Masuk Bunker Rahasia di Museum Perumusan Naskah Proklamasi



Awalnya aku memang sempat ragu beberapa detik sebelum aku akhirnya benar-benar melangkah masuk ke dalam bunker ini dengan tangga. Ruangan bunker agak gelap, sempit, dan langit-langitnya cukup rendah. Inilah bunker tua di halaman belakang Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat.


Kunjungan ini aku lakukan bareng teman-teman dari komunitas Moms Video Maker. Awalnya niatnya cuma jalan-jalan sambil bikin konten, tapi begitu berdiri di depan mulut bunker itu, rasanya kayak diajak lompat ke masa lalu, deh. Museum ini menarik banget! 



Turun ke Bunker, Ruangan Sempit Saksi Bisu Sejarah

Bunker ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan merupakan bagian asli dari bangunan yang nggak pernah diubah. Ukurannya sekitar 5 x 3 meter dengan tinggi lebih dari 1,5 meter. Menurut tour guide yang menemani kami, bunker ini hanya cukup menampung sekitar sepuluh orang saja. 


Tempat masuknya agak sempit, kira-kira seukuran dua orang dewasa berdiri berdampingan, dan begitu masuk ke dalam, langit-langitnya makin merunduk dengan bentuk ruangan yang unik menyerupai segi enam.




Dulu konon di ujung bunker ada lorong rahasia seukuran badan manusia yang dapat digunakan sebagai jalur pelarian darurat. Sayangnya, lorong ini sekarang sudah ditutup permanen dan nggak bisa dilalui lagi. 


Menurut cerita guide, bunker ini dulunya juga menjadi tempat Laksamana Maeda, pemilik rumah, menyimpan dokumen penting dan barang-barang berharga miliknya. Bunker ini sekaligus berfungsi sebagai tempat persembunyian darurat kalau situasi mendadak genting.


Berdiri di dalam bunker yang gelap dan sempit itu, aku jadi ngebayangin bagaimana rasanya berlindung di sana saat suasana perang. Itu tuh, seperti suatu hal yang jauh dari bayangan hidup nyaman sekarang. :(  



Rumah Tua yang Menyimpan Sejarah Besar

Setelah keluar dari bunker, aku jadi makin penasaran sama cerita di balik bangunan museum ini. Ternyata, gedung yang sekarang jadi Munasprok punya perjalanan panjang jauh sebelum bunkernya dipakai untuk menyimpan barang berharga Laksamana Maeda.


Bangunan ini berdiri sejak sekitar tahun 1920-an dengan gaya arsitektur Eropa (Art Deco), hasil rancangan arsitek Belanda J.F.L. Blankenberg, yang juga merancang beberapa bangunan lain di kawasan Menteng. 


Awalnya, rumah ini adalah kediaman resmi Konsulat Jenderal Inggris. Lalu, memasuki masa pendudukan Jepang, rumah ini ditempati oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.


Di rumah inilah, pada malam 16 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 setelah rombongan pulang dari Rengasdengklok, Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, dan beberapa tokoh lainnya berkumpul untuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. 


Setelah Jepang kalah dan sekutu datang, gedung ini sempat menjadi markas tentara Inggris, lalu disewakan lagi ke Kedutaan Inggris sampai tahun 1981. Barulah setelahnya bangunan ini diserahkan dan ditransformasi menjadi museum yang bisa kita kunjungi sekarang, sekaligus ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.



Ruang Perumusan & Pengetikan Naskah Proklamasi

Begitu masuk pintu utama, pengunjung langsung disambut ruang tengah yang cukup luas dengan berbagai koleksi bersejarah. Ada ruang pertemuan dengan replika meja bundar dan empat sofa, tempat rombongan Soekarno-Hatta bertemu Laksamana Maeda malam itu.


Tapi spot yang paling bikin aku berhenti agak  lama adalah ruang perumusan naskah di sebelah meja bundar. Di ruangan ini ada diorama tiga tokoh, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo.


Mereka digambarkan sedang duduk mengelilingi meja panjang sambil menuliskan rumusan naskah proklamasi. Detail patungnya cukup hidup, lengkap dengan ekspresi serius mereka malam itu. 




Nggak jauh dari ruangan itu, ada juga ruangan yang menampilkan diorama Sayuti Melik lengkap dengan mesin ketik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi menjadi bentuk final. 


Nah, ruangan Sayuti Melik ini juga sepertinya jadi salah satu spot favorit pengunjung,. Di tempat inilah naskah coretan tangan berubah menjadi dokumen resmi kemerdekaan! :’)


Satu benda lain yang menarik perhatian di museum ini adalah piano tua. Konon, karena suasana rumah saat itu ramai dan serba mendadak, piano ini yang dijadikan alas ketika Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi.



Kejutan Kamar Mandi Pink dan Hijau!

Kalau ruang lantai satu penuh dengan nuansa sejarah yang khidmat, lantai dua museum ini justru ada yang bikin aku takjub sendiri. Di lantai dua ada beberapa ruangan yang menyimpan benda-benda bersejarah, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah dua kamar mandinya! :D 


Ukuran kamar mandinya gede banget. Rasanya satu kamar mandi, tuh, bisa buat dua kamar tidur, deh… :D Kebayang, kan, betapa rumah ini gede banget dan yang punya rumah ini sekaya apa. Hehehe…   


Yang bikin makin unik, satu kamar mandi bathtub dan toilet dengan warna pink, sedangkan kamar mandi satunya berwarna kuning muda. 


Warna-warna pastel yang sekarang lagi hits di desain interior, ternyata sudah dipakai sejak puluhan tahun lalu di rumah ini. Rasanya lucu sekaligus takjub gitu, siapa sangka rumah bersejarah tempat lahirnya naskah proklamasi juga punya sisi "estetik" yang nggak kalah instagramable. :D



Kenapa Museum Ini Wajib Masuk List Kunjungan?

Buat aku, Munasprok bukan sekadar museum berisi barang-barang bersejarah. Setiap sudutnya, dari bunker sempit di halaman belakang, ruang perumusan naskah, mesin ketik yang dipakai Sayuti Melik, sampai kamar mandi pink-hijau di lantai dua, semuanya jadi bagian yang menghidupkan kembali cerita di detik-detik menjelang kemerdekaan Indonesia.


Hal ini juga jadi pengingat buat aku, kamu, buat kita semua kalau negara ini terbentuk karena perjuangan pahlawan, kerjasama para tokoh-tokoh bangsa. Negara ini terlalu berharga buat dirusak oleh segerombolan “pencuri” berkedok pejabat… :’( Indonesia tahun ini sudah 81 tahun, sudah semestinya negara ini maju tanpa korupsi, tanpa hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. 


Rasanya utopis banget, ya. Apalagi di tengah situasi bangsa saat ini. Aku tadinya pun skeptis. Tapi kalau bukan kita yang punya harapan, negra ini nggak punya apa-apa lagi… 


Ada bagusnya juga museum-museum seperti ini dikenalkan ke anak-anak kita, ya. Biarlah mereka tahu sejarah bangsanya dan ketika mereka memimpin negeri ini mereka bisa berbuat yang jauh lebih baik… :) 






Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok)

Jl. Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310

Jam Operasional: Selasa–Minggu, pukul 08.00–16.00 WIB (tutup setiap hari Senin)

Instagram: @munasprok

Website: munasprok.go.id


Dita Indrihapsari


Ketagihan Foto di Etive Depok: Self Photo Studio, Photobox, sampai Ketemu Standee V BTS!



Kalau nggak diajak sama temanku, Ciwul, aku nggak pernah tahu, deh, kalau di Depok ada tempat self photo studio yang temanya Korea! 


Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu, aku dan Isti diajak Ciwul untuk foto-foto bareng buat keperluan journaling. Awalnya aku kira bakal kayak sesi photobox biasa aja, masuk bilik, pencet tombol, dapet strip foto, selesai. Ternyata dugaanku nggak sepenuhnya benar! 


Nama self photo studio ini Etive. Lokasinya ada di Jalan Margonda. Jjujur aku baru ngeh kalau di jalan seramai itu ada spot foto seseru ini. Begitu naik ke lantai atas dan masuk, aku langsung norak sendiri karena isinya ternyata jauh lebih lengkap dari yang aku bayangkan. 




Bukan cuma satu bilik foto kecil, tapi ada satu studio foto besar dengan banyak pilihan background, beberapa photobox dengan tema berbeda-beda, plus ruang karaoke dan mini theatre buat nonton bareng. Rasanya kayak ketemu satu tempat hangout serba ada gitu! 



Konsepnya Korea Banget, Sampai Ada Standee V BTS!

Nah ini yang bikin aku makin excited begitu masuk ke studio fotonya, keliatan banget kalau konsep Etive ini kental banget nuansa Korea-nya. Jadi nggak heran juga kalau di beberapa sudut ada standee idol K-pop. :D 


Dan yang bikin aku happy banget, aku nemu standee V BTS di sana! Sebagai Army (jalur kuota! wkwkwk), ya, jelas, dong, aku nggak mau ngelewatin kesempatan ini. Langsung deh aku minta difoto bareng standee-nya, hehe. :D Momen kecil kayak gini, nih, yang bikin sesi foto hari itu jadi makin berkesan buatku pribadi.






Saatnya Bebas Gaya Sepuasnya!

Kami bertiga mulai sesi dari studio foto utamanya. Ruangannya cukup luas dengan beberapa pilihan background. Kami diberikan waktu sekitar 15 menit untuk berfoto sepuasnya, mau gonta-ganti gaya berapa kali juga boleh. Sebenarnya bisa pakai kostum juga, tapi ada tambahan biaya Rp 10K ya kalau mau pakai kostum tambahan. 


Karena niatnya foto santai natural aja, kami pun juga nggak pakai kostum dan aksesoris yang macam-macam. 




Awalnya kami foto bertiga, terus gantian foto sendiri-sendiri juga. Nah, pas foto sendiri di studio foto inilah aku jadi bisa foto sama standee-nya V BTS muahahahaha…. :D 



Keliling Photobox dengan Tema Beda-beda

Selesai dari studio utama, kami lanjut coba satu per satu photobox tematiknya. Ada empat tema yang tersedia, yaitu:


  • Tema lift. Suasananya emang dibikin mirip seperti di dalam lift beneran. Termasuk posisi kameranya yang dipasang di atas seperti CCTV. Asli, sih, pas foto di sini jadi lumayan bikin pegal leher kalau kebanyakan dongak ke atas… :D 



  • Tema minimarket. Kayaknya, ini tema photobox favoritku, deh. Photobox ini dilengkapi dengan rak dan keranjang belanja sebagai properti foto. Snack-nya juga beneran, lho! Bagian ini paling seru pas temanku sempet naik ke dalam trolinya! 



  • Tema fitting room. Menurutku ini tema simple tapi hasil jadinya baguuuus…



  • Tema vintage. Nah, kalau tema vintage ini sebenarnya hanya ruang foto yang ditutup gorden merah. Tapi begitu lihat hasil fotonya, wah, keliatan estetik, deh!



Tiap tema punya vibes yang beda banget  Jadi dalam satu kunjungan kami bisa dapat berbagai macam gaya foto tanpa harus pindah lokasi.


Tapi jujur, sesi foto ini sempet juga ngerasain yang namanya mati gaya! Ahahahaha….  Durasifoto di tiap studio sebenarnya nggak lama, sih, tapi rasanya kenapa lama banget, ya!  


Kami bertiga sempat bolak-balik bingung mau pose apa lagi. Mungkin ini juga soal faktor umur kali ya, hehe… Ditambah kami memang udah jarang banget foto-foto kayak gini, jadi rasanya agak awkward pas harus mikir pose dadakan di depan kamera.


Akhirnya kami banyak ketawa sendiri karena saking bingungnya dan itu malah jadi bagian paling receh sekaligus paling diingat dari sesi hari itu… :D 



Bukan Cuma Foto, Ada Karaoke dan Mini Theatre Juga

Satu hal lagi yang bikin Etive terasa lebih dari sekadar tempat foto adalah adanya ruang karaoke mini dan ruang mini theatre buat nonton bareng. 


Jadi kalau habis sesi foto masih pengen lanjut hangout sama teman, tinggal geser ke ruangan lain tanpa perlu pindah tempat. Ruangan-ruangan ini biasanya bisa disewa per jam, cocok banget buat nutup acara kumpul bareng teman atau keluarga.



Harga Self Photo Studio dan Photobox di Etive Depok

Nah, kalau Manteman juga pingin foto-foto di Etive, cek dulu harganya di bawah ini, yaa… 


  • Studio foto utama: Rp 40.000,-/orang, sudah termasuk cetak foto dan all digital soft copy. Durasi foto 15 menit, ya. 


  • Photobox tematik: Rp 30.000,-/sesi, sudah termasuk 2 photostrips dan all digita copy. Nah, untuk photobox durasi per sesinya 5 menit aja, ya. api 5 menit juga udah cukup banget sih menurutku ada di dalam photobox-nya. :D


  • Tambahan kostum dan aksesoris: Rp 10.000,-


  • Etive Room (ruang karaoke./Netflix): Rp 70.000,-/jam (2 orang), Rp 90.000,-/jam (>2 orang). 


  • Etive Film: Rp 150.000,-/sesi (2 jam, 1 film, tidak ada batasan orang).


Supaya nggak salah budget, ada baiknya cek dulu harga terbaru langsung ke akun Instagram atau WhatsApp cabang Etive yang mau Manteman datangi sebelum booking. Oiya, untuk bookingnya juga bisa lewat website-nya Etive.




Lokasi Etive Depok

Etive Depok berlokasi di Jl. Margonda No. 504 (sebelah Optik Mikeda), Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok. 


Tempatnya ada di lantai atas dan ukurannya nggak terlalu mencolok dari jalan, jadi wajar kalau banyak yang belum sadar tempat ini ada persis di pinggir Margonda yang seramai itu. Etive Depok buka setiap hari mulai pukul 10.00 sampai 22.00.



Etive Juga Ada di Kota Lain

Buat yang bukan warga Depok atau lagi di kota lain, tempat ini sudah punya beberapa cabang di berbagai kota, di antaranya:


  • Kemang, Jakarta Selatan
  • Tanjung Duren, Jakarta Barat
  • Kelapa Gading
  • Bekasi (Grand Galaxy City)
  • Gading Serpong, Tangerang
  • Serang
  • Bandung
  • Bogor
  • Cibubur


Konsep dan tema di tiap cabang kurang lebih mirip, ada self photo studio, photobox dengan beberapa tema, dan Etive Room untuk karaoke/nonton.


Gimana, tertarik buat bikin momen bareng temen-temen dengan foto di Etive juga? Awalnya cuma niat ikut ajakan teman buat foto santai, eh, malah jadi sesi hangout yang lumayan panjang, ya. 


Dari studio foto utama, keliling photobox, sampai foto bareng standee V BTS yang bikin hari itu makin berkesan buatku. :D Buat yang cari tempat foto estetik dengan nuansa Korea di Depok atau sekadar mau ngumpul bareng teman tanpa pindah-pindah lokasi, Etive ini boleh juga dicoba! 



Dita Indrihapsari


Manfaat Field Trip Sekolah Tanpa Kehadiran Orang Tua, Ternyata Banyak, lho!



Setiap tahun ajaran baru, ada satu hal yang selalu bikin anak-anakku heboh. Apalagi kalau bukan agenda jalan-jalan sekolah. :D 


Di SD tempat anak-anakku sekolah, ada dua jenis kegiatan yang sering bikin bingung kalau belum tahu bedanya, yaitu fun trip dan field trip.


Fun trip biasanya diadakan setahun sekali dan diikuti oleh semua siswa dari level 1 sampai level 6 bareng-bareng. Tujuannya ke tempat wisata seru semacam Dufan atau Jungle Land. 


Namanya juga fun trip, jadi memang fokusnya buat senang-senang dan main bareng teman. Selain didampingi guru, kegiatan ini juga ditemani oleh support parents atau yang biasa disebut korlas (koordinator kelas).


Nah, berbeda dengan field trip. Field trip bisa diakana satu atau dua kali dalam setahun.. Kalau field trip ini diadakan per level, jadi nggak semua anak ikut bareng-bareng. Misalnya anak kelas 3 field trip ke tempat edukasi Pelita Desa, sementara kelas 4 punya jadwal sendiri ke Inagro. Field trip tentunya ke tempat-tempat wisata edukasi yang disesuaikan dengan tema pembelajaran di level masing-masing, ya. 


Bedanya lagi, field trip cuma didampingi oleh guru kelas aja, tanpa kehadiran orang tua sama sekali. Jadi pihak support parents atau korlas pun nggak ikut kegiatan ini. 


Nah, di sinilah biasanya muncul pertanyaan dari orang tua. Field trip dan fun trip ini, kan, bisa dibilang sama, ya, kayak study tour sekolah. Makanya pasti ada aja, kan, pro kontra soal kegiatan ini.  Terutama soal apakah aman anak jalan-jalan sekolah tanpa didampingi orang tua? 


Pro kontra soal kegiatan ini nggak bisa dihindari, ya. Namun di tulisan kali ini aku lebih mau cerita soal manfaat yang ternyata bisa didapat anak dari kegiatan fun trip dan field trip bareng sekolah tanpa kehadiran orang tua. 



Melatih Kemandirian Anak

Ini yang menurutku jadi manfaat paling terasa. Tanpa ada orang tua di sisi mereka, anak jadi terbiasa mengurus dirinya sendiri. Mulai dari membawa bekal, menjaga barang bawaan, sampai memutuskan sendiri kapan harus bilang ke guru kalau mau ke toilet atau kapan kalau mau minum air putih. 


Hal-hal kecil ini yang sebenarnya jadi latihan kemandirian yang nggak selalu bisa didapat kalau orang tua terus mendampingi.



Belajar Adaptasi dan Sosialisasi dengan Cara Berbeda

Kalau biasanya anak main sama teman dekat aja, di field trip mereka jadi punya kesempatan berinteraksi dengan teman sekelas secara lebih intens. Apaagi biasanya mereka akan dibagi kelompok yang belum tentu akan satu kelompok dengan teman dekatnya saat di sekolah 

Anak jadi harus bisa adaptasi lebih cepat dan harus belajar menyelesaikan masalah kecil sendiri atau minta bantuan ke guru maupun teman.



Fokus pada Pembelajaran

Khusus untuk field trip karena field trip diadakan per level dan biasanya ke tempat edukasi seperti Pelita Desa, Godong Ijo atau Inagro, anak jadi lebih fokus menyimak materi yang diberikan. 


Nggak terganggu dengan kehadiran orang tua yang kadang malah bikin anak lebih sibuk cari perhatian dibanding menyimak penjelasan dari pemandu wisata di tempat tersebut.



Membangun Kedekatan dengan Guru Kelas

Momen field trip ini juga jadi kesempatan bagus buat anak makin dekat dengan guru kelasnya. Di luar suasana kelas yang formal, anak bisa melihat sosok guru dari sisi lain, sebagai pendamping yang menjaga dan mengarahkan mereka selama perjalanan. 


Nah, kalau di fun trip anak dan guru ada punya kesempatan juga untuk main bareng tanpa ada kecanggungan.



Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Aku juga sering dengar cerita dari anak-anakku sepulang field trip dan biasanya mereka jadi lebih pede menceritakan pengalamannya sendiri, tanpa "dibantu" cerita sama Bubu atau Yaya-nya. Karena mereka yang mengalami sendiri, mulai dari antre, bertanya ke guru atau pemandu, sampai menyelesaikan tugas kelompok kecil di lokasi, rasa percaya diri mereka jadi terbangun secara alami. 


Ini beda banget rasanya dibanding kalau orang tua ikut serta terus mendampingi setiap langkah anak. Bisa-bisa mereka melirik terus ke orang tua, apalagi buat anak yang masih level kecil antara level 1 sampai level 3. :D 



Tentang Pendapat yang Kontra

Aku juga sadar, nggak semua orang tua sepakat dengan kegiatan field trip atau study tour sekolah, ya. Beberapa waktu terakhir, isu ini malah cukup ramai dibahas, terutama setelah ada beberapa kejadian kecelakaan yang melibatkan kendaraan rombongan study tour sekolah di berbagai daerah. 


Wajar kalau kemudian muncul kekhawatiran soal aspek keselamatan, terutama menyangkut kondisi kendaraan, kelayakan sopir, sampai jalur perjalanan yang dilalui.


Selain itu, biaya juga sering jadi sorotan, sih. Ada study tour yang harganya cukup mahal, apalagi kalau tujuannya ke luar kota dan memakan waktu beberapa hari. Ini tentu jadi beban tersendiri buat sebagian keluarga, terlebih kalau nggak semua orang tua merasa kegiatan tersebut esensial untuk pembelajaran anak mereka.


Beberapa pihak juga mempertanyakan urgensi field trip dibanding manfaat akademis yang didapat, apalagi kalau destinasinya dirasa kurang relevan dengan materi pelajaran. 


Semua kekhawatiran ini menurutku wajar dan memang perlu jadi perhatian bersama, baik dari sekolah maupun orang tua.



Jadi, Setuju atau Tidak?

Kalau ditanya pendapatku sendiri sebagai orang tua, aku sebenarnya setuju-setuju saja dengan kegiatan field trip maupun fun trip di sekolah anak-anakku, asalkan pihak sekolah dan panitia memang benar-benar mempersiapkannya dengan matang. 


Transportasi yang digunakan harus memadai dan sesuai standar keselamatan, termasuk juga urusan konsumsi yang layak dan sehat untuk anak-anak selama perjalanan.


Kebetulan di sekolah anak-anakku, biaya untuk kegiatan jalan-jalan seperti ini biasanya sudah termasuk dalam pembayaran daftar ulang di awal tahun ajaran. Jadi nggak ada lagi penarikan biaya tambahan mendadak menjelang hari-H. Menurutku hal ini juga meringankan orang tua karena bisa direncanakan dari jauh-jauh hari.


Pada akhirnya, field trip maupun fun trip ini bisa jadi pengalaman berharga buat anak, asal semua pihak, baik sekolah, panitia, maupun orang tua, sama-sama memastikan keamanan dan kenyamanan anak jadi prioritas utama. 


Kalau Manteman sendiri gimana, nih? Sekolah anaknya juga rutin mengadakan field trip kayak gini, nggak? Kalian setuju dengan kegiatan ini atau justru kontra?



Dita Indrihapsari


Review Kolam Renang Pesona Khayangan Depok: Update Harga Tiket dan Les Renang Terbaru!


Rasanya sudah ratusan bahkan ribuan kali aku sekeluarga melewati Klub Pesona, salah satu tempat olahraga di Depok. Tepatnya di perumahan Pesona Khayangan. 


Meski nggak tinggal di sana, namun karena anak-anak sekolah di dalam perumahan tersebut, alhasil kami pun sering lewat Klub Pesona. Namun meski demikian, aku malah belum pernah sama sekali, lho, nyoba berenang atau fitness di sana… :D 


Nah, weekend lalu, aku sekeluarga kembali jalan-jalan ke Pesona Khayangan Depok buat mengantar anak-anak berenang. Sebenarnya bukan cuma sekadar berenang aja, sih, aku juga sekalian mau survei kursus renang buat anak-anak di sana. 


Memang kakak sudah bisa berenang, tinggal adik, nih, yang mesti dilatih lagi supaya bisa lebih lancar berenang. :D 



Sekilas Tentang Kolam Renang Pesona Khayangan

Buat Manteman yang belum tahu, kolam renang ini letaknya di dalam Perumahan Pesona Khayangan, Jl. Margonda Raya, Kota Depok. Bisa dibilang ini perumahan legend di Depok. Dari aku kecil sudah ada. Lokasinya strategis banget di pusat kota dan bisa dibilan perumahan horang kayah, old money-nya Depok... :D 


Meski berada di dalam kompleks perumahan, kolam renangnya terbuka untuk umum, jadi kita nggak perlu jadi warga perumahan dulu buat bisa nyebur di sini.


Kolam renang ini ada berada di dalam Klub Pesona. Jad selain kolam renang, ada lapangan tenis dan juga tempat fitness di klub ini. Kalau nggak salah juga ada ruang pertemuan juga yang disewakan. 


Begitu masuk ke area kolam, kesan pertama yang aku dapat adalah terasa asri dan teduh. Banyak pohon kelapa besar yang mengelilingi kolam. Jadi aku rasa meskipun siang hari, area ini tetap bisa terasa sejuk. 




Selain itu aku juga ngerasanya, ya, kalau kolam renang di sini seperti kolam renang di hotel. Jadi berasa lagi staycation di hotel terus nyoba kolam renangnya… :D 


Makanya nggak heran deh kalau tempat ini jadi salah satu pilihan favorit warga Depok buat olahraga air sekaligus healing bareng keluarga.


Kalau aku sendiri baru tiba di kolam renang ini selepas ashar. Saat weekend tentunya sudah kebayang suasananya juga cukup ramai. Ada pula yang lagi kursus renang. :) Makanya pas banget aku jadi bisa melihat dan bertanya-tanya juga dengan petugas di sana soal kursus renang anak. 



Terdapat Dua Kolam Renang

Salah satu yang aku suka dari kolam renang Pesona Khayangan ini, kolamnya dibagi jadi dua. Satu untuk dewasa dan satu lagi khusus untuk anak-anak. Jadi anak-anak bisa main air dengan lebih leluasa tanpa harus berbagi ruang sama pengunjung dewasa yang berenang serius.


Pas aku amati, ada juga penjaga kolam yang standby di pinggiran, jadi ada rasa aman tersendiri buat orang tua yang lagi mengawasi anaknya main air.


 Apalagi buat aku yang emang lagi cari tempat anak-anak berenang plus survei kursus renang, keberadaan penjaga kolam ini jadi nilai plus. Setidaknya kalau nanti anak-anak ikut les renang di sini, ada yang mengawasi dari sisi keamanan.


Air kolamnya juga terlihat jernih dan terawat, jadi cukup nyaman dipakai berenang lama-lama. Di sekitar kolam juga tersedia beberapa payung dan kursi santai buat orang tua yang mau menunggu sambil rehat.


Nah, karena aku nggak ikut berenang, jadi aku nggak sempat masuk ke dalam ruang bilas dan toiletnya. Tapi menurut cerita anak-anak, terdapat tiga tempat bilas dan satu toilet di tempat khusus laki-laki, ya. 



Update Harga Tiket Masuk Terbaru

Kalau Manteman pernah baca-baca artikel lama soal kolam renang ini, mungkin masih nemu harga tiket yang jadul banget, di kisaran Rp24.000-an. Nah, harga segitu udah nggak berlaku lagi, ya. Kemarin pas aku ke sana, aku sempat foto papan harga resmi dari Klub Pesona yang berlaku mulai 18 Januari 2025, dan ini rangkumannya:


Tiket masuk renang

Senin–Minggu & libur nasional: Rp40.000/orang


Les renang

Anak usia di bawah 15 tahun: Rp396.000

Dewasa di atas 15 tahun: Rp480.000

Ditambah biaya pendaftaran member & les renang sekali bayar: Rp35.000


Member tahunan

Single 12 bulan: Rp2.640.000

Single 6 bulan: Rp1.680.000

Family (suami, istri, dan 2 anak di bawah 17 tahun): Rp4.380.000

Tambahan anak di bawah 17 tahun: Rp780.000/anak


Selain kolam renang, Klub Pesona juga punya fasilitas fitness (Rp50.000 hari kerja, Rp60.000 akhir pekan/libur atau paket personal trainer 8x pertemuan Rp1.000.000), serta lapangan tenis dan basket dengan tarif sewa per jam mulai Rp65.000.


Satu hal yang perlu diingat, tiket yang sudah dibeli nggak bisa dikembalikan atau ditukar, jadi pastikan jadwal kunjungan Manteman udah fix sebelum bayar di loket. Untuk info lebih lanjut atau mau daftar les renang, Manteman bisa langsung hubungi (021) 77820333 atau WhatsApp ke 0811-1047-782.


Harga di atas berlaku per Januari 2025 dan berpotensi berubah sewaktu-waktu, ya. Jadi tetap ada baiknya dikonfirmasi ulang ke pihak pengelola sebelum berkunjung.





Sedikit Kekurangan: Terasa Agak Kurang Privat

Nah, ada satu hal yang aku perhatikan waktu berenang di sana. Karena kolam renang ini berada di tengah area perumahan, area kolamnya jadi agak kelihatan dari rumah-rumah warga di sekitar, terutama kalau dilihat dari lantai atas. Jadi buat Manteman yang cukup memperhatikan privasi saat berenang, ini bisa jadi salah satu pertimbangan.


Meski begitu, secara keseluruhan suasananya tetap nyaman kok. Toh kebanyakan pengunjung juga fokus main air bareng keluarga, jadi hal ini nggak terlalu mengganggu kenyamanan berenang.


Oiya, selain itu, dari bagian depan gedung ke bagian dalam kolam renang terasa gelap gitu, lho. Menurutku penerangannya kurang dan kesannya jadi agak spooky. Apalagi bangunan Klub Pesona juga sudah lama. Mungkin bisa ditambah lampu atau penerangan lain di dalam bangunannya, ya… :) 


Nah, satu hal lagi, nih, yang agak mengganggu buatku. Jadi saat sedang duduk menunggu anak-anak, tiba-tiba aku mencium bau asap rokok... :( Ternyata memang ada seorang bapak yang merokok. Untungnya ia cepat pergi dan aku jadi nggak terganggu dengan asap rokoknya. Sepertinya mesti ada kebijakan ketat larangan merokok di area kolam renang, deh. Apalagi banyak banget anak-anak, kan, yang berenang di sana... 



Cocok Buat Anak-anak Belajar Berenang

Dari hasil survei singkatku kemarin, aku cukup yakin Pesona Khayangan ini bisa jadi salah satu pilihan buat anak-anak belajar berenang. Selain ada penjaga kolam yang standby, suasananya juga enak dan tenang karena dikelilingi pepohonan rindang.


Buat Manteman yang juga lagi cari tempat les renang anak di area Depok, boleh banget, nih, dipertimbangkan. Harga paket les renang anak di bawah 15 tahun ada di kisaran Rp396.000,- ditambah biaya pendaftaran Rp35.000,- ya. 


Soal jadwal dan ketersediaan instrukturnya, langsung aja hubungi nomor telepon atau WhatsApp Klub Pesona yang udah aku cantumkan di atas.




Overall, pengalaman berenang di Pesona Khayangan Depok kemarin cukup menyenangkan. Suasananya asri, fasilitasnya oke, dan yang penting anak-anak happy main air. Buat Manteman yang lagi cari kolam renang keluarga di Depok, tempat ini layak banget masuk daftar kunjungan, apalagi kalau sekalian mau eksplor opsi kursus renang buat si kecil.


Kalau punya pengalaman lain berenang di Pesona Khayangan atau rekomendasi kolam renang lain di Depok, boleh banget cerita di kolom komentar, ya!



Dita Indrihapsari


7 Venue Private Event di Bali untuk Berbagai Momen Spesial

venue-private-event-di-bali


Bagi kebanyakan orang, Bali adalah sinonim dari momen spesial.


Tidak hanya dikenal sebagai tujuan liburan, pulau ini juga menawarkan beragam venue yang mampu mengakomodasi acara dengan karakter berbeda, mulai dari proposal romantis, pesta ulang tahun, intimate wedding, hingga corporate gathering.


Setiap kawasan di Bali menghadirkan pengalaman yang unik. Ada venue yang mengutamakan panorama tebing dan laut lepas, ada pula yang menawarkan suasana tropis di tengah hutan atau kemewahan resort bintang lima.


Berikut beberapa venue private event di Bali yang layak dipertimbangkan sesuai kebutuhan acara.



1. Tropical Temptation Beach Club, Uluwatu

Berlokasi di kawasan Melasti, Uluwatu, Tropical Temptation Beach Club menawarkan suasana beachfront yang santai namun tetap stylish, dengan sentuhan tropis yang terasa hangat dan modern.


Venue ini menghadirkan setting terbuka yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dan cocok untuk berbagai jenis private event.


Mulai dari proposal, engagement, birthday party, wedding after party, hingga corporate gathering dan brand activation, semuanya bisa dikemas dengan fleksibel sesuai vibe yang diinginkan.


Selain pilihan area yang beragam, pengalaman acara juga didukung oleh curated dining, sistem audiovisual, hiburan, serta tim event yang siap membantu menyesuaikan konsep dari awal hingga akhir.


Bagi yang sedang mencari venue private event di Bali, tempat ini menawarkan perpaduan pemandangan pantai, suasana sunset, dan fasilitas lengkap yang membuat setiap perayaan terasa lebih berkesan.



2. The Jungle Club, Ubud

Jika Uluwatu identik dengan panorama laut, The Jungle Club menawarkan pengalaman yang berbeda di tengah suasana hijau khas Ubud.


Dikelilingi pepohonan dan pemandangan lembah, venue ini memiliki beberapa area yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan acara, mulai dari birthday celebration, intimate gathering, hingga corporate event.


Suasananya terasa lebih sejuk dan santai, cocok bagi mereka yang ingin merayakan momen spesial jauh dari hiruk pikuk kawasan wisata.


Pilihan venue yang beragam, dipadukan dengan pengalaman bersantap dan hiburan, membuat setiap acara terasa lebih hangat dan berkesan.



3. Equipoise Resort, Ubud

Bagi yang mengutamakan privasi, Equipoise Resort menawarkan suasana tenang di tengah hamparan sawah Ubud.


Resort ini menghadirkan paket intimate wedding bagi pasangan yang ingin menggelar pernikahan dalam skala kecil dengan latar alam yang asri.


Jauh dari keramaian, tempat ini juga cocok untuk honeymoon maupun perayaan yang lebih personal bersama orang-orang terdekat.


Perpaduan villa privat dan suasana pedesaan Ubud menciptakan pengalaman yang sederhana, nyaman, dan tetap berkesan.



4. La Mewali Resort, Canggu

Canggu identik dengan suasana yang hidup, tetapi La Mewali Resort menawarkan sisi yang lebih tenang dari kawasan ini.


Desainnya memadukan gaya modern dengan sentuhan tropis yang hangat, menciptakan tempat yang nyaman untuk menikmati waktu bersama pasangan atau keluarga.


Bagi yang ingin merayakan anniversary, birthday staycation, atau momen spesial lainnya dalam suasana yang lebih privat, resort ini bisa menjadi salah satu pilihan.


Lokasinya juga memudahkan tamu menjelajahi berbagai restoran, kafe, dan pantai di sekitar Canggu.



5. Seascape, Sanur

Sanur dikenal dengan suasananya yang lebih tenang dibanding banyak kawasan pantai lain di Bali, dan karakter itulah yang ditawarkan Seascape.


Menghadap kawasan pesisir Sanur, properti ini cocok bagi pasangan yang ingin menikmati anniversary, honeymoon, atau momen spesial dalam suasana yang santai.


Kedekatannya dengan pantai juga memungkinkan tamu menikmati matahari terbit yang menjadi ciri khas kawasan ini.


Bagi yang ingin menikmati nuansa tepi laut tanpa keramaian, Seascape menawarkan pengalaman menginap yang lebih rileks.



6. Monolocale, Seminyak

Seminyak selalu menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menikmati sisi Bali yang modern, dan Monolocale berada di tengah kawasan tersebut.


Dengan desain yang minimalis dan kontemporer, properti ini cocok untuk staycation, anniversary, atau perayaan sederhana bersama orang terdekat.


Setelah menikmati waktu di resort, tamu juga dapat dengan mudah mengunjungi berbagai beach club, restoran, dan butik yang menjadi daya tarik Seminyak.


Suasananya terasa lebih personal tanpa harus jauh dari pusat aktivitas.



7. Hideout, Karangasem

Bagi yang ingin merayakan momen spesial dengan cara yang berbeda, Hideout menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.


Deretan bamboo house yang berada di tengah sawah, hutan, dan aliran sungai menghadirkan suasana yang tenang, jauh dari keramaian.


Tempat ini cocok untuk proposal, anniversary, atau sekadar menikmati waktu berkualitas bersama pasangan.


Alih-alih mengandalkan kemewahan, Hideout menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan alam, sehingga setiap momen terasa lebih intim dan personal.



Tips Memilih Venue Private Event di Bali

Sebelum menentukan venue, ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan agar acara berjalan sesuai rencana.


Pertama, sesuaikan venue dengan jenis acara yang akan diselenggarakan. Wedding tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan corporate gathering atau birthday party, baik dari segi kapasitas maupun tata ruang.


Kedua, perhatikan lokasi dan akses menuju venue. Bali memiliki karakter wilayah yang beragam, sehingga waktu tempuh, kondisi lalu lintas, hingga ketersediaan area parkir dapat memengaruhi kenyamanan tamu.


Ketiga, pastikan fasilitas pendukung tersedia. Sistem audiovisual, pilihan katering, area indoor sebagai antisipasi cuaca, hingga tim event organizer internal dapat menjadi nilai tambah yang memudahkan proses penyelenggaraan acara.


Terakhir, pilih venue yang mampu menghadirkan pengalaman sesuai karakter perayaan. Pemandangan laut, suasana sunset, hingga fleksibilitas penataan ruang seringkali menjadi faktor yang membuat sebuah momen terasa lebih berkesan bagi seluruh tamu yang hadir.




Bakso Tujuh Pemuda Bogor, Bakso Unik dengan Tetelan Goreng Enak!



Wah, kalau ngomongin bakso, rasanya aku jadi makin semangat! :D Gimana nggak, soalnya bakso adalah salah satu makanan terfavoritkuuu… :D Nah, aku juga yakin, sih, kalau banyak Manteman yang juga suka makan bakso. Hayooo, ngaku aja! :D 


Nah, beberapa waktu lalu aku dan temanku, Nia, nemu satu tempat bakso di Bogor yang menurutku beda dari bakso pada umumnya. Namanya Bakso Tujuh Pemuda. Yang bikin beda, di semangkuk baksonya itu ada tetelan goreng! Iya, tetelan yang biasanya cuma direbus, di sini digoreng dulu sebelum masuk mangkuk. Beuh, kebayang, kan, mantapnya gurih-gurih kriuk gitu? :D



Jalan Kaki Dulu Keliling Kebun Raya, Baru Kulineran

Ceritanya, aku dan temanku memang suka banget jalan-jalan santai dari Depok ke Bogor naik kereta. Begitu turun di Stasiun Bogor, kami lanjut jalan kaki keliling bagian luar Kebun Raya Bogor. 


Nggak masuk ke dalam, sih, cuma menyusuri pinggiran luarnya aja sambil menikmati suasana kota Bogor yang sejuk di pagi hari. Lumayan buat olahraga santai sekaligus menikmati suasana kota hujan yang selalu bikin betah. :)


Nah, abis puas jalan kaki, agenda selanjutnya udah pasti kulineran, dong! Perut yang udah mulai keroncongan langsung diarahkan ke Bakso Tujuh Pemuda yang kebetulan lokasinya nggak jauh dari setelah kami berkeliling Kebun Raya.



Lokasi Strategis, Persis di Depan Regina Pacis

Bakso Tujuh Pemuda lokasinya ada di depan Sekolah Regina Pacis, jadi masih di tengah kota Bogor dan gampang banget dijangkau. Buat Manteman yang mau ke sini dari Stasiun Bogor, jaraknya juga nggak terlalu jauh, kok. Bisa banget jalan kaki.


Begitu sampai, aku langsung takjub, sih, sama luasnya tempat ini. Area makannya luas, parkirannya juga luas. Jadi nggak perlu khawatir kalau datang rame-rame bareng keluarga atau teman-teman. Bangunannya juga terlihat rapi dengan atap khas dan ada bata merah di bagian depannya.




Satu hal yang aku suka, tempat makan bakso ini konsepnya open kitchen. Jadi kita bisa lihat langsung para stafnya meracik bakso yang bakal kita nikmati, mulai dari nyiapin mangkuk, nuang kuah, sampai nambahin isian. Buat aku pribadi, ini nambah rasa percaya aja sih, karena bisa lihat langsung proses masaknya di depan mata.



Menu Bakso yang Bikin Bingung Milih

Sampai di sana, aku dan Nia langsung dikasih menu dan jujur agak bingung juga mau pilih yang mana, soalnyaada beberapa varian! Berikut beberapa menu yang tersedia di Bakso Tujuh Pemuda, ya:


Bakso Halus (27K) – isi 6 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau

Bakso Urat Sedang (33K) – 1 bakso urat sedang, 3 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau

Bakso Daging Sedang (33K) – 1 bakso daging sedang, 3 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau

Bakso Urat Besar (39K) – 1 bakso urat besar, 2 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau

Bakso Daging Besar (39K) – 1 bakso daging besar, 2 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau

Bakso Telur (39K) – 1 bakso telur, 3 bakso halus, tetelan goreng, bihun/kwetiau




Nah, dari semua menu di atas, hampir semuanya emang udah dilengkapi tetelan goreng sebagai pelengkap. Jadi bukan cuma satu menu spesial aja yang punya tetelan goreng, tapi hampir semua bakso di sini emang dikasih pelengkap itu.


Selain bakso kuah, ada juga pilihan mi yamin dan mi ayam buat yang pengen menu lebih "berat", seperti Mie Yamin Pangsit Bakso (33K), Mie Yamin Pangsit (28K), Mie Ayam Komplit (33K), dan Mie Ayam (28K).


Buat pelengkap, ada juga menu pendamping kalau masih kurang puas, mulai dari bakso goreng, tetelan goreng, pangsit goreng, ceker, kerupuk kulit, sampai sukro. Menurutku untuk harganya juga masih bisa dibilang sesuailah. :)



Gimana dengan Rasanya?

Begitu bakso yang kami pesan datang, aku langsung tergoda sama potongan tetelan goreng yang nangkring di atas mangkuk. Teksturnya beda banget sama tetelan rebus biasa, ada sensasi renyah-renyah di bagian luar tapi tetap empuk pas digigit di dalamnya.


Baksonya sendiri terasa kenyal dan gurih, dengan kuah yang hangat dan pas di lidah, nggak terlalu asin juga nggak hambar. Ditambah pangsit goreng dan taburan daun bawang, rasanya jadi makin komplet.


Buat pelengkap minum, di sini juga tersedia beragam pilihan minuman dan hidangan penutup, mulai dari es cendol durian runtuh (25K), es teler durian runtuh (35K), es campur (28K), sampai es jeruk markisa (25K) yang seger banget buat nemenin makan bakso yang hangat.



Worth It Buat Dicoba!

Buat Manteman yang kebetulan lagi jalan-jalan ke Bogor atau lewat area Regina Pacis, bisa banget mampir ke Bakso Tujuh Pemuda ini. Selain porsinya mengenyangkan, konsep tetelan gorengnya juga jadi pembeda yang bikin pengalaman makan bakso di sini terasa beda dari biasanya.


Apalagi kalau habis jalan kaki keliling Kebun Raya Bogor kayak aku dan temanku, rasanya emang paling pas ditutup dengan semangkuk bakso hangat yang mengenyangkan. Cocok banget jadi agenda kulineran abis capek jalan-jalan santai di Bogor. :)



Dita Indrihapsari


Jangan Salah Kaprah, Ini Beda Hiking dan Trekking!



Sering nggak sih dengar orang bilang mau "trekking" padahal cuma jalan santai 2-3 jam aja di bukit? Atau sebaliknya, ada yang nyebut acara jalan seharian penuh bahkan berhari-hari nanjak gunung sebagai "hiking"? 


Kalau aku perhatiin, banyak juga operator jasa wisata di Sentul yang menawarkan paket "trekking" dengan durasi cuma 3 jam-an. Padahal kalau merujuk ke arti aslinya, itu sebenarnya lebih pas disebut dengan hiking.


Iyessss, ternyata dua istilah ini memang sering banget ketuker di masyarakat kita, termasuk aku sendiri. Aku juga baru tahu arti sebenarnya istilah tersebut baru-baru ini. Kalau Manteman sendiri gimana? 


Biar kita nggak salah kaprah lagi, yuk, kita bahas tuntas apa, sih, sebenarnya bedanya hiking dan trekking itu.



Apa Itu Hiking?

Kalau merujuk ke kamus bahasa Inggris, Merriam-Webster mendefinisikan hike sebagai "a long walk especially for pleasure or exercise", alias jalan kaki yang cukup panjang, biasanya untuk kesenangan atau olahraga. 


Sedangkan Cambridge Dictionary mengartikan hiking sebagai "the activity of going for long walks in the countryside". Kegiatan jalan kaki di alam terbuka atau pedesaan.


Dari definisi itu, bisa dibilang hiking itu:

  • Durasinya relatif singkat, biasanya hanya hitungan jam dan bisa selesai dalam sehari (one day trip).

  • Medan yang dilalui umumnya sudah punya jalur yang jelas, di alam terbuka, dan nggak terlalu ekstrem.

  • Persiapan yang dibutuhkan juga lebih ringan, nggak perlu bawa perlengkapan macam-macam.


Jadi kalau merujuk dari artinya, paket-paket jalan santai ke curug atau bukit yang cuma 2-3 jam itu, sebenarnya lebih tepat disebut hiking, ya, bukan trekking.



Apa Itu Trekking?

Nah, kalau trekking, Merriam-Webster mengartikan trek sebagai "a trip or movement especially when involving difficulties or complex organization". Bisa juga dibilang sebagai perjalanan yang biasanya melibatkan kesulitan atau butuh persiapan dan pengorganisasian yang kompleks gitu, deh. 


Cambridge Dictionary juga menyebut trekking sebagai "the activity of walking for long distances, especially through mountains or forests, for pleasure". Artinya sebuah aktivitas berjalan jarak jauh, khususnya melewati gunung atau hutan.


Ciri-ciri trekking biasanya:

  • Durasinya panjang, bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

  • Medannya lebih menantang, kadang melintasi gunung hutan, atau daerah terpencil.

  • Butuh persiapan fisik dan logistik yang jauh lebih matang, termasuk perlengkapan camping karena biasanya harus menginap di alam.


Jadi kalau ada perjalanan mendaki gunung yang makan waktu 3 hari 2 malam, itu baru pas disebut trekking.



Perbandingan Hiking vs Trekking

Berikut perbedaan yang lebih jelas antara hiking da trekking, ya!

Kategori

Hiking

Trekking

Durasi perjalanan

Beberapa jam, biasanya selesai dalam sehari

Berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu

Tingkat kesulitan

Relatif ringan sampai sedang

Sedang sampai berat

Jenis medan

Jalur yang sudah jelas, umumnya bukit atau area wisata alam

Bervariasi, bisa melewati gunung, hutan atau daerah terpencil

Persiapan fisik

Cukup dengan stamina dasar

Perlu latihan fisik dan daya tahan yang lebih matang

Perlengkapan

Sepatu yang nyaman, air minum, dan bekal ringan

Perlengkapan camping lengkap, logistik untuk beberapa hari

Akomodasi

Tidak perlu menginap

Biasanya perlu menginap di tenda atau shelter

Contoh kegiatan

Jalan ke curug, bukit atau gua dalam sehari

Pendakian gunung multi-hari, lintas alam jarak jauh



Suka Hiking tapi Belum Pernah Trekking

Kalau ditanya soal pengalaman, aku sendiri sebenarnya lebih sering hiking daripada trekking. Eh, bahkan bisa dibilang belum pernah sama sekali trekking, deng… :D 


Beberapa kali aku sempat main ke curug-curug di sekitar Sentul, jalannya nggak terlalu jauh dan bisa ditempuh dalam hitungan jam saja. Selain curug, aku sekeluarga juga pernah eksplor gua di kawasan Sentul. Seru banget karena bisa lihat sisi lain dari alam Sentul selain air terjun dan perbukitannya!


Selain itu, aku dan teman-teman pernah juga hiking ke Lembah Purba di Sukabumi, Pengalaman hiking terakhir yang paling berkesan buat aku adalah waktu ke Curug Cibadak di Bogor. Jalurnya cukup menantang untuk ukuran hiking, tapi tetap bisa ditempuh dalam sehari kok, jadi masih masuk kategori hiking, bukan trekking.


Nah, kalau untuk trekking sendiri, sejujurnya aku belum pernah coba. Mungkin ke depannya aku perlu coba trekking beneran yang durasinya lebih panjang, biar bisa cerita pengalamannya juga di blog ini. Doain ya! :D Doain juga kuat kalau beneran mau trekking…. Hehe…



Manfaat Hiking dan Trekking untuk Ibu-ibu Usia 40-an

Buat Manteman yang usianya udah masuk kepala empat kayak aku, hiking dan trekking itu sebenarnya aktivitas yang sayang banget kalau dilewatkan. Ini beberapa manfaatnya:

  • Menjaga kesehatan jantung dan stamina. Jalan kaki di alam terbuka, apalagi dengan medan yang naik turun, bisa jadi latihan kardio yang bagus untuk usia 40-an.

  • Membantu menjaga kepadatan tulang. Aktivitas menahan beban tubuh seperti jalan di jalur alam katanya bisa membantu memperlambat penurunan kepadatan tulang yang mulai terjadi seiring bertambahnya usia. Gimana, ada yang udah kepala empat dan suka ngilu-ngilu sebadan-badan? :D

  • Meredakan stres dan menyegarkan pikiran. Buat ibu-ibu yang sehari-hari sibuk mengurus rumah dan keluarga, ditambah lagi yang bekerja juga, waktu di alam terbuka bisa jadi me time yang menyegarkan pikiran dan menurunkan tingkat stres. :) 

  • Menjaga berat badan tetap ideal. Hiking maupun trekking membakar cukup banyak kalori, jadi bisa membantu menjaga berat badan, apalagi metabolisme yang mulai melambat di usia 40-an. Duh, aku pingin bangeeeeet bisa turun bebeeee… :D 

  • Menjalin kedekatan dengan teman, keluarga, atau komunitas. Baik hiking singkat maupun trekking yang lebih panjang, keduanya bisa jadi momen kebersamaan yang seru, entah sama keluarga, sahabat atau teman komunitas. Ya, kaaan? :D 


Yang penting, sih, sesuaikan dulu sama kondisi fisik masing-masing. Kalau baru mulai, boleh banget coba hiking ringan dulu sebelum lanjut ke trekking yang lebih menantang.


Nah, itu dia penjelasan soal beda hiking dan trekking, Semoga setelah baca ini kita jadi lebih paham dan nggak salah kaprah lagi, ya, kalau mau ikutan paket jalan-jalan alam. Kalau Manteman punya pengalaman hiking atau trekking seru, boleh banget cerita di kolom komentar!


Happy hiking and trekking, semuaaaa!



Dita Indrihapsari


Situ Rawa Besar Depok: Kenangan Masa SD, Mitos Buaya Putih, dan Tempat Wisata Warga



Kalau ngomongin tempat yang punya kenangan khusus buat aku sejak kecil, salah satunya pasti Situ Rawa Besar atau yang lebih dikenal warga sekitar dengan nama Rawa Lio. :D


Situ ini bukan tempat asing buatku. Dulu waktu SD, aku sekolah di SDN Anyelir 1, dan kebetulan banget bagian belakang sekolahku itu langsung berbatasan sama situ ini. Jadi bisa dibilang, aku tumbuh dengan situ ini sebagai  bagian dari aku bersekolah selama bertahun-tahun. Apalagi pas SMA sekolahku pun juga ada di bagian depan situ atau danau ini… 


Dan pasti, deh, kalau anak sekolahan di sekitar situ ini, nggak akan lepas dari cerita mitos yang beredar. Salah satu yang paling santer waktu itu adalah mitos soal buaya putih yang katanya menghuni situ ini. 


Duh, kalau ingat-ingat lagi, dulu tiap ngeliat situ itu pas jam istirahat atau pas jam pulang sekolah, suasananya jadi berasa mistis-mistis gimana gitu. :D


Nah, karena situ ini punya tempat spesial di memori masa kecilku, aku jadi penasaran dan pengen coba telusuri lebih jauh. Oiya, apalagi suamiku juga rumahnya dekat banget sama situ ini, Paling hanya 30-50 meter aja jaraknya! 


Gimana, sih, ceritanya situ ini ada, sekarang dimanfaatkan untuk apa, sampai soal tempat nongkrong dan tempat wisata warga di pinggir situ. Yuk, simak ceritanya!



Sekilas Tentang Situ Rawa Besar

Situ Rawa Besar berlokasi di Jalan Kembang, Kampung Lio, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. 


Luas area situ ini sekitar 17 hektar dengan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter. Nggak jauh dari sini juga ada Jalan Arif Rahman Hakim, Stasiun Depok Baru, dan Terminal Depok, jadi sebenarnya lokasinya cukup strategis dan gampang dijangkau.


Nama "Rawa Lio" sendiri lekat sama nama Kampung Lio yang jadi lokasi situ ini berada.



Gimana Ceritanya Situ Rawa Besar Ini Ada?

Nah, ini bagian yang menurutku paling bikin aku "wah" begitu tahu faktanya. Ternyata, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio ini bukan rawa dan juga bukan danau kecil alami. Bukan juga situ buatan yang sengaja dibangun untuk menampung air seperti kebanyakan situ lain di Depok.


Sebenarnya, tempat ini adalah cekungan sisa pertambangan yang sudah ditinggalkan. Jadi selama ini aku salah kira. AKu pikir Situ Rawa Besar itu memang danau buatan. Ternyata aslinya Situ Rawa Besar adalah bekas lubang tambang yang lama kelamaan terisi air. :D


Jadi ceritanya, dulu area ini punya kandungan tanah liat dalam jumlah besar. Pada masa kolonial, tanah liat dari daerah ini terus-menerus diambil dan dibentuk menjadi batu bata. Material batu bata ini kemudian dijual ke Batavia atau yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta.


Penambangan di kawasan ini berlangsung begitu intensif. Tanah terus digali tanpa henti sampai akhirnya terbentuk ceruk besar di dalam tanah dengan luas mencapai 17 hektar dan kedalaman sekitar 3,5 hingga 4,5 meter, yang sekarang kita kenal sebagai Situ Rawa Besar.


Nah, dari cerita ini juga aku baru paham kenapa nama "Lio" dipakai untuk kawasan ini. Kata "lio" ternyata bermakna "tempat atau alat pembakaran batu bata atau genting". Jadi nama Kampung Lio dan Rawa Lio memang benar-benar berasal dari aktivitas pembakaran bata dan genting yang dulu jadi mata pencaharian warga sekitar.


Hayoooo, Manteman yang warga Depok juga baru tahukah kayak aku??? :D 


Menariknya lagi, situ ini juga sempat punya fungsi penting sebagai jalur transportasi warga, lho. Dulu ada perahu yang jadi sarana penyeberangan bagi anak sekolah, pedagang, sampai warga yang mau ke pasar. 


Jadi situ ini betul-betul menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga sekitar, bukan cuma sekadar bekas tambang yang terbengkalai. 


Aku pun duluuuuu pernah naik perahu ini bolak–balik… :D Seru banget! Aku inget nama perahunya disebut GETEK! :D 


Nah, jadi alau ditanya gimana ceritanya situ ini ada, ternyata jawabannya bukan proses alam atau situ buatan biasa, melainkan dari aktivitas pertambangan tanah liat dan industri batu bata di masa kolonial. 


Cerita ini bikin aku makin sadar kalau situ yang dulu cuma aku lihat dari balik pagar sekolah ini ternyata punya sejarah yang jauh lebih unik dari yang aku kira.



Situ Rawa Besar Sekarang, Dimanfaatkan untuk Apa?

Kalau dulu situ ini identik dengan aktivitas penambangan tanah liat dan jalur perahu getek, sekarang fungsinya sudah jauh berubah dan berkembang.


Saat ini, Situ Rawa Besar atau Rawa Lio berfungsi sebagai daerah konservasi dan resapan air. Situ ini menampung limpahan air hujan dari pusat Kota Depok, lalu mengembalikan air tersebut ke dalam tanah. 


Jadi meskipun asalnya cuma bekas cekungan tambang, sekarang perannya justru jadi cukup vital buat menjaga keseimbangan air di tengah kota yang makin padat bangunan.


Selain fungsi konservasinya, situ ini juga jadi ruang publik dan tempat rekreasi warga Depok. Ada fasilitas jalan setapak atau jogging track yang mengelilingi situ, beberapa saung untuk bersantai, spot-spot yang asik buat berswafoto, sampai lapak-lapak UMKM warga sekitar. Ya, walaupun yang aku lihat jalur joggingnya belum memadai banget, tapi lumayanlah… :’) 


Dari pagi sampai siang, area ini biasanya jadi tempat lalu-lalang warga, entah sekadar lewat, jalan kaki menyusuri tepi situ buat cari udara segar atau anak-anak sekolah yang jalan beriringan di sepanjang jalur setapaknya. 


Jadi meskipun statusnya cuma situ di tengah kota, keberadaannya masih terasa menyatu dengan kehidupan warga sekitar sampai sekarang. Malah kalau lewat situ ini aku sering banget lihat anak-anak warga lokal yang main air berenang di situ ini lho. Padahal kayaknya, sih, dalam ya. Tapi mereka pada berani-berani banget!


Dulu situ ini juga sempat mengalami masa-masa kurang terawat. Situ Rawa Besar juga sempat dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga. 


Belakangan, Pemerintah Kota Depok mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap masalah lingkungan di Situ Rawa Besar. Ada upaya-upaya untuk menjaga kebersihan dan kelestarian situ ini, mengingat fungsinya yang penting sebagai kawasan konservasi dan resapan air kota. 


Buat aku pribadi, tetap ada rasa senang setiap kali lewat sini, mengingat betapa dulu situ ini jadi bagian dari rutinitas masa sekolahku dan sekarang mulai mendapat perhatian yang lebih baik. :)



Mitos yang Beredar di Situ Rawa Besar

Nah, ini bagian yang paling aku tunggu-tunggu buat diceritain karena berkaitan langsung sama kenanganku sendiri. :D


Seperti yang aku ceritain di awal, dulu waktu masih SD di SDN Anyelir 1 yang bagian belakangnya langsung berbatasan sama situ ini, mitos yang paling santer di kalangan murid-murid adalah soal keberadaan buaya putih yang katanya ada di dalam situ. 


Ceritanya turun-temurun dari kakak kelas ke adik kelas dan biasanya jadi bahan obrolan seru-seruan sambil bikin merinding.


Menariknya, mitos buaya putih ini memang bukan cerita yang asing di kalangan situ-situ atau danau di Indonesia. Beberapa situ lain, termasuk yang ada di sekitar Depok, juga punya cerita serupa soal sosok buaya putih yang dipercaya sebagai jelmaan siluman atau penunggu gaib yang menjaga keseimbangan alam di kawasan tersebut.


Selain cerita yang aku dengar sendiri soal buaya putih, ternyata ada juga versi mitos lain yang berkembang di kalangan warga sekitar Situ Rawa Besar. 


Salah satunya adalah cerita tentang sosok penunggu gaib yang digambarkan berwujud menyerupai ular raksasa atau naga air, yang dipercaya menjaga keseimbangan alam di situ ini. 


Konon, kalau ada pengunjung yang bertindak nggak sopan atau merusak alam sekitar situ, sosok penunggu ini bisa "marah" dan mendatangkan hal-hal aneh bagi yang berkunjung.


Terlepas dari mana yang benar dan mana yang cuma legenda turun-temurun, buat aku pribadi mitos-mitos ini justru jadi bagian yang bikin situ ini makin punya cerita tersendiri. Toh, hampir semua situ atau danau di Indonesia memang biasanya punya cerita mistis masing-masing dan itu jadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat sekitarnya buat tetap menjaga dan menghormati alam, kan, ya. :)



Buat Manteman yang kebetulan tinggal di Depok atau lagi berkunjung ke sini, coba, deh, sesekali mampir ke Situ Rawa Besar. Selain bisa jalan santai menyusuri jogging track-nya, sambil menikmati kopi di pinggir situ, siapa tahu Manteman juga jadi penasaran sama cerita-cerita di baliknya, seperti aku. :)


Dita Indrihapsari


Perjalanan ke Curug Cibadak Bogor

perjalanan-ke-curug-cibadak-bogor


Rasanya sudah lama aku nggak trekking. Lalu beberapa minggu lalu datanglah ajakan dari teman-teman Moms Video Maker (MVM) untuk trekking ke Curug Cibadak yang lokasinya berada di kawasan Cijeruk, Bogor, dalam rangka acara Ngonten Bareng MVM.. 


Ajakan ini tentunya nggak aku sia-siakan begitu saja. Lumayan banget bisa refreshing bareng Ibu-ibu MVM dan tentunya sekalian me- time juga di weekend… :D 


Saat aku menulis ini, aku baru aja pulang dari Curug Cibadak. Jadi tulisan ini benar-benar fresh from the oven, yaa… Bahkan masih berasa banget, nih, pegal-pegalnya… :D 


Aku akan ceritanya gimana serunya perjalanan ke Curug Cibadak di Bogor dan kekagetan apa yang aku rasakan selama di perjalanan ini. 



Berkumpul di Lenirra Villa and Resto

Untuk trip Ngonten Bareng kali ini, jumlah ibu-ibu MVM yang ikut ada 9 orang. Nah, kami semua terbagi dalam beberapa tim untuk sampai di tempat titik kumpul, yaitu di Lenirra Villa and Resto. Kami akan mulai perjalanan ke Curug Cibadak dari tempat ini dan rencananya kembali lagi ke Lenirra untuk makan siang. 


Nah, dari Depok aku bersama rombongan teman-teman dengan satu mobil berjumlah 7 orang. Ada aku, Bu Ayu, Mba Melinda, Mam Dhedhe, Mak Andin, Isti, dan Ciwul. Kami mulai perjalanan dari Depok sekitar pukul 6.30 pagi. 


Kami pun tiba di Lenirra sekitar pukul 8 pagi dan bertemu dengan dua teman lainnya, yaitu Mami Ruffie (serta suaminya) dan Mam Di. 


Setelah berkumpul semua dan mempersiapkan apa yang akan kami bawa untuk trekking, kami diantar oleh mobil operasional Lenirra untuk sampai di titik awal pendakian. Dari Lenirra Villa and Resto ke titik awal ini jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan jalur jalan yang cukup sempit. 


Saat mau berangkat, aku pun sadar kalau minum di tumbler-ku sudah hampir habis. Padahal belum mulai trekking, ya, tapi minuman sudah habis. :D 


Untungnya di titik awal pendakian ini ada warung yang menjual air mineral dan camilan Akhirnya akupun membelinya. Apalagi setelah tpur guide, yaitu Mang KIdal, bilang kalau di atas nanti nggak ada warung yang jual minum. 

Nah, daripada dehidrasi dan takutnya menyusahkan teman0teman yang lain, kan, aku pun membeli air mineral sekalian sama camilan juga. :) 



Jalur Pendakian dari Titik Awal

Di titik awal ini, kami memulai dengan stretching pemanasan dan tentunya berdoa supaya perjalanan pendakian ke Curug Cibadak yang kami lakukan lancar-lancar tanpa hambatan. 


Mang Kidal memimpin pemanasan dan doa bersama. Setelh itu, kami pun langsung mengikuti arahannya untuk naik ke jalur pendakian. 


Nah, pas awal mendaki, di kanan kiri sudah mulai banyak pepohonan dan tumbuhan yang rimbun. Namun vegetasinya belum rapat jadi masih banyak sinar matahari yang mengenai kami. 


Di jalur ini kami juga sempat melewati jembatan dengan aliran sungai di bawah yang kering! Ya, sepertinya memang karena lagi musim kemarau ya, jadi sungai yang kami lewati betul-betul kering. Hanya bebatuan kecil dan besar serta tanaman liar saja yang aku lihat ada di bawah jembatan. 


Lanjut lagi di jakur pendakian yang mulai menanjak, aku pun melihat ada bangunan kecil dengan tulisan “Selamat Datang Taman nasional Halimun Salak, Suaka Satwa Elang Jawa.” 


Wah, melihat tanda sgn bagunan tersebut, aku pun makin semangat. Apakah kami akan melihat burung elang di tempat ini?



Melihat dari Dekat Suaka Elang Jawa dan Hutan Pinus

Jalan nggak terlalu jauh aku pun menemukan bangunan lagi yang jauh lebih besar dan ada pulang patung burung elang di depan bangunan tersebut. 


Rasanya memang tempat ini merupakan pusat informasi mengenai Suaka Elang JAwa di tempat tersebut. Namun sayangnya aku sama sekali nggak melihat adanya burung elang asli di sini. Tapi kalau dipikir-pikir bakal deg-degan juga sih jika misalnya burung elang jawa betul-betul muncul di hadapan mata… :D 


Di seberang patung elang Jawa, aku pun m melihat ada jembatan gantung yang cukup panjang. Aku pikir kami akan melewati jembatan itu dan kembali mendaki dari seberang. Ternyata pikiranku salah. Kami hanya berfoto dan bikin video aja di jembatan gantung itu untuk kemudian melanjutkan pendakian di jalur yang sebelumnya. 


Nah, menariknya area sekitaran Suaka Suaka Elang Jawa juga ditumbuhi dengan deretan pohon pinus yang tinggi! 


Wah, aku puas banget bisa santai sekejap di hutan pinus dan tentunya membuat banyak footage terutama foto di hutan pinus ini. 



Medan Terjal dan Menanjak Curam

Nah, kalau di awal jalur masih terasa santai dan menyenangkan, beda banget rasanya begitu kami mulai masuk ke medan yang lebih dalam. Jalur yang tadinya cuma menanjak pelan, tiba-tiba berubah jadi jalan setapak yang curam dan penuh bebatuan sebagai pijakan.


Aku sampai kaget sendiri, lho. Nggak nyangka kalau trekking ke Curug Cibadak ini medannya bisa se-ekstrem itu. Batu-batu yang jadi pijakan pun ukurannya nggak rata, ada yang besar, ada yang kecil dan agak licin karena lembab. Jadi aku dan teman-teman harus benar-benar hati-hati milih pijakan, sambil pegangan track pole atau sambil memegang batu dan batang pohon.


Belum lagi tanjakannya yang bikin napas jadi ngos-ngosan. Rasanya baru jalan beberapa meter aja udah pengin berhenti buat ngatur napas. :D


Di beberapa titik, jalurnya juga cukup sempit dengan jurang di salah satu sisi. Jadi ekstra hati-hati banget, deh. Tapi justru di titik-titik menantang inilah rasa capeknya jadi terasa "worth it" karena pemandangan hutan yang makin rimbun dan sejuk di sekitar kami.



Curug Cibadak, Air Terjun di Tengah Hutan yang Menyegarkan!

Setelah berjuang melewati medan terjal tadi, akhirnya suara gemericik air mulai terdengar dari kejauhan. Rasanya lega banget begitu tahu Curug Cibadak sudah nggak jauh lagi!


Begitu sampai, pemandangan yang menyambut kami adalah air terjun yang nggak terlalu besar, tersembunyi di tengah rimbunnya hutan. Debit airnya memang nggak tinggi, mengalir pelan-pelan aja dari sela bebatuan.


Aku juga bersyukur banget di curug ini masih ada aliran airnya walaupun nggak deras, mengingat lagi musim kemarau begini. :)


Kolam di bawah curugnya sendiri terbilang sempit dan berbatu, jadi airnya nggak terlalu dalam. Tapi justru itu yang bikin nyaman buat sekadar main air segar setelah trekking yang bikin keringetan. Btw, airnya juga berasa dingiiiin… :D


Nah, kebetulan pas kami ke sana lagi nggak banyak pengunjung lain, jadi kami bisa lebih puas ambil footage dan foto-foto tanpa perlu antre atau berebut spot. Suasananya juga enak banget, banyak pohon dan tumbuhan liar di sekeliling curug yang membuat udara jadi sejuk dan segar. 


Rasanya semua rasa pegal dan capek selama pendakian langsung terbayar begitu duduk santai di pinggir curug, dengar suara air, sambil ngobrol seru bareng ibu-ibu MVM.



Perjalanan Pulang yang Nggak Terlupakan….

Kalau dipikir, mungkin banyak yang mengira perjalanan pulang bakal lebih santai karena tinggal turun aja. Eh, ternyata nggak semudah itu, Ferguso! Justru perjalanan turun ini menyimpan tantangan yang nggak kalah bikin deg-degan dibanding waktu naik.


Medan yang sama-sama berbatu dan menanjak tadi, kalau dilewati waktu turun, rasanya jadi lebih licin dan bikin kaki gampang selip. Apalagi sendal gunungku juga masih terasa basah dan licin setelah main di curug. 


Aku sampai harus ekstra hati-hati, jalan pelan-pelan sambil pegangan ke apa aja yang bisa dijadikan pegangan. Belum lagi lutut yang mulai protes karena harus menahan beban badan tiap kali menuruni bebatuan.


Tapi anehnya, di tengah rasa capek dan was-was itu, justru banyak momen kocak yang muncul. Ada yang hampir kepeleset, ada yang saling teriak-teriak ngasih semangat.. Huhu, terharuuu… :D


Begitu akhirnya sampai di titik awal pendakian lagi, rasanya lega bukan main. Rasa lelah yang menumpuk seketika berubah jadi rasa bangga dan syukur karena bisa menyelesaikan trip ini dengan seru dan penuh tawa bareng teman-teman.


Setelah itu kami kembali lagi ke Lenirra Villa and Resto untuk makan siang bareng, sambil saling cerita ulang momen-momen paling berkesan sepanjang trekking. 


Meskipun badan pegal-pegal luar biasa, tapi pengalaman trekking ke Curug Cibadak ini jadi salah satu memori seru yang bakal aku ingat terus. Nggak sabar rasanya buat trekking bareng ibu-ibu MVM lagi di lain waktu! :D 



Dita Indrihapsari



Contact Form

Name

Email *

Message *