Liburan Keluarga Menikmati Curug Sodong di Geopark Ciletuh Sukabumi



Nggak kerasa tiba-tiba air mata ngembeng di pelupuk saat aku membuka folder foto-foto dan video dokumentasi yang sudah tersimpan di dalam hardisk. Ada banyak foto perjalanan keluarga, termasuk saat aku sekeluarga bersama papa mama dan ibu mertuaku mengunjungi Sukabumi. 


Itulah traveling terakhir yang agak jauh dari rumah bersama almarhum mama dan papaku di awal tahun 2020. Papaku sudah berjalan dengan bantuan tongkat karena stroke. Sedangkan mama alhamdulillah masih sehat wal afiat saat itu meskipun sudah menyandang status sebagai survivor kanker. 


Di tahun 2020 anak-anak juga masih kecil… :) Boo umur 7 tahun dan Mika umur 5 tahun. Kami bersama ke Ciletuh dengan menggunakan mobil. Sebelum beristirahat di hotel, kami sempat mengelilingi Geopark Ciletuh, termasuk ke Pantai Palangpang, Puncak Darma, dan Curug Sodong. 


Nah, kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman mengunjungi Curug Sodong di Ciletuh. Curug kembar unik yang bisa jadi pilihan destinasi wisata saat mengunjungi Ciletuh, Sukabumi… 



Road Trip dari Depok Menuju Geopark Ciletuh


Perjalanan ke Sukabumi kali ini dimulai sejak pagi hari dari Depok menggunakan mobil pribadi. Kami memilih berangkat lebih awal supaya nggak terlalu macet dan bisa lebih santai menikmati perjalanan. 


Jalan menuju Ciletuh, Sukabumi memang cukup panjang. Apalagi saat itu juga seingatku belum ada tol Bocimi yang bisa memangkas jarak. Meski demikian, pemandangan selama perjalanan membuat rasa lelah sedikit terbayarkan. Apalagi kami juga sempat beristirahat sejenak di warung pinggir jalan dan menikmati durian… :D 


Untungnya perjalanan menggunakan mobil pribadi membuat kami bisa berhenti kapan saja untuk beristirahat, terutama karena membawa orang tua yang sudah lansia. 


Saat memasuki kawasan Sukabumi menuju Geopark Ciletuh, suasana mulai berubah. Jalanan berkelok dengan pemandangan perbukitan hijau membuat perjalanan terasa makin seru. Dari hamparan sawah, bukit, hingga tebing-tebing besar yang menjadi ciri khas kawasan geopark.




Menikmati Keindahan Geopark Ciletuh


Sebelum menuju Curug Sodong, kami sempat menikmati pemandangan dari beberapa titik di kawasan Ciletuh seperti Punck Darma. Udara yang sejuk dan suasana alam yang tenang membuat perjalanan terasa menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang biasanya lebih sering berada di tengah suasana perkotaan.


Bagi orang tua yang sudah lansia, suasana alam seperti ini juga terasa menenangkan. Nggak perlu aktivitas berat untuk menikmati indahnya panorama Ciletuh. Cukup duduk santai sambil menikmati udara segar saja sudah terasa menyenangkan.




Sebenarnya satu alasan kami ke Geopark Ciletuh mengajak keluarga karena sebelumnya aku dan suami sudah terlebih dulu ke tempat ini dengan mengendarai motor. Yap, naik motor dari Depok ke Ciletuh! 


Karena aku dan suami suka banget sama tempat ini, makanya kami pun pingin keluarga juga menikmati keindahan Ciletuh. Tapi siapa sangka kalau ini jadi trip perjalanan terakhir bersama papa dan mamaku sebelum di tahun yang sama papaku meninggal dan disusul mamaku sembilan bulan kemudian… 




Pengalaman Mengunjungi Curug Sodong Bersama Keluarga


Sesampainya di area Curug Sodong, kami langsung disambut suara gemuruh air yang cukup deras. Ya, gimana nggak? Curug Sodong terdiri dari dua curug kembar. Uniknya lagi di bagian atasnya juga tampak satu curug lagi meskipun posisinya agak jauh. 


Sekitar Curug Sodong suasananya masih terasa alami dengan pepohonan hijau di sekelilingnya. Meski harus berjalan kaki sedikit menuju lokasi air terjun, jalurnya masih cukup aman dan nyaman untuk keluarga. 


Namun memang orang tua kami nggak melihat Curug Sodong dari jarak cukup dekat, ya. Mereka melihatnya di dekat tempat parkir mobil. Jadi masih aman. Tapi sayangnya pas saat itu kami ke sana nggak ada kursi atau yang bisa diduduki sambil menikmati curug. 





Menurutku, lebih bagus dan nyaman lagi kalau ada fasilitas tempat duduk atau bahkan gazebo-gazebo kali, ya. Jadi orang tua yang sudah lansia tetap bisa duduk santai sambil menikmati curug ini.


Nah, kalau anak-anak terlihat sangat senang dan excited banget melihat air terjun besar di depan mata. Dari area parkir mereka langsung mau mendekati air terjun. Aku, suami, dan anak-anak akhirnya turun ke bawah dan bisa lebih dekat dengan curug ini. Aku pun nggak henti mengabadikan foto-foto mereka di sana. Curug Sodong memang memiliki banyak spot menarik yang instagramable.




Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Curug Sodong


Sebenarnya kalau dilihat-lihat ada cukup banyak aktivitas yang bisa dilakukan saat berkunjung ke Curug Sodong. Nggak hanya sekadar melihat air terjun, wisatawan juga bisa menikmati berbagai pengalaman menarik di sini.


1. Foto dengan Latar Air Terjun


Pokoknya jangan sampai melewatkan untuk mengabdikan diri di depan air terjun ini. Curug Sodong memiliki pemandangan yang fotogenik. Bentuk air terjunnya yang lebar dengan aliran air deras bisa membuat hasil foto terlihat dramatis. 




2. Healing di Alam Menikmati Udara Segar


Salah satu alasan banyak orang datang ke Curug Sodong adalah untuk mencari suasana tenang. Udara di kawasan ini terasa segar dan jauh dari polusi kota.


Duduk santai sambil mendengarkan suara air terjun ternyata sangat membantu melepas penat. Rasanya seperti recharge energi sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari.


Satu hal yang aku suka juga saat berkunjung ke Curug Sodong adalah suasananya yang nggak ramai. Sepertinya pas kami ke sana, kawasan Ciletuh memang belum terlalu ramai bangetbdi media sosial. Makanya Curug Sodong Pun belum tampak banyak pengunjungnya… 


Nah, kalau sekarang setahu aku Curug Sodong termasuk destinasi yang ramai di Ciletuh. Selain karena pemandangannya, akses ke tempat ini pun juga mudah. 



3. Membuat Konten Foto dan Video


Bagi content creator atau pecinta fotografi, Curug Sodong bisa jadi tempat yang sangat  menarik untuk membuat konten. Pemandangan alamnya sangat mendukung untuk menghasilkan foto maupun video yang cantik.


Banyak sudut menarik yang bisa dijadikan latar konten, mulai dari area jembatan, aliran sungai, hingga panorama air terjunnya sendiri.


Makanya kalau ke daerah Ciletuh, menurutku jangan sampai melewatkan destinasi yang satu ini… :)





4. Kemah dengan Pemandangan Curug

Nah, kalau punya waktu lebih luang, bisa juga mencoba kemping di Curug Sodong. Aku beberapa waktu lalu pernah melihat konten video di media sosial yang menceritakan pengalamannya kemah di Curug Sodong. 


Menarik banget! Begitu membuka kemah, pemandangan Curug Sodong langsung tampak di depan mata. Kebayang, kan, ya, pagi-pagi, udara segar, langsung bisa lihat view indah di Ciletuh ini.


Hanya saja yang perlu diperhatikan seingatku ada larangan untuk berenang di Curug Sodong dna mendekati bagian curugnya. Sepertinya memang alirannya deras sekali dan juga dalam. Jadi kalau bawa anak-anak mesti diperhatikan, ya. 



Apa Istimewanya Curug Sodong Dibanding Curug Lainnya?


Di Sukabumi, termasuk di Geopark  Ciletuh sebenarnya ada banyak air terjun. Namun Curug Sodong memiliki beberapa keunikan yang membuatnya berbeda dari curug lainnya.


Curug Sodong dikenal memiliki bentuk air terjun yang cukup lebar dengan dua aliran utama. Bentuknya terlihat megah dan berbeda dibanding air terjun kecil pada umumnya.


Banyak orang menyebut Curug Sodong memiliki panorama yang sangat fotogenik karena perpaduan tebing batu dan aliran airnya terlihat dramatis.


Nah, tapi mesti tahu waktu juga kalau mau main ke curug ini. Pas ke Curug Sodong rombongan sama sekeluarga kami mendapati Curug Sodong yang alirannya deras. 

Bahkan dari jarak jauh saja cipratan airnya mampu mengenai wajah. 


Namun saat pertama kali ke Curug Sodong, aliran curug kecil sekali. Makanya bagusan memang saat alirannya deras… :) 


Lokasi Curug Sodong yang berada di kawasan Geopark Ciletuh juga menjadi nilai tambah tersendiri. Wisatawan nggak hanya menikmati air terjun, tetapi juga bisa sekalian menjelajahi berbagai destinasi alam lain di sekitarnya.


Dalam satu perjalanan, wisatawan bisa menikmati bukit, pantai, hingga air terjun sekaligus. Lumayan banget, kan, bisa puas jalan-jalan ke berbagai tempat! 






Curug Sodong menjadi salah satu destinasi wisata alam di Sukabumi yang layak dikunjungi bersama keluarga. Keindahan air terjunnya, suasana alam yang masih asri, serta lokasinya yang berada di kawasan Geopark Ciletuh membuat tempat ini memiliki daya tarik dan nilai tambah tersendiri.


Bagi Manteman yang ingin mencari destinasi healing, wisata keluarga atau sekadar menikmati keindahan alam Sukabumi, Curug Sodong bisa menjadi pilihan menarik.


Perjalanan panjang dari Depok memang cukup melelahkan, tetapi pengalaman menikmati alam bersama keluarga tercinta benar-benar menjadi kenangan yang berharga. Apalagi ini pengalaman liburan bersama mama dan papaku yang sekarang sudah nggak mungkin bisa kuulangi kembali… :’)




Dita Indrihapsari


Sanur: Area Tinggal yang Menarik di Bali

cove-sanur-bali


Ada satu area di Bali yang sering kelewat dari radar anak muda. Sanur nggak pernah berusaha viral. Nggak ada beach club megah, nggak ada cafe yang antri dua jam, dan nggak ada influencer yang tiap hari bikin konten di sini.


Tapi kalau kamu nanya orang yang udah lama tinggal di Bali, banyak yang diem-diem pilih Sanur.



Sanur Itu Bali-nya Orang yang Udah Tau Apa yang Mereka Mau

Kalau Canggu itu Bali-nya yang suka socializing dan hustle, Sanur itu Bali-nya yang udah menemukan ritme hidupnya sendiri. Tenang, teratur, dan punya charm yang nggak bisa kamu dapetin di area lain.


Pantai Sanur menghadap timur, artinya kamu dapet sunrise langsung dari pinggir pantai yang cuma 5 menit jalan kaki. Ombaknya kalem, jadi bisa buat renang beneran, bukan cuma foto-foto. Ada boardwalk sepanjang pantai yang perfect buat jogging, sepeda, atau sekadar jalan pagi sambil dengerin podcast.


Jalanan di Sanur juga relatif rapi dibanding area lain di Bali. Nggak terlalu chaotic, nggak banyak klakson, dan entah kenapa lebih adem.



Yang Bikin Sanur Unik

Pace of life yang intentional. Di Sanur, semuanya bergerak sedikit lebih pelan. Bukan lambat, tapi pelan secara sadar. Orang-orang di sini nggak terburu-buru, dan itu menular ke kamu yang tinggal di sini.


Komunitas yang diverse tapi nggak overwhelming. Sanur punya campuran menarik antara warga lokal, expat jangka panjang, pensiunan, dan beberapa digital nomad yang lebih suka ketenangan. Komunitasnya ada tapi nggak in-your-face.


Akses ke Nusa Lembongan dan Nusa Penida. Pelabuhan Sanur itu titik berangkat utama buat trip ke Nusa. Kalau kamu suka diving atau sekadar mau weekend getaway ke pulau, tinggal di Sanur bikin logistiknya jadi super gampang.


Pilihan kuliner yang surprisingly bagus. Sanur punya banyak restoran dan warung yang kualitasnya di atas rata-rata tanpa hype yang berlebihan. Pasar Sindhu yang buka tiap sore juga jadi tempat favorit buat makan malam santai.



Siapa yang Cocok Tinggal di Sanur?

Pekerja remote yang butuh fokus. Distraksi minimal, lingkungan tenang. Kalau produktivitas kamu naik di suasana yang peaceful, Sanur bakal kerasa kayak upgrade besar.


Freelancer dengan klien di timezone berbeda. Sanur tenang di malam hari, jadi kamu bisa kerja larut tanpa keributan dari luar. Pagi-paginya langsung bisa refresh di pantai.


Yang suka olahraga outdoor. Jalur sepeda di sepanjang pantai, swimming di laut yang kalem, akses ke dive spots, dan jalan-jalan yang enak buat lari pagi. Sanur itu surprisingly sporty.


Yang udah capek sama keramaian. Pernah tinggal di Canggu atau Kuta dan ngerasa overstimulated? Sanur itu palingnya obat.



Cari Tempat Tinggal di Sanur

Sanur punya banyak pilihan yang vibes-nya lebih homey dibanding area lain. Banyak guesthouse dan kost yang dikelola langsung sama pemilik, jadi ada sentuhan personal.


Beberapa tips:


Pilih yang deket jalur pantai. Ini asset utama tinggal di Sanur. Kalau kost kamu walking distance ke boardwalk, daily routine kamu otomatis lebih enjoyable.


Cek akses ke Jalan Danau Tamblingan. Ini jalan utama Sanur. Dari sini kamu bisa akses hampir semua yang kamu butuhkan.


cove-sanur-bali


Buat yang mau opsi yang lebih modern, Cove punya beberapa listing kost di Sanur dengan desain yang estetik dan lokasi yang strategis. Konsep Cove cocok banget sama vibe Sanur: clean, thoughtful, dan nggak berlebihan. Kamu dapet kenyamanan modern di area yang naturally tenang.



Apa Serunya Jalan-Jalan ke Museum Sendirian?




Bagi sebagian orang, pergi ke museum mungkin lebih seru dilakukan bersama keluarga atau teman. Bisa ngobrol soal koleksi yang dipajang, foto-foto bareng atau sekadar menikmati suasana bersama. Aku pun beberapa kali pergi ke museum bareng keluarga. Pernah juga ke museum dengan teman-teman dan juga ikut walking tour museum. 


Tapi apa jadinya kalau pergi jalan-jalan ke museum sendirian??? :D 


Nah, salah satu hobiku sekarang adalah keliling museum seorang diri… Hihihi… Kalau menurutku, jalan-jalan ke museum sendirian justru punya sensasi yang berbeda. Ada rasa tenang, bebas, dan lebih fokus menikmati setiap sudut museum tanpa harus buru-buru gitu.


Aku beberapa kali sengaja mengunjungi museum seorang diri. Kadang saat anak-anak sedang sekolah, kadang ketika ada waktu luang di tengah rutinitas sebagai ibu rumah tangga, blogger, dan content creator. 


Awalnya mungkin kegiatan ini kedengarannya sepele, tapi ternyata jalan-jalan ke museum sendirian ini jadi salah satu bentuk healing yang sederhana sekaligus menyenangkan buatku… :) 


Selain menambah wawasan, pergi ke museum sendirian juga sering jadi momen produktif untuk sekalian membuat konten. Aku bisa lebih bebas mengambil footage video, memotret detail ruangan, membaca informasi sejarah dengan santai, bahkan menikmati suasana museum tanpa distraksi.



Kenapa Memilih Pergi ke Museum Sendirian?

Awalnya mungkin kerasa canggung pergi ke museum sendirian. Tapi lama-lama aku justru menikmati momen tersebut.


Sebenarnya, sih, nggak ada alasan-alasan tertentu kenapa aku memutuskan buat jalan-jalan ke museum sendirian. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi mungkin hal-hal di bawah ini adalah beberapa alasannya.


1. Lebih Fokus Menikmati Koleksi Museum

Kalau pergi ramai-ramai, biasanya perhatian gampang terpecah. Ada yang ngajak ngobrol, ada yang buru-buru pindah ruangan atau malah ada yang lebih sibuk untuk cari spot foto. Sementara saat datang sendirian, aku bisa benar-benar menikmati museum sesuai ritmeku sendiri. Hehe… Paham, kan, yaaa… 


Aku bisa berhenti lebih lama di satu koleksi yang menarik perhatian. Bisa membaca setiap papan informasi tanpa tergesa-gesa. Kayak ada kepuasan tersendiri gitu ketika berhasil memahami cerita dari sebuah koleksi yang ada di museum.



2. Lebih Fokus Ambil Footage Konten

Nah, sebagai content creator, museum bisa jadi tempat yang menarik untuk dijadikan konten. Banyak sudut estetik, pencahayaan unik beda dari tempat biasanya, dan cerita sejarah yang bisa dibagikan ke media sosial atau blog.


Kalau pergi sendiri memang agak repot karena harus membawa tripod sendiri. Kadang harus bolak-balik mengatur angle di kamera handphone, menekan tombol rekam, lalu berjalan lagi untuk mengambil video cinematic. Belum lagi kalau tripod harus dipindah berkali-kali dari satu ruangan ke ruangan lain.


Tapi justru di situlah serunya! :D Kata orang, “kalau ada yang ribet, ngapain ada yang simple.” :D 



3. Jadi Me Time di Tengah Rutinitas Seorang Ibu

Sebagai ibu, kadang kita terlalu sibuk mengurus rumah, anak, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan keluarga sampai lupa memberi waktu untuk diri sendiri. Coba, deh, komen siapa ibu-ibu di sini yang juga ngerasa seperti itu?


Nah, pergi ke museum sendirian jadi salah satu bentuk me time versiku.


Biasanya aku pergi setelah anak-anak berangkat sekolah. Suasana pagi atau siang di museum cenderung lebih sepi, jadi terasa lebih tenang. Kalau ke museum di waktu-waktu ini, tuh, rasanya kayak ngasih jeda sebentar ke diri sendiri dari rutinitas harian yang padat.


Duduk di salah satu sudut museum sambil menikmati suasana saja sudah cukup bikin pikiran lebih rileks. Me time versi hemat yang nggak perlu buang banyak biaya, kan. :D Sekarang banyak banget museum di Jakarta dan sekitarnya yang tiket masuknya terjangkau dengan koleksi-koleksi dan penataan yang baik.  


Kadang setelah pulang dari museum pun mood terasa jauh lebih baik dan energi juga terasa kembali penuh… :D





4. Bisa Lebih Bebas Mengatur Waktu

Kalau pergi bersama orang lain, biasanya harus menyesuaikan jadwal bersama. Tapi saat solo trip ke museum, aku bisa datang kapan saja dan pulang sesukaku.


Kalau ternyata sedang sangat menikmati suasana museum, aku bisa berlama-lama di sana (jsambil tetap cek jam supaya aku sudah di rumah saat anak-anak pulang sekolah ehehe…). 


Sebaliknya, kalau sudah cukup puas dengan yang aku lihat di museum, aku juga bisa langsung pulang saja. Kalau masih ada cukup waktu sebelum anak-anak pulang sekolah, aku bahkan bisa mampir sebentar ke kafe atau jajan di tempat yang aku cari tahu dulu di media sosial… :D 


Ngabisin waktu dengan kegiatan kayak gini, tuh, rasanya seperti kebebasan sederhana yang ternyata menyenangkan dan bisa aku nikmatin banget. :)



Museum yang Pernah Aku Kunjungi Sendirian

Kalau aku hitung, sebenarnya belum banyak museum yang aku datangi sendirian. Makanya kedepannya aku masih mau mengeksplor museum-museum lainnya juga sendirian kalau ada kesempatan. 


Nah, ini dia beberapa museum yang pernh aku datangi seorang diri dan cerita menarik yang aku alami di sana… :) 


Museum MH Thamrin

Salah satu museum yang pernah aku kunjungi sendiri adalah Museum Mohammad Husni Thamrin.


Museum ini memberikan gambaran tentang perjuangan MH Thamrin sebagai tokoh Betawi yang berpengaruh pada masa perjuangan Indonesia. Suasananya cukup tenang dan membuatku betah membaca berbagai informasi sejarah di dalamnya.


Aku suka melihat interior rumah tua dan koleksi-koleksi yang menggambarkan kehidupan masa lampau. Ada nuansa nostalgia yang terasa hangat di museum ini. 




Namun sayangnya kalau boleh aku bilang museum ini kurang interaktif dengan pengunjungnya. Dan seperti ketinggalan dengan yang ada di museum-museum lainnya di Jakarta. Aku harap, Museum MH Thamrin bisa lebih maju dengan tambahan teknologi interaktif di dalamnya… :) 


Potensial banget, kok. Apalagi siapa sih orang Jakarta atau pekerja yang kerja di Jakarta tapi nggak tahu Jalan Thamrin? Nah, kalau mau kenal lebih dekat dengan tokoh ini memang museum ini bisa jadi jawabannya. Karena itu, bisa banget musuem ini dikembangkan lebih baik lagi.  



Museum AH Nasution

Pengalaman paling berkesan sekaligus agak membuat hati deg-degan terjadi saat aku mengunjungi Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution sendirian.


Waktu itu suasana museum benar-benar sepi. Aku berjalan sendiri dari satu ruangan ke ruangan lain sambil merekam beberapa footage video dan mengambil foto. Karena sedang fokus mengambil gambar, aku sampai kayak nggak sadar kalau suasana sekitar begitu hening.


Lalu tiba-tiba…


BRAKK!


Salah satu pintu di dalam museum tertutup sangat kencang. Ya Allah, aku langsung ngucap istighfar! 


Saat itu bagian dalam museum benar-benar sepi. Hanya ada aku saja yang ada di dalamnya. 


Jujur saja, aku langsung kaget dan merinding. Suasana museum yang sepi, bangunan tua, ditambah cerita sejarah yang memilukan tentang peristiwa G30S membuat imajinasiku jadi ke mana-mana.


Aku sempat diam beberapa detik sambil mencoba menenangkan diri sendiri. Setelah dipikir-pikir mungkin saja karena angin atau tekanan udara dari ruangan lain. Tapi tetap saja, pengalaman itu jadi salah satu momen museum paling tidak terlupakan buatku. :D 


Meski begitu, pengalaman tersebut justru membuat kunjungan ke museum terasa lebih membekas, ya. Walau sudah kejadian berbulan-bulan lalu aku masih inget banget kejadiannya sampai sekarang… :) 





Gedung Joang 45

Aku juga pernah solo trip ke Gedung Joang 45. Museum ini menarik karena menyimpan banyak cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Aku cukup lama menikmati dokumentasi foto-foto sejarah dan kendaraan kepresidenan yang dipamerkan di area museum.


Nggak banyak orang yang tahu kalau bangunan yang sekarang jadi Gedung Joang ini dulunya sempat menjadi hotel di masa kolonial.


Bahkan berkat videoku yang aku unggah di media sosialku tentang sejarah Gedung Joang ini, aku menjadi salah satu juara dalam kompetisi video yang diadakan oleh museum tersebut.


Lumayan banget, kan, sambil nambah pengetahuan, bisa nambah cuan juga dari menang lomba… :D 





Museum IMERI

Kunjungan ke Museum IMERI FKUI juga jadi pengalaman yang unik.


Museum ini berbeda dari museum sejarah biasa karena lebih banyak menampilkan koleksi anatomi dan dunia medis. Ada banyak informasi menarik tentang tubuh manusia yang membuatku kagum sekaligus merinding.





Solo Traveling ke Museum di Malaka

Saat solo traveling ke Malaka, aku juga menyempatkan diri mengunjungi beberapa museum di sana. Dan ternyata, mengunjungi museum di negeri orang sendirian punya pengalaman yang berbeda lagi.


Museum Samudera

Museum Samudera menjadi salah satu museum favoritku di Malaka. Museum berbentuk kapal besar ini langsung menarik perhatian sejak pertama kali dilihat. Di dalamnya ada banyak informasi tentang sejarah pelayaran dan perdagangan maritim Malaka dan sekitarnya.





Baba Nyonya Heritage Museum

Aku juga mengunjungi Baba & Nyonya Heritage Museum. Museum ini memberikan gambaran tentang budaya Peranakan Tionghoa di Malaka. Interior rumahnya cantik sekali dengan ornamen klasik yang masih terawat.


Aku betah berlama-lama memperhatikan detail furniture, peralatan makan, hingga dekorasi rumahnya. Sayangnya di museum ini nggak bisa mengambil dokumentasi. Pengunjung hanya bisa mengambil dokumentasi di ruang paling depan museum saja. 



Cheng Ho Cultural Museum

Museum lainnya yang menarik adalah Cheng Ho Cultural Museum. Di sini aku belajar tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho dan hubungan sejarah antara Tiongkok dan Malaka. Museum ini membuatku sadar bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda tua, tetapi juga tempat menyimpan cerita peradaban manusia.



Manfaat Mengunjungi Museum Bagi Seorang Ibu

Buat seorang ibu, pergi ke museum ternyata punya banyak manfaat. Museum membuat kita belajar banyak hal baru. Mulai dari sejarah, budaya, perjuangan bangsa, dunia medis, hingga kehidupan sosial masyarakat masa lalu. Pengetahuan ini juga bisa dibagikan kembali kepada anak-anak di rumah.


Bagi ibu yang aktif membuat konten atau menulis blog, museum bisa menjadi sumber ide yang nggak ada habisnya. Setiap museum punya cerita unik yang menarik untuk dibagikan.



Suasana museum yang tenang juga bisa membantu pikiran lebih rileks, lho. Pergi sendiri ke museum juga melatih rasa percaya diri. Kita jadi lebih mandiri mengatur perjalanan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.


Museum juga bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak dan menikmati waktu bersama diri sendiri bagi seorang ibu. Apalagi kalau ibu suka banget sejarah dan mengeksplor hal-hal baru. 



Ternyata Jalan-Jalan Sendiri Itu Menyenangkan!

Dulu aku sempat berpikir pergi sendirian ke museum itu membosankan. Tapi setelah beberapa kali mencoba solo trip ke museum, ternyata justru banyak hal menyenangkan yang bisa dirasakan.


Aku jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih tenang, lebih fokus, dan lebih menikmati perjalanan tanpa distraksi. Museum juga bisa menjadi tempat untuk belajar, healing, mencari inspirasi, dan tentunya menemukan ketenangan.




Dan buatku, jalan-jalan ke museum sendirian selalu punya cerita yang menarik untuk dikenang. (Asal bukan pengalaman yang bikin deg-degan aja, sih… Hihihi…)



Dita Indrihapsari


Wisata Keranjang Sultan yang Bikin Deg-Degan



Kalau aku perhatikan, biasanya ada aja tren yang muncul di tempat-tempat wisata. Dulu pernah ada tren tanda love di tempat wisata. Akhirnya sampai dimana-mana ada aja tanda itu yang jadi background foto. Katanya, sih, instagramable… :D 


Nah, belakangan ini ada juga tren wahana yang kelihatannya cukup ekstrim dan sudah banyak ada di berbagai tempat wisata. Yap, kali ini aku mau membahas tentang wisata keranjang sultan! 


Adakah Manteman yang baca tulisan ini pernah mencoba naik wahana yang satu ini? Yang sudah pernah boleh banget share pengalaman Manteman di kolom komentar di bawah, ya. Aku pun di tulisan ini akan cerita sedikit banyak tentang pengalaman naik wahana ini. 


Meski wisata keranjang sultan in sebenarnya sudah agak cukup lama viral di media sosial, nyatanya banyak orang masih penasaran dan ingin mencoba sensasi naik keranjang yang meluncur di atas ketinggian sambil menikmati pemandangan alam dari ketinggian.


Mulai dari anak muda, keluarga, hingga para content creator, banyak yang rela antre demi merasakan pengalaman unik naik wahana keranjang sultan ini.


Aku sendiri pun pernah mencoba wahana keranjang sultan di dua tempat wisata berbeda, yaitu di Situ Gunung Sukabumi dan Rivera Outbound & Edutainment Bogor. 


Apa sebenarnya wahana keranjang sultan dan gimana pengalamanku naik wahana ini? Yu, simak tulisanku di bawah ini! 



Apa Itu Keranjang Sultan?

Keranjang sultan merupakan wahana wisata berupa keranjang atau kursi gantung yang digerakkan menggunakan tali sling di atas area tertentu, biasanya berada di kawasan wisata alam seperti hutan, lembah, sungai, atau perbukitan. 


Pengunjung yang mencoba wahana keranjang sultan akan duduk di dalam keranjang yang terbuat dari rotan, kemudian keranjang tersebut ditarik atau meluncur perlahan di atas ketinggian tertentu.


Nah, kalau sepemikiran aku, kenapa dinamakan atau disebut “Keranjang Sultan”, yaitu karena bentuknya yang unik seperti keranjang dan pengalaman yang ditawarkan pun juga  terasa eksklusif seperti sedang menikmati wisata ala sultan. 


Ada juga yang menyebut wahana ini sebagai spot healing karena pengunjung bisa menikmati panorama alam sambil duduk santai di udara terbuka.


Konsep wahana seperti ini sepertinya, sih, berkembang dari ide wisata alam yang ingin menghadirkan pengalaman berbeda tanpa harus membangun wahana ekstrem seperti roller coaster, ya. Sebenarnya agak mirip flying fox juga, kan, tapi dengan menggunakan alat untuk duduk.




Nah, dengan memanfaatkan lanskap alam yang indah, pengelola wisata membuat atraksi sederhana namun memacu adrenalin dan sangat menarik untuk dijadikan konten media sosial. Apalagi, ya, keranjang sultan pun dibuat menarik dengan beraneka warna. :D 


Makanya nggak heran, deh, kalau keranjang sultan dulu cepat viral di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube. Banyak orang yang mencobanya sekaligus membuat kontennya hingga tersebar di berbagai platform media sosial.


Rasanya karena keviralan inilah banyak pengelola tempat wisata yang kemudian menambahkan wahana keranjang sutan menjadi salah satu atraksi di tempat wisatanya…



Apakah Keranjang Sultan Aman?

Pertanyaan soal keamanan keranjang sultan biasanya muncul dari orang-orang yang kritis terhadap keselamatan.


Nah, aku pun saat awal-awal tren keranjang sultan ini muncul nggak serta merta langsung ingin mencobanya. Selain karena lagi nggak jalan-jalan ke tempat wisata yang ada keranjang sultan, aku pun sebenarnya masih agak ragu dengan keamanannya.  


Secara umum, wahana keranjang sultan menurut sepenglihatanku dan sepengalamanku menaikinya cukup aman selama dikelola dengan baik dan pengunjung mengikuti aturan keselamatan.




Biasanya wahana keranjang sultan sudah menggunakan tali sling baja, pengaman tubuh atau sabuk pengaman, sistem pengunci pada keranjang, serta ada operator khusus yang mengawasi jalannya wahana.


Namun tetap saja, meskipun  karena berada di ketinggian, pengunjung harus berhati-hati dan memastikan kondisi fisik sedang baik sebelum mencoba wahana keranjang sultan. Selain itu ada faktor luar seperti cuaca juga yang jadi penentu, apakah bisa menaiki keranjang sultan atau nggak.



Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Naik Keranjang Sultan

Nah, sebelum mencoba wahana keranjang sultan, aku coba tuliskan, ya, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:


1. Pastikan Pengaman Terpasang dengan Benar

Jangan malu untuk mengecek ulang sabuk pengaman dan pengunci keranjang sebelum wahana berjalan. Pokoknya harus make sure kalau kita akan aman dan baik-baik saja dengan pengaman tersebut.



2. Ikuti Instruksi Petugas

Dengarkan arahan operator dan jangan melakukan gerakan berlebihan saat berada di atas keranjang yang sedang berjalan.



3. Jangan Memaksakan Diri Kalau Takut Ketinggian

Kalau punya fobia ketinggian atau sedang merasa tidak fit, sebaiknya jangan dipaksakan untuk naik keranjang sultan. Memang, sih, ada keranjang sultan yang nggak terlalu tinggi, seperti yang aku naiki di Situ Gunung da Rivera. Namun tetap saja kalau sudah takut ketinggian, wahana ini bisa dihindari.



4. Jangan Membawa Barang Berlebihan

Setahu aku ada maksimal berat untuk menaiki keranjang sultan ini. Nah, karena itulah jangan sampai kalau bobot kita bisa naik, kita malah bawa barang-barang berlebihan dan punya resiko jatuh. Karena itu, sebaiknya simpan barang berharga dengan aman supaya nggak jatuh saat wahana bergerak.



5. Perhatikan Kondisi Cuaca

Saat cuaca sedang hujan deras atau angin kencang, biasanya wahana akan dihentikan sementara demi keselamatan. Walaupun Manteman kepingiiiin banget naik wahana ini, kalau lagi nggak beroperasi karena cuaca sebaiknya jangan memaksakan untuk dicoba, ya. :)



Pengalaman Naik Keranjang Sultan di Rivera Outbound & Edutainment Bogor

Pertama kali mencoba keranjang sultan adalah saat berkunjung ke Rivera Outbound & Edutainment yang berada di Bogor. Rasanya campur aduk antara takut, penasaran, dan excited sekaligus.


Sebenarnya Rivera bukan termasuk tempat wisata alam alami, ya. Namun Rivera memiliki lahan yang cukup luas hingga ada danau juga di dalamnya. 


Dengan area wisatanya yang cukup luas, nggak heran kalau banyak  wahana outbound dan spot foto menarik. Suasana tempat wisata ini pun cocok banget untuk wisata bareng keluarga.





Nah, keranjang sultan di sini menurutku nggak terlalu tinggi, ya. Jaraknya pun oendek sehingga durasi perjalanannya pun cepat. 


Keranjang Sultan di sini terasa lebih santai dan cocok untuk pengunjung yang baru pertama kali mencoba. Meski sebenarnya tetap bikin jantung berdebar dan deg-degan, sih,  tapi pas keranjang sultannya sudah mulai melaju rasa takutku pun buyar. , 


Dengan naik wahana keranjang sultan di sini aku jadi bisa melihat pemandangan area hijau, danau buatan, dan berbagai wahana lain yang ada di Rivera. 



Pengalamanku Naik Keranjang Sultan di Situ Gunung Sukabumi

Beberapa waktu kemudian, aku juga mencoba keranjang sultan yang berada di kawasan Situ Gunung, Sukabumi. 


Tempat ini terkenal dengan jembatan gantungnya yang panjang dan suasana hutannya yang sejuk. Namun, wahana keranjang sultan yang ada di sana juga jadi magnet bagi pengunjung. 


Aku inget banget saat awal-awal dulu untuk bisa mencoba keranjang sultan di sini ngantrinya panjang! Apalagi saat dua tahun lalu ada video viral saat Will Smith naik keranjang sultan di sini. Wah, makin banyak aja yang penasaran dan pingin nyoba. 


Aku naik keranjang sultan di Situ Gunung pagi hari setelah menginap semalam di Glamping Lembah Purba. Pagi itu, aku bersama teman-temanku berkeliling di sekitar area glamping dan kami pun langsung menuju Curug Sawer serta keranjang sultan! 


Karena masih cukup pagi, nggak ada antrian di keranjang sultan… :D Aku dan teman-teman pun sangat leluasa untuk naik serta memilih keranjang warna apa yang kami naiki… ;D 





Jujur, saat pertama duduk di keranjang ini aku rasanya agak deg-degan juga. Apalagi ketika keranjang mulai bergerak perlahan di atas area hijau hutan. Tapi setelah beberapa saat, rasa takut mulai tergantikan oleh rasa kagum melihat pemandangan dari atas.


Keranjang sultan melintas juga di atas sungai jernih di sana. Wahana ini pun nggak terlalu tinggi. Jadi rasa takutku pun nggak bercokol lama… :D 


Udara pegunungan yang segar, pepohonan hijau, suara aliran sungai, dan suasana tenang membuat pengalaman naik keranjang sultan di Situ Gunung jadi sangat berkesan. Makanya aku pun nggak heran kalau banyak orang rela antre demi mencoba wahana ini.



Tempat Wisata yang Memiliki Wahana Keranjang Sultan

Karena semakin populer, sekarang cukup banyak tempat wisata di Indonesia yang menghadirkan wahana keranjang sultan. Beberapa di antaranya adalah:


- Malang Dreamland

- Taman Bunga Nusantara

- Kawah Rengganis Ciwidey Bandung

- Malino, Sulawesi Selatan


Setiap tempat biasanya memiliki konsep dan latar pemandangan berbeda, sehingga pengalaman yang dirasakan pun nggak selalu sama. Ada yang berlatar pegunungan atau perbukitan, persawahan, sampai sungai. 



Kenapa Keranjang Sultan Masih Jadi Tren?

Ada beberapa alasan kenapa wahana ini masih populer sampai sekarang:

  • Memberikan sensasi unik tanpa terlalu ekstrem


  • Cocok untuk foto dan video media sosial


  • Bisa dinikmati hampir semua usia


  • Menawarkan pengalaman menikmati alam dari sudut berbeda


  • Menjadi aktivitas healing yang seru


Di era media sosial seperti sekarang, wahana yang visualnya menarik memang lebih cepat viral. Terlebih kalau harga tiketnya juga terjangkau! Keranjang sultan jadi salah satu contoh atraksi sederhana namun berhasil menarik perhatian banyak orang.



Buat Manteman yang suka wisata alam dan ingin mencoba pengalaman baru, Keranjang sultan bisa jadi pilihan aktivitas seru untuk dicoba. Meski terlihat menegangkan, wahana ini sebenarnya cukup aman selama mengikuti aturan keselamatan dan dikelola dengan baik.


Sebaiknya cari tahu dulu sebelumnya tentang wahana keranjang sultan yang mau Manteman coba. Cek testimonial dari yang pernah mencobanya. Apakah aman atau adakah masalah berarti selama mereka menggunakannya. 


Pengalamanku mencoba Keranjang Sultan di Situ Gunung Sukabumi dan Rivera Bogor menjadi salah satu pengalaman wisata yang cukup memorable. Awalnya takut, tapi setelah dijalani justru terasa menyenangkan dan sebenarnya jadi bikin ingin mencoba lagi di tempat lain dengan suasana yang berbeda. Aku pingin banget nyoba yang di bawahnya ada sawah… :D 


Kalau Manteman sendiri, berani coba naik keranjang sultan juga?



Dita Indrihapsari


Oleh-Oleh Khas Belitung, Dari Kuliner Hingga Produk Herbal Unik



Saat jalan-jalan ke Belitung bareng keluarga, kami menyempatkan diri mampir ke toko pusat oleh-oleh sebelum ke bandara untuk pulang. Di toko itulah aku melihat banyaknya oleh-oleh khas Belitung yang unik.


Yap, Belitung bukan cuma soal pantai berpasir putih dan batu granit raksasa yang ikonik aja. Pulau yang satu ini juga punya segudang oleh-oleh khas yang unik, autentik, dan pastinya bikin kangen suasana liburan di pulau ini dan pingin balik lagi....  :D


Nah, buat kamu yang lagi merencanakan trip ke Belitung, jangan sampai bingung memilih oleh-oleh, ya. 


Di tulisan ini, aku bakal bahas lengkap berbagai oleh-oleh khas Belitung yang wajib kamu bawa pulang. Siapa tahu bisa jadi referensi juga buat isi koper sebelum pulang... :D



1. Bubuk Kopi Belitung 

Kalau lagi jalan-jalan di Belitung, termasuk di Manggar, Belitung Timur, kita, tuh, bakal disuguhi pemandangan warung kopi yang sepertinya jadi tempat favorit warga. Tradisi minum kopi sambil ngobrol di warung kopi sudah jadi kebiasaan masyarakat Belitung sejak lama sekali. 


Nah, buat para pencinta kopi, Belitung ternyata memang punya kopi lokal yang menarik untuk dicoba. Bubuk kopi khas Belitung biasanya diolah secara tradisional dengan cita rasa yang cenderung strong, sedikit pahit, tapi tetap ada rasa smooth-nya gitu. 


Saat aku lihat pembuatan kopi di Belitung, caranya juga menarik banget. Kopi di sini sering disajikan dengan cara unik, yaitu disaring langsung di cangkir menggunakan saringan kecil. Aroma kopinya juga khas banget dan cocok diminum sambil santai.


Kita bisa, nih, membeli bubuk kopi khas Belitung sebagai buah tangan untuk teman atau saudara. Untuk diri sendiri juga bisa, dong… :D




Di Mie Atep, aku melihat ada bubuk kopi Belitung yang dijual. Dari kemasannya aku melihat merek Waroeng Kopi Ake yang ternyata sudah ada sejak tahun 1911. Sudah lama banget, ya. Kopi ini bisa dibilang termasuk kopi legend juga di Belitung. Jadi nggak ada salahnya buat dibawa pulang sebagai oleh-oleh autentik dari Belitung… :)



2. Sirup Jeruk Kunci

Beberapa hari mengeksplorasi Belitung aku sampai berkali-kali minum sirup jeruk kunci khas tempat ini. Segeeeer banget rasanya. Apalagi pas disajikan dingin bersama es batu. Makin nikmat aja rasanya! :D 


Buat Manteman yang belum pernah coba jeruk kunci, ini saatnya kenalan, deh! Asli, Manteman mesti nyobain! Jeruk kecil khas Belitung ini punya rasa asam segar yang khas banget.




Jeruk kunci sebenarnya masih satu famili dengan jeruk nipis. Bentuknya pun mirip, tapi rasanya beda!


Nah, biasanya sirup ini dikemas dalam botol kaca atau botol plastik. Ada rasa jeruk kunci asli, ada juga rasa jeruk kunci yang dicampur dengan kiamboy atau sejenis buah plum. 


Manteman bisa beli dua jenis sirup jeruk kunci ini buat oleh-oleh. Kalau sirup jeruk kunci original berwarna kuning cerah terang. Sedangkan jeruk kunci kiamboy warnanya agak oranye.  



3. Pepper Secret Muscle Balm

Ini dia oleh-oleh unik khas Belitung yang berbahan dasar lada. Aku baru tahu kalau Belitung ternyata juga terkenal sebagai salah satu penghasil lada terbaik di Indonesia. Aku dapat referensi di sebuah portal berita yang menyebut kalau produksi lada di Bangka Belitung itu lebih dari 30% produksi nasional. 


Nah, salah satu produk olahan lada yang cukup unik dan bisa banget jadi oleh-oleh  adalah Pepper Secret Muscle Balm.




Produk ini berupa balsem atau minyak gosok yang mengandung ekstrak lada asli. Balsem ini bisa memberikan sensasi hangat untuk meredakan pegal.


Selain bermanfaat, produk ini juga punya packaging yang cukup modern, jadi tetap terlihat menarik saat dijadikan buah tangan.


Waktu pertama kali melihat produk ini di toko sentra oleh-oleh, jujur aku langsung tertarik banget. 


Sebelumnya aku kayaknya, tuh, nggak pernah, deh, pakai balsem atau obat gosok yang berbahan lada. Makanya tanpa ragu aku pun memasukkan balsem lada ini jadi oleh-oleh buat dipakai pribadi dan juga diberikan ke mertuaku… :D 



4. Minyak Serai Abel

Masih seputar produk herbal, ada juga minyak serai Abel yang cukup populer di Belitung dan dijual di toko oleh-oleh. 


Sebagai penyuka aroma serai tentunya aku langsung tertarik begitu melihat botol minyak serai dengan warna kuning terang ini. 


Nggak perlu waktu berpikir lama, aku pun memasukkan botol-botol Minyak Serai Abel ke dalam keranjang belanja… :D 




Bukan hanya aromanya yang enak, minyak serai juga punya banyak manfaat bagi tubuh. Manfaatnya antara lain dapat menghangatkan badan, mengurangi mual muntah, membuka saluran napas, meringankan sinus, sampai bisa juga, lho, jadi pengusir serangga alami. 


Jujur, begitu minyak serai ini habis, aku pun jadi pingin membelinya lagi. Minyak serai bisa juga jadi aromaterapi. Dan karena ukuran botolnya yang minimalis, minyak serai ini mudah dibawa bepergian juga. 



5. Batik Belitung dengan Motif Khas Daerah

Kalau Manteman suka oleh-oleh berupa kain atau fashion item, batik Belitung bisa jadi pilihan yang menarik, nih. Yap, Belitung pun punya batik dengan motif khas yang menarik. 


Di sebuah toko oleh-oleh, aku pun melihat deretan batik warna-warni yang dipajang. Setelah mencari tahu, ternyata ada beberapa motif batik khas Belitung. Motif-motif tersebut antara lain: motif daun simpor, keremunting. kantong semar, sahang/lada, tarsius, hingga biota laut.


Kita bisa menemukan batik khas Belitung ini dalam bentuk masih beripa kain, baju, atau bahkan aksesoris seperti tas dan syal.




6. Keripik Kulit Ikan dan Olahan Laut Lainnya

Nah, ini dia salah satu oleh-oleh khas Belitung yang menurutku underrated tapi justru paling bikin ketagihan. Sebagai daerah kepulauan, hasil laut di Belitung itu melimpah banget. Nggak heran kalau banyak diolah jadi camilan kering yang praktis dibawa pulang. 


Nah, camilan yang wajib dicoba antara lain keripik kulit ikan yang crispy dan gurih banget. 


Keripik kulit ikan jadi salah satu favorit karena teksturnya yang unik. Kulit ikan yang biasanya dianggap “sisa”, di tangan kreatif warga lokal malah disulap jadi camilan premium. 




Selain keripik kulit ikan, ada juga keripik lainnya yang dibuat oleh pengusaha UMKM Belitung, seperti keripik cumi. 


Keripik-keripik khas Belitung ini cocok banget jadi teman nyemil atau jadi tambahan pelengkap saat makan berat. Biasanya keripik khas Belitung dijual dengan sudah dikemas rapi dan tahan lama.



Tips Berburu Oleh-Oleh di Belitung

Supaya pengalaman belanja oleh-oleh Manteman jadi makin maksimal di Belitung, berikut beberapa tips dari aku saat berburu oleh-oleh di Belitung, ya. 

  • Belanja di pusat oleh-oleh atau pasar lokal untuk pilihan lebih lengkap dan bisa lebih efisien soal waktu. Belanja oleh-oleh bisa sekalian di satu waktu saja.

  • Bandingkan harga sebelum membeli. Produk sama tapi merek berbeda, harga pun bisa berbeda. Pilih yang berkualitas dan sesuai dengan budget, ya.


  • Jangan lupa perhatikan masa kadaluarsa untuk produk oleh-oleh makanan. Apalagi produk makanan “basah.”


  • Pilih kemasan yang aman untuk perjalanan jauh. Biasanya kalau di toko oleh-oleh sudah menyediakan kemasan berupa kardus dengan besaran ukuran yang beda-beda. 


Biasanya, toko oleh-oleh di sekitar bandara atau di pusat kota seperti Tanjung Pandan juga cukup lengkap isi dan jenisnya. Jadi kita pun  bisa belanja di hari terakhir sebelum pulang.



Dari perjalanan ke Belitung aku, tuh, jadi merasa kalau Belitung bukan cuma indah untuk dijelajahi, tapi juga kaya akan oleh-oleh khas yang unik dan beragam. Mulai dari bubuk kopi, sirup jeruk kunci, produk herbal seperti Pepper Secret Muscle Balm dan minyak serai Abel, hingga camilan laut yang gurih. Semuanya punya ciri khas tersendiri yang sayang untuk dilewatkan.


Jadi, dari semua pilihan di atas, Manteman paling tertarik bawa pulang yang mana? Atau ada rekomendasi oleh-oleh khas Belitung lainnya yang belum aku sebutkan? Bisa langsung tulis pendapat Manteman di kolom komentar, yaa… :) 



Dita Indrihapsari


Goa Kelayang, Destinasi Unik di Pulau Kelayang Belitung yang Bikin Liburan Makin Berkesan



Perahu yang membawaku dan keluarga akhirnya menepi di Pulau Kelayang Belitung. Saatnya beristirahat dan makan siang di pulau ini setelah sebelumnya kami sudah berkeliling ke pulau-pulau lainnya, termasuk Pulau Lengkuas dengan mercusuar ikoniknya. 


Di Pulau Kelayang, anak-anak kembali disibukkan dengan bermain di pantai… :D Ya, mumpung lagi di Belitung dan island hopping, energi mereka pun seperti nggak ada habisnya untuk main air dan main pasir di pantai.  


Kalau bicara soal liburan ke Belitung, kebanyakan kita biasanya memang langsung membayangkan pantai berpasir putih, air laut bening, dan batu granit raksasa yang jadi ciri khas pulau tersebut. Sama seperti kami, tujuan utama datang ke Belitung waktu itu sebenarnya island hopping dan snorkeling santai bareng keluarga aja.


Namun ternyata di Pulau Kelayang, aku justru mendapat pengalaman yang lain saat mengeksplorasi pulau ini. Nggak hanya istirahat, makan siang, dan main di pantai, di Pulau Kelayang aku juga menemukan destinasi unik, sebuah “goa”  yang berada di tengah pulau kecil yang cantik.


Ya, ini dia Goa Kelayang! 





Makan Siang Sebelum Mulai Menyusuri Goa Kelayang

Sebelum menelusuri Goa Kelayang, aku dan suami langsung tancap gas untuk makan dulu. Lapar kali rasanya. Jam juga sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Setelah menunggu, akhirnya kami pun makan bersama. Sementara itu, anak-anak masih sibuk main di pantai. Tentunya kami makan sambil tetap mengawasi anak-anak yang sedang bermain, ya.


Barulah selang beberapa menit kemudian, anak-anak juga ikut makan. Tumben-tumbenan mereka makan dengan lahap dan sangat cepat. Hmmm, sudah aku duga pasti mereka berdua buru-buru makan supaya bisa lebih cepat kembali bermain di pantai… :D 


Menu makan siang saat itu menurutku enak-enak. Ada menu ikan bakar, kepiting, sate udang, cumi goreng tepung, dan cah kangkung. Dimakan bersama nasi hangat, wah, mantap banget, deh! Kayaknya karena udah lumayan capek juga island hopping jadi makan ini di pinggir pantai rasanya makin nikmat… Hehehe… 


Oiya, semua makanan ini sudah termasuk paket tour yang kami pakai hari itu, ya. Jadi aku dan keluarga tinggal duduk manis aja di warung pinggir pantai Pulau Kelayang ini. :D   



Goa Kelayang, Bukan Seperti Goa Pada Umumnya!

Pulau Kelayang tipikal seperti pulau-pulau lainnya di Belitung. Pulaunya nggak terlalu luas, berpasir putih dengan banyak batu-batu granit di sekitarnya. Bukan hanya di dekat pantai, batu granit di Pulau Kelayang juga berada di sisi bagian dalam pulau. 


Nah, usai makan siang, aku pun ingin melihat-lihat sekeliling pulau. Mataku pun langsung tertuju pada tulisan Jl. Goa Kelayang yang ada di warung makan. 




Aku beberapa tahun sebelumnya memang pernah island hopping di Belitung. Namun, dulu aku nggak makan siang di pulau ini dan nggak mengeksplorasi Pulau Kelayang. Makanya saat melihat ada tulisan Goa Kelayang, aku pun jadi penasaran dan pingin tahu seperti apa bentuknya. 


Ternyata dari warung makan pinggir pantai itu letak Goa Kelayang nggak terlalu jauh. Awalnya aku bersama anakku yang pertama mulai menuju ke goa. Namun karena anakku masih pakai life jacket dan masih mau main di pantai, akhirnya ia pun urung untuk ikut aku ke arah Goa Kelayang. 


Lagi pula anakku nggak memakai alas kaki. Padahal ternyata jalan untuk menuju ke Goa Kelayang lumayan juga jalurnya. Ada banyak kerikil dan batuan dari yang kecil sampai besar. Batu-batu itu juga licin. Makanya kurang aman kalau nggak pakai alas kaki. 





Akhirnya aku pun melanjutkan perjalanan sendiri saja ke Goa Kelayang. Alhamdulillahnya di depanku ada pasangan wisatawan luar negeri yang juga ingin ke goa. Mereka ditemani oleh guide orang lokal Belitung. 


Nah, karena aku takut kesasar dan aku juga sendiri, kan, akhirnya aku izin ke guide-nya untuk mengikuti mereka… :D Aku pun jadi ikut mendengar penjelasan guide tentang Goa Kelayang ini… 


Boleh dibilang Goa Kelayang adalah destinasi yang unik. Goa ini sebenarnya bukan betul-betul goa pada umumnya.


Goa Kelayang terbentuk dari susunan batu granit besar yang saling bertumpuk dan menciptakan celah seperti ruang di dalamnya. 


Fenomena seperti ini sebenarnya memang khas di Belitung yang terkenal dengan batu granit raksasanya. Ada juga batu-batu yang bertumpuk di lokasi lain. Namun yang membedakan batu granit di Goa Kelayang ini dan membuatnya terasa spesial karena bentuk tumpukan batunya menyerupai goa!


Nah, karena itulah kenapa tempat ini disebut sebagai Goa Kelayang.



Menjelajah “Goa” yang Unik di Tengah Pulau

Setelah aku makin mendekat dengan goa ini dan “masuk” ke dalamnya, aku pun melihat kalau ada batu besar yang bagian ujung atasnya saling bertemu. Nah, pertemuan batu-batu ini seolah membentuk bagian di bawahnya seperti goa. 


Di dalamnya juga suasananya nggak terlalu gelap seperti goa pada umumnya, ya,  karena cahaya matahari masih bisa masuk dari sela-sela batu. 




Area di dalamnya juga nggak terlalu luas, tapi cukuplah untuk dijelajahi sambil mengambil beberapa footage foto dan video.


Karena aku ke goa ini sendirian, akhirnya aku pun meminta tolong ke guide wisatawan lain itu untuk memfotoku juga.. Hehehe… Lumayan, kan, jadi bisa ada dokumentasinya saat berada di goa ini… :D 





Beberapa sudut di Goa Kelayang ini juga terlihat instagramable. Selain cahaya yang masuk dari celah batu yang menciptakan efek dramatis, ada aliran air di bawahnya yang membuat goa ini jadi makin menarik untuk dikunjungi. 


Aku pun juga harus sedikit berhati-hati saat berjalan di sekitaran Goa Kelayang karena permukaan batu cukup licin di beberapa bagian.


Nggak butuh waktu lama bagiku untuk mengeksplorasi Goa Kelayang. Selain karena memang goanya juga nggak terlalu luas, aku pun ingin cepat-cepat segera kembali ke tepi pantai untuk melihat anak-anak.


Meski ada suamiku yang mengawasi, tapi siapa tahu suamiku mau gantian juga untuk melihat goa ini… :D Akhirnya aku pun kembali ke pantai bersama dengan guide yang membawa pasangan wisatawan mancanegara itu…


Oiya, meski suasana di Pantai Pulau Kelayang cenderung ramai, tapi orang-orang yang ke Goa Kelayang sepenglihatanku nggak terlalu banyak. 


Mungkin ada wisatawan yang nggak ngeh kalau di pulau tersebut ada destinasi wisata goa. Bisa juga mereka sebenarnya tahu tapi nggak pingin ke goa karena ingin beristirahat saja di tepi pantai sambil makan dan ngopi atau ngeteh… :)


Seperti halnya aku saat tiba kembali di warung, ternyata suamiku memesan pisang goreng dan kopi. Akhirnya aku pun kembali bersantai sejenak di sana sambil mengunyah pisang goreng panas buatan ibu warung… Nikmatnyaaaaa…. 



Tips Berkunjung ke Goa Kelayang

Kalau Manteman berencana mampir ke Goa Kelayang saat island hopping di Belitung, ada beberapa tips yang bisa aku berikan di tulisan ini… 


1. Gunakan alas kaki yang nyaman

Permukaan batu bisa cukup licin dan nggak rata. perjalanan menuju ke Goa Kelayang juga banyak kerikil tajam. Jadi usahakan pakai alas kaki yang aman dan nyaman, ya.





2. Perhatikan anak-anak

Kalau membawa anak tetap harus diawasi karena ada celah dan permukaan batu yang licin dan agak tajam. Jangan biarkan anak-anak lari di jalur ke Goa Kelayang.


3. Datang saat cuaca cerah

Supaya pencahayaan di dalam “goa” lebih bagus dan aman untuk dijelajahi datanglah saat cuaca sedang cerah. 


4. Jangan terlalu lama saat ramai

Karena nggak terlalu luas dan terbatas, lebih nyaman kalau bergantian dengan pengunjung lain saat sedang ramai. Tapi sepengalaman aku, tempat ini nggak terlalu ramai, sih. Namun bisa jadi saat musim liburan panjang akan lebih banyak lagi orang yang ingin berwisata ke Goa Kelayang ini.





Perjalanan ke Belitung kali ini mengajarkan satu hal sederhana bagiku. Kadang, yam momen paling berkesan justru datang dari hal yang nggak direncanakan. Seperti yang aku alami saat ke Goa Kelayan ini.  


Awalnya hanya ingin island hopping dan snorkeling. Tapi ternyata, aku jadi menemukan pengalaman tambahan yang membuat perjalanan ini terasa lebih lengkap.


Goa Kelayang mungkin bukan destinasi utama, tapi malah bisa aku jadikan cerita di blog ini… :D 


Kalau Manteman sedang merencanakan liburan ke Belitung, jangan ragu untuk menyempatkan diri singgah di Pulau Kelayang.


Siapa tahu, kamu juga menemukan kejutan kecil yang akan kamu kenang setelah perjalanan selesai…. :)



Dita Indrihapsari 


Wisata Gunung Fuji, Ikon Wisata Alam Jepang yang Mendunia

wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang


Wisata Gunung Fuji menjadi salah satu daya tarik utama Jepang yang dikenal sampai ke seluruh dunia. Gunung tertinggi di Jepang ini memang sudah lama menjadi simbol keindahan alam, spiritualitas dan kebanggaan nasional. Keindahannya tidak hanya dinikmati dari puncak, namun juga dari kawasan sekitar yang menawarkan panorama menawan.


Bagi wisatawan, berkunjung ke Gunung Fuji tidak hanya soal mendaki. Banyak orang datang untuk menikmati pemandangan, berfoto sampai merasakan suasana alam yang tenang di kaki gunung. Maka dari itu, kawasan ini selalu ramai masuk dalam daftar destinasi favorit wisatawan internasional.



Destinasi Favorit di Sekitar Gunung Fuji

Salah satu daya tarik utama Gunung Fuji yaitu banyaknya spot menarik di sekitarnya. Danau-danau yang tergabung dalam Fuji Five Lakes, seperti Kawaguchiko, Saiko dan Yamanakako, menjadi lokasi populer untuk menikmati refleksi Gunung Fuji di permukaan air.


Selain danau, terdapat desa wisata, taman bunga dan museum seni yang menghadirkan pemandangan Gunung Fuji dari sudut yang berbeda. Kawasan ini juga terkenal dengan jalur ropeway dan dek observasi yang memudahkan para wisatawan menikmati panorama tanpa harus mendaki.



Aktivitas Wisata Sepanjang Empat Musim

Keunggulan Wisata Gunung Fuji ada di daya tariknya di setiap musim. Ketika musim semi, bunga sakura bermekaran di sekitar kaki gunung, menciptakan pemandangan yang sangat ikonik. Musim panas menjadi waktu favorit bagi para pendaki karena jalur pendakian resmi dibuka dan cuaca relatif lebih bersahabat.


Pada musim gugur, daun momiji berwarna merah dan oranye mempercantik kawasan sekitar Gunung Fuji. Sedangkan musim dingin menghadirkan pemandangan puncak gunung yang tertutup salju, menjadikannya latar sempurna untuk fotografi lanskap. Setiap musim menawarkan pengalaman yang berbeda untuk para wisatawan.


wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang



Budaya dan Nilai Spiritual Gunung Fuji

Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Gunung Fuji juga sarat dengan nilai budaya dan spiritual. Gunung Fuji sudah lama dianggap sebagai gunung suci dan menjadi tempat ziarah masyarakat Jepang sejak ratusan tahun lalu. Di sekitar gunung, terdapat berbagai kuil dan situs bersejarah yang masih aktif digunakan hingga kini.


Tradisi dan festival lokal yang digelar di sekitar Gunung Fuji juga menarik perhatian para wisatawan. Acara-acara ini sering menampilkan budaya Jepang tradisional yang memperkaya pengalaman berkunjung, tidak hanya sebagai wisata alam tetapi juga wisata budaya.



Akses dan Fasilitas Wisatawan

Akses menuju kawasan wisata tergolong mudah, terutama dari Tokyo. Wisatawan dapat menggunakan kereta, bus langsung atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam. Infrastruktur wisata yang baik akan membuat perjalanan menjadi nyaman, bahkan bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang.


Fasilitas seperti hotel, ryokan, restoran sampai pemandian air panas tersedia di berbagai titik sekitar Gunung Fuji. Banyak wisatawan memilih menggunakan paket wisata Jepang dari Joglo Wisata karena lebih praktis, terutama untuk mengatur transportasi, akomodasi dan jadwal berkunjung ke berbagai spot sekaligus.



Tips Berkunjung ke Gunung Fuji

Agar pengalaman pergi ke wisata Gunung Fuji lebih maksimal, wisatawan disarankan datang pagi hari untuk mendapatkan cuaca yang lebih cerah. Pemandangan Gunung Fuji sering tertutup awan pada siang hingga sore hari, terutama di musim panas.


Selain itu, perhatikan kondisi cuaca dan musim kunjungan. Gunakan pakaian yang sesuai musim dan siapkan kamera untuk mengabadikan momen terbaik selama berada di sana. Jika tidak ingin repot menyusun itinerary sendiri, mengikuti tur atau paket perjalanan bisa menjadi pilihan yang efisien.


wisata-gunung-fuji-paket-wisata-jepang



Frequently Asked Questions

Di mana lokasi Gunung Fuji?

Gunung Fuji ada di perbatasan Prefektur Yamanashi and Shizuoka, Jepang.


Apakah wisata di Gunung Fuji harus dengan mendaki?

Tidak. Wisatawan dapat menikmati pemandangan Gunung Fuji dari danau, taman dan dek observasi tanpa mendaki.


Kapan waktu terbaik mengunjungi Gunung Fuji?

Musim semi dan musim gugur adalah waktu favorit untuk berkunjung ke wisata Gunung Fuji karena cuaca nyaman dan pemandangan indah.


Apakah wisata di Gunung Fuji cocok untuk keluarga?

Ya, kawasan ini sangat ramah untuk keluarga dengan banyak aktivitas santai dan fasilitas wisata lengkap.



Dita Indrihapsari


Contact Form

Name

Email *

Message *