-usulnya terjadi pada tahun 1931. Seorang kepala stasiun bernama Kanichi Tominaga di Stasiun Fukui punya ide membuat stempel peringatan setelah ngobrol santai dengan stafnya.


Stempel itu menampilkan gambar Eiheiji, kuil Zen penting di dekat stasiun. Ternyata idenya disambut baik, sampai-sampai Kementerian Perkeretaapian saat itu memutuskan menyebarkan konsep serupa ke stasiun-stasiun di seluruh negeri. :)


Sejak itu, hampir semua dari sekitar 9.000 stasiun kereta di Jepang punya eki stamp masing-masing. Biasanya menampilkan landmark lokal, maskot atau produk khas daerah. 


Bahkan, ya, ada juga komunitas penggemar khusus yang disebut oshi-tetsu atau "penggila stempel kereta", yang menjadikan perburuan eki stamp sebagai hobi serius, kadang sampai menjelajahi seluruh jaringan kereta demi melengkapi koleksi mereka. Wiiih, mantap!


Nah, bedanya dengan eki stamp biasa, stamp rally punya tema khusus dan periode terbatas, misalnya kolaborasi dengan anime, film atau karakter populer. Salah satu stamp rally besar yang jadi tonggak sejarah adalah Discover Japan pada 1970, yang mendorong orang menjelajahi destinasi wisata kurang terkenal lewat jalur kereta.



Tempat Populer untuk Stamp Hunting di Jabodetabek

Kalau di Jepang stamp rally identik dengan stasiun kereta, di Jakarta pun pola yang sama mulai terbentuk. Beberapa titik ini jadi favorit warganet yang gemar "berburu cap" akhir pekan:


Stasiun KRL Jabodetabek. KAI Commuter (KCI) resmi meluncurkan program bertajuk "Stamp Railly", lengkap dengan buku khusus bernama Stamp Railly Passport untuk mengumpulkan cap. 


Ada 10 stasiun yang jadi titik hunting, yaitu Bogor, Universitas Indonesia, Manggarai, Jakarta Kota, BNI City, Jatinegara, Tanah Abang, Tanjung Priok, Pasar Senen, dan Gambir. 


Tiap stasiun punya desain cap unik yang menampilkan bangunan stasiun, landmark kota, budaya lokal, hingga flora-fauna khas daerah. Menariknya, pihak KCI menyebut program ini rencananya akan diperluas ke sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra hingga 2027, jadi bukan cuma berhenti di Jabodetabek.


MRT Jakarta. Lewat program #StempelMRTJ, MRT Jakarta menyediakan cap eksklusif di beberapa stasiun seperti Dukuh Atas BNI (termasuk gedung Transport Hub di kawasan TOD-nya), Blok A, Haji Nawi, dan Cipete Raya. Tiap desainnya menonjolkan budaya lokal, misalnya motif gigi balang berpadu dengan ilustrasi ratangga (kereta MRT) di Haji Nawi atau motif petai dan bunga kembang sepatu di Cipete Raya. Cukup datang ke loket dan minta ke petugas frontliner stasiun, tidak perlu aplikasi atau kode QR.


Kawasan Cikini. Salah satu titik yang viral di media sosial adalah Post Kantoor Cikini, bangunan bekas Kantor Pos Cikini yang kini disulap jadi kafe bernuansa vintage. Pengunjung bisa membeli kartu pos lalu memilih dari beberapa desain stempel untuk dicap langsung di kartu pos atau di jurnal pribadi mereka.


Area Blok M. Sejumlah ruang publik dan hub transportasi di kawasan Blok M turut menjadi bagian dari rute stamp hunting yang sering dibagikan di media sosial, biasanya digabung dalam satu rute jalan kaki bersama titik-titik MRT terdekat.


Museum di Jakarta dan sekitarnya. Kementerian Kebudayaan lewat Museum dan Cagar Budaya (MCB) meluncurkan "Museum Passport" pada Juni 2026 lalu. Buku koleksi cap yang bisa diisi dengan mengunjungi museum dan cagar budaya yang berpartisipasi. 


Lebih dari 20 museum berpartsipasi, termasuk Museum Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Basoeki Abdullah, Museum Batik Indonesia, hingga Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Setiap lokasi punya desain cap berbeda dan buku paspornya bahkan dilengkapi voucher tiket masuk gratis ke beberapa museum.



Fenomena Stamp Rally yang Makin Seru!

Stamp rally berhasil menggabungkan beberapa hal yang memang disukai manusia, yaitu rasa pencapaian, eksplorasi, koleksi, dan interaksi sosial. Itu semua lalu dibungkus dalam format yang murah dan mudah direplikasi oleh siapa saja.


Selama masih ada tempat baru untuk dijelajahi dan komunitas yang ingin merayakan sesuatu bersama, kemungkinan besar kita akan terus melihat orang-orang antre sabar demi satu hal sederhana, yaitu cap kecil di atas kertas.



Sejujurnya, aku pun baru mau memulai stamp hunting… :D Doakan aku bisa dapat banyak stamp yaa.. Hehehe… Terakhir saat beberapa hari lalu, aku sempat mendapat stempel dari Stasiun Cirebon. Walaupun bukan stempel stasiun kereta yang aku inginkan, tapi aku sendiri ngerasa seru banget, sih, berburu stempel-stempel kayak gini… :D 


Kalau kamu gimana? Udah mulai stamp rally atau stamp hunting jugaaa? :D 


Sumber foto: 

https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-8636194/berburu-stamp-railly-di-stasiun-krl-dalam-sekali-tap-in/3  


Dita Indrihapsari


Menjelajahi Stasiun Cirebon Kejaksan: Dari Sejarahnya, Arsitektur, sampai Pengalaman Naik Kereta Cakrabuana


Rasanya aku sudah lama nggak ke Cirebon. Eh, ndilalah aku mendapat kabar kalau kakakku yang sedang tugas kantor di Cirebon mengalami kecelakaan. :( Akhirnya aku pun langsung menuju Cirebon untuk merawat kakakku selama beberapa hari di salah satu rumah sakit Cirebon.  


Nah, setelah sekitar lima hari di RS, aku pun kembali lagi ke Depok dengan menggunakan kereta. Barulah saat perjalanan pulang ini aku baru benar-benar melihat dari dekat bagaimana spesialnya Stasiun Cirebon Kejaksan, stasiun utama di kota Cirebon.


Kalau aku perhatikan, stasiun ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang aja. Stasiun Cirebon Kejaksan adalah bangunan cagar budaya berusia lebih dari satu abad dengan arsitektur yang bikin siapa pun bisa berhenti sejenak buat mengagumi detailnya! :) 


Di tulisan ini aku mau berbagi sedikit cerita soal sejarah, arsitektur, fasilitas, sampai pengalaman kecil-kecilan yang bikin kunjunganku ke Stasiun Cirebon Kejaksan jadi lebih berkesan. Yuk, yuk, baca, yuuuk! ;D 



Sejarah Stasiun Cirebon Kejaksan, Usianya 1 Abad Lebih!

Stasiun Cirebon Kota yang lebih dikenal dengan nama  Stasiun Cirebon Kejaksan mulai dibangun pada masa kolonial Belanda oleh perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS). 


Jalur kereta yang sebelumnya sudah ada di Cikampek kemudian diperpanjang untuk menjangkau Cirebon. Nah, pada 3 Juni 1912, jalur sepanjang sekitar 137 kilometer dari Cikampek menuju Cirebon rampung dibangun dan bersamaan dengan itu stasiun ini resmi dibuka untuk umum. 


Berarti usia Stasiun Cirebon Kejaksan tahun ini sudah 114 tahun, yaaa! Mantap nggak, tuh!


Nah, pembangunan jalur kereta ini ternyata erat kaitannya sama industri gula yang saat itu berkembang pesat di sepanjang pantai utara Jawa dari Semarang sampai Cirebon. 


Karena alat transportasi tradisional kayak pedati, tuh, sudah nggak mampu lagi mengangkut hasil produksi pabrik gula dalam jumlah besar,  makanya kereta api jadi solusi untuk distribusi gula, barang lainnya, sekaligus juga penumpang.


Usianya yang sudah seabad lebih, dan dilihat dari historinya, makanya nggak heran kalau stasiun ini kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar resmi. 


Jadi kalau Mateman berkunjung ke sini, Manteman nggak cuma naik kereta, tapi juga bisa melihat dari dekat jejak sejarah perkeretaapian Indonesia yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.



Arsitektur  Stasiun Karya Pieter Adriaan Jacobus Moojen

Salah satu daya tarik utama Stasiun Cirebon Kejaksan tentu saja arsitekturnya. Aku aja takjub banget, lho, pas bener-bener memperhatikan detail arsitektur stasiun ini. Memang dari segi ukuran stasiun ii nggak gede-gede amat, ya. Tapi baguuusss banget arsitekturnya!


Bangunan stasiun ini dirancang oleh arsitek kenamaan asal Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Ia memadukan gaya art nouveau dengan sentuhan art deco. Ciri art deco paling terlihat dari fasad bangunan yang simetris dengan bagian tengah gedung yang menjulang lebih tinggi dibanding dua menara di sisi kiri dan kanannya.


Dulu, pada masa kolonial, kedua menara tersebut punya fungsi khusus:, yaitu menara sebelah kiri bertuliskan "kaartjes" (karcis) sebagai loket penumpang, sementara menara sebelah kanan bertuliskan "bagage" (bagasi) untuk layanan barang. 


Bagian atas menara dan bangunan utama juga dihiasi jendela kaca patri warna-warni yang selain indah dipandang, dulunya berfungsi sebagai sumber penerangan alami di siang hari. Keren, yaa! Sampai sekarang bagian dalam stasiun juga tampak terang. 


Oiya, menariknya lagi, Moojen ini bukan nama asing di dunia arsitektur kolonial Indonesia. Aku pernah juga melihat beberapa karya arsitekturnya yang berada di Jakarta, yaitu Gedung Kunstkring dan Masjid Cut Meutia. Dua bangunan tersebut juga sarat nilai sejarah dan estetika arsitektur kolonial. :)



Beda Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan

Nah, buat Manteman yang baru pertama kali ke Cirebon, penting juga, nih, untuk tahu kalau kota ini punya dua stasiun besar. Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Cirebon Prujakan. 


Keduanya sering bikin bingung karena sama-sama berada di Kota Cirebon, tapi punya hal yang berbeda.


Stasiun Cirebon Kejaksan berstatus stasiun besar tipe A dan menjadi titik pertemuan utama jalur kereta api dari Jakarta menuju Surabaya, baik lewat jalur utara (Semarang) maupun jalur tengah (Yogyakarta–Solo). 


Kereta yang berangkat maupun datang di Stasiun Cirebon Kejaksan didominasi oleh kereta kelas bisnis dan eksekutif. Sementara itu, Stasiun Cirebon Prujakan umumnya melayani rute dan kelas kereta yang berbeda, sehingga kedua stasiun ini saling melengkapi dalam melayani mobilitas warga Cirebon dan sekitarnya.


Jadi, sebelum berangkat, jangan lupa cek dengan teliti nama stasiun keberangkatan di tiket Manteman, ya! Jangan sampai salah datang ke stasiun yang berbeda. :D



Berburu Stempel di Stasiun Cirebon Kejaksan

Begitu tiba di area Stasiun Cirebon Kejaksan, aku disambut dengan pemandangan lokomotif tua yang dipajang di bagian depan stasiun, seolah kayak menyambut setiap pengunjung yang datang gitu. 


Ojek online yang aku tumpangi pun langsung masuk ke area depan dan menurunkanku tepat di depan gedung utama stasiun.


Sambil menunggu keberangkatan kereta Cakrabuana yang akan membawaku ke Gambir, aku iseng bertanya soal program stamp rally yang belakangan lagi populer di kalangan penggemar kereta api. 


PT KAI memang telah menyediakan stempel khusus di beberapa stasiun, baik di wilayah Jabodetabek maupun kota-kota besar lainnya.


Aku pun diarahkan ke bagian customer service untuk mendapatkan stempel tersebut. Tapi ternyata stempel yang kudapat bukan stempel stamp rally versi reguler KAI, melainkan stempel edisi kolaborasi dengan film Jumbo. :D 


Pada tahun lalu, KAI memang pernah bekerja sama dengan film Jumbo untuk program stamp rally di sepuluh stasiun, termasuk Stasiun Cirebon Kejaksan. Stempel edisi ini sekarang sudah cukup langka untuk didapatkan. Sedangkan stempel stamp rally dari KAI yang baru ternyata belum ada di Stasiun Cirebon Kejaksan ini, baru ada di beberapa stasiun Jabodetabek. Yah, gagal, deh bisa dapat stempelnya, huhuhuw…


Tapi aku ternyata dapat cap stempel yang sudah cukup langka! Hehehe… Pengalaman kecil yang nggak terduga, tapi seru banget inilah yang bisa jadi kenang-kenangan perjalanan. :D 


Fasilitas Mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan

Setelah dari customer service, aku lanjut masuk ke area peron dengan proses yang cukup cepat. Aku hanya mengeluarkan tiket yang sudah aku cetak sebelumnya di mesin otomatis, siapkan KTP, lalu masuk aja, deh. Nggak ada antrean panjang saat itu, jadi prosesnya cukup cepat.


Sebelum kereta berangkat, aku menyempatkan diri mampir ke mushola untuk salat Ashar. Ternyata mushola di Stasiun Cirebon Kejaksan cukup proper. Tempatnya luas, bersih, dan tersedia mukena untuk jemaah perempuan. 


Menariknya lagi, fasilitas serupa juga tersedia di bagian dalam peron setelah proses check-in, jadi penumpang yang sudah masuk area boarding pun tetap bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus keluar area steril stasiun.


Buat kamu yang sering bepergian jauh dan khawatir soal fasilitas ibadah di perjalanan, poin ini jadi nilai plus tersendiri dari Stasiun Cirebon Kejaksan.



Beli Oleh-oleh di Stasiun Cirebon Kejaksan

Meski nggak terlalu besar, area depan Stasiun Cirebon Kejaksan ternyata cukup lengkap dari segi fasilitas penunjang. Ada beberapa tenant makanan, minimarket seperti Indomaret, hingga toko oleh-oleh khas Cirebon.


Nah, di bagian dalam peronnya pun juga sama. Ada beberapa tenant makanan dan oleh-oleh uga, selain ada mushola dan toilet. 


Salah satu tempat yang aku sambangi adalah toko oleh-oleh Batik Trusmi. Meski namanya identik dengan batik, ternyata toko ini juga menjual aneka camilan khas, salah satunya pie dengan rasa mangga yang kubeli untuk anak-anak di rumah. 


Harganya cukup terjangkau, satu buah dibanderol Rp35.000, tapi kalau beli tiga sekaligus harganya jadi Rp75.000 saja. Lumayan banget buat oleh-oleh ringan sebelum melanjutkan perjalanan.


Jadi kalau kamu transit atau menunggu jadwal kereta di sini, jangan lewatkan kesempatan untuk berburu camilan atau oleh-oleh khas Cirebon lainnya.


Naik Kereta Cakrabuana dari Stasiun Cirebon Kejaksan

Setelah puas berkeliling, salat, dan berbelanja oleh-oleh, akhirnya aku menuju jalur tempat kereta Cakrabuana sudah bersiap untuk berangkat menuju Stasiun Gambir, Jakarta. 


Rasanya perjalanan singkat di Stasiun Cirebon Kejaksan ini memberi banyak kesan, mulai dari kagum akan arsitektur peninggalan kolonial karya Moojen, serunya berburu stempel unik, sampai kenyamanan fasilitas yang bikin waktu menunggu jadi nggak terasa membosankan.


Buat Manteman yang berencana melakukan perjalanan kereta dari atau menuju Cirebon, Stasiun Cirebon Kejaksan bisa jadi salah satu titik keberangkatan yang nyaman. 


Selain fasilitasnya cukup lengkap untuk ukuran stasiun yang "pas", nggak terlalu besar tapi juga nggak kekurangan apa-apa. Nilai historis dan arsitekturnya juga membuat pengalaman menunggu kereta jadi lebih dari sekadar rutinitas.


Jadi, kalau lain kali kamu transit di Cirebon, sempatkan waktu sedikit lebih lama untuk menikmati bangunan bersejarah satu ini, ya! 😀



Dita Indrihapsari


Namjooning, Cara Menikmati Hidup dan Jalan-Jalan ala RM BTS yang Ternyata Sudah Sering Aku Lakukan!

 



Kalau kamu ARMY rasanya istilah Namjooning bukan sesuatu yang asing, ya.


Aku sudah cukup sering mendengar istilah ini digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan Kim Namjoon alias RM BTS ketika sedang menikmati waktu untuk dirinya sendiri. 


Jalan-jalan, mengunjungi museum, melihat karya seni, membaca buku, bersepeda, menikmati alam atau sekadar pergi ke suatu tempat tanpa harus punya tujuan yang serius. Kayak uma nikmatin tempatnya dan apa yang ada di sana aja.


Dan sebagai orang yang suka jalan-jalan, mengunjungi tempat bersejarah, menikmati museum, mencoba kuliner, sampai trekking bersama keluarga, aku tiba-tiba merasa, “Wah, jangan-jangan selama ini aku juga Namjooning?” :D


Bukan karena aku sengaja ngikuti gaya hidup Namjoon. Justru sebaliknya. Setelah mengenal lebih jauh apa yang dimaksud dengan Namjooning, aku sadar kalau beberapa hal yang memang sudah aku sukai selama ini ternyata punya kemiripan dengan cara Namjoon menikmati hidup. ;)



Sebenarnya, Apa Itu Namjooning?

Buat yang mungkin bukan ARMY atau baru mengenal istilah ini, Namjooning pada dasarnya adalah istilah yang berasal dari nama Namjoon.


Sekitar tahun 2019, ketika BTS sedang menjalani masa liburan, RM pernah ditanya mengenai apa yang sedang ia lakukan. Jawabannya kemudian menjadi cukup ikonik di kalangan ARMY:


“I’m namjooning.”


Jadi, Namjoon sedang melakukan hal-hal yang memang ia sukai sebagai dirinya sendiri. Di lagi menikmati waktu luang, berjalan-jalan, melihat alam, membaca, menikmati seni, dan melakukan berbagai aktivitas yang membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri.


Dari sinilah istilah Namjooning kemudian semakin populer di kalangan ARMY dan akhirnya digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dianggap sangat “Namjoon”.


Urban Dictionary menggambarkan Namjooning sebagai “living as Kim Namjoon”, dengan contoh kegiatan seperti berjalan di taman, menikmati alam, membaca, melihat karya seni, menghabiskan waktu bersama teman, hingga membuat musik.


Tapi menurutku, semakin lama istilah ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas.


Namjooning bukan sekadar “melakukan apa yang dilakukan Namjoon.” Bahkan lebih dari itu.  Namjooning seperti sebuah cara untuk menikmati hidup. Pergi ke tempat yang membuat kita penasaran. Menikmati karya seni. Berjalan di tengah alam. Membaca buku. Mengamati sesuatu. Bahkan  sekadar duduk dan menikmati suasana. 



Kalau Namjoon Lagi Namjooning, Biasanya Ngapain?

Kalau mengikuti perjalanan Namjoon selama beberapa tahun terakhir, kelihatan kalau dia dan seni seperti punya hubungan yang deket banget! 


Museum dan galeri seni jadi salah satu tempat yang cukup sering dikunjungi Namjoon. Di Seoul, ia pernah mengunjungi Leeum Museum of Art, National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA), Seoul Museum of Art, Gana Art Center, hingga berbagai galeri lainnya.


Namjoon juga beberapa kali membagikan kunjungannya ke museum dan tempat-tempat bersejarah melalui Instagram.  Namjoon juga dikenal senang menikmati alam, berjalan-jalan, bersepeda, membaca buku, mengunjungi perpustakaan, menikmati arsitektur, dan melakukan perjalanan.


Nggak heran kalau kemudian banyak ARMY yang menjadikan perjalanan tersebut sebagai semacam Namjooning tour versi mereka sendiri. Iyaaa, banyak, lho, fans yang ngikutin ke mana Namjoon melakukan namjooning. :D Jadi para fans ini juga bakal foto persisi seperti foto Namjoon saat di tempat ini. Mantap kalian Army HAVE! :D 


Apalagi saat world tour album Arirang BTS, kelitan baget kalau Namjoon pergi ke tempat-tempat menarik dari egara yang ia kunjungi. Kan, aku jadi ngebayangi ya nanti pas BTS ke Jakarta apakah Namjoon akan ke galeri seni atau museum juga? Kalau iya, kira-kira ke mana, yaaaa? :D 


Tapi kalau mau menyelami lebih dalam lagi ya, sebenarnya istilah namjooning ini bukan cuma perkara soal tempatnya aja. api juga gimana kita bisa menikmati waktu di tempat tersebut tanpa perlu buru-buru. Tanpa perlu harus dikejar mesti bikin konten (misalnyaaa)... Ahahaha....


Kenapa Istilah Ini Jadi Relate Buat Banyak Orang?

Menariknya, namjooning berkembang bukan cuma jadi istilah fandom, tapi jadi semacam gaya hidup kecil yang relevan buat siapa saja, termasuk yang bukan ARMY sekalipun. 


Di tengah hidup yang serba cepat dan penuh target, banyak orang jadi merasa butuh momen berhenti sejenak gitu. Entah lewat jalan sore tanpa tujuan, journaling, piknik kecil di taman, menikmati pameran seni atau sekadar duduk diam menikmati suasana tanpa distraksi gadget. :)



Dan Ternyata… Aku Juga Sering Namjooning!

Nah, setelah melihat berbagai perjalanan Namjoon, aku jadi senyum-senyum sendiri. Karena ternyata beberapa aktivitas yang selama ini aku lakukan dan tulis di blog Rumika’s Journey ini punya “vibes” Namjooning yang cukup kuat! Hehehe...


Aku suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan museum sendirian. Aku suka jalan-jalan untuk melihat sesuatu yang baru, termasuk ikut walking tour ke berbagai tempat menarik. Aku pun suka banget menikmati suasana sebuah kota. Aku juga suka pergi ke alam dan melakukan trekking bersama keluarga dan teman.


Bahkan beberapa tulisan di blog ini sebenarnya lahir dari perjalanan, pergi ke tempat baru, melihat, mencoba, menikmati, lalu pulang membawa cerita yang aku bagikan di blog dan media sosial.


Jadi, mungkin selama ini aku memang sudah sering Namjooning. Dan tentu aja, sebagai seorang ARMY dengan Namjoon sebagai ultimate biasku, tahu kalau hobi jalan-jalanku ternyata punya kemiripan dengan kegiatan yang sering dilakukan bias sendiri rasanya menyenangkan juga. Hehehe... :D


Mungkin ini hal yang paling aku suka dari konsep Namjooning. Kita, tuh, nggak harus pergi ke Seoul atau mengikuti persis perjalanan Namjoon. Kita juga nggak perlu mengunjungi museum yang sama, membaca buku yang sama atau foto di tempat yang sama.


Kita bisa membuat versi Namjooning kita sendiri. Karena buatku, Namjooning bukan tentang menjadi Namjoon. Namjooning tentang jadi diri sendiri, menikmati hal-hal yang kita sukai, dan sesekali berhenti dari rutinitas untuk benar-benar melihat dunia di sekitar kita. Aseeeek! 


Gimana, kalau kamu sudah Namjoonig ke mana aja dan ngapain aja? :D



Dita Indrihapsari



Rencana Liburan Keluarga yang Tidak Terlaksana

 



Katanya, manusia hanya bisa berencana, sedangkan Tuhan yang menentukan segalanya. Ungkapan itu rasanya seratus persen benar, seenggaknya dalam pengalaman liburan keluargaku. 


Sudah beberapa kali aku dan keluarga menyusun rencana liburan bersama, lengkap dengan destinasi dan bayangan keseruan yang akan kami alami. Tapi entah kenapa, rencana itu selalu saja kandas di tengah jalan. 


Bahkan beberapa di antaranya kini mustahil untuk diwujudkan lagi karena anggota keluarga yang seharusnya ikut serta sudah lebih dulu berpulang… :'(


Berikut beberapa rencana liburan keluargaku yang akhirnya nggak pernah terlaksana.



Legoland Malaysia

Tahun 2019, aku sempat merencanakan liburan ke Legoland Malaysia bersama anak-anak. Rencananya, sih, berangkat tahun 2020. Aku dan suami bahkan sudah memperpanjang paspor dan membuatkan paspor baru untuk anak-anak di akhir tahun 2019. 


Namun rencana tinggal rencana. Maret 2020, dunia dilanda pandemi Covid-19. Perjalanan dalam negeri dibatasi, apalagi perjalanan luar negeri. Rencana ke Legoland pun terpaksa kami batalkan. Sedih banget waktu itu, tapi mau bagaimana lagi.


Sampai sekarang rencana itu belum pernah terwujud, padahal anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Rasanya rencana itu perlahan terlupakan begitu aja dan bukan lagi jadi prioritas keluarga. Hehe… Mungkin memang belum waktunya atau mungkin memang bukan rezeki kami ke sana…



Napak Tilas Masa Kecil Mama di Jawa Timur

Rencana yang satu ini sebenarnya baru sebatas obrolan denganku dan mama. Selama ini aku selalu tahu mama adalah orang Solo. Sejak kecil, aku selalu mengisi liburan panjang sekolah dengan bermain di rumah eyang di Solo.


Tapi ternyata, mama banyak menghabiskan masa kecilnya di daerah Jawa Timur. Mama lahir di Madiun dan ternyata punya darah keturunan Ponorogo, hal yang baru aku ketahui setelah dewasa. Karena itu, aku dan mama sempat mengobrol untuk suatu saat napak tilas ke tempat-tempat yang pernah mama singgahi waktu kecil, di Madiun dan Blitar.


Sayangnya, obrolan itu nggak pernah sempat jadi rencana yang matang, apalagi terlaksana. Mama berpulang di tahun 2021. Kini, cerita-cerita tentang masa kecil mama di Jawa Timur cuma jadi potongan ingatan yang aku dengar sekilas aja tanpa sempat aku telusuri sendiri tempat-tempatnya.



Wonosobo dan Solo Bersama Atung

Rencana liburan ini yang benar-benar membuatku menyesal dan sedih sampai sekarang.


Pada liburan panjang sekolah tahun itu, aku dan suami berencana mengajak anak-anak liburan ke Wonosobo melihat Dieng dari dekat dan Klaten buat mampir berendam dan main air di Umbul Ponggok. 


Kami pun berpikir untuk mengajak bapak (atung), ibu (uti), dan mbah (uyut) ikut serta untuk sekalian ke Solo karena ada banyak keluarga baak di Solo. Rencananya kami akan road trip dengan menyewa mobil yang lebih besar, supaya semua bisa berangkat bersama.


Aku bahkan sudah sempat browsing dan survei sewa mobil, mulai mendata tempat menginap, sampai mengecek biaya dan paket berendam di Umbul Ponggok. Semua terasa sudah di depan mata gitu. 


Namun rencana tinggal rencana. Sekitar seminggu sebelum berangkat, tiba-tiba atung kolaps terkena stroke. Ada pembuluh darah di otaknya yang pecah. Sempat menjalani operasi dan pulang ke rumah, tapi kondisinya memburuk hingga akhirnya harus dirawat kembali di rumah sakit. Lima hari dirawat, atung berpulang.


Ah, rasanya sampai sekarang masih seperti nggak percaya. Padahal aku pingin bangeti mengajak atung, uti, dan mbah jalan-jalan bersama, menikmati waktu yang seharusnya masih panjang. :’(



Gagal Staycation di Kuningan

Selepas kepergian atung, suamiku punya rencana mengajak ibu dan mbah untuk staycation di Kuningan. Alasannya sederhana, saat atung dirawat di rumah sakit, kantor suami sedang mengadakan gathering di Kuningan dan suami nggak bisa ikut karena harus menjaga bapak. Jadi ketika ada waktu long weekend, muncul ide untuk mengajak ibu dan mbah healing keluar rumah, sekaligus menebus kesempatan yang terlewat itu.


Suami sudah booking hotel Santika Premiere Kuningan. Viewnya memang bagus sekali, dan aku sempat membayangkan betapa segarnya suasana di sana untuk ibu dan mbah.


Tapi rupanya belum jadi rezeki lagi. Sebelum keberangkatan, ibu yang sepertinya sejak kepergian bapak kondisi mental dan fisiknya kurang baik, sempat terjatuh di depan rumah dan di kamar. 


Kondisi kakinya pun jadi kurang baik. Setelah berpikir cukup lama, kami memutuskan untuk nggak jadi berangkat ke Kuningan.


Dan ternyata, ada alasan lain yang menanti. Nggak lama setelah itu, aku dapat kabar kakakku yang sedang bertugas dinas dua tahun di Cirebon mengalami kecelakaan, ditabrak motor, dan harus menjalani operasi karena lukanya cukup parah. 


Akhirnya, di waktu yang seharusnya aku berlibur ke Kuningan, aku justru ke Cirebon untuk menjaga kakakku yang dirawat di rumah sakit. Saat menulis ini pun aku masih ada di rumah sakit… 



Semua Sudah Diatur oleh-Nya

Dari beberapa kejadian ini, sebenarnya bukan rasa penyesalan yang paling besar aku rasakan, tapi keyakinan bahwa semua ini sudah diatur. Allah sebaik-baiknya perencana.


Aku mungkin tidak selalu tahu apa hikmah di balik rencana-Nya. Tapi di setiap kegagalan itu, aku percaya selalu ada sesuatu yang sedang dijaga oleh-Nya, meski aku nggak selalu bisa langsung memahaminya.


Sampai sekarang, aku masih terus belajar untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan-Nya. Karena pada akhirnya, yang bisa aku lakukan hanyalah menerima semua ini dengan ikhlas meski liburan-liburan itu nggak pernah benar-benar terjadi.


Mungkin, rencana yang nggak terlaksana bukan berarti sia-sia. Setidaknya, dari sana aku belajar untuk lebih menghargai waktu bersama orang-orang tersayang, selagi masih ada kesempatan. :’)



Dita Indrihapsari



Masuk Bunker Rahasia di Museum Perumusan Naskah Proklamasi



Awalnya aku memang sempat ragu beberapa detik sebelum aku akhirnya benar-benar melangkah masuk ke dalam bunker ini dengan tangga. Ruangan bunker agak gelap, sempit, dan langit-langitnya cukup rendah. Inilah bunker tua di halaman belakang Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat.


Kunjungan ini aku lakukan bareng teman-teman dari komunitas Moms Video Maker. Awalnya niatnya cuma jalan-jalan sambil bikin konten, tapi begitu berdiri di depan mulut bunker itu, rasanya kayak diajak lompat ke masa lalu, deh. Museum ini menarik banget! 



Turun ke Bunker, Ruangan Sempit Saksi Bisu Sejarah

Bunker ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan merupakan bagian asli dari bangunan yang nggak pernah diubah. Ukurannya sekitar 5 x 3 meter dengan tinggi lebih dari 1,5 meter. Menurut tour guide yang menemani kami, bunker ini hanya cukup menampung sekitar sepuluh orang saja. 


Tempat masuknya agak sempit, kira-kira seukuran dua orang dewasa berdiri berdampingan, dan begitu masuk ke dalam, langit-langitnya makin merunduk dengan bentuk ruangan yang unik menyerupai segi enam.




Dulu konon di ujung bunker ada lorong rahasia seukuran badan manusia yang dapat digunakan sebagai jalur pelarian darurat. Sayangnya, lorong ini sekarang sudah ditutup permanen dan nggak bisa dilalui lagi. 


Menurut cerita guide, bunker ini dulunya juga menjadi tempat Laksamana Maeda, pemilik rumah, menyimpan dokumen penting dan barang-barang berharga miliknya. Bunker ini sekaligus berfungsi sebagai tempat persembunyian darurat kalau situasi mendadak genting.


Berdiri di dalam bunker yang gelap dan sempit itu, aku jadi ngebayangin bagaimana rasanya berlindung di sana saat suasana perang. Itu tuh, seperti suatu hal yang jauh dari bayangan hidup nyaman sekarang. :(  



Rumah Tua yang Menyimpan Sejarah Besar

Setelah keluar dari bunker, aku jadi makin penasaran sama cerita di balik bangunan museum ini. Ternyata, gedung yang sekarang jadi Munasprok punya perjalanan panjang jauh sebelum bunkernya dipakai untuk menyimpan barang berharga Laksamana Maeda.


Bangunan ini berdiri sejak sekitar tahun 1920-an dengan gaya arsitektur Eropa (Art Deco), hasil rancangan arsitek Belanda J.F.L. Blankenberg, yang juga merancang beberapa bangunan lain di kawasan Menteng. 


Awalnya, rumah ini adalah kediaman resmi Konsulat Jenderal Inggris. Lalu, memasuki masa pendudukan Jepang, rumah ini ditempati oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.


Di rumah inilah, pada malam 16 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 setelah rombongan pulang dari Rengasdengklok, Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, dan beberapa tokoh lainnya berkumpul untuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. 


Setelah Jepang kalah dan sekutu datang, gedung ini sempat menjadi markas tentara Inggris, lalu disewakan lagi ke Kedutaan Inggris sampai tahun 1981. Barulah setelahnya bangunan ini diserahkan dan ditransformasi menjadi museum yang bisa kita kunjungi sekarang, sekaligus ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.



Ruang Perumusan & Pengetikan Naskah Proklamasi

Begitu masuk pintu utama, pengunjung langsung disambut ruang tengah yang cukup luas dengan berbagai koleksi bersejarah. Ada ruang pertemuan dengan replika meja bundar dan empat sofa, tempat rombongan Soekarno-Hatta bertemu Laksamana Maeda malam itu.


Tapi spot yang paling bikin aku berhenti agak  lama adalah ruang perumusan naskah di sebelah meja bundar. Di ruangan ini ada diorama tiga tokoh, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo.


Mereka digambarkan sedang duduk mengelilingi meja panjang sambil menuliskan rumusan naskah proklamasi. Detail patungnya cukup hidup, lengkap dengan ekspresi serius mereka malam itu. 




Nggak jauh dari ruangan itu, ada juga ruangan yang menampilkan diorama Sayuti Melik lengkap dengan mesin ketik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi menjadi bentuk final. 


Nah, ruangan Sayuti Melik ini juga sepertinya jadi salah satu spot favorit pengunjung,. Di tempat inilah naskah coretan tangan berubah menjadi dokumen resmi kemerdekaan! :’)


Satu benda lain yang menarik perhatian di museum ini adalah piano tua. Konon, karena suasana rumah saat itu ramai dan serba mendadak, piano ini yang dijadikan alas ketika Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi.



Kejutan Kamar Mandi Pink dan Hijau!

Kalau ruang lantai satu penuh dengan nuansa sejarah yang khidmat, lantai dua museum ini justru ada yang bikin aku takjub sendiri. Di lantai dua ada beberapa ruangan yang menyimpan benda-benda bersejarah, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah dua kamar mandinya! :D 


Ukuran kamar mandinya gede banget. Rasanya satu kamar mandi, tuh, bisa buat dua kamar tidur, deh… :D Kebayang, kan, betapa rumah ini gede banget dan yang punya rumah ini sekaya apa. Hehehe…   


Yang bikin makin unik, satu kamar mandi bathtub dan toilet dengan warna pink, sedangkan kamar mandi satunya berwarna kuning muda. 


Warna-warna pastel yang sekarang lagi hits di desain interior, ternyata sudah dipakai sejak puluhan tahun lalu di rumah ini. Rasanya lucu sekaligus takjub gitu, siapa sangka rumah bersejarah tempat lahirnya naskah proklamasi juga punya sisi "estetik" yang nggak kalah instagramable. :D



Kenapa Museum Ini Wajib Masuk List Kunjungan?

Buat aku, Munasprok bukan sekadar museum berisi barang-barang bersejarah. Setiap sudutnya, dari bunker sempit di halaman belakang, ruang perumusan naskah, mesin ketik yang dipakai Sayuti Melik, sampai kamar mandi pink-hijau di lantai dua, semuanya jadi bagian yang menghidupkan kembali cerita di detik-detik menjelang kemerdekaan Indonesia.


Hal ini juga jadi pengingat buat aku, kamu, buat kita semua kalau negara ini terbentuk karena perjuangan pahlawan, kerjasama para tokoh-tokoh bangsa. Negara ini terlalu berharga buat dirusak oleh segerombolan “pencuri” berkedok pejabat… :’( Indonesia tahun ini sudah 81 tahun, sudah semestinya negara ini maju tanpa korupsi, tanpa hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. 


Rasanya utopis banget, ya. Apalagi di tengah situasi bangsa saat ini. Aku tadinya pun skeptis. Tapi kalau bukan kita yang punya harapan, negra ini nggak punya apa-apa lagi… 


Ada bagusnya juga museum-museum seperti ini dikenalkan ke anak-anak kita, ya. Biarlah mereka tahu sejarah bangsanya dan ketika mereka memimpin negeri ini mereka bisa berbuat yang jauh lebih baik… :) 






Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok)

Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310

Jam Operasional: Selasa–Minggu, pukul 08.00–16.00 WIB (tutup setiap hari Senin)

Instagram: @munasprok

Website: munasprok.go.id


Dita Indrihapsari


Ketagihan Foto di Etive Depok: Self Photo Studio, Photobox, sampai Ketemu Standee V BTS!



Kalau nggak diajak sama temanku, Ciwul, aku nggak pernah tahu, deh, kalau di Depok ada tempat self photo studio yang temanya Korea! 


Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu, aku dan Isti diajak Ciwul untuk foto-foto bareng buat keperluan journaling. Awalnya aku kira bakal kayak sesi photobox biasa aja, masuk bilik, pencet tombol, dapet strip foto, selesai. Ternyata dugaanku nggak sepenuhnya benar! 


Nama self photo studio ini Etive. Lokasinya ada di Jalan Margonda. Jjujur aku baru ngeh kalau di jalan seramai itu ada spot foto seseru ini. Begitu naik ke lantai atas dan masuk, aku langsung norak sendiri karena isinya ternyata jauh lebih lengkap dari yang aku bayangkan. 




Bukan cuma satu bilik foto kecil, tapi ada satu studio foto besar dengan banyak pilihan background, beberapa photobox dengan tema berbeda-beda, plus ruang karaoke dan mini theatre buat nonton bareng. Rasanya kayak ketemu satu tempat hangout serba ada gitu! 



Konsepnya Korea Banget, Sampai Ada Standee V BTS!

Nah ini yang bikin aku makin excited begitu masuk ke studio fotonya, keliatan banget kalau konsep Etive ini kental banget nuansa Korea-nya. Jadi nggak heran juga kalau di beberapa sudut ada standee idol K-pop. :D 


Dan yang bikin aku happy banget, aku nemu standee V BTS di sana! Sebagai Army (jalur kuota! wkwkwk), ya, jelas, dong, aku nggak mau ngelewatin kesempatan ini. Langsung deh aku minta difoto bareng standee-nya, hehe. :D Momen kecil kayak gini, nih, yang bikin sesi foto hari itu jadi makin berkesan buatku pribadi.






Saatnya Bebas Gaya Sepuasnya!

Kami bertiga mulai sesi dari studio foto utamanya. Ruangannya cukup luas dengan beberapa pilihan background. Kami diberikan waktu sekitar 15 menit untuk berfoto sepuasnya, mau gonta-ganti gaya berapa kali juga boleh. Sebenarnya bisa pakai kostum juga, tapi ada tambahan biaya Rp 10K ya kalau mau pakai kostum tambahan. 


Karena niatnya foto santai natural aja, kami pun juga nggak pakai kostum dan aksesoris yang macam-macam. 




Awalnya kami foto bertiga, terus gantian foto sendiri-sendiri juga. Nah, pas foto sendiri di studio foto inilah aku jadi bisa foto sama standee-nya V BTS muahahahaha…. :D 



Keliling Photobox dengan Tema Beda-beda

Selesai dari studio utama, kami lanjut coba satu per satu photobox tematiknya. Ada empat tema yang tersedia, yaitu:


  • Tema lift. Suasananya emang dibikin mirip seperti di dalam lift beneran. Termasuk posisi kameranya yang dipasang di atas seperti CCTV. Asli, sih, pas foto di sini jadi lumayan bikin pegal leher kalau kebanyakan dongak ke atas… :D 



  • Tema minimarket. Kayaknya, ini tema photobox favoritku, deh. Photobox ini dilengkapi dengan rak dan keranjang belanja sebagai properti foto. Snack-nya juga beneran, lho! Bagian ini paling seru pas temanku sempet naik ke dalam trolinya! 



  • Tema fitting room. Menurutku ini tema simple tapi hasil jadinya baguuuus…



  • Tema vintage. Nah, kalau tema vintage ini sebenarnya hanya ruang foto yang ditutup gorden merah. Tapi begitu lihat hasil fotonya, wah, keliatan estetik, deh!



Tiap tema punya vibes yang beda banget  Jadi dalam satu kunjungan kami bisa dapat berbagai macam gaya foto tanpa harus pindah lokasi.


Tapi jujur, sesi foto ini sempet juga ngerasain yang namanya mati gaya! Ahahahaha….  Durasifoto di tiap studio sebenarnya nggak lama, sih, tapi rasanya kenapa lama banget, ya!  


Kami bertiga sempat bolak-balik bingung mau pose apa lagi. Mungkin ini juga soal faktor umur kali ya, hehe… Ditambah kami memang udah jarang banget foto-foto kayak gini, jadi rasanya agak awkward pas harus mikir pose dadakan di depan kamera.


Akhirnya kami banyak ketawa sendiri karena saking bingungnya dan itu malah jadi bagian paling receh sekaligus paling diingat dari sesi hari itu… :D 



Bukan Cuma Foto, Ada Karaoke dan Mini Theatre Juga

Satu hal lagi yang bikin Etive terasa lebih dari sekadar tempat foto adalah adanya ruang karaoke mini dan ruang mini theatre buat nonton bareng. 


Jadi kalau habis sesi foto masih pengen lanjut hangout sama teman, tinggal geser ke ruangan lain tanpa perlu pindah tempat. Ruangan-ruangan ini biasanya bisa disewa per jam, cocok banget buat nutup acara kumpul bareng teman atau keluarga.



Harga Self Photo Studio dan Photobox di Etive Depok

Nah, kalau Manteman juga pingin foto-foto di Etive, cek dulu harganya di bawah ini, yaa… 


  • Studio foto utama: Rp 40.000,-/orang, sudah termasuk cetak foto dan all digital soft copy. Durasi foto 15 menit, ya. 


  • Photobox tematik: Rp 30.000,-/sesi, sudah termasuk 2 photostrips dan all digita copy. Nah, untuk photobox durasi per sesinya 5 menit aja, ya. api 5 menit juga udah cukup banget sih menurutku ada di dalam photobox-nya. :D


  • Tambahan kostum dan aksesoris: Rp 10.000,-


  • Etive Room (ruang karaoke./Netflix): Rp 70.000,-/jam (2 orang), Rp 90.000,-/jam (>2 orang). 


  • Etive Film: Rp 150.000,-/sesi (2 jam, 1 film, tidak ada batasan orang).


Supaya nggak salah budget, ada baiknya cek dulu harga terbaru langsung ke akun Instagram atau WhatsApp cabang Etive yang mau Manteman datangi sebelum booking. Oiya, untuk bookingnya juga bisa lewat website-nya Etive.




Lokasi Etive Depok

Etive Depok berlokasi di Jl. Margonda No. 504 (sebelah Optik Mikeda), Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok. 


Tempatnya ada di lantai atas dan ukurannya nggak terlalu mencolok dari jalan, jadi wajar kalau banyak yang belum sadar tempat ini ada persis di pinggir Margonda yang seramai itu. Etive Depok buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 22.00.



Etive Juga Ada di Kota Lain

Buat yang bukan warga Depok atau lagi di kota lain, tempat ini sudah punya beberapa cabang di berbagai kota, di antaranya:


  • Kemang, Jakarta Selatan
  • Tanjung Duren, Jakarta Barat
  • Kelapa Gading
  • Bekasi (Grand Galaxy City)
  • Gading Serpong, Tangerang
  • Serang
  • Bandung
  • Bogor
  • Cibubur


Konsep dan tema di tiap cabang kurang lebih mirip, ada self photo studio, photobox dengan beberapa tema, dan Etive Room untuk karaoke/nonton.


Gimana, tertarik buat bikin momen bareng temen-temen dengan foto di Etive juga? Awalnya cuma niat ikut ajakan teman buat foto santai, eh, malah jadi sesi hangout yang lumayan panjang, ya. 


Dari studio foto utama, keliling photobox, sampai foto bareng standee V BTS yang bikin hari itu makin berkesan buatku. :D Buat yang cari tempat foto estetik dengan nuansa Korea di Depok atau sekadar mau ngumpul bareng teman tanpa pindah-pindah lokasi, Etive ini boleh juga dicoba! 



Dita Indrihapsari


Manfaat Field Trip Sekolah Tanpa Kehadiran Orang Tua, Ternyata Banyak, lho!



Setiap tahun ajaran baru, ada satu hal yang selalu bikin anak-anakku heboh. Apalagi kalau bukan agenda jalan-jalan sekolah. :D 


Di SD tempat anak-anakku sekolah, ada dua jenis kegiatan yang sering bikin bingung kalau belum tahu bedanya, yaitu fun trip dan field trip.


Fun trip biasanya diadakan setahun sekali dan diikuti oleh semua siswa dari level 1 sampai level 6 bareng-bareng. Tujuannya ke tempat wisata seru semacam Dufan atau Jungle Land. 


Namanya juga fun trip, jadi memang fokusnya buat senang-senang dan main bareng teman. Selain didampingi guru, kegiatan ini juga ditemani oleh support parents atau yang biasa disebut korlas (koordinator kelas).


Nah, berbeda dengan field trip. Field trip bisa diakana satu atau dua kali dalam setahun.. Kalau field trip ini diadakan per level, jadi nggak semua anak ikut bareng-bareng. Misalnya anak kelas 3 field trip ke tempat edukasi Pelita Desa, sementara kelas 4 punya jadwal sendiri ke Inagro. Field trip tentunya ke tempat-tempat wisata edukasi yang disesuaikan dengan tema pembelajaran di level masing-masing, ya. 


Bedanya lagi, field trip cuma didampingi oleh guru kelas aja, tanpa kehadiran orang tua sama sekali. Jadi pihak support parents atau korlas pun nggak ikut kegiatan ini. 


Nah, di sinilah biasanya muncul pertanyaan dari orang tua. Field trip dan fun trip ini, kan, bisa dibilang sama, ya, kayak study tour sekolah. Makanya pasti ada aja, kan, pro kontra soal kegiatan ini.  Terutama soal apakah aman anak jalan-jalan sekolah tanpa didampingi orang tua? 


Pro kontra soal kegiatan ini nggak bisa dihindari, ya. Namun di tulisan kali ini aku lebih mau cerita soal manfaat yang ternyata bisa didapat anak dari kegiatan fun trip dan field trip bareng sekolah tanpa kehadiran orang tua. 



Melatih Kemandirian Anak

Ini yang menurutku jadi manfaat paling terasa. Tanpa ada orang tua di sisi mereka, anak jadi terbiasa mengurus dirinya sendiri. Mulai dari membawa bekal, menjaga barang bawaan, sampai memutuskan sendiri kapan harus bilang ke guru kalau mau ke toilet atau kapan kalau mau minum air putih. 


Hal-hal kecil ini yang sebenarnya jadi latihan kemandirian yang nggak selalu bisa didapat kalau orang tua terus mendampingi.



Belajar Adaptasi dan Sosialisasi dengan Cara Berbeda

Kalau biasanya anak main sama teman dekat aja, di field trip mereka jadi punya kesempatan berinteraksi dengan teman sekelas secara lebih intens. Apaagi biasanya mereka akan dibagi kelompok yang belum tentu akan satu kelompok dengan teman dekatnya saat di sekolah 

Anak jadi harus bisa adaptasi lebih cepat dan harus belajar menyelesaikan masalah kecil sendiri atau minta bantuan ke guru maupun teman.



Fokus pada Pembelajaran

Khusus untuk field trip karena field trip diadakan per level dan biasanya ke tempat edukasi seperti Pelita Desa, Godong Ijo atau Inagro, anak jadi lebih fokus menyimak materi yang diberikan. 


Nggak terganggu dengan kehadiran orang tua yang kadang malah bikin anak lebih sibuk cari perhatian dibanding menyimak penjelasan dari pemandu wisata di tempat tersebut.



Membangun Kedekatan dengan Guru Kelas

Momen field trip ini juga jadi kesempatan bagus buat anak makin dekat dengan guru kelasnya. Di luar suasana kelas yang formal, anak bisa melihat sosok guru dari sisi lain, sebagai pendamping yang menjaga dan mengarahkan mereka selama perjalanan. 


Nah, kalau di fun trip anak dan guru ada punya kesempatan juga untuk main bareng tanpa ada kecanggungan.



Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Aku juga sering dengar cerita dari anak-anakku sepulang field trip dan biasanya mereka jadi lebih pede menceritakan pengalamannya sendiri, tanpa "dibantu" cerita sama Bubu atau Yaya-nya. Karena mereka yang mengalami sendiri, mulai dari antre, bertanya ke guru atau pemandu, sampai menyelesaikan tugas kelompok kecil di lokasi, rasa percaya diri mereka jadi terbangun secara alami. 


Ini beda banget rasanya dibanding kalau orang tua ikut serta terus mendampingi setiap langkah anak. Bisa-bisa mereka melirik terus ke orang tua, apalagi buat anak yang masih level kecil antara level 1 sampai level 3. :D 



Tentang Pendapat yang Kontra

Aku juga sadar, nggak semua orang tua sepakat dengan kegiatan field trip atau study tour sekolah, ya. Beberapa waktu terakhir, isu ini malah cukup ramai dibahas, terutama setelah ada beberapa kejadian kecelakaan yang melibatkan kendaraan rombongan study tour sekolah di berbagai daerah. 


Wajar kalau kemudian muncul kekhawatiran soal aspek keselamatan, terutama menyangkut kondisi kendaraan, kelayakan sopir, sampai jalur perjalanan yang dilalui.


Selain itu, biaya juga sering jadi sorotan, sih. Ada study tour yang harganya cukup mahal, apalagi kalau tujuannya ke luar kota dan memakan waktu beberapa hari. Ini tentu jadi beban tersendiri buat sebagian keluarga, terlebih kalau nggak semua orang tua merasa kegiatan tersebut esensial untuk pembelajaran anak mereka.


Beberapa pihak juga mempertanyakan urgensi field trip dibanding manfaat akademis yang didapat, apalagi kalau destinasinya dirasa kurang relevan dengan materi pelajaran. 


Semua kekhawatiran ini menurutku wajar dan memang perlu jadi perhatian bersama, baik dari sekolah maupun orang tua.



Jadi, Setuju atau Tidak?

Kalau ditanya pendapatku sendiri sebagai orang tua, aku sebenarnya setuju-setuju saja dengan kegiatan field trip maupun fun trip di sekolah anak-anakku, asalkan pihak sekolah dan panitia memang benar-benar mempersiapkannya dengan matang. 


Transportasi yang digunakan harus memadai dan sesuai standar keselamatan, termasuk juga urusan konsumsi yang layak dan sehat untuk anak-anak selama perjalanan.


Kebetulan di sekolah anak-anakku, biaya untuk kegiatan jalan-jalan seperti ini biasanya sudah termasuk dalam pembayaran daftar ulang di awal tahun ajaran. Jadi nggak ada lagi penarikan biaya tambahan mendadak menjelang hari-H. Menurutku hal ini juga meringankan orang tua karena bisa direncanakan dari jauh-jauh hari.


Pada akhirnya, field trip maupun fun trip ini bisa jadi pengalaman berharga buat anak, asal semua pihak, baik sekolah, panitia, maupun orang tua, sama-sama memastikan keamanan dan kenyamanan anak jadi prioritas utama. 


Kalau Manteman sendiri gimana, nih? Sekolah anaknya juga rutin mengadakan field trip kayak gini, nggak? Kalian setuju dengan kegiatan ini atau justru kontra?



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *