Coba, deh, perhatikan sekeliling Manteman pas lagi ada event komunitas, mal atau festival belakangan ini. Ada yang megang buku kecil, antre di beberapa booth berbeda, terus dengan semangat minta dicap. :D
Ternyata, ini, tuh, bukan tren baru yang lahir kemarin sore. Namanya stamp rally dan fenomena ini sudah puluhan tahun jadi bagian dari budaya jalan-jalan di Jepang, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Jakarta! :D
Apa Sebenarnya Stamp Rally Itu?
Stamp rally adalah aktivitas mengunjungi beberapa titik atau lokasi tertentu, bisa stasiun kereta, booth pameran, gerai restoran, sampai museum, untuk mengumpulkan stempel unik menggunakan kartu atau buku panduan khusus. Setiap titik biasanya punya desain stempel yang berbeda dan jadi bagian dari satu tema besar.
Setelah semua stempel terkumpul, peserta biasanya bisa menukarkannya dengan hadiah, merchandise eksklusif, diskon, sampai kesempatan ikut lucky draw. Tapi menariknya, buat banyak orang, hadiah itu cuma bonus. Yesss, sensasi "berburu" dan rasa puas melihat buku panduan penuh cap atau stempel ituah yang justru jadi daya tarik utamanya.
Dari Stasiun Kereta di Fukui, Menjelma Jadi Budaya Nasional!
Akar dari stamp rally sebenarnya bisa jadi ada dua. Yang pertama dan lebih tua adalah tradisi goshuin. Stempel kaligrafi yang diberikan di kuil dan altar Shinto kepada peziarah sebagai bukti kunjungan mereka. Tradisi ini sudah berjalan lama sebelum kereta api ada di Jepang.
Yang kedua dan jadi cikal bakal langsung dari stamp rally modern adalah eki stamp atau stempel stasiun kereta.
Cerita asal-usulnya terjadi pada tahun 1931. Seorang kepala stasiun bernama Kanichi Tominaga di Stasiun Fukui punya ide membuat stempel peringatan setelah ngobrol santai dengan stafnya.
Stempel itu menampilkan gambar Eiheiji, kuil Zen penting di dekat stasiun. Ternyata idenya disambut baik, sampai-sampai Kementerian Perkeretaapian saat itu memutuskan menyebarkan konsep serupa ke stasiun-stasiun di seluruh negeri. :)
Sejak itu, hampir semua dari sekitar 9.000 stasiun kereta di Jepang punya eki stamp masing-masing. Biasanya menampilkan landmark lokal, maskot atau produk khas daerah.
Bahkan, ya, ada juga komunitas penggemar khusus yang disebut oshi-tetsu atau "penggila stempel kereta", yang menjadikan perburuan eki stamp sebagai hobi serius, kadang sampai menjelajahi seluruh jaringan kereta demi melengkapi koleksi mereka. Wiiih, mantap!
Nah, bedanya dengan eki stamp biasa, stamp rally punya tema khusus dan periode terbatas, misalnya kolaborasi dengan anime, film atau karakter populer. Salah satu stamp rally besar yang jadi tonggak sejarah adalah Discover Japan pada 1970, yang mendorong orang menjelajahi destinasi wisata kurang terkenal lewat jalur kereta.
Tempat Populer untuk Stamp Hunting di Jabodetabek
Kalau di Jepang stamp rally identik dengan stasiun kereta, di Jakarta pun pola yang sama mulai terbentuk. Beberapa titik ini jadi favorit warganet yang gemar "berburu cap" akhir pekan:
Stasiun KRL Jabodetabek. KAI Commuter (KCI) resmi meluncurkan program bertajuk "Stamp Railly", lengkap dengan buku khusus bernama Stamp Railly Passport untuk mengumpulkan cap.
Ada 10 stasiun yang jadi titik hunting, yaitu Bogor, Universitas Indonesia, Manggarai, Jakarta Kota, BNI City, Jatinegara, Tanah Abang, Tanjung Priok, Pasar Senen, dan Gambir.
Tiap stasiun punya desain cap unik yang menampilkan bangunan stasiun, landmark kota, budaya lokal, hingga flora-fauna khas daerah. Menariknya, pihak KCI menyebut program ini rencananya akan diperluas ke sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra hingga 2027, jadi bukan cuma berhenti di Jabodetabek.
MRT Jakarta. Lewat program #StempelMRTJ, MRT Jakarta menyediakan cap eksklusif di beberapa stasiun seperti Dukuh Atas BNI (termasuk gedung Transport Hub di kawasan TOD-nya), Blok A, Haji Nawi, dan Cipete Raya. Tiap desainnya menonjolkan budaya lokal, misalnya motif gigi balang berpadu dengan ilustrasi ratangga (kereta MRT) di Haji Nawi atau motif petai dan bunga kembang sepatu di Cipete Raya. Cukup datang ke loket dan minta ke petugas frontliner stasiun, tidak perlu aplikasi atau kode QR.
Kawasan Cikini. Salah satu titik yang viral di media sosial adalah Post Kantoor Cikini, bangunan bekas Kantor Pos Cikini yang kini disulap jadi kafe bernuansa vintage. Pengunjung bisa membeli kartu pos lalu memilih dari beberapa desain stempel untuk dicap langsung di kartu pos atau di jurnal pribadi mereka.
Area Blok M. Sejumlah ruang publik dan hub transportasi di kawasan Blok M turut menjadi bagian dari rute stamp hunting yang sering dibagikan di media sosial, biasanya digabung dalam satu rute jalan kaki bersama titik-titik MRT terdekat.
Museum di Jakarta dan sekitarnya. Kementerian Kebudayaan lewat Museum dan Cagar Budaya (MCB) meluncurkan "Museum Passport" pada Juni 2026 lalu. Buku koleksi cap yang bisa diisi dengan mengunjungi museum dan cagar budaya yang berpartisipasi.
Lebih dari 20 museum berpartsipasi, termasuk Museum Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Basoeki Abdullah, Museum Batik Indonesia, hingga Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Setiap lokasi punya desain cap berbeda dan buku paspornya bahkan dilengkapi voucher tiket masuk gratis ke beberapa museum.
Fenomena Stamp Rally yang Makin Seru!
Stamp rally berhasil menggabungkan beberapa hal yang memang disukai manusia, yaitu rasa pencapaian, eksplorasi, koleksi, dan interaksi sosial. Itu semua lalu dibungkus dalam format yang murah dan mudah direplikasi oleh siapa saja.
Selama masih ada tempat baru untuk dijelajahi dan komunitas yang ingin merayakan sesuatu bersama, kemungkinan besar kita akan terus melihat orang-orang antre sabar demi satu hal sederhana, yaitu cap kecil di atas kertas.
Sejujurnya, aku pun baru mau memulai stamp hunting… :D Doakan aku bisa dapat banyak stamp yaa.. Hehehe… Terakhir saat beberapa hari lalu, aku sempat mendapat stempel dari Stasiun Cirebon. Walaupun bukan stempel stasiun kereta yang aku inginkan, tapi aku sendiri ngerasa seru banget, sih, berburu stempel-stempel kayak gini… :D
Kalau kamu gimana? Udah mulai stamp rally atau stamp hunting jugaaa? :D
Sumber foto:
Dita Indrihapsari


.jpg)

.jpg)
%203.jpg)
%202.jpg)
%201.jpg)



















