Awalnya aku memang sempat ragu beberapa detik sebelum aku akhirnya benar-benar melangkah masuk ke dalam bunker ini dengan tangga. Ruangan bunker agak gelap, sempit, dan langit-langitnya cukup rendah. Inilah bunker tua di halaman belakang Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat.
Kunjungan ini aku lakukan bareng teman-teman dari komunitas Moms Video Maker. Awalnya niatnya cuma jalan-jalan sambil bikin konten, tapi begitu berdiri di depan mulut bunker itu, rasanya kayak diajak lompat ke masa lalu, deh. Museum ini menarik banget!
Turun ke Bunker, Ruangan Sempit Saksi Bisu Sejarah
Bunker ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan merupakan bagian asli dari bangunan yang nggak pernah diubah. Ukurannya sekitar 5 x 3 meter dengan tinggi lebih dari 1,5 meter. Menurut tour guide yang menemani kami, bunker ini hanya cukup menampung sekitar sepuluh orang saja.
Tempat masuknya agak sempit, kira-kira seukuran dua orang dewasa berdiri berdampingan, dan begitu masuk ke dalam, langit-langitnya makin merunduk dengan bentuk ruangan yang unik menyerupai segi enam.
Dulu konon di ujung bunker ada lorong rahasia seukuran badan manusia yang dapat digunakan sebagai jalur pelarian darurat. Sayangnya, lorong ini sekarang sudah ditutup permanen dan nggak bisa dilalui lagi.
Menurut cerita guide, bunker ini dulunya juga menjadi tempat Laksamana Maeda, pemilik rumah, menyimpan dokumen penting dan barang-barang berharga miliknya. Bunker ini sekaligus berfungsi sebagai tempat persembunyian darurat kalau situasi mendadak genting.
Berdiri di dalam bunker yang gelap dan sempit itu, aku jadi ngebayangin bagaimana rasanya berlindung di sana saat suasana perang. Itu tuh, seperti suatu hal yang jauh dari bayangan hidup nyaman sekarang. :(
Rumah Tua yang Menyimpan Sejarah Besar
Setelah keluar dari bunker, aku jadi makin penasaran sama cerita di balik bangunan museum ini. Ternyata, gedung yang sekarang jadi Munasprok punya perjalanan panjang jauh sebelum bunkernya dipakai untuk menyimpan barang berharga Laksamana Maeda.
Bangunan ini berdiri sejak sekitar tahun 1920-an dengan gaya arsitektur Eropa (Art Deco), hasil rancangan arsitek Belanda J.F.L. Blankenberg, yang juga merancang beberapa bangunan lain di kawasan Menteng.
Awalnya, rumah ini adalah kediaman resmi Konsulat Jenderal Inggris. Lalu, memasuki masa pendudukan Jepang, rumah ini ditempati oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.
Di rumah inilah, pada malam 16 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 setelah rombongan pulang dari Rengasdengklok, Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, dan beberapa tokoh lainnya berkumpul untuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Setelah Jepang kalah dan sekutu datang, gedung ini sempat menjadi markas tentara Inggris, lalu disewakan lagi ke Kedutaan Inggris sampai tahun 1981. Barulah setelahnya bangunan ini diserahkan dan ditransformasi menjadi museum yang bisa kita kunjungi sekarang, sekaligus ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Ruang Perumusan & Pengetikan Naskah Proklamasi
Begitu masuk pintu utama, pengunjung langsung disambut ruang tengah yang cukup luas dengan berbagai koleksi bersejarah. Ada ruang pertemuan dengan replika meja bundar dan empat sofa, tempat rombongan Soekarno-Hatta bertemu Laksamana Maeda malam itu.
Tapi spot yang paling bikin aku berhenti agak lama adalah ruang perumusan naskah di sebelah meja bundar. Di ruangan ini ada diorama tiga tokoh, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo.
Mereka digambarkan sedang duduk mengelilingi meja panjang sambil menuliskan rumusan naskah proklamasi. Detail patungnya cukup hidup, lengkap dengan ekspresi serius mereka malam itu.
Nggak jauh dari ruangan itu, ada juga ruangan yang menampilkan diorama Sayuti Melik lengkap dengan mesin ketik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi menjadi bentuk final.
Nah, ruangan Sayuti Melik ini juga sepertinya jadi salah satu spot favorit pengunjung,. Di tempat inilah naskah coretan tangan berubah menjadi dokumen resmi kemerdekaan! :’)
Satu benda lain yang menarik perhatian di museum ini adalah piano tua. Konon, karena suasana rumah saat itu ramai dan serba mendadak, piano ini yang dijadikan alas ketika Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi.
Kejutan Kamar Mandi Pink dan Hijau!
Kalau ruang lantai satu penuh dengan nuansa sejarah yang khidmat, lantai dua museum ini justru ada yang bikin aku takjub sendiri. Di lantai dua ada beberapa ruangan yang menyimpan benda-benda bersejarah, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah dua kamar mandinya! :D
Ukuran kamar mandinya gede banget. Rasanya satu kamar mandi, tuh, bisa buat dua kamar tidur, deh… :D Kebayang, kan, betapa rumah ini gede banget dan yang punya rumah ini sekaya apa. Hehehe…
Yang bikin makin unik, satu kamar mandi bathtub dan toilet dengan warna pink, sedangkan kamar mandi satunya berwarna kuning muda.
Warna-warna pastel yang sekarang lagi hits di desain interior, ternyata sudah dipakai sejak puluhan tahun lalu di rumah ini. Rasanya lucu sekaligus takjub gitu, siapa sangka rumah bersejarah tempat lahirnya naskah proklamasi juga punya sisi "estetik" yang nggak kalah instagramable. :D
Kenapa Museum Ini Wajib Masuk List Kunjungan?
Buat aku, Munasprok bukan sekadar museum berisi barang-barang bersejarah. Setiap sudutnya, dari bunker sempit di halaman belakang, ruang perumusan naskah, mesin ketik yang dipakai Sayuti Melik, sampai kamar mandi pink-hijau di lantai dua, semuanya jadi bagian yang menghidupkan kembali cerita di detik-detik menjelang kemerdekaan Indonesia.
Hal ini juga jadi pengingat buat aku, kamu, buat kita semua kalau negara ini terbentuk karena perjuangan pahlawan, kerjasama para tokoh-tokoh bangsa. Negara ini terlalu berharga buat dirusak oleh segerombolan “pencuri” berkedok pejabat… :’( Indonesia tahun ini sudah 81 tahun, sudah semestinya negara ini maju tanpa korupsi, tanpa hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas.
Rasanya utopis banget, ya. Apalagi di tengah situasi bangsa saat ini. Aku tadinya pun skeptis. Tapi kalau bukan kita yang punya harapan, negra ini nggak punya apa-apa lagi…
Ada bagusnya juga museum-museum seperti ini dikenalkan ke anak-anak kita, ya. Biarlah mereka tahu sejarah bangsanya dan ketika mereka memimpin negeri ini mereka bisa berbuat yang jauh lebih baik… :)
Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok)
Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310
Jam Operasional: Selasa–Minggu, pukul 08.00–16.00 WIB (tutup setiap hari Senin)
Instagram: @munasprok
Website: munasprok.go.id
Dita Indrihapsari
.jpg)
%203.jpg)
%202.jpg)
%201.jpg)





















